Fajar masuk ke dalam kamarnya, lalu terburu-buru mengunci pintu. Ia meraih tas punggung warna hitam yang biasa digunakannya untuk sekolah. Setelah merapikan buku-buku juga menggenakan seragam sekolah putih abu kebanggaannya, barulah ia keluar lalu kembali ke kamar Darminah. Ia menemui Kakak berserta Ibunya di kamar itu. Berpura-pura baru datang dengan pandangan seolah terheran-heran.
"Bu, Mas, Fajar mau berang ... Loh, Mas Bayu sama Ibu ngapain ngacak-ngacak kamar Ibu?" Padahal Fajar sudah mendengar percakapan mereka sebelumnya.
"Uang belanja Ibu hilang, Jar," jawab Bayu tanpa menoleh.
"Kok bisa hilang, Bu?" tanya Fajar kemudian.
"Ibu juga ndak tahu ini. Sepertinya Ibu lupa simpan di mana uangnya," keluh Darminah.
Fajar masuk ke dalam kamar lalu meminta salam pada Bayu dan Darminah. Berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Fajar berangkat sekolah dulu ya, Bu, Mas. Nanti kalau pulang sekolah belum ketemu juga, Fajar bantu cari deh. Tapi semoga saja sebentar lagi juga ketemu."
Darminah membiarkan Fajar pergi tanpa adanya rasa curiga sedikitpun. Tapi Bayu sempat menilik ke arah kaki kanan Fajar yang terus bergerak-gerak. Salah satu tanda orang yang biasanya sedang menunggu atau tengah gugup.
"Bayu, kamu kenapa melamun. Sudah, ndak usah dipikirkan. Kalau masih rezeki Ibu, nanti uangnya pasti ketemu." Darminah menepuk bahu Bayu, dan membuatnya agak terhenyak.
"Ah, ehmmm iya, Bu. Insyallah rezeki Ibu mungkin masih ada di rumah ini."
***
Sambil menghitung beberapa lembar uang di tangannya, Bayu melangkah keluar rumah. Ia lantas berteriak pada Ibunya yang masih ada di dalam.
"Ibu ... Bayu berangkat. Assalamualaikum," teriaknya. Terdengar suara yang tak begitu nyaring, membalas salam Bayu tadi.
Bayu kemudian mengambil kunci motor dari dalam tas kecil yang dibawanya, lalu menyalakan motor matic untuk pergi ke pasar. Sekarang sudah waktunya membeli pakan untuk ikan-ikan di tambak.
"Mas Bayu tunggu sebentar!" Rani berlari dalam rumah menghampiri Bayu yang sudah menyalakan motor.
"Mau ke mana kamu, Ran?" tanya Bayu. Rani berpakaian rapi dengan rambut diikat ekor kuda juga tas selempang kecil di sisi kiri tubuh, tidak seperti biasanya.
"Rani ikut ya. Mau beli sesuatu di pasar," pinta Rani.
Bayu tertegun. Sepasang matanya menyipit agak heran. Dalam benaknya benarkah yang ada di hadapannya ini adalah Rani? Sosok adik yang jangankan mau mendekat. Untuk sekedar bertegur sapa tanpa wajah jutekpun, biasanya sulit.
"Kenapa sih Mas Bayu malah bengong begitu! Rani ndak boleh ikut? Ya sudah. Rani mau jalan sampai ke jalan utama. Nanti di sana, baru Rani naik angkutan umum!" kata Rani dengan kesal. Adik dari Bayu yang satu ini memang agak berbeda. Mudah sekali marah dan tersulut emosinya pada hal-hal kecil. Sebenarnya, sifat ini tidaklah jauh berbeda dengan sifat Bayu dulunya.
"Ya, ndak apa-apa. Mas cuma merasa ... ahh sudahlah, ayo naik!" ajak Bayu kemudian.
Seulas senyum di bibir Rani terukir sebelumnya. Benar-benar sebuah keanehan dalam benak Bayu. Bukannya Bayu tidak senang. Setelah sekian lama dia kembali ke rumah itu, baru kali ini ia bisa melihat senyum pada wajah adiknya. Karenanya dia merasa amat heran. Ya ... berada diantara rasa senang dan heran.
Baru saja Rani bersiap akan menaiki motor, sepasang kakinya berhenti, tatkala ada sepasang muda-mudi menghampiri mereka.
Kaki Rani yang semula sudah berada di footstep turun perlahan.
Bayu tercengang mendapati sebuah adegan yang sungguh amazing tersuguh di depan ke dua matanya secara langsung. Rusmi dan calon suaminya alias Retno datang menghampiri Rani dan Bayu.
Retno tampak tersenyum dengan amat bangga. Sementara Rusmi tampak lelah dan tak bersemangat. Sangat jelas ia tidak senang berada dalam posisi seperti ini. Tangan ke duanya tertaut saling bergandengan.
Haisshh, Bayu meremang dalam hati. Dulu dia hampir tidak berani terang-terangan untuk menggemgam tangan Rusmi di depan publik. Sekarang, melihat tangan itu berada dalam genggaman tangan orang lain. Rasanya begitu perih. Tapi baiklah, paling tidak, Bayu adalah orang pertama yang pernah menggandeng tangan itu dalam status saling mencintai. Pun Bayu jugalah yang pertama kali menautkan Bibirnya pada Rusmi.
"Wah, ada perlu apa nih, Anak Bapak Kepala Desa yang terhormat datang berkunjung?" celetuk Rani yang tentu saja, always dengan nada yang tidak bersahabat.
"Rani ...!" tegur Bayu dengan suara lirih. Rani mendelik sebal dan mengacuhkan teguran Kakaknya.
"Assalamualaikum, Rus," sapa Bayu pada Rusmi.
"Wallaikumsalam salam, Bay," balas Rusmi kemudian.
"Dan ... Assalamualaikum ehmm siapa ya?" tanya Bayu kemudian pada Retno
Pria itu mengulurkan tangannya, mengajak Bayu untuk bersalaman.
"Wallaikumsalam. Kenalkan, aku Retno. Tempo hari saat kamu mengantarkan calon istriku pulang, kita belum sempat berkenalan," tegas pria itu.
Bayu menerima uluran tangan Retno dengan ramah. Rani yang menyaksikan adegan ini dibuat gemas. Rani tak tinggal diam. Dia menyerobot tangan Bayu dan Retno yang mulanya sedang saling berjabat tangan. Ia menggantikan posisi Bayu untuk mengajak Retno berkenalan.
"Kenalkan, aku Rani adiknya Bayu Ajie Pangestu. Jawara Desa yang sudah tersohor. Mantan narapidana, Begal, penjahat kejam, yang ndak tanggung-tanggung untuk menyiksa orang. Kebetulan, dia lagi cari mangsa baru nih. Kata Mas Bayu. Tangannya suka gatel kalau ndak mencekik orang. Ini fakta loh, bukan hoax yang biasa orang kota bicarakan," tegas Rani dengan panjang lebar.
Rusmi menahan tawa geli mendengar penuturan Rani yang fantastis. Retno yang sejatinya adalah anak manja dan hanya bisa berdiri di belakang ketiak orang tuanya jadi agak terganggu. Nyalinya sedikit ciut sekarang.
"Astagfirullah, Rani!" protes Bayu lagi.
Rani mengerdikkan bahu berpura-pura tak mengerti.
"Apa sih, Mas. Itu kan bener. Tapi buat Mas Retno ini. Harap kamu tenang aja ya. Karena Mas Bayu itu juga pilih-pilih. Kalau sama orang baik, Mas Bayu juga ndak berani macam-macam kok. Mas Retno kan orang baik. Jadi aman aman saja donk," jelas Rani lagi. Bayu mengusap wajahnya dengan pasrah.
"Ya ... agaknya memang ada sebuah jarak yang ndak bisa saya tembus di sini," jawab Retno dengan ragu.
"Sudah, sudah. Jangan terlalu didengar. Adikku kalau ngomong, kadang memang suka ngalor ngidul. Jadi ada kepentingan apa kalian datang?" Aneh sekali rasanya, bertanya soal kepentingan pada Rusmi dan Retno ini.
Rani mendelik sebal. Ia menggerutu dalam hati. "Hiiihhh, sudah di belain juga. Malah ndak mau."
Bagaimana Bayu senang dibela kalau yang Rani katakan itu justru kejahatan yang membuatnya semakin kehilangan muka di depan gadis yang ia cintai.
"Ah iya. Kami di sini secara khusus mau mengundangmu dan seluruh keluarga," kata Retno. Ia menyerahkan sepucuk surat undangan pernikahan berwarna putih yang tampak indah pada Bayu.
"Karena kamu adalah, Mantan Pacar satu-satunya dari calon istriku, kamu harus datang. Jangan lupa ya," seru Retno lagi. Ia memberikan sebuah penekanan pada kata 'mantan pacar' dan jelas ditujukan pada Bayu.
Baru saja Bayu ingin membukanya, Rani dengan gerakan kilat sudah merebut surat undangan di tangan Bayu. Ia lantas membaca deretan kalimat yang tertera pada bagian depan surat undangan tersebut lalu tertawa geli dan mengejek.
"Ya ampun. Nikah masih dua bulan lagi sudah sebar undangan? Astagfirullah nora-nya. Heh, Dompetmu itu isinya tebel, tapi kenapa isi otakmu tipis kali?" ejek Rani yang sontak saja membuat Bayu dan Rusmi saling menahan tawa.