Bab 12

1100 Words
Sampailah Bayu pada jembatan perbatasan. Hari sudah gelap dan penerangan di Desa itu memang sangat minim. Sekelompok pemuda yang yang sedang asyik nongkrong itu masih ada di sana. Berbekal lampu dan musik dari ponsel, membuat orang yang lewat setidaknya merasa terbantu karena adanya sedikit keramaian. Jika tidak ada mereka, melewati jembatan ini akan terasa layaknya menyebrang jalan menuju dunia gaib. "Maaf, kalian ada yang melihat Rani? Apa Rani sempat lewat sini tadi?" tanya Bayu begitu menghampiri para pemuda itu. Mereka saling lirik dengan penuh tanda tanya. Pertanyaan pertama mungkin soal, siapa pria yang saat ini tiba-tiba saja bertanya pada mereka. Dan yang kedua, perihal Rani yang telah dibawa oleh Toni. "Kamu siapa? Mencari-cari soal Rani. Apa kamu pacar si jutek itu? Ha-ha-ha. Dia mungkin sedang bersenang-senang sekarang!" jawab salah seorang pemuda somplak, yang tidak menyaring perkataannya terlebih dahulu. Sontak saja hal ini membuat Bayu mulai naik pitam. Ini sudah cukup membuktikan, kalau mereka tahu sesuatu. "Mas ... Mas Bayu kan?" Suara yang terdengar gagap itu, membuat semua orang menoleh. "Mas Bayu ... Kakaknya Rani kan? Yang baru keluar dari penjara?" Dan lagi-lagi sumber suara dari orang yang sama, membuat semuanya terkejut. Raut wajah yang semula tampak begitu meremehkan, berubah secepat kilat. Berganti rasa cemas dan takut. Kabar burung mengatakan, saat Bayu menjadi Begal di Perkebunan karet, korban-korbannya hampir tak ada yang selamat. "Bagus, kalau kalian sudah tahu siapa aku. Sekarang kalian katakan di mana adikku?" Saat ini Bayu masih berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin sisi buruknya yang dulu muncul lagi. Sisi dimana ia mudah sekali tersulut emosi pada hal-hal kecil, apalagi ini menyangkut adiknya. Mereka saling lirik dan menyikut satu sama lain. Enggan untuk berkata kebenaran kalau salah satu dari kawan mereka telah membawa adiknya. "Jadi ... setelah tadi tertawa cekikikan, kalian mendadak bisu sekarang?" tanya Bayu. "Cihh, memangnya kenapa, kalau kau baru saja keluar dari penjara hah?" Salah satu dari pemuda itu dengan sok berani menunjuk ke arah Bayu. "Kenapa kita harus takut? Dia ini cuma sendirian. Hajar saja dia beramai-ramai. Masa melawan satu orang saja kalah!" tambahnya lagi, berusaha memprovokasi keadaan. Dan sialnya, pikiran mereka mulai terpengaruh. Satu dari mereka mengangkat tangan lalu menyambar bahu Bayu dengan tiba-tiba. Akan tetapi dengan kelebihan yang dimilikinya, jangankan hanya untuk sekedar menyambar. Mereka bahkan tak akan mungkin bisa menyentuh Bayu. Maka dalam sekejap mata, Bayu menghalau tangan itu, kemudian menghangtam d**a tubuh sih pemilik tangan. Alhasil pemuda itu jatuh tersungkur dengan mudah. "Apa yang kau lakukan? Semuanya, kepung dia!" Melawan preman juga penjahat kelas kakap dengan tangan kosongpun, Bayu sudah pasti menang. Apalagi yang mengelilinginya sekarang, hanya sekelompok bocah ingusan yang banyak gaya. Apa yang akan dilakukan para pemuda ini sangat mudah sekali ditebak. Persis sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh Bayu dulu. Karenanya, Bayu sangat menyayangkan kelakuan anak-anak ini. Bayu memejamkan matanya seraya berucap, "Bismillahirrahmanirrahim." Sepasang matanya kembali terbuka, lalu mendapati keadaan di mana para pemuda itu tengah mengayunkan tangan, untuk memukul Bayu bersama-sama dengan amat lamban. Begitu lamban, hingga Bayu tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga hanya untuk menangkis setiap kepalan tersebut. Dengan satu kali ayunan kaki yang memutar, satu, dua, tiga, empat, lima orang pemuda itu jatuh, tersungkur ke belakang, sambil meringis kesakitan. Sebagian memegangi wajah, sebagian lainnya memegangi perut mereka. Bayu menatap para pemuda itu satu persatu, lalu mengulang satu pertanyaan yang sama sekali belum mereka jawab. "Ku ulang pertanyaan ini. Jika kalian tak menjawabnya, maka aku akan kembali bertanya lewat pukulan yang kalian sendiri tak akan bisa membayangkan seberapa parah akibatnya. Di mana adikku?Di mana!" sentak Bayu pada akhir kalimat. Lama kelamaan, batas kesabarannya mulai menipis. "Dia ... dia dibawa Toni." "Toni memang sudah menunggunya sejak sore tadi." "Dia tahu, Rani akan pergi. Dan pura pura memberi tumpangan." Jawab emuda itu begantian. Dalam benak Bayu, ia bertanya ... siapa lagi Toni itu, namanya memang tidak asing, Bayu benar-benar lupa. Tapi ini bukan saatnya memikirkan hal tersebut. Maksud dari semua informasi ini adalah Rani sedang dalam masalah. "Katakan! Kemana Toni membawa Roni?" tanya Bayu lagi. "Toni, membawanya ke padang ilalang di atas bukit kampung sebelah!" jawab mereka lagi. "Kurang ajar!" Bayu buru-buru kembali dan menyalakan motornya. Ini gawat! Bayu tahu tempat itu. Padang ilalang sepi dan di kelilingi jurang yang dalam juga curam. Itu bukan tempat yang bagus untuk jalan-jalan. Toni tentulah memiliki niat terselubung di balik itu semua. Bayu meninggalkan ke lima pemuda itu, tanpa sempat berkata apapun lagi. Di dalamnya otaknya saat ini, penuh dengan keruwetan akan Rani. "Ya Allah, tolong selamatkan Adikku ya Allah. Jagakan dia untukku. Rani, bertahanlah, aku sedang menuju ke sana!" lirih Bayu dengan suara bergetar. Sementara itu, Rani yang baru saja menghancurkan masa depan Toni masih berlari menyibak hamparan padang ilalang dan tanaman liar lainnya yang tumbuh tinggi. Dalam keadaan normal gadis ini, tentu saja tak akan mau belusukan di antara tanaman-tanaman ini. Sudah barang pasti, ada ulat bulu atau serangga lainnya yang akan membuatnya geli. Namun, di saat seperti ini, jangankan berpikir soal ketakutannya pada hal-hal kecil tersebut. Bisa pergi dari tempat ini saja, Rani pasti akan bersyukur. "Raniiiiii, cepat keluar! Kembali! Ku bunuh kau," teriakan Toni terdengar nyaring. Rani berhenti berlari karena mulai merasakan lelah. Gadis itu lantas berjongkok, bersembunyi di antara semak-semak tanaman liar itu. "Ha ha ha. Sampai sejauh mana kamu akan bersembunyi, Rani. Aku akan menemukanmu. Kamu itu sama saja dengan Bayu. Darah seorang penjahat yang tidak memiliki perasaan, mengalir dalam tubuhmu. Bayu harus tahu, bagaimana sakitnya kehilangan saudara perempuan!" ujar Toni sambil menyibak apa saja yang menghalangi jalannya. Rani menutup mulut dengan ke-dua tangannya. Sepasang matanya berair, sementara bibirnya ia gigit kuat-kuat. Ingin sekali tangisnya pecah. Tapi saat ini gadis itu benar-benar ketakutan. Apa yang telah dilakukan oleh Bayu hingga bisa membuat Toni memiliki dendam. "Mas Bayu ... Rani takut Mas. Tolong Rani!" ucap Rani dalam hati. Bayu melajukan motor seperti orang kesetanan. Ia tidak perduli lagi dengan apapun selain tujuan untuk menemukan adiknya. Siapa Toni itu, kenapa dia ingin berbuat jahat pada Rani, atau mungkin ... dia adalah salah pemuda yang jatuh cinta tapi di tolak oleh adikknya. Ya ... Rani itu memang agak pilih-pilih. Tapi ... apa benar semua sesederhana itu. Entahlah Bayu belum memiliki gambaran. Cukup lama Bayu mengendarai benda itu, sampai akhirnya, dia menemukan sebuah motor yang terparkir tepat di pinggiran Padang ilalang tersebut. "Ini pasti motor anak itu. Tapi di mana Rani sekarang?" Bayu agak bingung dan kesulitan melihat karena tak ada penerangan sama sekali, selain cahaya dari bulan purnama. Ia memandangi benda itu, seraya berdoa. "Ya Allah, tolong bantu aku menemukan Rani. Jaga dia, selamatkan dia, juga bantu dia untuk bisa bertahan. Karena jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri lagi!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD