Bab 13

1048 Words
"Rani ... di mana kamu. Kamu ndak akan bisa sembunyi lama-lama. Kamu tinggal pilih, Ran. Keluar sekarang, akan ku perlakukan kamu dengan lembut. Atau aku harus mencarimu sendiri hah? Dan saat ku temukan, tidak ada lagi tawar menawar," seru Toni. Ia menebas apapun yang menghalangi jalannya dengan bringas. Kondisi yang gelap tak menyurutkan langkahnya untuk dapat menemukan tawanan yang kabur. Tapi Toni yakin, Rani tidak akan mampu pergi jauh. Paling-paling gadis itu hanya hanya bersembunyi di antara rumput dan tanaman liar yang tinggi. Rani masih tetap terdiam, saat langkah Toni terasa kian mendekat. Ia juga masih menutupi mulutnya, berusaha menahan tangis dan rasa takut yang menguasi batin. Namun, setitik harapan tiba-tiba saja muncul saat gadis itu mendengar suara ... "Raniiii, Ran! di mana kamu?" Suara teriakan yang saat ini samar-samar terdengar, memberikan satu harapan bagi Rani, bahwa dia akan selamat. Meski terdengar amat jauh, Rani tau siapa yang saat ini memanggil namanya selain Toni. "Ya Allah, Mas Bayu. Itu ... i itu, Mas Bayu kan?" tanya Rani dalam hati. "Hahaha, rupanya dia sudah datang. Berdoalah Rani, semoga aku yang menemukanmu lebih dulu!" Rupanya Toni juga mendengar kedatangan Bayu. Tidak ada gunanya lagi untuk terus bersembunyi. Cepat atau lambat, Toni akan menemukannya. Ini hanya soal waktu. Lagipula, tak jauh dari tempat Rani, sudah ada Bayu yang barang pasti akan menemukannya. Rani mengerahkan keberaniannya untuk berdiri. Bersamaan dengan itu pula ia berbalik, dan rupanya Toni sudah berada dalam jarak beberapa langkah dari tempatnya bersembunyi. Tonipun juga baru sadar kalau Rani baru saja muncul. "Rani!" pekik Toni. "Ma ... Mas Bayuuuu!" Reflek saja Rani segera berlari lagi sambil berteriak memanggil nama Bayu. "Mas Bayu ... tolong aku Mas!" teriaknya lagi. "Sial!" umpat Toni, lalu mengejar gadis itu. Bayu mendengarkan dengan seksama suara Rani yang semakin dekat. Sontak saja pria itu juga ikut berlari menuju ke arah di mana sumber suara. Selang beberapa waktu kemudian, suara yang sudah sangat jelas terdengar, juga pergerakan mulai terlihat, meskipun tak sejelas saat siang hari. Bugh ... suara dentuman Rani yang berlari tak tentu arah, berhasil menabrak tubuh Bayu. "Ran, ini kamu Ran? Alhamdulillah akhirnya kamu ketemu juga!" Apalagi yang bisa Bayu ucapkan selain rasa syukur. Namun, setelah menyadari seseorang yang diharapkannya datang, Rani secara otomatis langsung bersembunyi di balik tubuh nan kekar itu, sambil memegangi tangan Bayu dengan erat. Toni berhenti berlari tepat setelah melihat sosok Bayu yang saat ini berdiri di hadapannya. Senyumannya yang sinis tampak meremehkan. Padahal dia tidak tahu, seberapa besar bahaya yang saat ini akan dihadapinya. "Heeehhh, akhirnya ... akhirnya kau muncul juga!" ujar Toni, sembari perlahan-lahan berjalan mendekat ke arah Bayu. Rani yang masih ketakutan menarik-narik kaos yang digunakan oleh Kakaknya. "Mas ... Mas aku takut. Dia udah gila, Mas!" seru Rani. Tapi Bayu tidak berpaling dari pandangannya terhadap Toni. "Aku belum sempat menyentuh adikmu itu. Padahal, susah payah aku menunggunya, mencari kesempatan, lalu membawanya ke sini!" Tutur Toni, sembari memainkan pisau di tangannya. "Apa maumu!" tanya Bayu tanpa basa-basi. "Jika kau punya masalah denganku, jangan melibatkan orang yang tak bersalah! Apalagi adikku!" sentak Bayu kemudian. Akan tetapi, yang disentak sama sekali tak gentar. Pria itu malah tertawa, seolah meremehkan kehadiran Bayu. Ia bersikap konyol tanpa ada hal yang lucu. "Apa Kinan juga bersalah hah?" tanya Toni, sambil mengangkat sebelah alisnya. Ke tiga manusia itu tak bisa melihat dengan jelas ekspresi dari masing-masing lawan bicaranya, karena kondisi yang gelap. Tapi dari setiap nada bicara yang keluar, menandakan tidak ada hal yang bisa dianggap biasa-biasa saja saat ini. "Kinan?" Bayu berbisik lirih. Rani yang saat ini mendengarnya juga ikut mengerutkan kening. Nama yang tak asing. Sepertinya Rani juga tahu sesuatu. "Kenapa? Mulai mengingat sesuatu hah? Atau penjahat sepertimu, tentu saja tidak akan ingat! Ingatanmu jelas sangat buruk!" Toni berjalan memutar, mengitari Bayu. "Seorang gadis polos, yang berpikir bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan pergi ke Kota. Kau dan kawan-kawan busukmu itu, menjanjikan pekerjaan yang layak padanya. Hingga dia tergiur. Tapi apa yang terjadi? Perlukah aku menjelaskan keadaan gadis itu setelah dia kembali?" ujar Toni kemudian. Tubuh Bayu mendadak lemas. Pikirannya terhenyak, meremang dalam satu ingatan yang lagi-lagi amat memuakkan. "Kinanti, gadis polos yang kau bawa itu adalah Kakakku. Kakakku!" teriak Toni di akhir kalimat. Membuat Bayu juga Rani terkejut. "Kau terlalu egois untuk mengingatnya bukan?" tambah Toni lagi. Bayu meremang dalam perasaan yang tak menentu. Pria itu memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Satu lagi kenyataan yang harus diterimanya. Kinan adalah anak salah satu warga di kampung itu yang dijanjikannya akan bekerja di sebuah rumah mewah untuk menjadi asisten rumah tangga. Akan tetapi ia berbohong. Bersama komplotannya, ia jual gadis itu di salah satu rumah tempat berbuat maksiat dengan harga yang tinggi. "Ya Allah. Apalagi yang sudah kulakukan di masa lalu? Kenapa semuanya jadi begini?" gumam Bayu dalam hati. "Kenapa kau diam saja? Merasa berdosa hah? Tidak ada tempat bagi orang jahat sepertimu. Jangan harap kau bisa lolos dengan mudah, karena bukan hanya aku yang menyimpan dendam pada orang seperti mu. Tapi ..." Ssrrett ... "Arrrkhhh!" Rani meringis, merasakan ada sesuatu yang menyayat lengannya. "Rani, kamu kenapa?" tanya Bayu panik. Dan benar saja. Darah segar mulai menetes, setelah Toni rupanya berhasil mendekat tanpa mereka sadari. Bayu terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya hingga ia lupa, ada Rani yang tengah berlindung padanya saat ini. Toni mundur beberapa langkah setelah berhasil melukai Rani. Sementara Bayu yang tersadar akan luka yang didapatkan Rani dari Toni, kini mulai emosi. "Tahan sebentar, tahan," pinta Bayu. Pria itu melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya lalu menggunakan benda itu untuk membungkus luka Rani. Setelah selesai, ia beralih pada pandangan di sekitar. Mencari keberadaan Toni yang tiba-tiba saja menghilang. Bayu tak bisa bersabar lagi. Kali ini, apa yang terjadi sudah bukan menyangkut dirinya sendiri lagi. Ada adiknya yang saat ini menjadi korban dan Bayu tidak akan menerima hal itu dengan mudah. "Toni ... keluar kamu. Jika kamu ingin bertarung, bertarunglah terang-terangan denganku. Jangan bersembunyi di balik ilalang itu!" Rasanya, semua orang di tempat itu hidup dalam teriakan-teriakan yang memekakan telinga. Andai saja niat Toni saat itu langsung pada Bayu, maka ia sudah pasti akan bisa merasakan serangan, serta mencegah hal itu terjadi. Baik Rani atau dirinya sendiri, sudah pasti tidak akan terluka. Sebab, itulah salah satu kelemahan Bayu. Ia hanya bisa melindungi dirinya sendiri. Semua keahliannya, semua kekuatannya hanya akan berguna pada diri sendiri. Tanpa bisa menolong orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD