Bab 15

1070 Words
Bayu membawa Rani ke dalam ruang periksa sesuai arahan Dokter. Setelah itu, ia diminta untuk menunggu di luar. Pintu ruangan ditutup, menyisakan Bayu yang saat ini mengepalkan tangan sembari bersandar pada tembok. "Ini semua salahku. Salahku!" lirih Bayu. "Semua ini karena kesalahanku di masa lalu. Dan keluargaku ikut mendapat balasannya di masa depan. Kenapa? Aku yang berbuat salah. Kenapa bukan aku saja yang dihukum!" keluh Bayu lagi. Pendarahan yang dialami oleh Rani baginya tidaklah wajar. Pasti ada sesuatu pada pisau yang digunakan Toni. "Kinan ..." Bayu mengingat nama Kakak dari Toni yang kala itu masih gadis. Tatapan seorang gadis cantik yang polos, mendekatinya saat Bayu sedang nonkrong di sebuah warung kopi, sambil menghisap gulungan nikotin. "Mas Bayu, Kinan mau ikut kerja donk di Jakarta," kata Kinan mendadak. Gadis polos itu duduk di samping Bayu. "Jakarta itu kejam, Nan. Kamu ndak akan kuat," balas Bayu tanpa menoleh. "Kinan pasti kuat kok, Mas. Kinan bisa kok, masak, nyuci, ngepel, bersih-bersih rumah. Semua bisa," balas Kinan bersikeras. Bayu tidak menjawab. Rasanya enggan Bayu mengabulkan permintaan gadis ini. Umurnya masih terlalu muda untuk dibawanya menapaki kejamnya dunia Ibu Kota. Terlebih lagi, pekerjaan yang dimaksud Bayu, tidaklah sesederhana layaknya mencuci atau memasak seperti yang gadis itu utarakan. "Dengar Kinan, kamu itu belum cukup umur. Mas, butuh orang dewasa untuk bekerja di Jakarta. Kerjaan yang ku maksud itu bukan kaya gitu!" jelas Bayu. Memang, beberapa waktu lalu, Bayu menyebarkan berita bahwa dia membutuhkan banyak gadis-gadis untuk diajaknya bekerja di Kota. Tapi bukan dalam konsep pekerjaan sembarangan . Ia juga tidak serta merta memilih gadis polos baik-baik. Kebanyakan dari gadis yang dibawanya memiliki citra buruk di masyarakat. Sedangkan Kinan ini? Bayu tahu dia anak baik-baik. "Ayolah, Mas. Kinan itu capek. Di rumah, Bapak sama Ibu marah-marah terus karena Kinan ndak juga dapat pekerjaan. Ijasah SMA saja sudah susah cari kerja. Apalagi Kinan yang hanya tamatan SMP. Bantu Kinan Mas. Paling tidak, Kinan ingin keluar dari rumah itu, Mas. Kinan ingin sedikit bebas." Kinan masih tetap membujuk Bayu. Bayu menghela nafas panjang. "Nanti Mas pikir-pikir dulu ya. Tapi benar, kamu mau kerja apa saja?" tanya Bayu meyakinkan. Kinan mengangguk dengan cepat. "Iya. Kerja apa saja. Kinan mau, Mas!" Anak itu tampak sangat yakin. Sementara Bayu sesungguhnya agak khawatir. Kinan cantik dan polos, dia lebih sering diam di dalam rumah, juga jarang bergaul. Dia barang pasti belum pernah disentuh oleh siapapun. Tapi jika diajak bicara, cara pembawaannya memang menyenangkan. Harganya pasti mahal. Bayu bisa mendapat untung yang besar jika gadis itu laku terjual. Alhasil, Kinan benar-benar ikut bersama Bayu. Namun Bayu lupa. Setelah beberapa tahun ini, Bayu lupa pada Kinan. Ia lupa dengan gadis yang seharusnya memiliki masa depan cerah itu. Akan tetapi, bukankah ini tidak seratus persen kesalahan Bayu. Siapa suruh gadis itu ingin bebas. Siapa suruh gadis itu memaksa untuk ikut. Bayu tidak tahu bagaiman keadaannya. Tapi yang jelas, melihat kemarin keadaan Toni alias adik dari Kinan itu begitu bringas dan penuh dendam, itu sama saja artinya, Kinan tidak baik-baik saja. "Arrkkhh! Sekarang bagaimana keadaan Rani. Apa yang terjadi di dalam?" tanya Bayu pada diri sendiri, sambil mengacak-acak rambut. Otaknya kini bermain, berputar, hingga pusing tujuh keliling. Sekarang, apa yang akan dia katakan pada Darminah jika melihat putri semata wayangnya terluka. Dan semua luka itu, disebabkan oleh dendam orang lain terhadapnya. Dikala hatinya begitu gundah, di saat otaknya tak sejalan, tepat ketika perasaannya yang kalut berbaur dengan cemas, pria itu menoleh sekilas kemudian menunduk sambil memejamkan mata. Namun, beberapa saat kemudian sepasang mata pria itu terbuka. Ia mengangkat kepala, kemudian menoleh lagi. Pria itu celingukan, mencari-cari sesuatu. Tapi, agaknya dia tidak menemukan apapun lagi. Rasa penasaran mendorongnya untuk melangkah lebih jauh, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan pintu ruangan tempat Rani sedang diperiksa. Pria itu berjalan menyusuri lorong sepi, dimana ada beberapa pintu tertutup. Akan tetapi, tidak ada apa-apa di sana. Sunyi ... hanya itu yang saat ini dirasakannya. "Apa ... aku tadi salah lihat?" tanya Bayu dalam hati. "Ckk, iya. Aku pasti salah lihat. Dia tidak mungkin ada di sini," decaknya seraya berbalik untuk kembali menuju ruangan Rani. "Rusmi ... bagaimana kabarmu sekarang. Sejak aku pulang, aku tak pernah melihatmu, atau bahkan mendengar kabarmu. Apa sekarang, kamu sudah menikah?" Bayu bergumam dalam hati. *** Hari sudah sangat malam saat Bayu dan Rani akhirnya sampai di depan rumah. Sengaja Bayu mematikan mesin motor agar tidak menimbulkan kegaduhan. Dan yang paling penting, agar dia bisa bicara terlebih dahulu dengan Rani sebelum bertemu dengan Darminah. Kondisi jalan yang menurun, membantu Bayu agar motornya masih bisa tetap berjalan. Tepat di pelataran rumah, Bayu menghentikan motornya. Rani terlihat sedikit pucat. Tapi ini sudah jauh lebih baik, daripada keadaan beberapa waktu yang lalu. Benar saja dugaan Bayu, ada racun pada pisau yang digunakan oleh Toni untuk melukai Rani. Untungnya, Rani cepat-cepat dibawa ke klinik dan tidak diobati sendiri secara manual di rumah. "Rani ... Kamu ndak usah cerita apa-apa dulu ya sama Ibu. Takut beliau nanti kaget!" kata Bayu memperingati Rani. Padahal saat di klinik tadi, Bayu juga sudah bernegosiasi dengan Rani. "Iya, Mas. Tapi nanti kalau Ibu nanya lukaku ini kenapa, bagaimana?" balas Rani. "Kamu jawab saja, ndak sengaja terkena benda tajam saat jatuh. Atau saat kamu naik permainan di pasar malam ya. Cerita sesungguhnya, biar Mas yang bilang ke Ibu besok. Tunggu ibu tenang. Karena sekarang, setelah lihat kondisi kamu seperti ini. Mas takut Ibu semakin kaget, kalau tahu kamu hampir saja kenapa-kenapa oleh Toni," jelas Bayu panjang lebar. Rani mengangguk pelan. Bayu mendorong motornya untuk masuk ke teras rumah, ditemani oleh Rani. Sebelum masuk ke rumah, Rani memandang Bayu dengan seksama. Ia masih membenci manusia di hadapannya ini. Tapi juga Iba karena dia telah menolongnya. "Terima kasih, Mas Bayu," lirih Rani. Sangat lirih, hingga nyaris tak terdengar. "Hah, apa tadi, Ran?" "Ndak, Mas. Ndak apa-apa. Mas Bayu saja dulu yang masuk," pinta Rani akhirnya. "Ya sudah. Jangan lama-lama di luar." Bayu membuka pintu, lalu mengucapkan salam. "Assalamualaikum, Bu. Rani dan Bayu sudah pulang." Rani terdiam, memandangi punggung Kakaknya yang masuk ke rumah terlebih dahulu. Perasaannya campur aduk dalam ketidak pastian. Bencikah? Atau bagaimana. Dalam benaknya, segala macam kesialan yang dialaminya saat ini adalah karena kehadiran Bayu. Semua baik-baik saja sebelum Bayu kembali pulang. "Ini tidak benar. Semua karena pria itu kembali ke sini. Andai Mas Bayu tidak pulang. Maka aku ndak akan masuk dalam perangkap Toni! Terima kasih, karena sudah menolongku Mas. Tapi semua ini juga salahmu! Salah Mas Bayu!" ucap Rani dalam hati, seraya mengikuti langkah Kakaknya yang lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD