Detik- Detik Menegangkan

1479 Words
Alisha POV on Kekecewaan besar pertama ku dalam pelajaran kimia. Membuat mood-ku benar- benar hancur. Tapi lain ceritanya dengan Mario, seolah tidak terpengaruh sama sekali. "Santai aja kali guys. Dunia belum berakhir hanya karena KO quiz kimia woy..." Cibir Mario pada Yayu si juara kelas. Dengan tepukan ringan di bahu Yayu. "Berisik Lo Dewantoro...!" Sahut Yayu yang sedang berhadapan dengan ku membahas soal tadi, merasa jengah. "BT gue guys. Percuma bisa nyontek and diskusi kalo rumus yang di pake ternyata turunan dari rumus yang diterangkannya. Ya jelaslah itu ga ada di catetan kita... Huh..." restoris Yayu. "Hahaha... Sudah... Sudah... Gak usah di ambil pusing. Kan kata Pak Ali dia dah bisa nilai dari lihat muka kita juga.." Ujar Mario. "...Ya jadi, ngapain di galauin. Nilai dah ada guys. Yang penting usaha kita.. Tentang hasil pasrahin aja deh sama yang ngatur..." Lanjut Mario. Sama sekali tak ingin ambil pusing. "Bodo amat..." Pungkas Yayu. Beranjak dari tempatnya. Aku hanya menggeleng- gelengkan kepala menyaksikan percakapan Mario dan Yayu. "Pulang yu..?" ajak Mario. Karena jam kimia memang ada di jam terakhir. Ku tunjuk kelas Vini dengan isyarat mata. Bener- bener lagi gak mood ngomong. "Masih lama mereka bubarnya..." Mario faham maksud ku yang ingin menunggu Vini. Karena sejak Vini jadian dengan Sammy, Vini dah gak gelendotan lagi pada Mario. Setidaknya aku ga merasa risih lagi. Aku ngangguk pelan. Ikuti langkah Mario. Saat aku galau gini memang tak banyak kalimat yang keluar dari mulutku. Hanya bahasa isyarat saja, bahkan tak ada upaya bantahan apapun. Seperti dulu saat ku di ajak pulang bareng. Lagi males ku debat sama Mario. Ku perhatian Mario tampak gelisah. Tapi ku yakin bukan karena gagal quiz. Ku kerlingkan mata ke Mario, seolah berkata 'Ada apa?'. Lantas dia pun menjawab bahasa isyarat dan mengatakan 'I Love You' dengan isyarat yang sedang tren dari film 'Silence'. Sejenak aku mematung, mencerna maksudku. Dan bertanya lagi dengan matanya. Dan dia jawab dengan isyarat yang sama seperti tadi. Aku kembali mematung. Pura- pura tak faham. Tanpa ku minta dia ulangi lagi isyarat tadi untuk yang ketiga kalinya dengan tempo slow motion. 'Bercandanya gak lucu Mario, tau gak sihh?' lirih hatiku malas berkomentar. Aku masih membisu, menghirup nafas yang sejak tadi ku tahannya,menggigit bibir bawahku tanda gugup, mengalihkan sejenak pandanganku ke arah supir sembari menyapu wajah dengan tangan. Aku masih membisu bahkan setelah kami turun dari angkutan umum itu. "Gimana Lis?" tanya Mario memecah keheningan di tengah hiruk pikuk kota yang bising. "Apanya?" tanya ku pura- pura lupa. "I Love You..." Ucapnya. 'Ah..., Mungkin seperti ini proses yang seharusnya aku dan Anton jalani' ingatan ku malah melayang pada Anton. Membandingkan kenangan masa lalu ku dengan yang terjadi saat ini. Masih beli ada kata yang meluncur dari mulut ku. "Sebenernya... aku dah suka kamu sejak pertama kali lihat kamu.." Jelas Mario sadarkanku dari lamunan. "...Tapi aku gak berani bilang. Takut kamu dah punya seseorang..." Lanjutnya. Aku hanya tersenyum miris. Mendengar kata- katanya. 'Punya seseorang?' Ingatkan ku akan luka yang ditorehkan Anton. Aku masih tetap membisu. Asyik dengan pemikirannya sendiri. Yang Lagi- lagi malah jadi bandingkan prosesku dengan Anton dan Mario. "Gimana?" Tanya Mario lagi. "Aku minta waktu..." Jawab ku sendu. "Berapa lama?" Tanyanya. "Entah..." Jawab ku lagi. "Ok.. Aku tunggu". Jawabku mengakhiri pembicaraan kami hari itu. 'Ya Rabb apa yang harus ku lakukan?' 'Aku takut nanti Mario berubah seperti Anton, saat aku mengangguk' 'Sebagai teman, ia adalah teman yang baik. Jujur aku nyaman dengan segala kesopanannya. Setidaknya itu yang berbeda darinya, dibanding pria- pria b******k yang selama ini mendekati ku'. Alisha POV end *** Ini adalah adalah hari ketiga sejak pernyataan cinta Mario. Bukan tak menagih jawaban. Bahkan setiap pandangannya bertemu Alisha Mario bertanya melalui tatapannya. Seperti seorang anak yang menginginkan sesuatu. Merengek dengan segala cara. Namun Alisha tetap membisu. Sepatah kata pun belum keluar dari mulutnya, terkait jawaban atas pernyataan Mario. *** Alisha POV on Lagi- lagi Mario menampakkan mimik wajah itu. Mimik yang baru ku dapati dua hari belakangan ini. Tak ku sangka sosok Mario memiliki sisi manja seperti ini. Ia merengek, seperti anak minta jajan pada ibunya. Sekilas. Semua itu nampak lucu di mataku. Ingin rasanya aku tertawa. Namun ku tahan. Gak etis kan menertawakan keseriusan seseorang. "Lis apa susahnya jawab 'Ya', 'Ok' atau 'aku mau', lihat kasian tu Mario". Ujar Sri. Ku hanya menggigit bibir bawahku, memejamkan mata dalam- dalam. Ku hirup nafas, menambah stok oksigen dalam paru- paruku, yang serasa menipis. "Ia ni si Lisa ini. Di tembak pake cinta aja susah banget..." sambung Rena. Ya aku ceritakan semuanya pada Sri dan Rena. Karena mereka heran memperhatikan gelagatku dan Mario yang kata mereka 'aneh'. "Ayolah Lis..." rayu Rena lagi. Sementara Mario hanya menuntut jawaban dari ekspresi wajah dan kerling matanya saja. 'Gak semudah itu, bagiku jawab semua ini' lirih hatiku, yang tentunya tak mereka ketahui. 'Aku takut kisah Anton terulang lagi...' "Biar gue jawabin aja sama Mario ya Lis...?" Rena mulai jengah dengan kebisuanku. Spontan aku tersenyum. 'Memangnya bisa ya kaya gitu?' fikirku. Hingga kelas berakhir. Masih ku diamkan Mario. Bukan karena marah, aku hanya sedang berfikir jawaban tepat yang harus ku ambil. 'Lis, Mario itu baik, sopan dan selama ini bisa lindungi kamu. Ya kan?' bisik batinku. 'Tapi aku takut kembali jatuh cinta dan kecewa'. Protes logika ku. 'Jika kamu belum bisa jatuh cinta pada Mario, anggap saja dia sebagai sahabat. Ku yakin Mario akan menghormati prosesnya..'. Bisik batinku lagi. 'Ok. Sepertinya aku sudah dapat jawabannya'. Tapi rasa malu untuk berucap buatku makin membisu. Berat rasanya lidah ku ini bergerak. Sepertinya Mario faham itu. "Ayolah Lis, apa jawaban kamu. Aku gak kan marah kalaupun kamu nolak..." ujar Mario terjeda. "...kita akan tetap menjadi teman seperti sebelumnya. Ya... Walaupun besar harapan ku untuk jadi orang yang lebih dari sekedar teman buat kamu" lihat kan? Ia bahkan tidak paksa ku dalam ambil keputusan. Masih tanpa kata dariku. Teramat sangat malu rasanya. "Kalo kamu malu..., cukup beriku anggukan atau geleng kepala..." lanjut Mario yang masih ku diamkan saja. Deg.. Kali ini serasa leherku kaku seketika. Berat mengikuti sarannya. "... Atau cukup isyarat mata saja..". Pungkasnya mulai melemah. Ada nada prustasi dalam kalimatnya. Serasa mataku pun kaku seketika. Duh kenapa aku ini? "Lis, ku tunggu hingga kita sampai di persimpangan jalan nanti. Aku gak mau galau hari ini. Apa pun jawaban kamu ku terima dengan senang hati... Karena setelah itu aku mau fokus dengan persiapan quiz biologi besok" papar Mario. Aku masih juga membisu. Seluruh tubuhku serasa tegang dan kaku semua, seperti robot yang kurang pelumas sendi- sendinya. Persimpangan jalan hanya lima puluh meter lagi di depan kami, rasanya makin gak karuan. Lebih dari saat harus quiz lisan fisika. "Gimana Lis...?" Sejenak ku hirup lagi oksigen sebanyak yang ku bisa. Mataku terpejam, menggigit kembali bibir bawahku. Coba netralkan perasaan ku. Tepis semua pemikiran ku tentang Anton. Ya benar. Mario dan Anton dua orang dengan karakter yang berbeda. Tak seharusnya ku hakimi Mario hanya karena ulah Anton. 'Bismillah..' bisik batinku. Ku jatuhkan kepala ku kearah d**a. Sebagai tanda anggukkan seolah tidak percaya, Mario mematung dan detik berikutnya ia tersenyum sumeringah. Aku langsung menghambur, bukan ke dalam pekuknya, seperti dalam kisah novel- novel percintaan. Yang menerangkan adegan selepas jawaban cinta. Melainkan menghambur ke arah persimpangan jalan yang harus ku ambil. Sungguh aku malu untuk sekedar bertatap mata lebih lama dengannya. Entah bagaimana harus ku hadapi hari esok. Alisha POV end *** Mario POV on "Ayolah Lis, apa jawaban kamu. Aku gak kan marah kalaupun kamu nolak..." tanya ku untuk kesekian kalinya. "...kita akan tetap menjadi teman seperti sebelumnya. Ya... Walaupun besar harapan ku untuk jadi orang yang lebih dari sekedar teman buat kamu" jelas ku. Menatap wajah yang kian memerah dalam kebisuan itu. Ku tahu dia malu dan gugup di situasi seperti ini. Aku sepenuhnya mengerti. "Kalo kamu malu..., cukup beriku anggukan atau geleng kepala..." lanjut ku. "... Atau cukup isyarat mata saja..". Pungkas ku mulai melemah. "Lis, ku tunggu hingga kita sampai di persimpangan jalan nanti. Aku gak mau galau hari ini. Apa pun jawaban kamu ku terima dengan senang hati... Karena setelah itu aku mau fokus dengan persiapan quiz biologi besok" papar ku. Dia masih juga membisu. Persimpangan jalan hanya lima puluh meter lagi di depan kami, rasanya makin gak karuan. Tak ku pungkiri. Hatiku gelisah di liputi harap- harap cemas. "Gimana Lis...?" Sejenak dia hirup lagi oksigen sebanyak yang dia bisa. Matanya terpejam, menggigit kembali bibir bawahnya. Seperti mencoba netralkan perasaannya. Setika aku mematung, antara percaya dan tidak. Saat Alisha memberikan sebuah anggukkan dan detik berikutnya aku tersenyum sumeringah. Lisa langsung menghambur, tapi bukan ke dalam pekukan ku, seperti dalam kisah novel- novel percintaan. Yang menerangkan adegan selepas jawaban cinta. Melainkan menghambur ke arah persimpangan jalan yang harus dia ambil. Sungguh aku sangat bahagia hari ini. Berharap esok segera tiba, untuk ku temui lagi wajah malu- malunya. 'Ah rasanya akan sangat menyenangkan menggoda gadis lugu itu'. Fikiran ku mulai berkelana tak tentu arah. Sungguh penutup perjumpaan yang teramat sangat indah. Mario POV end ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD