Bab 14

1034 Words
Maka saat tiba-tiba saja Toni mendekat, kini Bayu bisa merasakan pergerakan dan kehadiran pemuda itu. Tepat di belakang Bayu, Toni sudah bersiap untuk menikam. Tapi yang terjadi, gerakan Toni kali ini kalah cepat. Bayu berbalik, menyadari gerakan tangan Toni yang melamban. Rani yang saat ini berada di samping Bayu reflek saja terkejut. Dalam pandangannya saat ini, samar-samar tangan Toni bergerak cepat, kilatan dari pisau tajam yang mengarah pada tubuh Bayu, tampak nyaris berhasil untuk melukai Kakaknya. Tapi dengan secepat kilat pula Bayu bisa menangkis serangan, hingga keadaan berbalik dan dengan satu pukulan keras, tangan Bayu berhasil menghantam rahang Toni. "Arkhhh!" ringis Toni kemudian. Tak berhenti sampai di situ. Bayu meraih kaos yang dikenakan Toni, menariknya kuat-kuat lalu kembali melayang pukulan bertubi-tubi tanpa ampun. Pertama kalinya Rani melihat Bayu marah dan memukuli orang tepat di depan matanya langsung, meski dalam keadaan gelap. Selama ini, ia hanya tahu kalau Kakaknya adalah orang yang jahat tanpa pernah menilik bukti secara langsung. "Hahaha, pukul saja ... terus. Aku ... tidak peduli. Bahkan jika aku mati, itu artinya kau akan kembali di penjara, aarrkkhh!" Dalam keadaan Toni yang agaknya sudah mulai terluka parah, ia masih saja mengoceh dengan sombong. Bayu kehilangan kendali karena mengingat luka di lengan adiknya. Teganya Toni, melibatkan Rani yang tak bersalah, hingga harus mendapatkan luka. Maka Bayu menghujani anak itu dengan pukulan-pukulan tak berujung. Toni jelas kalah telak dan tak akan bisa membalas. Ia hanya manusia biasa, setiap kali mengangkat tangan atau menggerakkan kaki, Bayu sudah bisa menangkisnya lebih dulu karena kekuatan yang dimilikinya. Keadaan Toni sudah benar-benar payah. Rani yang menjadi saksi atas semua peristiwa ini tidak sanggup lagi untuk melihatnya. Ia tidak tega melihat nyawa orang melayang di hadapannya. Apalagi jika hilangnya nyawa tersebut disebabkan oleh Kakaknya sendiri. Maka dari itu, sembari memegangi lengannya yang sakit, ia berteriak pada Bayu. "Mas ... Mas Bayu sudah. Mas Bayu sudah Mas, Toni sudah ndak berdaya itu, Mas!" teriak Rani. Akan tetapi, orang yang diteriakinya sama sekali tak peduli. "Biarkan! Biar dia tahu, apa akibatnya karena telah melukai adikku!" balas Bayu. Rani berjalan mendekat ke arah Bayu. Gadis itu memegangi lengan Bayu, ia menahan Kakaknya agar tak lagi memukul Toni yang sudah hampir kehilangan kesadaran. Sambil menangis, gadis itu memohon pada sang Kakak agar berhenti. "Udah, Mas udah. Rani mohon Mas. Toni ... sudah ndak berdaya seperti itu. Lepaskan ... Mas!" pinta Rani sambil menangis tersedu-sedu. "Tapi dia sudah melukaimu, Ran!" bantah Bayu lagi. "Iya Rani tahu. Tapi kalau Mas Bayu membuat ulah lagi. Mas Bayu bisa di penjara lagi. Rani mohon, Mas. Sudah!" pinta Rani lagi. Bayu melepaskan Toni, lalu menendangnya sekali lagi, hingga pria itu jatuh di atas tanah. Ia memegangi perutnya yang amat sakit, sembari beberapa kali batuk. "Kau lihat itu hah! Adikku bahkan memohon ampun untukmu. Tidakkah kau malu?" ucap Bayu dengan geram. "Hahaha, pertanyaan itu lebih pantas untukmu. Tidakkah kau malu karena sudah di tolong wanita. Hanya karena kau berhenti, bukan berarti aku memiliki hutang budi padamu!" balas Toni sambil beberapa kali diselingi dengan ringisan. "Kau!" Bayu baru saja ingin maju dan kembali menghajar Toni. Padahal ia berharap, anak itu bisa meminta maaf pada adiknya. Tapi melihat sikap Toni, jangankan minta maaf. Sepertinya, anak itu tidak akan berhenti dengan mudah. "Udah, udah, udah. Mas Bayu udah ya. Rani mohon, jangan dengerin dia lagi. Rani takut, Mas. Rani ingin pulang." Karena iba pada Rani, juga mengingat apa yang terjadi padanya, maka Bayu menurut. "Awas kau. Lain kali, akan ku patahkan lehermu itu!" ancam Bayu. Rani menarik-narik tangan Kakaknya, agar segera menjauh sebelum ada pertarungan babak ke dua. Dengan langkah tertatih, Rani dibantu oleh Bayu. Meninggalkan Toni yang telah terkapar di sana. Akan tetapi, Bayu yakin, semua pukulan itu tidak akan sampai membuat pemuda itu meninggal. Paling-paling hanya memerlukan perawatan medis saja, juga waktu paling tidak satu Minggu untuk Toni beristirahat agar dia sembuh. Mungkin besok, seluruh kampung akan gempar. Bayu yang baru seminggu kembali ke kampungnya, telah membuat anak orang babak belur. Tapi apa Bayu peduli? Terserah saja lah! Salah sendiri, Toni sudah membangunkan raja hutan yang sedang tidur. Dan sekarang, Bayu tinggal mengkhawtirkan Rani. Kedua kaki Gadis itu sudah hampir mati rasa karena saking lelahnya. Kaos yang membungkus tangannya juga sudah mulai basah dengan darah. Kalau boleh, Rani sebenarnya ingin sekali menjerit kesakitan. Tapi tetap ia tahan semua itu, dengan sesekali menggertakan gigi, atau menggigit bibir. Bayu menyalakan motor, lalu menarik Rani untuk berdiri di depan lampunya, begitu mereka berhasil keluar dari semak belukar dan padang ilalang itu. Alangkah terkejutnya Bayu, saat mendapati kaosnya yang berwarna putih, kini berubah jadi merah darah. "Astagfirullah Ran. Darah kamu yang keluar banyak banget!" ujar Bayu. Rani sendiripun juga baru sadar setelah melihatnya langsung. Sudah tangannya sakit, ditambah ia harus melihatnya darahnya sendiri. Kepalanya sekarang pusing. "Kita ke klinik dulu sekarang!" ajak Bayu. Rani tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengikuti perintah Bayu, untuk segera menaiki motor di jok belakang. Pandangan gadis itu sepertinya mulai terasa kunang-kunang. "Mas, Rani pusing banget, Mas!" ucap Rani saat berpegangan pada pinggang Kakaknya. "Kamu tahan ya, Ran. Mas bakal bawa motor secepat mungkin!" balas Bayu. Menenangkan adiknya. Jarak klinik di Desa itu lumayan jauh. Tapi Bayu tidak memiliki pilihan lain. Yang Bayu tahu, ia hanya harus memacu kendaraaannya secepat mungkin. Dinginnya angin malam menembus kulit pria itu, yang saat ini hanya menggenakan kaus dalam saja. Sepasang matanya berkaca-kaca. Ingin menangis tapi sudah bukan waktunya. Keadaan Rani sudah semakin parah saat ia akhirnya sampai di klinik. Lampu yang terang benderang Dari bangunan bertingkat warna putih itu, semakin membuat kaos merah darah yang membungkus lengan Rani terlihat jelas. Setelah memarkirkan motor, Bayu dengan sigap mengangkat tubuh Rani, lalu membawa gadis itu dalam pangkuannya. "Mas ... ngapain gendong Rani?" tanya Rani dengan lemah. "Jangan banyak tanya! Pokoknya sekarang kamu tahan dulu ya. Mas bakal bawa kamu ke dalam," kata Bayu. Pria itu berlari dengan cepat menuju klinik yang untung saja masih buka. "Dokter! Tolong Dokter! Di mana kalian?" Bayu sudah melupakan etika dan sopan santun dengan cara berteriak-teriak begitu ia masuk ke sana. Masalahnya saat ini, pria itu mulai panik. Sepertinya ada yang tidak beres dengan luka Rani ini. Seorang Dokter wanita datang menghampiri Bayu sembari mengerutkan kening. "Dokter, tolong Adik saya Dokter. Dia ditusuk orang dengan pisau. Dan sepertinya, pisau itu beracun!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD