Hidup terus berjalan, meninggalkan apa yang harus tertinggal, dan menuntun apa yang harus hadir di jalan yang harus dilalui. Sesuai dengan segala kehendak dan ketetapan-Nya.
Menuntut kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, umpama kiasan semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula angin yang mengguncangnya.
Namun bukan berarti tidak ada tantangan untuk semak, bahkan rerumputan. Karena dengan menjadi rerumputan, maka harus siap dijadikan pijakkan.
Dia yang Maha Adil, telah membagi rata semua peranan, lengkap dengan paket ujian masing- masing. Sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya.
Dan bersikap seperti tanah yang rela menanggung segala macam kehidupan, sepertinya hal bijak. Tak merasa terhina saat dipijak, tak melambung saat disanjung.
Maka, tak ada alasan lagi bagi kita, kalah dan mengeluh. Terutama kepada sesama makhluk.
Mungkin itu yang Alisha fikirkan saat ini.
Liburan telah usai, aktivitas sekolah kembali di mulai hari ini. Segala keperluan telah ia dan adik- adiknya siapkan. Bahkan adik bungsunya kini telah masuk Taman Kanak- Kanak.
Bersama dengan dua orang adiknya ia berangkat menuju sekolah, yang tentu saja berbeda lokasi, tetapi satu rute. Karena adik bungsunya didampingi Ibu.
Setelah pastikan kedua adiknya aman memasuki lingkungan sekolah. Ia lanjutkan kembali perjalanan menuju sekolahnya.
Rasanya tak ada alasan bagi Alisha untuk tidak mensyukuri semua ini. Ia begitu menikmati hari- harinya. Meski belum kembali menjadi sosok periang. Setidaknya, bersama dengan adik- adiknya ia tak harus memerankan sosok lain. Karena semua itu mengalir begitu saja.
***
Seperti biasa, hari pertama masuk sekolah, aktivitas belum kondusif, karena di isi dengan berbagai prosesi ramah tamah.
Setelah berbagai macam prosesi itu Alisha dan Erika habiskan sisa waktu dengan larut dalam kegiatan di laboratorium komputer. Sekedar berbincang ringan sembari berbenah markas yang telah mereka tinggalkan lebih dari tiga minggu itu. Terakhir kali mereka kunjungi, tempat itu adalah tempo hari saat TCC mengadakan buka puasa bersama.
Sementara Sri ikut serta bersama Yayu. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal.
Tentu saja Mario larut dalam kesibukan bersama dengan rekan OSIS yang lain.
"Gimana Waktu pulang malam tempo hari..?". Tanya Erika. Alisha menautkan kedua alisnya.
"Itu, fans baru, nganter sampe mana.." Ujar Erika disela- sela aktivitas mereka. Tentu saja saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Alisha menarik napas panjang, sebelum menjawab.
"Nekat tu anak. Ngintil sampai depan pintu rumah..."
"WHAT...!!!" pekik Erika
"shuut... Berisik tau gak..." Alisha panik. Takut pembicaraan mereka menarik perhatian sekitar.
"Nekat banget tu anak... Ketemu dong sama bapak kamu..?"
"Gak lah. Orang gak ku tawarin masuk. Ga enak dah malam..., tapi ada untungnya juga dah nganterin sampai depan rumah.."
"Nah loh... Lagi pada ngapain nih dua- duaan di tempat sepi.." canda Isma'il yang tiba- tiba muncul di balik pintu.
"Mo tau aja...!" ketus Erika.
"Eh Lis, minggu depan pemilihan kepengurusan baru TCC. Lo maju jadi kandidat ya.." Ujar Isma'il. Tak peduli kalimat ketus Erika. Karena ia tahu itu hanya candaan.
"No...! Kamu aja. Memang yang lain pada kemana? Kan ada kamu, Ricko, Richi dan lainnya. Kenapa aku?"
"Yang paling aktif dan tau seluk beluk TCC cuma kita..." Ismail menjeda kalimatnya.
"... Jadi... M--"
"Kamu yang jadi Ketua nya!". Sahut Alisha menyambar kalimat Isma'il yang belum tuntas.
"Hah.. Pokoknya harus maju. Biar gue jadi wakil atau cadangan aja..." Ujar Ismail lantas beranjak.
"Dia fikir tim bola apa, pake ada cadangan segala..." Gerutu Erika.
Sementara Alisha hanya terkekeh, geli dengan tingkah Erika.
Tak lama kemudian Mario muncul dari balik pintu. Sorot kerinduan yang tak bisa ditutupinya. Namun Alisha tak menanggapinya. Berusaha nampak asyik dengan aktivitasnya yang kali ini tengah mengerjakan latihan soal, hingga Mario mendekat.
Bukan tak rasakan hal yang sama. Ia hanya tak ingin terjebak dalam gejolak rindunya. Jadi biarkan ia redam sebisanya.
"Jadi kamu nyalon Ay...?" tanya Mario setelah mengambil tempat sebelah Alisha. Alisha kerutkan kening.
Sementara Erika yang faham panggilan sayang itu tiba- tiba terbahak.
"Cie... Cie... Cie... Ayang... Jadi nyalon? Kamu aja deh yang jadi calonnya.." Ledek Erika.
Alisha yang baru mengerti keadaan, tak dapat menghindari rona di wajahnya yang mulai terasa memanas. Tentu itu buat Erika semakin semangat menggodanya. Sementara Mario diam- diam menikmati pemandangan itu.
"Nyalon apa?" Alisha alihkan rasa gugupnya.
"Ah.. Ya.. Itu.. Tadi Si Smile nyuruh aku bujuk kamu biar mau nyalon minggu depan.." jawab Mario.
"Entahlah.., menurut kamu...?" Alisha balik bertanya. Otaknya merekam kejadian beberapa waktu lalu. Saat ia sampaikan jabatan sebagai ketua 'Pesantren Sastra' pada orang tuanya. Hati kecilnya takut. Rasa percaya dirinya yang belum kembali terbangun itu perlahan tapi pasti luruh, entah berapa persen yang tersisa.
"Kalau kamu yakin, silakan maju. Tapi kalau kamu ragu. Lebih baik jangan. Jangan sampai jabatan yang kita raih, jadi penyebab jatuhnya harga diri kita.." Papar Mario bijak, seperti biasa.
Lagi- lagi menambah nilai plus di hati Alisha. Bukan tampang yang menarik bagi Alisha, tapi kemampuan berfikir luas dan kedewasaan Mario-lah yang menarik.
"Hebat loh Yo. Istri kamu tu jadi ketua Pesantren Sastra..." Sela Erika.
"Bahkan ada fans ba--" Erika sadar keceplosan. Alis Mario bertaut.
"Maksudnya?..." Kejar Mario.
"Sudah ah ga penting juga...". Lerai Alisha.
---
Minggu yang di maksud akhirnya tiba juga. Alisha gamang, benar- benar bingung dengan keputusan yang harus diambilnya. Menanggapi itu, Mario memberikan anggukkan, seolah ingatkan kekasihnya itu dengan pembicara mereka tempo hari.
Acara pertanggung jawaban program kerja hampir usai, tandanya sebentar lagi pemilihan kepengurusan baru di laksanakan. Jeda rehat sejenak. Erika dan Lisa menuju kantin, hanya untuk membasahi kerongkongan mereka.
Mario yang menangkap aktivitas mereka, keluar dari ruang OSIS.
"Gimana..?" Tanyanya.
"Bentar lagi..."
"Jangan ragu. Percaya dengan kepuasan kamu sendiri. Apapun itu aku selalu dukung..". Ucap Mario. Menggenggam jemari Alisha.
Dan akhirnya beberapa saat sebelum acara kembali dilanjutkan, Alisha telah mantap dengan keputusannya.
Tibalah saatnya ia maju sebagai kandidat. Bersama Ismail. Menyampaikan visi dan misi yang akan mereka emban.
"Mohon maaf sebelumnya, visi dan misi saya tak terlalu banyak. Hanya saja akan lakukan yang terbaik semampunya untuk TCC berikutnya. Namun alangkah bijaksananya, jika selama masih ada pria yang bisa memimpin, maka saya mendukung Ismail sebagai ketua berikutnya.. ". Papar Alisha. Entah benar atau tidak apa yang ia sampaikan. Yang pasti itulah keputusannya.
Hingga keputusan pun di tetapkan Ismail sebagai ketua berikutnya dan Alisha di posisi wakil.
Semoga untuk saat yang akan datang nanti, semua akan membaik. Lukanya sembuh tak berbekas, puing hati yang luruh lantak bisa kembali ia benahi.
Biarkan waktu yang menjawab hasil dari segala perjuangannya. Setidaknya ia masih belajar bertahan dan berjuang untuk lebih baik.
Berusaha bangkit dari keterpurukan, berusaha mencari jati dirinya, di tengah segala macam macam hal yang menderanya.
Tanpa salahkan siapa pun, tanpa membenci siapa pun, tanpa menghujat takdir. Jalani semua dengan senyuman dan keikhlasan hati.
Meyakinkan dirinya bahwa 'Pasti Ada Hikmah Dibalik Semua Ini'.
***