Bab 19

1215 Words
Semua orang tercengang, termasuk Bayu yang saat ini tak bisa berkata-kata lagi. Kinan melepaskan pelukannya dari Toni. Dia terkejut bukan main. Begitu pula dengan Handa yang langsung ikut berjongkok memeluk putranya. "Toni? Tooonnniii! Toni kamu apa-apaan sih. Tolong ... Tolong adikku tolong! Toni!" Kinan menangis dengan keras, berteriak minta tolong. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani ikut campur apalagi turun tangan. Pertikaian hari ini terlalu gila dan menakutkan bagi mereka. "Toni ... Toni anakku. Kamu tahan ya. Kamu tahan sebentar, Bapak akan bawa kamu ke Rumah sakit. Kamu tahan ya. Tahan! Bapak suruh kamu bertahan pokoknya. Aarrkkhh!" Handa sudah tak bisa menahan perasaan takutnya lagi. Ia berteriak sekuat-kuatnya, karena bingung harus berbuat apa. Darah dari bagian tubuh yang ditusuk oleh Toni kini semakin banyak. Tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah. Pusat Kesehatan sangat jauh dari Desa itu. Tapi alasan utama tak ada yang menyelamatkan Toni, adalah karena itu permintaannya sendiri. Toni mengangkat sebelah tangannya, mengusap air mata yang membanjiri pipi Kinan. Kinan balas menggenggam tangan adiknya itu dalam rasa sakit yang tak bisa digambarkan. "Toni ... apa yang kamu lakukan? Kenapa?" tanya Kinan tak habis pikir. "Toni ndak apa-apa. Sama seperti Mbak Kinan. Toni juga ... sudah capek. Bapak sama Ibu ndak pernah mengerti Toni. Mbak Kinan ... jangan nangis lagi!" lirih bocah itu dengan terbata-bata. "Bapak, Toni ndak mau jadi guru ... susah Pak. Toni, cuma mau jadi anak Bapak sama Ibu saja. Jangan dendam lagi Pak ... kita yang salah," ucap Toni lagi. Semua orang tua, memang menginginkan hal yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak ada yang dengan sengaja ingin menjerumuskan mereka ke dalam jalan yang sesat. Tapi terkadang, apa yang orang tua pikir itu baik, belum tentu baik pula bagi sang anak. Ada kebebasan yang terengut dalam setiap gerak Toni. Ada keinginan terpendam yang membuatnya harus berpikir keras. Ada paksaan atas jalan hidup yang seharusnya bisa ia putuskan sendiri. Dan siapa yang kali ini tak bisa menangis menyaksikan adegan yang begitu pilu ini. Terlebih Kinan dan Handa yang berada di posisi pahit menyaksikan adik juga anak yang saat ini berada di saat-saat terakhir. "Mbak Kinan ... Toni ... Toni minta maaf!" Dan pada akhirnya, satu kalimat terakhir dari bocah itu. Telah mengantarkannya kepada sang pencipta. Tangan yang digenggam Kinan jatuh dengan lunglai begitu saja. Kedua mata Toni masih terbuka dengan mulut yang masih menganga. Seorang warga yang iba dengan keadaan, mendatangi Toni. Memeriksa denyut nadi dan denyut-denyut lainnya. Memastikan keadaan bocah yang lebih memiih untuk bunuh diri itu. Dan hasilnya ... "Innalilahi wainnailaihi rojiun." Teriakan histeris dari Handa dan Kinan mengiringi kepergian Toni. Selepas kepergian Toni ini, barulah orang-orang berani mendekat. Rani juga Darminah keluar dari rumah. Bukan kepalang terkejutnya sepasang Ibu dan anak itu menyaksikan sebuah tragedi di depan rumah mereka. Dan sekarang tinggal Bayu yang tubuhnya mendadak lemas. Kepalanya pusing, pandangannya tampak berkunang-kunang. Dadanya begitu sesak, nafasnya semakin tak beraturan. "Ya Allah. Kenapa? Ada  apalagi ini? Kenapa selalu saja ada orang yang mati karenaku?" kata Bayu dalam hati. Bayu sudah tak bisa lagi berdiri dengan benar. Langkahnya yang sempoyongan membantunya untuk jatuh dengan mudah setelah tertabrak oleh warga sekitar yang sedang berlari dengan panik. Brugh ... Bayu jatuh begitu saja di atas tanah, terkapar tak berdaya. *** "Aku tidak membunuhnya. Dia pergi atas kemauannya sendiri. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak berani! tiiidaaakkk!" Bayu terbangun oleh teriakannnya sendiri. Pria itu mengerjap beberapa kali, saat kesadarannya belum pulih betul. Fajar yang saat itu baru saja selesai melaksanakan ibadah shalat isya di kamar Bayu, datang menghampiri Kakaknya. Ia mengusap punggung Bayu pelan-pelan, karena melihat raut wajah Bayu yang sudah tak karuan. "Istigfar, Mas Bayu. Istigfar," pinta Fajar. Bocah itu mengambil air putih di atas meja kecil yang ada di dalam kamar itu, lalu menyodorkannya pada Bayu. "Minum dulu nih, tenangin diri dulu," tawar Fajar. Bayu menurut lalu meneguk segelas air putih itu hingga benar-benar tandas. Ia kemudian memegangi dadanya yang terasa amat seksak. "Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah," sebut Bayu. Bayu kemudian melirik ke arah Fajar yang saat ini tersenyum, mamerkan deretan benda putih dalam mulutnya ala-ala iklan pasta gigi. "Ini jam berapa, Jar? Kok kamu shalat di kamar, Mas?" tanya Bayu. "Baru aja isya. Ini Fajar habis shalat isya dulu," kata Fajar dengan santai. Tapi yang di ajak santai justru tidak sesantai itu. "Hah? Ini udah isya. Berapa lama Masmu ini pingsan, Jar?" tanya Bayu heran. "Fajar ndak tahu Mas, tadi siang Fajar pulang, Mas Bayu sudah pingsan. Tadi sebelum Fajar, Ibu yang jaga di sini. Lalu kami gantian jagain Mas Bayu. Ya Allah Mas, Ibu tuh khawatir banget, dari tadi nangis terus. Ya Fajar juga sih, Mas. Khawatir banget, Alhamdulillah Mas Bayu sadar juga. Tadinya kalau Mas ndak sadar-sadar juga. Aku sama Ibu mau bawa Mas Bayu ke klinik atau kemana saja lah, buat berobat Mas Bayu," jelas Fajar terus bicara, hingga hampir tanpa jeda. Ini agak mengejutkan bagi Bayu. Seingatnya terakhir kali ia terjaga adalah, ketika sepasang matanya berhasil menangkap sosok Toni yang bunuh diri. Itu benar! Bayu ingat semuanya. Akan tetapi ingatan itu justru membuatnya ketakutan. Bayu memegang bahu adiknya kuat-kuat, tatapannya berubah tajam. Fajar sampai meringis karena cengkraman Bayu yang cukup kuat. "Jar ... kamu percaya Mas kan? Toni itu bunuh diri. Bukan Mas yang membunuhnya. Mas sudah tobat, Jar. Sudah tobat! Mas ndak akan berani melakukan perbuatan itu lagi. Ya Allah ..." keluh Bayu. Semua mimpi buruk Bayu akan tuduhan pembunuhan itu terbawa sampai di dunia nyata. Fajar merasa amat iba pada Kakaknya. Menjadi mantan orang jahat itu benar-benar tidaklah mudah. Asumsi masyarakat, pengendalian diri, bayangan masa lalu dan lain-lain menjadi sebuah tantangan bagi Bayu untuk bisa ditaklukkan. "Iya, Mas. Fajar tahu kok. Mbak Rani sama Ibu sudah cerita semuanya. Mas Bayu ndak bunuh siapa-siapa. Fajar tahu itu. Yang namanya bunuh diri itu ya berarti orangnya aja yang mau. Lagipula, Fajar kenal betul seperti apa sifat Toni itu. Meskipun ndak dekat, Toni itu kan masih satu tongkrongan sama Fajar dan pemuda sini. Dia itu memang, apa ya kalau orang kota bilang. Terobsesi gitu kan Mas. Tapi kalau menurut Fajar, dia itu memang agak kurang sehat. Alias stress!" kata Fajar. Bayu melepaskan cengkraman tangannya dari bahu Fajar. "Maaf ya. Mas reflek, pasti sakit ya. Jadi, Toni sudah dimakamkan?" Bayu bertanya, sambil mengusap bahu Fajar. "Ya, sakit sih. Sedikit ... tapi ndak apa-apa kok. Toni sudah dimakamkan tadi siang. Mas ndak usah khawatir. Doakan saja semoga dia ndak jadi arwah gentayangan. Hehehe. Hanya saja, daripada ngobrol soal Toni, masih ada hal lain yang ingin Fajar tanyakan sama, Mas Bayu," kata Fajar. "Apa yang mau kamu tanyakan," balas Bayu. "Jadi ... kata Mbak Rani, Mas Bayu itukan habis dilempari batu sama warga. Kaca jendela kita bahkan sampai ada yang pecah. Tapi ... Fajar lihat, Mas Bayu sepertinya ndak kenapa-kenapa," cetus Fajar. Jika dijelaskan maka semua akan jadi panjang lebar. Bayu bahkan tidak tahu harus mulai dari mana, kalau dia ingin bercerita soal kekuatan yang dimilikinya. Sesuatu yang amat istimewa, tapi juga bisa amat berbahaya. Kekuatan yang Bayu sendiripun tidak tahu dari mana asalnya. "Ini semua sebenernya masih sakit. Tapi karena sudah terbawa pingsan, jadi Mas merasa agak ringan," jawab Bayu sekenanya. "Masa sih, Mas? tapi kok, ndak ada bekas apa-apa sih?" Fajar masih tetap penasaran. Namun, rasanya tidak mungkinkan jika Bayu bercerita kalau dia memiliki kekuatan kekebalan tubuh yang lebih istimewa daripada orang lain? apa tidak akan jadi gempar nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD