Tatapan mata Elegi seperti orang yang sedang melihat hantu saja. "Kenapa kamu ada di rumahku?" tanyanya dingin.
"Tentu saja, karena kamu yang mengizinkanku masuk, Elegi." Aku bersikap seolah aku ini tidak salah telah menyelinap masuk ke dalam rumahnya.
"Jangan sebut namaku, Kali Krukut!" protes Elegi.
"Iya, Sayang."
Sudah kubilang kalau dia memanggilku kali krukut. Itu artinya dia sedang memanggilku sayang. Jadi ya, aku balas sayang saja. Tidak peduli bagaimana dengan tanggapannya.
"Sayang, sayang, diem nggak?!" sewot Elegi.
"Iya, ini aku diam," balasku sambil menutup mulut dan menguncinya.
"Jadi, kamu menyamar sebagai pengantar pizza?" tanyanya menginterogasi.
Karena aku disuruh diam, jadi aku diam saja sesuai permintaannya.
"Jawab pertanyaanku, Kali Krukut!" Elegi tidak ada lelahnya berteriak. Heran deh.
"Tadi katanya aku disuruh diam. Sekarang giliran aku diam disuruh ngomong."
"Jangan banyak protes dan cepetan jawab!"
"Iya, iya, bawel. Kalau dibilang iya, memang iya. Kalau dibilang tidak, juga tidak. Pokoknya, ini salahmu karena tidak memperhatikan. Kalau orang itu bukan aku melainkan orang yang ingin berbuat jahat bagaimana?"
Karena sibuk berbicara di telepon dan sibuk membereskan ruang tamu. Elegi sama sekali tidak melirikku. Jika aku ini orang yang berniat jahat. Mungkin Elegi sudah masuk ke dalam perangkapku. Beruntung, perangkapku hanya ingin masuk dan bergabung bersama mereka saja.
"Sudah masuk tanpa izin, ngeyel, menyalahkan pemilik rumah pula. Dasar Kali Krukut tidak tahu malu," umpat Elegi kesal.
"Siapa yang masuk tanpa izin? Bukankah kamu sendiri yang mengizinkanku masuk? Kamu lupa atau pura-pura lupa?"
"Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus keluar dari rumahku sekarang juga," tegas Elegi.
"Jangan gitu dong, Gi. Masa Lingga sudah ada di sini malah disuruh pergi," protes Rea.
"Iya, Gi. Biarin aja Lingga di sini biar tambah seru. Apalagi kita ngumpul sambil dengerin Lingga nyanyi-nyanyi. Pasti bakal lebih seru," kata Jasmin menimpali. Dan yah, dua penyelamatku memang bisa diandalkan sekali.
"Jadi, apa aku boleh duduk dan ikut bergabung?" Aku berpura-pura saja bertanya. Padahal, meskipun Elegi tidak mengizinkan aku duduk. Aku akan tetap duduk dan ikut bergabung.
"Tidak boleh," ketus Elegi.
"Boleh, boleh, boleh banget kok," balas Rea dan Jasmin bersamaan.
"Kalian berdua apaan, sih. Di sini, aku yang tuan rumah bukan kalian berdua. Jadi, aku berhak memutuskan siapa yang boleh dan yang tidak boleh masuk ke dalam rumahku," kesal Elegi dapat dilihat dari raut wajahnya yang memerah dan hidung yang kembang kempis. Cantik sekali.
"Oh, jadi gitu. Kalau Lingga pergi dari sini, aku sama Jasmin juga ikut pergi," ancam Rea.
Aku tidak tahu apa yang membuat Rea begitu ingin mempertahankanku. Padahal, aku belum memberinya kode sama sekali untuk meminta bantuan. Belum memberi kode saja dia sudah berusaha keras membantuku. Apalagi kalau aku memberi kode meminta bantuan darinya. Mungkin dia dan Jasmin akan berusaha mati-matian membantuku.
"Ya ampun, Rea. Apa, sih, yang bikin kamu pertahanin dia di sini?" tanya Elegi sambil melirik sinis ke arahku.
"Bukannya aku mau pertahanin Lingga di sini, tapi ..." sahut Rea. Sepertinya wanita itu sengaja menghentikan ucapannya.
"Terus apa?" tanya Elegi.
"Lebih seru aja kalau banyak orang. Apalagi Lingga ini jago nyanyi. Pasti seru kalau kumpul-kumpul sambil nyanyi," jelas Rea yang ternyata mempertahankanku karena alasan ini.
"Bener tuh kata, Rea. Jadi, biarin Lingga di sini ya, Gi. plis, plis, plis!" mohon Jasmin menimpali.
Mereka berdua ini memang yang terbaik deh. Tidak salah jika aku mengandalkan mereka berdua. Buktinya, mereka berdua mati-matian mempertahankan agar aku tetap di sini.
"Duduk, Lingga," kata Rea sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan takut. Egi udah setuju kok kalau kamu ikut gabung," timpal Jasmin.
Aku pun beranjak dari tempatku berdiri dan Elegi pun hanya diam. Itu artinya, apa yang Rea dan Jasmin katakan memang benar.
"Stop, stop, stop! Jangan duduk di sini! Kamu boleh ikut gabung tapi duduknya jauh-jauh dari aku," seru Elegi yang akhirnya bersuara.
Asalkan bisa ikut bergabung dan bisa menatapnya sampai kenyang saja aku sudah senang. Tapi eh tapi, kenyang? Elegi sudah seperti makanan saja yang bisa buat aku kenyang.
Akhirnya, aku mengambil tempat duduk di tempat yang paling pojok. Sengaja membiarkan di sebelah Rea tetap kosong. Setidaknya, semua orang tahu bahwa aku bukan tipe pria yang suka mengambil kesempatan duduk di sebelah seorang wanita.
"Kita makan pizza-nya yuk mumpung masih hangat," ucap Elegi sambil membuka box dan terpampanglah pizza dengan banyak toping di atasnya.
"Waaah ... Enak nih," kata Rea mengambil satu potong pizza diikuti oleh Jasmin.
"Ya ampun, aku lupa ambil gelas. Tunggu sebentar ya, Ladies," cetus Elegi.
Wanita itu bergegas menuju dapur dan mengambil tiga gelas. Sepertinya, calon masa depanku ini sama sekali tidak menganggapku ada. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan nanti. Ku naikkan sebelah sudut bibirku dan dia menyadarinya.
"Apa senyum-senyum?" tanyanya ketus.
"Aku haus, tenggorokanku kering," sahutku sambil mengusap leher.
"Bodo," kata Elegi masa bodo dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Jangan galak-galak dong, Gi." Rea memprotes sikap sahabatnya, "Kamu pakai gelas aku aja, Ga. Biar nanti, aku berdua pakai gelas Jasmin," sambung Rea sambil menyodorkan gelasnya padaku.
"Iya, Ga. Rea biar minum berdua pakai gelas aku," timpal Jasmin.
Aku tidak tahu kenapa Rea dan Jasmin begitu baik. Padahal, Elegi sendiri sangat-sangat membenciku. Tapi, aku tidak keberatan dibenci oleh wanita itu. Karena aku berharap, rasa bencinya akan berubah menjadi rasa cinta.
"Tidak usah, Rea," tolak aku.
"Loh, memangnya kenapa? Bukannya tadi kamu bilang haus?" terkejut Rea dan aku membalasnya hanya dengan sebuah kedipan mata. Sontak, Rea langsung mengerti dan tersenyum.
"Biarin aja, Re. Lebih baik kamu makan ini pizza," sanggah Elegi sambil menyuapkan sepotong pizza ke mulut Rea.
"Iya, Re. Lagian, aku udah nggak haus lagi kok," aku ikut menimpali.
"Kalian dengar sendiri 'kan apa yang Kali Krukut bilang?" tanya Elegi sambil mencebikkan bibirnya.
"Iya, iya," sungut Rea.
Akhirnya, mereka bertiga sibuk menikmati pizza. Rea dan Jasmin sudah berkali-kali meneguk minuman bersoda itu. Tapi, yang kutunggu-tunggu justru tak kunjung meminumnya. Sampai pada akhirnya, Jasmin menyadari bahwa aku sama sekali tidak menyentuh pizza itu.
"Dari tadi aku perhatiin kok kamu sibuk bengong, Lingga. Kamu nggak mau nyoba pizza-nya? Ini enak banget loh masih hangat. Kalau udah dingin, teksturnya bakal keras dan nggak enak lagi," kata Jasmin.
"Sebenarnya, aku nggak suka sosis. Makanya, dari tadi aku cuma sibuk merhatiin aja," jawabku.
Sejak aku masih kecil, makanan yang tidak pernah masuk ke dalam perutku adalah sosis. Mau itu sosis ayam, sosis sapi, sosis ikan, dan jenis sosis lainnya. Dulu sekali, aku pernah mencoba memakannya. Baru satu gigitan, perut aku sudah langsung mual dan muntah. Jadi, sejak saat itu dan sampai sekarang, aku tidak suka sosis.
"Dasar norak!" ejek Elegi.
"Biarin. Kalau aku doyan yang ada bakal habis semua sama aku," aku membalas ejekan Elegi sambil menjulurkan lidah.
"Dasar perut kadut!" ejek Elegi lagi.
Entah mengapa, meskipun Elegi terus mengejek. Aku tidak marah atau sakit hati sama sekali. Aku justru merasa senang karena aku bisa berinteraksi dengannya.
"Sayang banget. Padahal, ini enak banget loh, Ga," ujar Rea dengan mulut yang penuh pizza.
"Enak bagi kalian, tapi tidak bagiku." Aku lebih memilih makan mie instan pakai telur, cabai, dan sawi daripada harus makan sosis. Bahkan jika ada yang membayar mahal, aku tidak akan pernah memakannya.
"Ya sudahlah, bagian Lingga buat aku aja," kata Jasmin sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Ambil aja, Jas," balasku.
"Oh iya, Ga. Ngomong-ngomong, kamu di sini emangnya nggak kerja?" tanya Rea.
Wanita ini selalu penasaran dengan pekerjaanku. Mungkin karena pekerjaanku yang terlalu banyak. Jadi, menarik perhatiannya.
"Pekerjaanku di stasiun pengisian bahan bakar sudah selesai. Dan sepertinya, aku tidak akan lagi menggantikan temanku bekerja di sana."
"Memangnya kenapa, Ga?" tanyanya lagi.
"Aku sudah merasa cukup dengan bekerja di restoran, cafe, dan bar."
Aku hidup sendirian dan penghasilanku dari ketiga pekerjaanku sudah cukup untuk menghidupi kebutuhanku sendiri. Yang aku pikirkan saat ini adalah kebahagiaanku. Karena kebahagiaanku saat ini adalah Elegi. Jadi, aku akan berusaha untuk membagi waktuku untuk bisa bersamanya.
"Tapi, tiga pekerjaan aja udah keren loh, Ga. Jarang banget ada orang yang pekerja keras kayak kamu," puji Rea.
"Keren apanya? Biasa aja kali, Re," ketus Elegi menimpali. Segala apa pun tentangku, akan terlihat jelek di mata Elegi.
"Keren tahu, Gi. Jarang banget loh, bahkan cuma ada beberapa orang saja di negeri ini, orang yang seperti Lingga," balas Rea bersikeras mempertahankan penilaiannya.
"Bener tuh apa kata Rea, Gi. Aku salut banget sama kegigihan Lingga," timpal Jasmin.
"Bodo amat. Pokoknya menurut aku biasa aja, sama seperti tampangnya," kekeh Elegi tidak peduli.
Ya, ya, ya, apa pun itu aku tidak peduli. Karena jantungku sudah memilihmu. Maka, aku akan berusaha keras untuk mendapatkanmu.
Orang kalau sudah tidak suka. Sebaik apa pun orang itu, akan tetap terlihat buruk di matanya. Sama seperti apa yang sedang Elegi lakukan padaku.
"Ngomong-ngomong, Gi. Dari tadi aku perhatikan kok kamu nggak minum-minum, sih?" Rea dan Jasmin saja sudah berkali-kali meneguk minuman di gelas mereka. Tapi, aku sama sekali tidak melihat Elegi minum.
"Egi emang dari dulu gini orangnya. Dia nggak akan minum sebelum selesai makan," timpal Jasmin.
"Oh, aku baru tahu ada orang yang melakukan hal itu."
"Aku boleh tanya sesuatu nggak, Ga?" tanya Jasmin takut-takut.
"Boleh. Emangnya kamu mau tanya soal apa? Kok kayaknya serius banget." Sejak aku mengenal Jasmin. Dia tidak pernah bersikap serius.
"Apa kamu suka, Egi?" tanya Jasmin serius.
"Uhuk, uhuk!"
Elegi sampai tersedak mendengar pertanyaan Jasmin. Rea buru-buru menuangkan minuman ke gelas Elegi dan menyodorkannya. Setelah meneguk minumannya, Elegi mulai bersuara.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Jasmin?" tanya Elegi dingin.
Wanita itu menatap tajam ke arahku. Memberi isyarat agar aku tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuatnya marah.
Menurutku, pertanyaan Jasmin itu sedikit bodoh. Sudah jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya. Tapi, kenapa harus bertanya? Terlebih, harus di depan Elegi langsung. Sudah pasti disremprotlah sama si singa lapar. Lagi pula, aku juga tidak berniat sama sekali untuk menjawab. Jasmin hanya perlu menilai bagaimana sikapku dan keberadaanku di dekat Elegi. Jika dia pintar, maka melihat sikapku selama ini terhadap Elegi. Dia akan mampu menjawab pertanyaannya sendiri.