Alisha POV on
Semoga keputusan yang ku ambil beberapa detik lalu. Adalah keputusan terbaik. Meskipun aku belum bisa simpulkan perasaan ku pada Mario. Setidaknya aku nyaman menganggapnya sebagai teman.
Namun satu keyakinanku, bahwa Mario berbeda dari mereka. Tak ada salahnya ku beri Mario kesempatan.
Dan satu hal yang selalu ku pegang, jika memang suatu saat hubungan kami harus berakhir, maka kan ku pastikan kesalahan itu bukan berasal dari ku.
Huh...
Entah bagaimana ku hadapi hari esok. Rasanya ku tak sanggup berada satu tempat dengannya.
Malu. Rasanya begitu malu. Gugup... Tak ku pungkiri, aku masih takut semua hal tentang Anton terulang.
Bukankah dulu pun Anton sosok teman yang hangat? Ya tentunya sebelum menjadi sosok kekasih yang egois.
Ah entahlah. Biarkan saja semua berjalan seiring waktu. Lebih baik ku fokus pada quiz besok.
Alisha POV end
***
"Gimana Rio, ada perkembangan gak?" Pertanyaan yang beberapa hari terahir ini kerap Rena tanyakan pada Mario.
Alisha lebih memilih berlaku, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas, menghindari dua wartawan amatir itu. Siapa lagi kalau bukan Sri dan Rena.
Lain halnya dengan Mario yang menanggapi dengan senyum penuh makna.
"Iyakah..?!." sahut Rena yang faham arti senyuman Mario.
"Wah wah congratulations guys. Semoga langgeng ya.." Ujar Sri.
Tentu semua percakapan itu didengar Lisa. Hingga rasanya ingin sejenak menghilang lewat pintu ajaib milik doraemon. Namun pada kenyataannya ia hanya bisa sembunyikan wajahnya di balik buku biologi.
"Nah gitu dong... Lis... Gue yakin Mario bisa jadi yang terbaik buat lo.." Rena malah menghampiri yang tengah bersembunyi, dengan rasa yang campur aduk itu.
'Sudahlah Lisa, jalani saja hari- hari seadanya. Hingga Asa yang Baru ini, bisa sembuhkan luka' Bisik batin Alisha. Melempar senyum ke arah Sri dan Rena.
Entah bagaimana dengan Erika jika mendengar kabar ini. Sejak beberapa hari ini dia sibuk dengan project-nya di club "Karya Tulis Ilmiah".
***
Hari demi hari berlalu. Kini Mario tak lagi ragu menunjukan perhatiannya pada Alisha.
Namun Alisha nampak lebih pendiam. Terlebih ketika hanya berdua dengan Mario. Rupanya sisi yang satu ini memang tidak bisa terlepas dari sosok Alisha.
***
Alisha POV on
Duh rasanya absurd banget. Biasanya aku bisa hadapi kejahilan dan keusilan Mario dengan sikap datar ku. Tapi kenapa sekarang berbeda.
Padahal sudah hampir dua bulan kami jalin hubungan.
"Ayolah Rio.., bangun kamu Rio, aku mo keluar.." bujuk ku. Tanpa berani menyentuh, bahkan untuk sekedar menatapnya.
Saat ini aku terperangkap karena ulah iseng Mario. Setiap minggu posisi duduk di kelas kami selalu di-Rolling. Dan minggu ini giliran ku duduk di sisi dinding. Dimana satu- satunya akses keluar hanya dari kursi Sri.
Naasnya, begitu Sri pergi, Mario-lah yang menclok di situ. Sembari tangannya sibuk memainkan seekor laba- laba besar. Entah didapatnya dari mana..
"Sebentar ja..." Ujar Mario.
"Gak mau, aku mau keluar". Keukeuh ku.
"Memangnya mo kemana?" Tanya Mario.
"Materi TCC bentar lagi Rio.."
"Nanti juga Rika kesini..."
Aku berdecak kesal. Takut karena laba- laba yang dipegangnya. Terlebih gugup karena yang membawa laba- laba itu.
"Bentar aja Lis. Sampe Rika ke sini. Jarang- jarang kan kita ngobrol. Tiap pulang sekolah langsung pulang, kalo nggak, sibuk dengan kegiatan masing- masing.." rengeknya nyaris berbisik. Sembari tangannya masih asyik dengan mainannya itu.
Buat sebelah alisku terangkat. Baru tahu aku, seorang Mario punya sisi manja?
"Baru tahu Gue, kalo seorang Mario yang konyol abis, bisa serius juga ternyata...". Goda Rena yang baru saja selesai berkemas siap untuk pulang.
"Eh Rena mo kemana kamu...?" Tanyaku absurd, pertanyaan yang sama sekali ga butuh jawaban. Karena jawabannya sudah pasti 'pulang'. Ya... Sebenarnya hanya mengalihkan rasa gugupku.
Rena melipat keningnya..
"Ya pulang lah..., masa mo nginep di sini?" Jawaban Rena..
Satu persatu teman- teman kami beranjak dari kelas.
"Duluan Rio...". Kali ini Ferdinand yang pamit. Dengan kerlingan menggoda.
"Ok brow..." jawab Mario melambaikan tangan.
"Duluan Rio..., Lis..." yang ini Yogi yang pamit.
"Ok.." jawab Mario.
"Awas loh berduaan..! Yang ketiganya setan..." sambung Yogi.
"Elo setannya..." Balas Mario. Yogi berlalu sambil terkekeh.
Meninggalkan ku yang mati kutu, kehabisan cara nyingkirin penampakan di kursi sebelah. Masa harus kabur loncat dari meja? Fikirku mulai kesal.
"Makasih ya..." Ujar Mario tiba- tiba..
"Untuk..?" heranku.
"Terima aku di hidup kamu...". Jawanya.
"Aku baru sempat bilang terimakasih sekarang.., karena kamu sepertinya ga suka habiskan waktu sama- sama bareng kaya gini.." lanjut Mario. Tepat sasaran.
"Diiihh... Pantesan di cari di best camp gak ada, di kantin gak ada, di mushola gak ada. Taunya malah lagi mojok di sini.. Ckckck...". Omel Erika tiba- tiba. Menghempaskan tas kasar di meja depan kami.
Huh...
Diam- diam ku bernafas lega. Karena gak tahu harus bagaimana cara menjawab kalimat- kalimat Mario barusan..
"Ayo ah.. Materi bentar lagi dah mo mulai... Kamu juga ih.. Jealous gue... Waktu sama Alisha jadi rebutan ma kamu.." geram Erika menarik Mario agar beranjak.
"Alalalah... Kejam kamu Ka..., gak bisa liat orang pacaran.. Makanya cari gandengan dong. Masa kalah sama truk..". Mario meringis. Lalu mencibir..
"Sudah...! Sudah...! Sana...! Sana...! Jauh- jauh..! Pergi..!." Erika mendorong Mario. Seolah mengusirnya.
Itulah Mario. Bukan saja berusaha buatku merasa aman dan nyaman, tapi teman disekitarku pun begitu akrab dengannya.
"Ayo Lis. Kang Niko dah datang loh.." Erika mengamit tanganku.
Mario masih dengan senang hati ngintil di belakang.
---
Sejak kami resmi berhubungan, Mario sudah tak ragu lagi menunjukkan perhatiannya padaku.
Seperti saat ini, saat aku mengikuti pertemuan rutin TCC.
Kali in di isi dengan materi pandalaman Excel, tepatnya tentang Hlook-up dan Vlook-up.
"Heh penyusup! Ngapain lo nimbrung?! Ruang OSIS sempit ya.. Ma--?!" tiba- tiba si Asbun Hendi nimbrung.
"Ganggu aja deh Lo..., gak bisa liat orang seneng apa..?!" potong Niko, senior kami.. Tepatnya Alumni TCC yang sedang memberikan materi.
"Tau ni. Syirik aja..." Timpal Mario.
"Woy... Syirik tanda tak mampu...! Huahahaha...". Sahut Isma'il yang sedang mengerjakan soal menyempatkan nimbrung dengan teriakannya.
Alisha POV end
***
Mario POV on
Masih belum nyerah ternyata si Asbun. Dia masih juga mencoba menarik perhatian Alisha. Bahkan saat ini dia mengambil posisi di sebelah perangkat Lisa.
"Kang izin masuk..." Ujar ku pada Niko. Alumni yang terbilang cukup dekat dengan ku. Karena sering jadi pembimbing di OSIS.
Di balas anggukkannya.
"Gimana kabar OSIS Yo?". Tanya Niko.
"Baik kang". Jawabku seraya mengambil tempat di samping Alisha.
"Kapan pemilihan KETOS baru?. Maju Lo jadi kandidat! Awas sampe enggak, Lo berhadapan langsung ma Gue!" Ujar Niko.
Memang kemarin Niko sempat ngamuk saat melihat kinerja pengurus OSIS yang kacau balau, saat rapat pertanggung jawaban panitia MOPD.
Dari sekian banyak sekbid. Hanya sekbid yang ku pegang yang gak kena damprat dari Niko.
"Heh penyusup! Ngapain lo nimbrung?! Ruang OSIS sempit ya.. Ma--?!" tiba- tiba si Asbun Hendi ikut nimbrung.
"Ganggu aja deh Lo..., gak bisa liat orang seneng ya..?!" potong Niko, senior kami.. Tepatnya Alumni yang sedang memberikan materi pada anak TCC.
"Tau ni. Syirik aja..." Timpal ku.
"Woy... Syirik tanda tak mampu...! Huahahaha...". Sahut Isma'il yang sedang mengerjakan soal menyempatkan nimbrung dengan teriakannya.
Niko pun berlalu untuk mengecek pekerjaan junior TCC.
Aku kembali fokus pada apa yang dilakukan Alisha. Hingga berakhir jam materi itu.
"Pulang sekarang?" tanyaku. Yang diangguki Alisha. Entah mengapa sejak kami resmi dalam hubungan ini dia jadi lebih pendiam.
Tapi itu nampak menggemaskan bagiku. Gadis pemalu inilah yang mampu menarik hatiku.
Mario POV end
***