Bab 10

1105 Words
Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai akhirnya sudah seminggu lebih, sejak kehadiran Bayu yang baru saja kembali ke kampung halaman. Lama kelamaan, berita akan hadirnya sang preman jalanan yang sudah pernah menelan korban, mulai menyebar. Apalagi sekarang Bayu turut serta dalam mengelola perkebunan juga tambak ikan yang menjadi sumber utama penghasilan keluarganya. Alhasil, semakin sering pula Bayu keluar rumah dan bertemu para warga. Ada banyak sekali hal janggal yang harus Bayu pecahkan perihal harta milik keluarganya. Agaknya, setelah kepergian Bayu saat itu, Darminah telah dicurangi. Akan tetapi, perlakuan orang-orang terhadap keluarga Darminah kini mulai kentara sekali perbedaannya. Bagi Darminah dan Fajar, keduanya mungkin masih bisa bersikap agak cuek dalam menghadapi keadaan. Tapi lain halnya dengan Rani, yang sedari awal tak bisa mengenyahkan segala pikiran buruk soal kedatangan Bayu. Alhasil, Ranilah yang mungkin saja paling merasa dirugikan di sini. Satu-satunya pelarian yang bisa ia lakukan adalah pergi dari rumah. Gadis itu jadi lebih sering pergi sejak pagi atau siang, lalu kembali menjelang malam. Berada satu atap, dengan seseorang yang dianggapnya sebagai sumber masalah, sangatlah menyiksa diri. Akan tetapi Rani tahu, Ibu dan adiknya justru sangat senang dengan kembalinya Bayu, yang dalam pandangannya malah tak bisa berbuat apa-apa. Seperti sore ini, Rani baru saja pergi dari rumah tanpa berpamitan pada siapapun. Dengan menggenakan Rok batik payung tanggung yang melebihi lutut, juga atasan kemeja berwarna merah, gadis itu hendak pergi ke pasar malam yang berada di kampung sebelah. Ia sudah membuat janji bersama kawan-kawannya untuk bertemu di sana nanti malam. Tapi karena sudah terlanjur malas berada di rumah, Rani lebih memilih untuk berangkat lebih awal. Sudah hampir setengah jalan gadis itu melewati jalan setapak, sampai akhirnya ia tiba di sebuah jembatan. Beberapa orang pemuda yang hampir sebaya dengannya, sedang asyik nongkrong sambil menghisap gulungan nikotin dan bercanda ria. Kedatangan Rani sebagai primadona Desa, pastilah menimbulkan kericuhan diantara pemuda-pemuda itu. Salah seorang dari mereka maju menghampiri Rani sambil memamerkan senyum. "Ehhh, ada si cantik lewat. Mau kemana Mbak, sore-sore begini?" tanya pemuda itu. Rani mendelik dengan jutek. Perangai Rani di mata orang-orang, sebenarnya memang agak kurang baik. "Mau ke pasar malam," jawab Rani singkat. "Loh, tapi ini masih sore?" "Terus kenapa? Suka-suka akulah," jawab Rani ketus, sambil bermaksud untuk meneruskan perjalanan. Akan tetapi, pemuda yang baru saja menghampiri Rani justru menahannya. Pria itu menarik tangan Rani agar tetap diam di tempat. "Kamu yakin mau ke sana sendirian. Jalan kaki? Masih jauh, nanti kamu capek. Ku antar ya?" tawar pemuda itu. Beberapa kawan lain yang menjadi penonton, kini mulai bersiul menggoda karena ada adegan menarik, mirip film-film di tv. Sikap Rani yang sok cuek, dengan pria yang menawarkan diri untuk mengantarkannya, ternyata cukup menarik untuk ditonton. "Memangnya ... kamu mau nganter pake apa? Jalan kaki? Ndak usah lah, kalau itu aku juga bisa sendiri," ujar Rani sembari menilik ke arah lain. "Ya ndak lah. Kalau tetap jalan kaki, mana mau aku menawarkan diri untuk mengantarkanmu. Kita naik motorku di sana. Mau ya?" tunjuk pemuda itu pada sebuah motor matic berwarna biru putih, yang saat ini terparkir di ujung jembatan. Rani mulai luluh sekarang. Ya ... sepertinya tidak ada yang salah jika pemuda itu mengantarkannya. Mengendarai motor, lebih baik daripada jalan kaki-kan? Selain bisa lebih cepat sampai, Rani juga bisa menghemat tenaga. "Ya sudah, ayo antar aku," kata Rani dengan nada tak acuh. Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. Rani berjalan lebih dulu, sementara pemuda yang akan mengantarkannya tampak memberikan kedipan mata pada kawan-kawannya yang tengah bersorak. "Ya sudah, sebelum berangkat aku kasih tahu dulu aturannya ya. Dilarang teriak, dilarang protes, dilarang goyang-goyang, dilarang banyak tanya karena kita akan lewat jalan pintas, supaya lebih cepat sampai. Dan satu lagi, dilarang duduk jauh-jauhan. Karena aku bukan tukag ojeg. Paham?" kata pemuda itu. "Iya-iya, bawel kamu," jawab Rani. Padahal ia tidak terlalu mendengarkan. Yang ada dalam otaknya hanyalah, ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tanpa dia tahu, apa yang sebenarnya bisa saja ia hadapi. *** "Bayu, kamu lihat Rani ndak?" tanya Darminah begitu masuk ke dapur. Saat itu Bayu sedang makan sambil beristirahat. Seharian ini, pria itu baru saja membersihkan rumput dan tanaman liar lainnya di sekitar tambak ikan milik Darminah. "Bayu kan belum lama ada di rumah, Bu? Memangnya Rani ndak pamit sama Ibu? Atau mungkin Fajar tahu?" balas Bayu Fajar tiba-tiba saja muncul lalu menyela pembicaraan Bayu dan Darminah, memberitahukan informasi yang seharusnya dapat membantu kekhawatiran sang Ibu mereda. "Fajar juga ndak tahu, Bu. Tapi tadi, Fajar memang sempat mendengar Rani ngobrol dengan temannya lewat telpon. Mereka bilang mau ke pasar malam di kampung sebelah" jawab Fajar. "Bayu, nanti kamu tolong susul adikmu ya. Perasaan Ibu ndak enak. Ibu takut, karena adikmu itu akhir-akhir ini sikapnya beda," kata Darminah. Bahkan tanpa dimintapun, tentu saja Bayu akan mencari keberadaan adiknya. Usia Rani ini sangat rentan dengan berbagai macam kasus. Terlebih lagi, dia adalah gadis yang cantik. Meskipun galak, jutek dan memiliki perilaku yang kurang baik, Rani tetaplah gadis polos dari Desa. Bukan tanpa sebab Bayu berpikir demikian. Ini semua karena masa lalu yang tidak mungkin akan dia lupakan. Saat-saat dimana ia dengan kejam, mengantarkan gadis-gadis polos itu menyerahkan kesucian. Yang ada dalam otak Bayu saat itu hanya uang. Bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan banyak uang, karena ia sudah lelah berkawan dengan kemiskinan. Tapi nyatanya, saat kau meraih harta itu dengan cara yang haram. Ia akan cepat datang dan cepat pula menghilang. Bayu tak akan sampai hati kalau adiknya ikut masuk ke dalam perangkap lalu di jual pada laki-laki hidung belang diluaran sana. "Iya, Bu. Nanti selesai makan, Bayu akan cari Rani." Sementara itu, Rani yang saat ini tengah menjadi penumpang, mulai resah karena tak hafal dengan jalan yang ditempuh untuk sampai ke kampung sebelah. Pemuda yang saat ini katanya akan mengantarkan Rani, namanya adalah Toni. Rani mengenalnya, karena rumah mereka masih berada di satu lingkungan yang tidak begitu jauh. Pun itu pula, yang membuat Rani mau meneriwa tawarannya. "Ton ... Toni. Ini kita masih jauh ndak sih? Kok aku ndak tahu ada jalan ini, buat sampe ke kampung sebelah. Kita lewat jalan biasa saja bisa ndak?" pinta Rani dengan agak khawatir. "Tadi sudah ku bilang kan? Jangan bawel jangan banyak tanya. Ini biar kita cepat sampai!" balas Toni. "Iya tapi ku rasa kita bukannya makin dekat, malah makin jauh," jawab Rani hati-hati. Gadis itu mulai merasa takut sekarang. Sikap angkuh dan juteknya kini menghilang pergi entah kemana. "Ini belum apa-apa. Dan kamu sudah ketakutan lebih dulu. Kita lihat apa yang nantinya bakal terjadi pada Kakakmu nanti, saat tahu adik kesayangannya mungkin jadi gila setelah apa yang akan ku lakukan padanya!" gumam Toni dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD