Hadapi dengan Positif Thinking

555 Words
"Cih.., jadi ketua 'Pesantren Sastra'. Mimpin diri sendiri aja belum bisa..". Tak bisa di pungkiri Alisha sempat Kalimat terpengaruh oleh kalimat itu. Di tengah upayanya menata kembali hati dan harinya. Memang ia pun sadari dengan segala kerendahan hati, bahwa ia hanya seorang anak kemarin sore. Yang masih belajar melek dunia, jangankan untuk berlari, bahkan berjalan pun masih tertatih. Masih menyesuaikan pandangannya dalam menapaki setiap jalan yang harus di tempuhnya. Ibarat badai yang hampir kembali luluh lantakan semua usahanya. Namun beruntung sisi hatinya yang lain masih mampu bertahan. Ia bertekad harus buktikan bahwa ia pantas di banggakan. Karena faktanya Alisha hanya butuh pengakuan dari ibunya, untuk pulihkan harga dirinya yang terkoyak habis, hampir tak tersisa, selama proses pahit kemarin. 'Ah, mungkin itulah cara mereka mendewasakan ku. Dan mungkin caranya berbeda untuk setiap anak' bisik batin Alisha 'Tak ada orang tua mana pun yang tidak menyayangi anaknya, mungkin pikiran ku belum mampu menangkap maksud dan tujuan mereka' llirih batinnya lagi. Dan menjalani hari seperti biasa, itu adalah pilihan tepat. Selayaknya seorang anak pada orang tuanya. Selayaknya kakak pada adik- adiknya. Dengan mengesampingkan segala egonya. Ya kini mereka kembali bersama, kedua orang tuanya, juga ketiga adiknya. Setidaknya itu adalah hal yang wajib di syukurinya. Menyaksikan orang- orang terkasihnya di depan mata. Sudah cukup baginya. --- Liburan Ramadhan masih tersisa 2 minggu lagi. Alisha isi dengan membantu kesibukan salon yang mereka kelola. Terlebih menjelang idul fitri, pengunjungnya berlipat kali dari hari biasa. Banyak yang mulai ia pelajari. Dunia baru yang sugguh berbeda dari yang selama ini di jalaninya. Bertemu dengan banyak orang, mendengar pandangan hidup mereka, tak sedikit ilmu yang bisa di ambil. Mulai dari cara fikir, dan lainnya. Ia sangat menikmati kegiatan barunya. Kegiatan yang membuatnya larut dengan kesibukan setiap harinya. Setidaknya membuatnya merasa hari berlalu begitu cepat. Meskipun pada kenyataannya itu hanya perasaannya saja. Karena sebagai mana penciptanya, waktu senantiasa berlaku adil. Dengan berbagi jam, menit dan detik yang sama untuk seluruh penghuni planet bumi ini. Mungkin.. "Bram ini anak mu yang katanya di SMA 3?" Tanya seorang wanita paruh baya yang nampak ramah sekali. Setelah selesai dengan tujuannya, menghampiri Alisha yang tengah berada di meja Kassa. "Iya mbak Uce.. Ini Alisha anak saya" jawab Bram. Alisha menyalami Tante Uce sebagai tanda perkenalan. "O..., Anak tante pun sama sekolah di SMA 3.. Kalo ga salah.. Emm XI-5. Raditia namanya..." Papar Tante Uce, nampak menjeda kalimatnya. Alisha hanya bisa tersenyum.. "...Orangnya jangkung, putih, hobinya ngeband, sama basket..., ah mungkin g kenal juga ya.. Memang sih dia gak aktif di sekolahnya.. " Lanjut Tante Uce. Menyerahkan beberapa lembar ratus ribuan. "Terimakasih Tante..." Alisha menerimanya. Lantas tersenyum ramah. "Kamu anak yang baik..." Ujar Tante Uce, mengusap kepala Alisha yang tengah tertunduk mencium takjim punggung tangannya, lantas pamit. "Makasih Bram.." Pungkas Tante Uce. Sebelum menghilang di balik pintu. *** 30 menit lalu... "Bram gimana kalo kita kenalin Anak mu itu sama Adit...?" "Kalo aku gimana anaknya aja Mbak Uce.." "Anak kamu tipe anak rumahan. Aku suka. Ga seperti pacarnya Adit yang sekarang, pake baju aja kurang bahan terus. Sebagai ibu..., jujur aku risih liatnya..." Hening... Bram tidak menjawabnya... "Nanti kapan- kapan aku ajak Adit ke sini, pelan- pelan kita kenalin mereka, se-natural mungkin.." "Ya Mbak Uce.." Samar- samar percakapan itu tertangkap indera perungu Alisha. Namun tak di hirauknnya. Ia menganggap itu sebagai perbincangan basa- basi antara Bram dengan klien-nya. Tak lebih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD