Bab 11

1093 Words
"Ayo ikut! Cepat!" sentak Toni dengan galak, sembari menarik tangan Rani. Toni dengan sengaja membawa Rani ke Padang ilalang yang sudah meninggi di atas bukit. Matahari sudah hampir tenggelam dengan sempurna. Membuat jarak pandang kian sulit. Rani meronta-ronta, meminta agar Toni melepaskan tangannya, sambil berteriak. Beberapa kali kaki gadis itu menendang ke segala arah agar Toni kesulitan. Tapi semua gerakannya mendadak terhenti seketika. Rani terdiam begitu Toni menodongkan sebuah pisau mengkilat yang barang pasti amat tajam. "Diam, atau mati hah? Aku masih berbaik hati tidak melemparkanmu dari motor. Padahal kamu begitu berisik!" ancam Toni. Rani menelan ludah dalam rasa takut. Sebelah tangannya terangkat, pertanda ia menyerah. Tak ada yang lebih berharga untuk saat ini selain nyawa sendiri. Begitukan seharusnya? Gadis itu bahkan kehilangan keberanian untuk sekedar mengucap satu patah kata saja. Lidahnya terasa amat kelu. "Nah, begitu lebih baik. Jadilah penurut!" perintah Toni. Rani mengikuti langkah Toni yang cepat dengan susah payah. Ia menggigit bibir kuat-kuat sebagai balasan rasa bingung dan takut dalam menghadapi pria yang saat ini menggenggam tangannya. Sempat terbesit dalam pikirannya untuk melawan, seperti adegan-adegan pada film. Tapi ini dunia nyata, di mana jika dia salah langkah sedikit saja, nyawa menjadi taruhannya. "Mas Bayu sudah kembali dari penjara. Dia ndak akan tinggal diam kalau tahu kamu berbuat yang macam-macam padaku!" gertak Rani. Entah kenapa di saat seperti ini, yang ada di dalam ingatannya hanyalah Bayu. Nama pria itu sudah tersohor, seharusnya ini cukup ampuh untuk menjadi ancaman bagi Toni. Tapi Rani salah! Bahkan jika Bayu benar-benar datang menjadi sang penyelamat, maka Toni akan merasa lebih senang, karena semua ini memang berawal dari Bayu. "Kamu pikir, hanya karena Bayu, aku akan berhenti. Ndak Rani, bahkan kalau dia muncul saat ini. Aku akan merasa lebih senang. Nanti, jika kamu masih selamat salahkanlah Bayu. Dialah otak dari semua kegiatan yang akan kita lakukan nanti!" jelas Toni. "Gawat! Toni sudah gila. Kenapa aku begitu bodoh, mau saja menerima ajakannya tadi. Sekarang aku harus bagaimana? Mas Bayu, apa kamu tahu keadaanku sekarang Mas, aku butuh kamu, Mas. Ya Allah, tolong aku ya Allah," doa Rani dalam hati. Sementara itu, Bayu yang saat ini mengendarai sepeda motor bermaksud untuk menyusul keberadaan Rani, melihat beberapa gadis Desa yang cantik tengah berjalan sambil tertawa-tawa cekikikan. Bayu meminggirkan motor yang dikendarainya, tepat di hadapan mereka. Sontak saja kehadiran Bayu membuat para gadis itu berhenti tertawa. Salah satu dari gadis-gadis itu terpana melihat sosok Bayu. Tubuh yang tinggi, tegap nan atletis berkat kerja keras yang dilakukannya selama di penjara, serta wajah rupawan yang dimiliki Bayu, tanpa sadar telah menjadi salah satu aset andalan. "Maaf, saya menganggu perjalanan kalian. Ehm, kalian ada yang kenal Rani? Anak Ibu Darminah?" tanya Bayu tanpa basa-basi. Semua gadis itu tampak mengangguk bersamaan. "Iya, kenal Mas. Rani itu teman kami semua. Ada apa ya?" tanya salah seorang dari mereka. "Oh ndak. Cuma tanya saja, saya agak khawatir karena dia tadi pergi tanpa pamit. Ada yang bisa bantu saya buat menghubungi Rani?" tambah Bayu lagi. "Memang, Masnya ini siapanya Rani?" "Saya Bayu, Kakaknya Rani. Kalian memangnya sudah lupa?" seru Bayu dengan santai. Saking santainya mungkin dia lupa, kalau namanya sudah tercemar di sana. Seketika itu juga gadis-gadis itu mengambil satu langkah mundur dari Bayu. Siapa yang tak kenal Bayu. Penjahat yang sudah mempekerjakan para gadis di desanya dengan dalih akan menjadi asisten rumah tangga. Alih-alih mendapatkan uang, mereka malah dijadikan pemuas nafsu syahwat laki-laki hidung belang. "Kalian pasti takut dengan saya kan? Tapi saya sungguh bukan Bayu yang dulu lagi. Saya sudah bertobat sekarang," ujar Bayu. Para gadis itu saling lirik. Memang agak kurang manusiawi saat kita menghakimi orang lain hanya karena masa lalunya. "Saya cuma minta tolong, kalian hubungi Rani. Pastikan dia baik-baik saja, karena Rani pergi dalam keadaan yang kurang baik. Bisakah?" pinta Bayu. Akhirnya mereka luluh. Salah satu dari gadis itu meraih ponsel dari dalam tasnya, lalu menghubungi nomor Rani. Jika dihitung, bahkan mungkin sudah 10 kali gadis itu melakukan panggilan. Tapi Rani sama sekali tak mengangkatnya, padahal nomornya aktif. "Maaf Mas Bayu, Rani ndak angkat telponnya. Tapi kami memang janjian untuk bertemu di pasar malam. Mungkin Rani sudah sampai. Di sana kan berisik, Mas. Makanya Rani ndak bisa dengar hp-nya bunyi," jelas gadis itu. Benar, mungkin saja Rani memang susah ada di pasar malam itu. Tapi entah kenapa, firasat Bayu sebagai seorang Kakak, berkata kalau Rani justru sedang tidak baik-baik saja. "Terima kasih ya. Kalau begitu saya duluan," kata Bayu seraya meninggalkan para gadis itu. Setelah kepergian Bayu, barulah mereka berani ambil suara. Rupanya bukan hanya salah satu dari mereka saja, yang sempat terpana dengan kehadiran pria itu, sebelum mereka tahu kalau dia itu adalah Bayu. Kakak dari Rani yang meskipun tidak di usir dari kampung ini, keberadaannnya seolah terasingkan. "Terakhir kali aku lihat Mas Bayu. Dia itu ndak seganteng sekarang loh. Makanya tadi sempat ndak kenal." "Ganteng-ganteng tapi jahat. Penculik perempuan, tukang begal, mantan nara pidana. Hiihhh aku ngeri loh tadi. Untungnya ndak sendirian. Ada kalian juga." "Mendingan mantan orang jahat, daripada mantan orang baik. Mas Bayu mantan nara pidana, yang tadi katanya sudah tobat. Harusnya kita itu ucap Alhamdulillah." "Heleeehh sok alim kamu. Ayo kita juga buruan jalan. Aku sudah ndak sabar beli gulali yang manis di sana. Heemmm." Para gadis itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sementara Bayu kembali memacu sepeda motornya untuk menyusul Rani. Itupun, kalau memang benar adiknya itu ada di pasar malam. Dan jika tidak, entah apa yang harus Bayu lakukan. Yang jelas, dia akan terus mencari adiknya sampai ketemu. Sementara itu di sisi lain. Rani bukan tak ingin mengangkat telpon yang berkali-kali berbunyi. Tapi situasi dan keadaan, sama sekali tidak memungkinkannya untuk melakukan sesuatu. Toni mengacungkan pisau itu lagi saat Rani tampak seperti akan mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Aku ndak main-main. Sekali kamu angkat, pisauku yang tajam ini, tanganku ini, bakal gampang banget ngebelah pipimu yang mulus itu," ancam Toni lagi. Rani mengangguk dengan cepat. Toni sudah amat yakin, kalau Rani begitu takut padanya dan tidak akan berbuat macam-macam. Karena itu, begitu Toni berbalik, ia kehilangan kewaspadaan. Hingga dengan sekali gerakan, Rani mengayunkan kakinya lalu, dugh ... "Aarrkkhhh!" Toni berteriak dan reflek memegang burung dengan sepasang telur masa depannya yang nyaris saja hancur, karena telah di tendang dengan sekuat tenaga oleh Rani. Ini adalah kesempatan yang bagus. Rani bergegas lari tak tentu arah. Berkali-kali Toni berteriak memanggil namanya, tapi gadis itu tidak perduli. Iya tetap berlari mengikuti kemana arah kaki membawanya. Yang terpenting baginya saat ini hanyalah menjauh. Gadis itu harus bisa berlari sejauh mungkin dari Toni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD