Coba Bertahan

1021 Words
Sekuat apapun ia bertahan, Alisha tetaplah Alisha, si gadis rapuh. Sekuat apapun ia berusaha sembunyikan sisi lemahnya, Alisha tetaplah Alisha, bukan rembulan. Sekuat apapun ia melompat raih citanya, Alisha tetaplah Alisha, dengan segala keterbatasannya. Ujian Akhir Sekolah, hari pertama. Mendung bergelut manja di wajah yang selalu berusaha tutupi segala bebannya itu. Namun nampaknya terlampau berat apa yang kini meski di tanggungnya. Hingga siapa pun bisa melihat dengan jelas. Air matanya lolos begitu saja. Ia menengadah menatap langit- langit kelas, ruang ujiannya kali ini. Seolah berharap bulir itu tak lagi keluar dari sudut matanya. Tapi nihil. Beberapa bulir kembali menetes. "Loh Lis kamu kenapa?" Tanya Sri. Seperti biasa sempatkan berbincang sebelum ujian dimulai. "Gak papa kok Sri.." Elak Lisa. "Beneran? Da masalah ma Mario? Atau..." Sri nampak berfikir. Alisha menggeleng cepat. "Gak ko Sri.. Aku gak papa.." "Heh Dewantoro! Sini Lo..! Kamu apain sahabat gue Hah?!" Cecar Sri saat Mario baru saja muncul di depan pintu. Kening Mario berkerut. Bukannya manjawab pertanyaan Sri. Fokusnya malah mengarah ke Alisha. "Da pa Ay? Kamu kenapa? Sakit? Atau..." Tanya Mario. "gak papa kok.." elak Lisa lagi. "Gak mungkin.." Mario duduk menghadap Alisha. ".. Cerita, ada apa?" lanjut Mario. "... Ya Lis kamu punya kita. Cerita da apa?" tanya Sri menimpali. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini lolos, menganak sungai di pipinya. Hatinya terasa dicabik- cabik. Segala usahanya hingga tahap ini terasa sia- sia. Mario menggenggam tangan gadis rapuh itu. Sri memeluk Alisha, sejenak semua hening. Biarkan gadis rapuh itu, luapkan emosinya melalui melalui air mata. "Jika dengan nangis, hati Kamu bisa tenang. Menangislah..." bisik Sri. Cukup lama Alisha berada dalam pelukan Sri. Hingga perlahan mengurai pelukannya.. "Kalo kamu udah siap cerita..., Ingat..., kamu punya kita. Sapa tau bisa lebih lega setelah cerita..." bujuk Sri. Mario makin eratkan genggamannya. Berharap bisa yakinkan Alisha untuk percayakan apapun yang menjadi beban fikirannya. Hatinya sakit melihat kekasihnya tersedu sedemikian rupa. Jika saja tak takut Alisha menolak, ingin rasanya ia gantikan tempat Sri. "Ra.. Rasa..nya, hiks.. pe.. Per..ju..ang...an..ku... Hiks... Ssia-... Sia.. Hiks..." Ujar Alisha terbata, di sela sisa isak tangisya. "Mak... Maksudnya..?" kejar Mario. "O... Rang.. Tua... Ku... Hiks... Ga.. Ngi.. Ngijinin... Aku kuliah... Di.. Lu... Luuar.. Ko..ta...hiks..". "Gak.. Ada.. Gu.. Gunanya.. Aku.. Ikuti PMDK.." Tangisya kembali pecah. Patah hati... Tapi itu karena sosok yang teramat sangat penting dalam hidup Alisha. Tak bisa men-judgment begitu saja. "Sabar Lis..., mungkin mereka punya alasan sendiri. Dan mereka tahu apa yang terbaik untuk kamu.." Nasehat Sri. Tersenyum berusaha menenangkan. "Ya bener Ay, pa lagi kita menghadapi ujian sekarang. Jangan terlalu larut dengan fikiran yang aneh- aneh. Lebih baik kita fokus dulu ujian..." Sambung Mario. Mengelus sayang jemari dalam genggamannya. "... Untuk ke depannya..., kita sama- sama berdo'a yang terbaik.. Ok.. " Lanjut Mario. Alisha mengangguk. Merasa sedikit lebih tenang, meski benaknya masih menerka- neraka apakah yang jadi alasan kedua orang tuanya.. *** Mario POV on Aku bergerak cepat memacu si zein, Motor kesayangan ku, agar segera tiba di sekolah. Terlambat, nyaris terlambat. Tak seperti biasanya. Semalam aku mengulang bahan ujian hingga larut. Akibatnya selepas subuh, kantuk bergelut manja di kelopak mata ku. Al hasil, aku baru sadar ketika Ayuna menyusulku yang tak juga menampakkan diri untuk sarapan. "Loh Rio! Ko malah ngebo lagi sih!! Ga jadi ikut ujian?! Rio...! Mario...! Hei...! Hei...!". Teriak Ayuna, tepat di telinga ku. Seperti toa. Aku terperajat mendengar teriakan Ayuna. Memicing, karena mataku masih perih. Dipaksa terbuka seketika. "Hah.. Apaan sih Lu.. Bikin rusuh aja pagi- pagi juga. "Hah...?! Apa..., apa...?! Pagi?! Helloooowwww hampir setengah tujuh ni..!" menunjukkan jam baker tepat di depan muka ku. Seperti dapat energi pawer ranger, aku melesat menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian telah siap dengan setelan sekolah lengkap. Menuju meja makan, menyambar roti yang hampir digigit Ayuna. Lantas pamit pada Mama tercinta. Tinggalkan Ayuna yang menggerutu tak jelas. --- "Heh Dewantoro! Sini Lo..! Kamu apain sahabat gue Hah?!" Cecar Sri saat ku baru saja muncul di depan pintu ruang ujian. Bukannya manjawab pertanyaan Sri. Fokusku mengarah ke Alisha. "Da pa Ay? Kamu kenapa? Sakit? Atau..." Tanya ku. Khawatir?! Tentu saja! "gak papa kok.." elak Lisa. "Gak mungkin.." aku duduk menghadap Alisha. Tak percaya begitu saja. ".. Cerita, ada apa?" lanjut ku. "... Ya Lis kamu punya kita. Cerita da apa?" Sri menimpali. Tiba- tiba Air mata kini lolos, menganak sungai di pipinya. Hatiku rasanya dicabik- cabik. Melihat kondisi Alisha. Tak biasanya ia seperti ini. Ku menggenggam tangan kekasih hati ku itu. Sri memeluk Alisha, sejenak semua hening. Biarkan gadis rapuh itu, luapkan emosinya melalui melalui air mata. Meski ingin sekali rasanya aku gantikan posisi Sri. Tapi aku takut Alisha makin tak nyaman. "Jika dengan nangis, hati Kamu bisa tenang. Menangislah..." bisik Sri. Cukup lama Alisha berada dalam pelukan Sri. Hingga perlahan mengurai pelukannya. "Kalo kamu udah siap cerita..., Ingat..., kamu punya kita. Sapa tau bisa lebih lega setelah cerita..." bujuk Sri. Aku makin erat menggenggaman jemarinya. Berharap bisa yakinkan Alisha untuk percayakan apapun yang menjadi beban fikirannya. Hati ku sakit melihat kekasih hati ku tersedu sedemikian rupa. Jika saja tak takut dia menolak, ingin rasanya aku gantikan tempat Sri. "Ra.. Rasa.. nya, hiks.. Pe.. Per.. ju.. ang... an.. ku... Hiks... Ssia-... Sia.. Hiks..." Ujar Alisha terbata, di sela sisa isak tangisya. "Mak... Maksudnya..?" kejar ku. "O... Orang.. Tua... Ku... Hiks... Ga.. Ngi.. Ngijinin... Aku kuliah... Di.. Lu... Luuar.. Ko... ta... hiks..". "Gak.. Ada.. Gu.. Gunanya.. Aku.. Ikuti PMDK.." Tangisya kembali pecah. Tangisya kembali pecah. "Sabar Lis..., mungkin mereka punya alasan sendiri. Dan mereka tahu apa yang terbaik untuk kamu.." Nasehat Sri. "Ya bener Ay, pa lagi kita menghadapi ujian sekarang. Jangan terlalu larut dengan fikiran yang aneh- aneh. Lebih baik kita fokus dulu ujian..." Sambung ku. Mengelus sayang jemari dalam genggaman ku ini. "... Untuk ke depannya..., kita sama- sama berdo'a yang terbaik.. Ok.. " Lanjut ku lagi. Alisha pun mengangguk samar. Nampak berusaha sedikit lebih tenang. 'Biar ku tanya nanti, apa yang sebenarnya terjadi..' Lirih batinku Karena aku tahu, responnya ini hanya sebuah kamuplase saja. Mungkin agar aku dan Sri merasa tenang. Seperti itulah kekasih hati ku, tak pernah ingin bebani siapa pun. Selalu berlagak semua baik- baik saja. Tapi aku selalu bisa menangkap kebohongannya itu. Mario POV end ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD