Hidup Harus Terus Berjalan

1280 Words
"Kok bisa ya anak IPA seneng sastra..?" Gumam Lisna saat mereka tengah berbincang ringan bersama pengurus Pesantren Sastra yang terkumpul. Ya benar. Saat ini Alisha tengah duduk di kelas XII-IPA 3. Ia memilih jurusan itu, sesuai dengan minatnya. Begitupun Erika. Dan saat ini mereka sedang berada dalam pertemuan para anggota Pesantren Sastra. Dan Afriza tak hadir pada kesempatan itu. Ya. Mereka menyepakati pertemuan rutin setidaknya satu bulan sekali. Ada beberapa anggota yang berhalangan hadir. Namun itu tak menyurutkan niat mereka berdakwah melalui wadah sastra itu. "Ya bisa aja lah kalau orangnya suka. Ya kan...?" Sahut Fadhil. Alisha hanyalah tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Ok. Tak apalah yang penting bisa menikmati peran aja. Ya walaupun nampak bertolak belakang.." Lanjut Lisna. Ya tentu saja benar apa kata Lisna. Orang- orang IPA yang cenderung serius dan berfikir eksak, tertarik dengan dunia sastra. Yang jelas jauh bertolak belakang kerangka berpikirnya. Apapun itu, nyatanya orang aneh itu ada. Dan itu Alisha. Mereka namai wadah itu dengan nama 'Samudera'. Tak ada pendalaman makna yang khusus. Hanya menunjukkan itu sebuah wadah orang- orang yang tertarik dengan bidang sastra, dalam artian sastrawan muda dengan segala latar belakang yang berbeda- beda. Seperti halnya samudera yang merupakan pusat dari seluruh air di bumi ini. Ribuan anak sungai yang melintasi bumi, pada akhirnya semua akan bermuara di satu tempat. Dan tempat itulah Samudera. *** Banyak hal yang mereka bahas dalam pertemuan Samudera kemarin. Banyak hal pula yang menjadi motivasi baru bagi Alisha untuk semakin kuat. Karena Hidup Harus Terus Berjalan. Terlebih saat ini ia telah duduk di bangku kelas XII. Alisha, Mario, Yayu dan Erika memilih jurusan IPA. Sementara Sri dan Ismail memilih kelas Bahasa. Lain halnya dengan Ferdinand, ia tetapkan pilihan di kelas IPS. Katanya sih, males ketemu matematika. Ckck.. Sebentar lagi ujian Akhir Sekolah di laksanakan. Berbagai les tambahan untuk pemantapan pelajaran yang telah disampaikan pun berlangsung. Bahkan di luar itu pun masih ada di antara mereka yang masih menambah porsi belajar di luar sekolah. Dengan serangkaian bimbel. Namun Alisha dan Mario juga beberapa teman yang lain, hanya mengikuti program pokoknya saja. Tak ingin terlalu memporsir diri. Ini hari terakhir mereka beraktivitas di sekolah, sebelum menghadapi ujian senin lusa. Beberapa universitas pun sudah mulai siap menerima pendaftaran malui jalur PMDK, dan salah satunya Alisha yang mendapatkan kesempatan itu. Namun sayang tak tertulis peringkat yang ia dapatkan di kelas XI. Atau tepatnya Pak Atmo enggan menuliskannya, di karenakan alasan yang sangat tak logis. Atmo yang merasa tersinggung karena dia fikir Alisha selalu menghindarinya. Lebih tepatnya menjaga jarak dengannya. Bagaimana tidak? Tergambar jelas di sorot mata Atmo saat berinteraksi dengan siswi- siswinya. Seolah harimau lapar yang siap menerkam mangsa. Tentu saja Alisha merasa risih. Meskipun Mario tak lepas selalu mendampinginya. "Jadi gimana Ay...?". Tanya Mario saat Lisa baru saja keluar dari Ruang Guru. Alisha menarik nafas panjang, lantas s menghembuskannya melalui mulut. "Harus tertulis peringkat di sini. 10 besar masih aman. Lagian tahun lalu kan aku bahkan masuk 5 besar. Ck.. Sayang Pak Atmo gak mau nulisin..". Papar Alisha. Menunjukkan lembaran buku lapornya. "Terus sekarang gimana..?" "Ya.. Usaha dulu aja semaksimal mungkin yang ku bisa. Temui Pak Atmo, minta dia cantumkan rangking ku.. Kalau dia mau Alhamdulillah, kalau pun gak, ya gak masalah. Yang penting dah usaha.." Ujar Alisha. Mengulas senyum tipis. "Aku temani.. Ay" Alisha pun mengangguk. Faham, dengan kekhawatiran Mario. Dan memang sebaiknya begitu. Dimulailah misi mencari keberadaan Pak Atmo. Setelah memastikan jadwal Pak Atmo ada hari itu. Segera Alisha dan Mario menuju ke ruang olahraga. Dan ternyata mereka bertemu di koridor sekolah. Dengan penuh sopan santun Alisha Utarakan niatnya. Namun tak dinyana respon Pak Atmo ternyata.. "Oh..., Ternyata perlu juga kan dengan Wali Kelas?!" Terkekeh ala devil, lantas mencibir.. Alisha hanya tanggapi dengan senyuman sewajarnya. Di sampingnya Mario mulai geram. Tentu saja Mario faham ke arah mana maksud kalimat Pak Atmo itu. Mario mengepalkan tinju, dan itu tertangkap mata Alisha. Alisha menggelengkan kepala samar. Meminta Mario sedikit bersabar. "Kalau saya tak mau bubuhkan tulisan di situ..., bagaimana? Hah...?" Sambung Pak Atmo. Seperti memikirkan sesuatu sebagai bahan barter. Tentu Alisha faham itu. "Ya itu terserah Anda. Bapak bersedia, silakan tulis. Saya sangat berterima kasih. Dan jika Bapak tidak bersedia, saya pun tak masalah, otomatis saya mundur dari PMDK. Mungkin ada jalan yang lain.." Papar Alisha. Tak ingin terjebak dalam permainan Pak Atmo. Menyembunyikan senyum puas, melihat Pak Atmo mendengus kasar. "Ok. Kalian menang kali ini..". Ujar Atmo meraih buku lapor Alisha. Menuliskan sesuatu. Lantas berlalu. Mario berdecak kesal. Tak habis pikir bertemu dengan penghianat di antara para pahlawan tanpa tanda jasa, macam Atmo. Tak membuang waktu segera Alisha menyelesaikan prosedur PMDK. Matanya berbinar bahagia begitu ia keluar dari ruang guru. "Wah selamat ya Lis..". Seru Erika yang tengah berbincang dengan Mario. Lantas memeluk erat sahabatnya itu. "Eits... Ngapain kamu nangis segala.." Ujar Alisha saat mendengar isakan di bahunya. "Aku terharu. Seneng banget kamu dapat kesempatan ini.." Jawab Erika. Mario yang memperhatikan interaksi keduanya hanya tersenyum geli. Mereka pun pulang dengan kesan masing- masing yang didapat pada hari itu. Beristirahat dan mempersiapkan fisik dan psikis untuk pertempuran Senin lusa di kancah Ujian Akhir Sekolah. *** Mario POV on "Jadi gimana Ay...?". Buruku saat Lisa baru saja keluar dari Ruang Guru. Wajahnya nampak kecewa. Dengan mulut mencucu. Dia menarik nafas panjang, lalu di hembuskannya melalui mulut. "Harus tertulis peringkat di sini. 10 besar masih aman. Lagian tahun lalu kan aku bahkan masuk 5 besar. Ck.. Sayang Pak Atmo gak mau nulisin..". Papar Alisha. Menunjukkan lembaran buku lapornya. "Terus sekarang gimana..?" "Ya.. Usaha dulu aja semaksimal mungkin yang ku bisa. Temui Pak Atmo, minta dia cantumkan rangking ku.. Kalau dia mau Alhamdulillah, kalau pun gak, ya gak masalah. Yang penting dah usaha.." Ujar Alisha. Mengulas senyum tipis. "Aku temani.. Ay" Lisa mengangguk. Faham, dengan kekhawatiran ku. Dan memang sebaiknya harus ku dampingi mengingat orang macam apa Pak Atmo itu. Sungguh aku tak suka dengan tatapan laparnya. Dan dimulailah misi mencari keberadaan Pak Atmo. Bersama Lisa. Setelah memastikan jadwal Pak Atmo ada hari itu. Segera kami menuju ke ruang olahraga. Dengan penuh sopan santun Alisha Utarakan niatnya. Namun tak dinyana respon Pak Atmo ternyata.. "Oh..., Ternyata perlu juga kan dengan Wali Kelas?!" Terkekeh ala devil, lantas mencibir.. Alisha hanya tanggapi dengan senyuman sewajarnya. Rahangku mengeras. Aku mulai geram. Tentu saja aku faham ke arah mana maksud kalimat Pak Atmo itu. Spontan tinju membulat, dan itu tertangkap mata Alisha. Alisha menggelengkan kepala samar. Meminta ku sedikit bersabar, dan percaya dengan caranya. "Kalau saya tak mau bubuhkan tulisan di situ..., bagaimana? Hah...?" Sambung Pak Atmo. Seperti memikirkan sesuatu sebagai bahan barter. Aku hampir saja hilang kendali. Lagi- lagi Alisha menghentikan ku. "Ya itu terserah Anda. Bapak bersedia, silakan tulis. Saya sangat berterima kasih. Dan jika Bapak tidak bersedia, saya pun tak masalah, otomatis saya mundur dari PMDK. Mungkin ada jalan yang lain.." papar Alisha. Tak ingin terjebak dalam permainan Pak Atmo. Ku sembunyikan senyum puas, melihat Pak Atmo mendengus kasar. "Ok. Kalian menang kali ini..". Ujar Atmo absurd, meraih buku lapor Alisha. Menuliskan sesuatu. Lantas berlalu. Aku berdecak kesal. Tak habis pikir bertemu dengan penghianat di antara para pahlawan tanpa tanda jasa, macam Atmo. Tak membuang waktu segera Alisha menyelesaikan prosedur PMDK. Matanya berbinar bahagia begitu ia keluar dari ruang guru. Tentu saja aku pun lebih bahagia melihatnya tersenyum. "Wah selamat ya Lis..". Seru Erika yang tengah berbincang dengan ku. Lantas memeluk erat sahabatnya itu. "Eits... Ngapain kamu nangis segala.." Ujar Alisha. Mengurai pelukan dengan Erika. 'Bikin ngiri aja' Aku menggaruk tengkuk yang tiba- tiba saja terasa gatal. "Aku terharu. Seneng banget kamu dapat kesempatan ini.." Jawab Erika. Aku yang memperhatikan interaksi keduanya hanya tersenyum geli. 'Uups..' Otakku mulai melayang ke negeri antah barantah. 'Stop it Mario, come back to earth..." Mario POV end ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD