Bab 18

1003 Words
"Toni ... tapi Mas Bayu memang ndak sepenuhnya salah. Kamu dengakan Mbak ya, Mas Bayu memang membawa aku bekerja di tempat biadab itu, tapi semua itu atas persetujuanku. Dia juga yang meminta bantuan pada kawannya supaya Mbak bisa bebas, Toni," bisik Kinan panjang lebar di telinga adiknya. "Mbak Kinan ini ... bicara apa? Mbak jangan bikin ... keluarga kita malu!" bisik Toni dengan terbata-bata. Seolah aoa yang dikatakan oleh Kinan tak bisa dicerna oleh otaknya. "Maafin Mbak, Toni. Sebenarnya. Mas Bayu ndak sepenuhnya salah, Mas Bayu itu ...," ucapan Kinan terhenti tatkala tubuh Toni yang memeluknya terasa bergetar. "To ... Toni ... Toni, kamu baik-baik aja kan?" tanya Kinan dengan gugup. Ada yang tidak beres di sini! "He-he-he, hemmm, ha-ha-ha." Bukannya menjawab, Toni malah tertawa-tawa seperti orang gila. Tawa yang semula pelan bahkan nyaris terdengar seperti bisikan perlahan bertambah semakin nyaring. Dengan sekali gerakan, Toni memutar tubuh Kakak perempuan yang semula ada dalam peluknya itu. Posisi Toni kini berada di belakang Kinan. Sebelah tangannya menahan Kinan dengan cara mengunci leher gadis itu menggunakan lengan, sementara tangan lainnya meraih pisau lipat dari dalam sakunya. "Aarrrkhh, Toni kamu ngapain, tolong jangan kaya gini." Kinan amat terkejut dengan tindakan adiknya itu. "Diam! Kalian semua, jangan ada yang berani mendekat!" Toni mengacungkan pisau di tangannya, menebas udara di sekitar, menakuti semua orang dengan tindakannya. "Toni tahan oke, tahan. Kamu punya masalah denganku bukan dengan Kinan. Dia Kakak perempuanmu, ingat?" ujar Bayu kemudian. Bayu menecoba untuk melangkah mendekati Toni, tapi Toni justru tertawa. Dia mengarahkan pisau itu pada leher Kinan. Pisau beracun yang juga telah digunakannya untuk melukai Rani semalam. "Arrrkhhh! Mas ... Mas Bayu Kinan takut!" Kinan mulai menangis. Sungguh di luar dugaan ada tindakan semacam ini dari Toni. Para warga yang semula ribut tidak ada yang berani mengambil tindakan. Entah apa fungsi Rt, Rw, juga keamanan di kampung itu. Handa yang juga menjadi biang keladi dai situasi ini, ikut maju dan hanya bisa memperingatkan anaknya agar tidak melakukan tindakan yang ceroboh. Tapi, apa Toni akan mendengarnya? tentu saja tidak. Bocah itu justru kembali tertawa. "Ha-ha-ha, dasar kalian manusia tak berguna. Mbak Kinan ... sudahlah, jangan menutupi perbuatan-perbuatan Bayu yang keji itu. Mbak Kinan lihat? lihat kan? mereka bahkan ndak berani maju. Padahal aku hanya mengacungkan pisau kecil ini. Ha-ha-ha," kata Toni lagi. Jika saja yang berhadapan dengan Toni saat ini adalah Bayu yang dulu, maka jalan ceritanya akan lain. Nyawa Toni pastilah sudah melayang tanpa perlu banyak basa-basi atau drama lagi. Tapi karena yang saat ini hadir adalah sosok Bayu yang baru. Maka yang bisa dilakukan pria itu hanyalah ... "Bismillahirrahmanirrahim." Bayu memutari Toni. Ia mendekat dengan secepat kilat, hingga bocah itu bahkan hanya bisa merasakan sekelebat angin yang bergerak. Bayu berhenti tepat di belakang Toni. Dengan satu kali pukulan yang tepat diantara persendian lengan anak itu, pisau yang sejak tadi menjadi andalannya terjatuh begitu saja. Bayu mengayunkan kaki, menendang bagian belakang lutut pemuda itu. Alhasil Toni jatuh dengan sebelah kaki yang tertekuk. Sementara tangannya reflek melepaskan Kinan begitu saja. Ia lakukan tendangan berikutnya pada kaki Toni yang lain. Hingga pada akhirnya Toni duduk bersimpuh, seperti orang yang sedang berlutut. Kedua kakinya lemas begitu saja. Dua tendangan dari Bayu yang nyaris di katakan tanpa tenaga itu, melumpuhkannya dengan mudah. "Mas Bayu ... sudah Mas. Jangan sakiti adikku!" pinta Kinan pada Bayu. Sungguh tidak ada sama sekali niatan bagi Bayu untuk menyakiti siapapun. Ia hanya memberikan pelajaran pada anak itu. Toh pada awalnya, Toni juga yang membuat masalah. "Hehehe, Mbak Kinan. Sebenernya kenapa ... apa yang salah. Aku ... sedang meminta hak mu, Mbak. Aku minta pertanggung jawaban dari b*****h ini untukmu! Hahaha," ucap Toni sambil tertawa. Jelas itu bukan hasil tawa kebahagiaan. Meski bibirnya berucap sambil tertawa, wajah itu menyiratkan sebuah pertanyaan dalam kebingungan. Sepasang mata Kinan mulai berkaca-kaca. Ada tetesan air tanpa permisi yang melesak, memaksa untuk ke luar. Semua yang dilakukan Toni, semata-mata hanya untuk membela Kakak perempuan yang amat ia sayangi. "Mbak Kinan ndak gila, Toni. Mbak hanya malu! Semua orang tahu pekerjaan Mbak, di Kota itu seperti apa. Pekerjaan memalukan yang akan mencoreng nama keluarga. Kamu tahu sendirikan, Bapak dan Ibu selalu menghakimi Mbak sejak dulu. Apapun yang Mbak lakukan selalu salah di mata mereka," ujar Kinan. Ia berhenti berkata-kata barang sejenak, sebelum mengusap sedikit air matanya. "Mbak malu! Dan bingung, hingga menghadiahkan kabar kalau ini semua adalah salah Mas Bayu. Tapi sejak dia kembali, sejak orang-orang membicarakannya, sejak Ibu Darminah dan adik-adiknya ikut terseret dalam kebohongan itu, Mbak ndak bisa tenang. Mereka ndak bersalah Toni, ndak salah! Mas Bayu tetap menolong, Mbak. Mas Bayu, sudah berusaha membebaskan Mbak!" jelas Kinan di iringi isak tangis yang semakin jelas terdengar. Sejatinya, gadis-gadis yang telah dijual itu, akan sukar kembali dalam keadaan bebas. Kala itu, Bayu sudah memperingatkan pada Kinan. Sekali dia terjun, maka tidak ada lagi jalan kembali. Tapi pada akhirnya Kinan lelah dan ingin berhenti. Bayu belum sempat menolong Kinan karena sudah lebih dulu ditangkap dan masuk penjara. Tapi di balik jeruji besi itu, tidak sepenuhnya Bayu sendiri. Ada begitu banyak akses yang bisa dilakukannya untuk meminta bantuan di luar penjara. Sungguh ia bahkan lupa kalau ternyata, kawan-kawannya telah berhasil membawa Kinan kembali. Kinan kembali nmendekati Toni. Kini giliran gadis itu yang memeluk adiknya dengan erat. Ia tahu Toni tidak jahat, adik laki-lakinya itu hanya ingin membalaskan sebuah dendam yang tidak seratus persen benar. "He-he-he, Mbak. Jadi, Toni salah ya, Mbak? sekarang Toni yang membuat malu keluarga ya, Mbak. Ha-ha-ha," ucap Toni. Kinan menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Ndak, kamu ndak membuat malu. Kamu ndak salah. Mbak yang sudah membuat kesalahan!" Kedua Kakak beradik itu berebut untuk saling mengakui kesalahan. Hingga di satu titik Toni mulai kehilangan akal. Ada satu yang dilupakan oleh Bayu juga orang-orang. Meski ia berhasil melumpuhkan Toni. Pisau yang sempat jatuh itu masih berada didekatnya. Tak ada yang menyadari saat Toni meraba-raba benda tajam itu walau masih dalam pelukan Kakaknya, kecuali Bayu. Kemudian di detik berikutnya, tak ada lagi yang bisa dicegah. "Toni jaannggannn!" cegah Bayu. Sleebbb ... Semua sudah terlambat, pisau itu telah berhasil menembus kulit. Bayu sudah terlambat!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD