Bab 16

1101 Words
Pagi itu Bayu membuka pintu kamar adiknya. Dengan semangkuk bubur yang masih panas di tangan, ia tersenyum menatap adik perempuan semata wayangnya yang saat ini tengah duduk bersandar di tempat tidur. Bayu membuka tirai jendela terlebih dahulu, sebelum akhirnya menarik kursi meja rias lalu membawanya ke samping tempat tidur Rani. Membiarkan sinar matahari pagi masuk, menembus kaca jendela. Rani melirik pada Bayu, yang saat ini bersikap ramah padanya. Inginnya adalah mengusir pria ini dari kamarnya. Tapi mengingat bagaimana Bayu telah menyelamatkan nyawanya, Rani urung melakukan hal itu. Bagus! Sekarang gadis itu jadi dilema berada di antara rasa benci dan hutang budi. "Keadaan kamu sekarang bagaimana Ran?" tanya Bayu. Ini bukan sekedar pertanyaan basa-basi. Bayu sungguh bertanya soal keadaan Rani, karena memang merasa khawatir. "Ndak begitu baik. Mas lihat? Tangan kananku ndak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan semua pekerjaan, pasti dipimpin oleh tangan kanan," jawab Rani dengan ketus. "Dokter bilang kamu akan cepat sembuh. Jadi jangan khawatir ya. Ayo makan dulu, Mas suapi kamu ya," tawar Bayu. "Ndak usah. Rani bisa sendiri!" tolak Rani dengan ketus. "Yakin? Tanganmu luka loh itu. Katanya nda bisa gerak. Nda bisa ngapa-ngapain?" balas Bayu lagi. Sekarang Rani jadi semakin kesal. Tapi juga tidak bisa melakukan apa-apa sebagai aksi protes. "Ya udah, iya. Tapi ndak usah banyak-banyak. Rani ndak suka bubur. Apalagi kalau Mas Bayu yang bawa," ujar Rani. "Ya sudah. Lain kali biar Ibu saja yang bawa. Biar kamu, nanti jadi suka." Bayu mulai menyendokan bubur pada Rani dengan pelan-pelan. Rani meringis saat tangannya yang luka, tak sengaja tersentuh oleh dirinya sendiri. "Hati-hati Ran," kata Bayu mengingatkan. "Ihhh, ndak usah di bilangin, Rani juga hati-hati kok, Mas. Asal Mas Bayu tahu, semua ini ndak akan terjadi kalau bukan karena ada Mas Bayu!" celetuk Rani begitu saja. Membuat Bayu mendadak terdiam. "Kalau saja dulu Mas Bayu ndak membuat ulah, keluarga kita, khususnya aku ndak akan jadi bahan pelampiasan balas dendam si Toni itu. Sekali lagi Rani bilang. Ini semua awalnya dari Mas Bayu sendiri!" ujar Rani dengan geram. Bayu tetap tersenyum kemudian lanjut menyuapi Rani, tanpa perduli dengan celetukanya. Bukan hal yang baik, untuk turut serta memancing keributan. Apalagi, yang dikatakan Rani itu benar. Semua terjadi karena ulahnya di masa lalu, juga karena kepulangannya ke kampung ini. "Darminah! Darminah ... Darminah ke luar kamu! Ayo cepat ke luar. Bawa juga penjahat yang bersembunyi di rumahmu sekarang!" Tiba-tiba saja, terdengar suara teriakan yang amat terdengar jelas. Rani dan Bayu saling lirik. Siapa pula yang pagi-pagi begini sudah membuat keributan. "Darminah ... Kau tidak mendengarku? Ke luar kau!" Suara teriakan itu semakin jelas dan sudah tidak mungkin lagi untuk dibiarkan. Bayu meletakan mangkuk bubur dalam genggamannya di atas meja, kemudian beranjak dari duduknya. "Mas mau keluar dulu. Ada ribut-ribut apa di depan sampai harus memanggil-manggil nama ibu kita. Ndak sopan!" kata Bayu. "Aku mau ikut, Mas!" "Jangan, kamu di sini saja. Kan sedang sakit!" "Yang sakit cuma tangan. Rani masih bisa jalan! Buruan Mas, Rani juga ingin tahu di depan ada apa?" ujar Rani bersikeras. Bayu hanya bisa mengambil nafas panjang yang berat. Lalu mengiyakan saja keinginan Rani. Begitu sepasang Kakak dan Adik itu keluar dari kamar Rani, tampak Darminah sedang berjalan tergopoh-gopoh. Beliau tampak agak terkejut dan panik. "Bayu ... ini ada apa Bayu. Kenapa di depan sepertinya banyak orang?" tanya Darminah pada anaknya. "Bayu juga ndak tahu, Bu. Ayo kita keluar dulu untuk memastikan!" ajak Bayu kemudian. Sambil menuntun Ibunya berjalan, Bayu, Darminah dan Rani pergi ke luar. Begitu pintu dibuka, tampak beberapa warga sekitar sudah berkumpul di halaman rumahnya. Teriakan yang memanggil-manggil nama Darminah tadi, pastilah telah menarik perhatian orang lain. Dari semua pemandangan yang paling mengejutkan, ada satu lagi yang tanpa harus di jelaskan sekalipun, Bayu sudah bisa menebak sumber dari keributan masa ini. Seorang pemuda dengan wajah yang babak belur, tampak bersembunyi di antara kerumunan itu. Tatapannya yang tajam itu tepat mengarah kepada Bayu. Bayu sedikit bersyukur anak itu bisa selamat. "Hey ... Darminah kau lihat baik-baik, apa yang sudah dilakukan penjahat itu pada anakku!" Seorang pria dewasa dengan celurit di tangannya menarik Toni untuk maju ke depan semua orang. Ya, Toni. Toni semalam dibuat terkapar oleh Bayu. Toni yang memiliki niat jahat pada keluarganya. Dan yang sejak tadi berteriak-teriak di depan rumahnya adalah Pak Handa. Bapak dari anak itu. Baik Rani maupun Bayu, belum sempat menceritakan kejadian apapun pada Darminah. Bukan kepalang terkejutnya Darminah mengetahui hal ini. "Jangan mengada-ngada. Anakku ndak mungkin melakukan semua itu!" bantah Darminah kemudian. "Kau bilang tidak mungkin? Lihat hasilnya, semua ini. Lihatlah keadaan anakku baik-baik. Bahkan jika tidak ku paksa, Toni tidak akan bisa bangun dari tempat tidur, karena lukanya yang parah!" jelas Bapak itu dengan panjang lebar. Darminah menoleh pada Bayu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa ini, Bayu? Apa yang sudah kamu lakukan pada anak itu, hah?" tanya Darminah. Rani kemudian memegang bahu Ibunya. "Ceritanya ndak seperti yang Ibu pikirkan. Semua ini ada alasannya, Bu," ujar Rani. "Bayu akan jelaskan semuanya nanti, Bu." Dan kini giliran Bayu yang berujar. "Heh, sudah cukup basa-basinya. Aku tidak terima anakku kau buat seperti ini. Orang sepertimu harusnya pergi dari kampung ini. Benar-benar meresahkan masyarakat. Betul tidak semuanya?" Pak Handa mengacungkan celuritnya, meminta dukungan. Dan semua warga menyetujui. Semua orang menjawab kalau Bayu seharusnya di usir saja dari kampung itu. "Betul, usir Bayu dari sini." "Penjahat seperti itu tidak layak berada di sini." "Sekali penjahat, tetaplah penjahat." "Darah kejahatan sudah mengalir dalam tubuhnya. Dia tidak akan pernah bertobat!" "Orang seperti itu ndak akan bisa masuk surga." Seluruh warga yang saat ini ada di hadapan Bayu, ramai membicarakannya karena telah di provokasi oleh Pak Handa itu. "Diam semuanya diam! Ku bilang dddiiiaammmm!" teriak Bayu dengan lantang. Rani mengusap-usap bahu Ibunya yang saat ini mulai menangis. Rasa benci gadis itu kian meningkat saja karena semua ini. Lagi-lagi di dalam hatinya, Rani meyakini. Semua ini tidak akan terjadi kalau saja Bayu tidak pulang. "Tanyakan pada anakmu. Apa alasan dia bisa babak belur seperti itu!" tunjuk Bayu pada Toni. "Tentu saja karena kau menghajarku tanpa ampun. Dengan alasan yang tidak jelas!" jawab Toni dengan keras, kemudian meringis kesakitan. "Alasan tidak jelas? Alasan tidak jelas katamu. Kau lihat lengan kanan adikku. Lihat tangannya yang di perban, tidakkah itu sudah terlalu jelas. Siapa yang telah menyulut api terlebih dahulu?" tegur Bayu kemudian. "Kau pikir aku akan memukulimu tanpa alasan hah. Dan kalian! Siapa kalian hingga bisa memutuskan aku penjahat atau bukan. Apa kalian Tuhan, yang bisa memutuskan aku masuk surga atau tidak!" Jawaban Bayu membuat semua warga itu diam dalam bisikan-bisikan lirih. Mereka sudah salah mengira. Jangan dipikir hanya karena selama kedatangannya kembali di kampung Bayu selalu diam, maka dia juga akan diam saja jika ditindas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD