Kesabaran Bayu kini mulai terkoyak. Tangannya yang semula terbuka sejak tadi mulai mengepal. Laki-laki itu berusaha keras untuk menahan amarahnya.
"Bertahanlah Bayu. Kamu bukan Bayu yang dulu lagi. Ini hanya masalah kecil-kan? Tidak perlu ada pertumpahan darah di sini!" gumam Bayu dalam hati.
"Hey ... Nara pidana sepertimu, tak cocok membicarakan surga dan neraka dengan kami. Sekali penjahat tetap saja penjahat! Kalian semua lihatlah. Dia hanya berusaha mengelak dan lari dari tanggung jawab, ayo lempari dia!" Pak Handa mulai kembali memprovokasi.
Aneh memang, apa yang diucapkan Bapak-bapak itu begitu mudah mempengaruhi orang lain. Bahkan tidak ada yang protes. Pak Handa mengambil batu, kemudian melemparkan benda itu. Tapi bukan ke arah Bayu. Ia lempar benda itu ke arah Darminah dan Rani.
"Ibu!" pekik Bayu. Dengan secepat kilat Bayu, menghalangi Darminah dan Rani dari lemparan batu pertama. Semua orang mengikuti apa yang dilakukan oleh Pak Handa. Lemparan ke dua, ke tiga, dan seterusnya kini mulai beterbangan.
"Arkkhh! Mas Bayu. Gimana ini Mas?" tanya Rani panik. Tangan kanannya masih sakit, sementara tangan kirinya memegangi Darminah yang juga mulai ketakutan.
Bayu tidak ada pilihan lain selain melindungi mereka. Walau sebenarnya, kini lemparan-lemparan itu melamban karena adanya kekuatan Bayu sendiri. Akan tetapi ia tidak mau bertindak bringas lagi. Ia ingin menjadi Bayu yang lebih baik. Akan ada banyak jiwa yang terluka jika ia mulai bergerak. Alhasil ia relakan tubuhnya menjadi tameng. Merasakan sakit berkali-kali akibat batu-batu itu.
"Ahh, Rani. Bawa ibu ke dalam. Kalian masuklah terlebih dulu. Lindungi Ibu. Meskipun kamu sedang sakit. Mas, akan berjaga di sini!" ujar Bayu.
"Tapi ... Mas Bayu bagaimana, Mas?" tanya Rani lagi.
"Masmu ini, mantan nara pidana. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," balas Bayu.
Rani terdiam sejenak. Lalu melirik ke arah kerumanan masa yang mulai menakutkan. Darminah juga tampak semakin takut.
"Baik, Mas. Janji sama Rani, jangan biarkan mantan nara pidana ini terluka, atau kembali menjadi nara pidana!" pinta Rani.
Bayu tersenyum kecil. Di balik sifat jutek dan kebencian Rani, masih ada tali persaudaraan yang mengikat mereka berdua. Sedikit banyak, Rani pasti mengkhawatirkan Kakaknya juga.
"Ndak mau. Ibu mau tetap di sini. Ibu ndak mau ninggalin kamu, Bayu. Kalau mau masuk, kita harus masuk sama-sama!" Sebagai seorang Ibu, memang mana mungkin Darminah mau meninggalkan anaknya dalam keadaan genting seperti ini.
Namun, Bayu dan Rani berusaha meyakinkan Darminah. Kehadiran sang Ibu, hanya akan membuat Bayu semakin sulit bertindak.
"Bu, kalau kita di sini, Mas Bayu jadi ndak bisa berbuat apa-apa. Menurutlah, Bu. Demi Mas Bayu," kata Rani kemudian. Dengan susah payah, Rani membawa Darminah masuk ke dalam rumah.
Setelah adik dan Ibunya masuk ke dalam. Barulah Bayu berbalik. Semua orang membabi buta melemparkan batu dan sampah ke arahnya. Bayu tidak memiliki pilihan lain. Ia harus melawan. Apalagi salah satu kaca jendela rumahnya sudah ada yang pecah.
"Usir Bayu dari sini! Usir dia!"
"Biarkan penjahat itu pergi!"
"Pergilah Bayu, kehadiranmu hanya bisa meresahkan warga saja!"
Umpatan dan makian semakin terdengar nyaring. Sudah cukup, Bayu tak bisa bersabar lagi. Pria itu memasang kuda-kuda, lalu memejamkan kedua matanya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, Engkau tahu aku tidak menginginkan perkelahian. Jika memang ada cara lain, tolong tunjukkan padaku. Jangan biarkan keluargaku menjadi korban," doa Bayu dalam lirih.
"Berrhhheennntiiii!" Teriakan seorang gadis tiba-tiba saja memecah susana yang kisruh. Semua orang mendadak berhenti melakukan aktifitas yang memuakkan itu.
Bayu membuka kedua matanya lantas terkejut pada apa yang terjadi. Semua orang menyaksikan seorang gadis yang datang dan menghalangi semua lemparan batu itu. Ia berdiri tepat di hadapan mantan nara pidana itu.
"Kalian semua berhenti!" ucap gadis itu lagi.
Bayu meraih bahu gadis dihadapannya, membuatnya berbalik karena penasaran dengan sosoknya saat ini.
"Kinan!" pekik Bayu. Ya ... gadis yang saat ini ada di hadapannya, dan menghalangi Bayu dari kemarahan warga adalah Kinan. Sosok seorang gadis yang menjadi kunci dari segala kasus ini. Terkhusus yang berkaitan dengan Toni.
"Kamu ... ka kamu?" Bukan main terkejutnya Bayu dengan kehadiran Kinan saat ini. Begitu pula dengan Pak Handa dan Toni.
"Mbak Kinan. Mbak!" panggil Toni sambil berlari ke arah Kakak perempuannya. Toni tidak peduli lagi dengan rasa sakit pada seluruh anggota tubuhnya yang babak belur. Dalam benaknya, hanya ada rasa bingung, terkejut sekaligus senang.
"Mbak ... Mbak Kinan bisa bicara, Mbak?" tanya Toni seolah tak percaya. Toni begitu senang, pasalnya sejak kembali dari Jakarta, gadis itu seperti orang yang kurang waras. Gadis itu tidak pernah bicara dan hanya tertawa-tawa sendiri di dalam kamar selama ini.
Pak Handa juga ikut terkejut, anak gadisnya yang sudah tak gadis lagi memberikan respon atas kegiatan yang terjadi sekarang ini.
"Hentikan semua ini Toni. Hentikan! Mas Bayu ndak salah!" pinta Kinan.
"Apa yang sedang Kakak bicarakan. Aku sedang menuntut keadilan untuk, Mbak Kinan. Mbak Kinan lihat, semua orang sekarang bisa merasakan kemarahan, Mbak Kinan," balas Toni.
"Bayu ... kau lihat itu! Itu anak gadisku yang sekarang jadi gila karena kau bawa pergi ke Jakarta. Kau janjikan dia perkerjaan, tapi nyatanya justru kau jual anakku di sana!" teriak Pak Handa kemudian.
"Setelah sekian lama anakku ndak bisa bicara karena trauma. Akhirnya dia kembali, karena tahu ada penjahat sesungguhnya di sini!" ujar Pak Handa lagi.
Bayu tidak bisa melawan lagi. Ia pasrah dengan keadaan. Korban sesungguhnya kini telah datang. Wajar kalau Pak Handa sebagai sang Ayah, juga Toni sebagai adik merasakan kemarahan yang luar biasa dan datang untuk menuntut balas. Bayu sudah menghancurkan masa depan Kinan.
Yang membuat Bayu tak terima, adalah karena Darminah dan Rani ikut menjadi korban. Tapi sekarang mereka sudah berlindung di dalam. Bukan tak mungkin warga akan ikut-ikutan menghakimi Darminah dan Rani jika Bayu terus melawan.
Kinan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukan ini yang ia mau. Ada kesalahpahaman selama bertahun-tahun yang begitu kuat di sini dan harus ia jelaskan.
"Ndak. Kalian semua salah paham. Mas Bayu ndak seperti itu. Kalian salah!" kata Kinan.
Semua orang terkejut karena Kinan malah membela Bayu. Toni menarik tubuh Kinan kuat-kuat agar menghadap tubuhnya, ia sangat marah dengan penuturan yang Kinan ucap.
"Apa-apaan ini, Mbak. Aku sudah susah payah mencari keadilan dan Mbak Kinan mau menghancurkannya begitu saja!" bentak Toni.
"Kamu salah paham, Toni. Bukan ini yang Mbak maksud, Mas Bayu itu ndak salah!" Kinan masih tetap bersikeras.
Toni lantas memeluk tubuh sang Kakak dengan erat. Seraya berbisik ...
"Jangan takut, Mbak. Ku mohon jangan takut. Toni ada di sini. Katakan segalanya, si Bayu itu ndak akan menyakiti Mbak Kinan lagi. Jangan takut, Mbak." Meski yang diucap Toni itu wajar, ada yang aneh dari raut wajah anak itu.
Semua orang sekarang bisa melihat dengan jelas. Keadaan seolah berbalik, di mana Toni yang dianggap waras, malah seperti seorang anak yang depresi.