Chapter 2

1430 Words
Nicole's POV.. "APA???" aku bertanya dengan nada tinggi. Aku sangat berharap aku salah dengar. Apakah Ralph baru saja memberitahuku bahwa aku akan menyamar sebagai teman tidur? Ku harap ku salah dengar. "Teman ranjang," ucap Ralph. Aku bisa merasakan mataku masih melebar karena ketidakpercayaan. Setelah hening sejenak, Ralph menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Tristan memberi tahu saya bahwa putra Daniel, Kennedy Jameson, sedang mencari gadis biasa untuk menjadi teman tidurnya. Ken langsung meminta Tristan untuk mencari gadis itu, dan karena kami pikir ini bisa menjadi kesempatan besar untuk mempelajari rahasia keluarga Daniel Jameson, kami ingin kamu menyamar sebagai teman ranjangnya," kata Ralph, sambil mengambil napas dalam-dalam lagi. Dari tatapannya, ia terlihat merasa tak nyaman mengatakan itu kepada saya. "Kenapa dia tidak menyewa seorang PSK? Ayahnya memiliki banyak PSK, kan?" tanyaku dengan nada kesal. "Dia sedang mencari pasangan, bukan PSK. Dan memilih salah satu PSK ayahnya bukanlah sifat seorang Ken Jameson," kata Ralph. "Aku benar-benar minta maaf untuk ini, tetapi bisakah kamu menganggap ini sebagai misi? Setelah kami mengetahui siapa yang menyebabkan kematian para wanita dan menyelesaikan misinya, kamu bebas untuk meninggalkan Jameson." Ralph mencoba meyakinkanku. "Apakah Brad sudah tahu tentang ini?" aku bertanya kepadanya. "Tidak.. tapi kami berencana untuk memberitahunya dengan cara terbaik, setelah kamu menerima misinya," kata Ralph sambil melihat ke bawah. Aku tahu dia terlihat menyesal. "Tidak apa-apa, aku akan memberi tahu Brad sendiri. Tetapi bisakah kamu memberiku waktu untuk memikirkannya?" tanyaku pada Ralph. Dia menatapku dan mengambil napas dalam-dalam lagi, sebelum mengeluarkan beberapa kata. "Kamu punya 5 hari sebelum Tristan datang menjemputmu. Sekali lagi, aku sangat minta maaf, Nicole. Tapi ini adalah bagian dari kehidupan mata-mata, dan aku tidak punya maksud untuk menempatkanmu pada posisi yang sulit. Lagi pula, kamu sahabat Kate. Dia mungkin akan marah padaku setelah mengetahui ini," Ralph menyelesaikan kata-katanya. Aku menatapnya seolah aku sudah kehabisan kata kata. "Aku akan berbicara dengan Brad tentang ini. Dan mengenai Kate, jangan khawatir! Aku akan menjelaskan keadaannya padanya agar dia tidak marah padamu, Pak Ralph," kataku pada Ralph sambil tersenyum. Saya tidak bisa berbohong, Ralph adalah pria dan bos yang baik. Dia memperlakukan semua agennya dengan sangat baik, dan melatih mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. "Terima kasih, Nicole! SOS sangat bersyukur memilikimu. Kamu benar-benar salah satu agen terkuat namun paling rendah hati dalam bisnis ini," kata Ralph sambil menatapku dengan mata bersyukur. Aku tersenyum padanya sebelum berdiri. "Yah, lebih baik aku bicara dengan Kate dan Brad," aku berkata sambil tersenyum, di mana Ralph mengangguk. Aku keluar dari kantor Jeff dan kembali ke markas, di mana semua agen hanya duduk-duduk. Beberapa sedang sibuk dengan ponsel mereka, sementara yang lain berbicara. Kate sedang sibuk dengan HP nya, sementara Brad sedang berbicara dengan Keith Ravens, salah satu agen rahasia di SOS. Aku mendekati Kate, membuatnya mendongak dari ponselnya. "Hey! Jadi, apa yang tadi pamanku ingin bicarakan?" Kate bertanya padaku. Aku melihatnya merasa sedikit gugup pada awalnya. "Bagaimana kalau kita membicarakan ini di luar? Misalnya.. di kedai kopi?" aku bertanya kepada Kate, di mana dia setuju. Setelah itu, kami berjalan ke kedai kopi terdekat untuk membicarakan misi ini, dan terlebih lagi, bahwa aku harus menyamar sebagai teman ranjang Ken Jameson entah untuk berapa lama. Kami tiba di kedai kopi. Sejujurnya, saya bukan pecinta kopi, jadi saya memutuskan untuk memesan milkshake saja. Sementara Kate, ia memilih teh kamomil. "Oke, jadi tadi pamanku ingin mengatakan apa?" tanya Kate sambil menyesap tehnya. "Ini tentang misi.. dan aku," aku masih terlihat agak canggung. Kate mengerutkan alis kanannya ke arahku. "Bagaimana denganmu? Apakah dia memintamu untuk menendang Daniel atau semacam itu?" Kate bertanya, sebelum meneguk tehnya lagi. "Mengenai itu..kemungkinan besar aku akan berurusan dengan putranya, Kennedy Jameson," aku melanjutkan, berharap Kate tidak akan tersedak tehnya setelah aku memberitahunya bahwa aku akan menjadi teman tidur putra sang target. "Begitu... Kurasa itu tidak sesulit berurusan dengan bos besar, kan?" Kate bertanya. Aku merasa semakin gugup untuk memberitahunya. Namun, aku meyakinkan diri ku bahwa aku harus melakukannya! "Yah ... aku sebenarnya akan berurusan dengannya dengan cara lain," kataku pada Kate, sebelum menyesap milkshake ku. "Di tempat tidurnya." "APA?" tanya Kate dengan nada terkejut. Ia hampir menumpahkan teh yang dipegangnya. Aku terdiam sejenak, sebelum mulai berbicara lagi. "Mengenai misi..aku akan menyamar sebagai teman tidur Ken." Yah, setidaknya aku merasa sedikit lebih baik sehingga akhirnya aku melepaskannya. Kate hanya menatapku dengan ekspresi terkejut. "Jadi, ini yang ingin dibicarakan pamanku?" Kate bertanya. Aku mengangguk, sebelum mulai berbicara lagi. "Dia benar-benar tak enak hati. Dia mengatakan kepadaku bahwa kamu mungkin akan marah ketika kamu mengetahui ini. Jadi aku menyarankan agar aku memberitahumu sendiri," kataku dengan rasa bersalah di mataku. "Jangan khawatir, Kate! Aku akan baik-baik saja! Kamu tahu aku..Aku akan melewati ini." aku memberinya senyuman. Kate kembali menatapku. Dia masih tidak bisa tersenyum. "Apa Brad tahu tentang ini?" dia bertanya padaku. "Tidak, tapi aku berencana untuk memberitahunya malam ini. Kita bisa pergi makan malam bersama, karena aku tidak punya banyak waktu. Aku hanya punya 5 hari untuk mengabari Pak Ralph," aku menyelesaikan kalimatku, membuat Kate menatapku dengan wajah khawatir. "Kau yakin bisa melakukan ini, Nicole?" Kate bertanya padaku dengan nada khawatir. "Aku akan baik-baik saja, Kate! Kamu tahu aku bisa melewati ini. Aku hanya perlu berbicara dengan Brad tentang ini," kataku sambil tersenyum, meskipun di dalam hati aku agak khawatir tentang bagaimana reaksi Brad. Aku akan tidur dengan pria lain, yang bukan dia. "Semoga berhasil," kata Kate. Kami menghabiskan minuman kami dan kembali ke markas. Aku melihat Brad sedang sibuk dengan ponselnya, mengirim pesan kepada seseorang. Lucu, dia belum berbicara dengan aku sejak tadi pagi. Mungkinkah dia sudah tahu tentang misi dan posisiku? Aku berjalan ke arahnya, memberinya ciuman di pipi. Dia menatapku dan tersenyum. Sejujurnya, aku benar-benar tidak tahu bagaimana ini akan berakhir. Sejak aku bergabung dengan SOS, Brad dan Kate sudah seperti keluarga bagi aku. Sejujurnya, seluruh tim SOS sudah seperti keluarga, tapi Brad dan Kate memiliki tempat khusus di hatiku. "Hai sayang! Ada apa?" aku bertanya padanya saat aku duduk di sebelahnya di sofa. Dia memberiku senyum kecil sebelum menjawab. "Bagus. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan dengan mu," kata Brad sambil menatap mataku. Aku bisa merasakan kupu-kupu menari di dalam hati ku. Ya ampun, apa yang ingin dia katakan padaku? "Bagaimana kalau kita bertemu untuk makan malam nanti? Di tempat biasa kita?" dia bertanya padaku dengan senyum kecil. Aku harus memberitahunya sesuatu besar dan sekarang dia juga ingin mengatakan sesuatu kepada aku? Ya ampun, ku harap semua ini akan baik-baik saja. Aku bahkan tidak tahu apa yang ingin dia katakan. Apakah dia sudah tahu bahwa aku akan tidur dengan Ken untuk entah berapa lama? "Oke. Jam berapa?" tanyaku padanya, memaksa diriku membentuk senyuman kecil. "Jam 7 malam. Bagaimana?" dia berkata kepada saya, di mana saya setuju. "Oke, sampai jumpa jam 7, sayang," katanya sebelum memberiku ciuman di pipi. Ada sesuatu di dalam hatku, yang memberitahuku bahwa aku akan merindukan ciumannya. Tapi apakah dia benar-benar merindukanku ketika dia tahu aku akan mencium orang lain? Aku tidak tahu. 18:50... Saya menuju ke restoran tempat Brad meminta saya untuk bertemu dengannya. Dia menyebut ini sebagai tempat biasa kami. Mengapa? Yah, secara karena kami pergi kencan pertama kami di sini, dan itu adalah tempat di mana dia benar-benar menyatakan cintanya padaku. Saya akan berbohong jika saya mengatakan bahwa tidak ada kenangan di sini. Ini adalah tempat spesial kita. Saya tiba di tujuan saya dan memarkir mobil saya. Saya masuk ke dalam restoran, melihat Brad sudah menungguku. Karena ini akan menjadi malam yang sangat penting, saya mencoba yang terbaik untuk tampil spesial malam ini. Saya mengenakan gaun putih favorit saya, dengan legging hitam yang serasi, lengkap dengan sepatu high heels putih. Rambut saya diikat ekor kuda, dan saya memakai make-up natural. Saya duduk di hadapannya di meja kami. "Kamu terlihat cantik," dia berkata padaku sambil tersenyum. Saya tidak pernah bosan mendengar perkataan ini darinya. "Terima kasih. Kamu juga terlihat keren," kataku padanya sambil tersenyum. Kami mulai memesan makan malam. Kami melakukan percakapan ringan sebelum menghabiskan makanan kami. Setelah hidangan penutup, saya kira sudah waktunya. Dia mulai terlihat serius. "Umm..Nicole," ucap Brad padaku, dimana aku menatap matanya. "Apa?" saya bertanya kepadanya. "Kami telah berkencan selama 4 setengah tahun, dan saya hanya ingin memberi tahu kamu bahwa saya berterima kasih sekali atas kebersamaan kita selama beberapa tahun terakhir ini," katanya, terlihat sedikit gugup sekarang. Oke, saya benar-benar bingung dengan kebingungan. "Tapi mungkin aku belum siap menjadi satu-satunya untukmu," dia berkata padaku. Saya hanya diam dengan mulut terbuka. "Maksud kamu apa?" tanyaku padanya, hatiku mulai terasa tak nyaman. "Maaf, Nicole. Aku jatuh cinta dengan orang lain," katanya padaku sambil menunduk lagi. Saya hanya diam karena shock. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD