9. Seberapa Kuat Takdir

1229 Words
"Jadi, kapan Egi sudah boleh bekerja di kantor, Pa?" Aku bertanya lagi pada Papa karena aku sudah tidak sabar ingin menyibukkan diri. "Bulan depan saja ya, Sayang." jawaban Papa kali ini sama sekali tidak sesuai harapanku. "Kenapa harus bulan depan, Pa? Kenapa tidak besok pagi saja?" tanyaku lesu. Padahal hari ini baru awal bulan. Bahkan setelah aku ingat-ingat. Sekarang baru tanggal enam bulan enam. "Tentu saja, karena kau harus mempersiapkan segalanya. Di mulai dari pakaian kerja dan apa-apa saja yang harus kau pelajari lebih dulu sebelum kau benar-benar masuk ke perusahaan." Aku pikir apa yang Papa katakan benar. Hanya aku saja yang terlalu terburu-buru karena bosan. Jika dipikir-pikir, kalau aku langsung masuk ke perusahaan tanpa bekal apa pun. Aku bisa kesulitan memahami pekerjaanku sendiri nanti. Jadi, sepertinya aku harus menyetujui keputusan Papa. "Oke, Egi mengerti, Pa." "Kalau sudah bekerja, sering-sering main ke sini ya, Sayang." Air mata sudah mengembun di pelupuk mata Mama. "Ih, Mama apaan, sih, pake nangis segala. Egi cuma mau kerja dan kerjanya juga di perusahaan Papa. Bukannya mau kerja di luar negeri jadi TKW yang pulangnya sampe tahunan." Aku lekas memeluk Mama agar Mama merasa lebih tenang. Aku tahu dan sangat tahu kalau Mama sangat-sangat menyayangiku. Hanya saja, setelah aku pikir-pikir selama ini. Kasih sayang Mama itu salah. Mama terlalu menuruti semua keinginanku. Tidak peduli itu benar atau salah. Bahkan sampai sekarang pun, di saat aku mau berubah menjadi orang yang lebih dewasa. Mama melarangku untuk bekerja. Sekalinya mengizinkan malah meminta Papa agar memberiku posisi tinggi. Mungkin jika aku masih Elegi yang dulu. Pikiranku akan sama seperti pikiran Mama saat ini. Namun, Elegi yang sekarang berbeda dengan Elegi yang dulu hobi menghamburkan uang dan membuat kesalahan, tapi tidak pernah mau bertanggung jawab. Karena hukuman yang aku terima bertahun-tahun ini cukup dijadikan sebagai teguran. "Baru juga kembali dan sekarang kau akan sibuk bekerja. Lalu, bagaimana dengan mama?" "Masih bulan depan, Ma. Egi masih ada waktu satu bulan buat menemani Mama di rumah. Jadi, jangan sedih. Oke?" Kuhapus air mata di pipi Mama yang beberapa tahun ini sering tumpah karena ulahku. Padahal, sebelum aku dipenjara. Tidak pernah sekalipun aku melihat Mama menangis. Justru kerutan wajah tersenyum yang selalu aku lihat. "Jadi, selama satu bulan sebelum bekerja Egi akan menginap di sini?" tanya Mama berbinar. Apalagi dengan bola mata Mama yang masih mengembun air mata. Rasa-rasanya seperti bola mata kartun yang ada di televisi. "Iya, Ma. Sambil Egi mempelajari perusahaan Egi akan menginap di sini. Tapi, sesekali Egi akan pulang ke apartemen. Dan sekarang, Egi harus pulang. Besok pagi, baru Egi ke sini lagi. Gimana?" "Oke, tidak masalah," kata Mama. Lihat saja, ekspresi wajah Mama sudah berubah secepat kilat. Tersenyum bahagia seolah tidak memiliki beban hidup apa pun. Tentu saja karena beban hidup Mama selama ini adalah aku. Dan sekarang, aku sudah bebas dan berada di sisinya lagi seperti yang dulu. "Kalau begitu, Egi pulang dulu ya, Ma, Pa." Aku memeluk Mama dan Papa bergantian. "Hati-hati di jalan ya, Sayang. Jangan ngebut-ngebut." Tidak tahu kenapa, setiap papa berkata seperti ini membuat aku mengingat masa lalu. Kejadian tabrak lari yang aku lakukan. "Iya, Pa. Egi pulang dulu." Akhirnya aku keluar dan perlahan mengemudikan mobilku. Meskipun dalam keadaan sadar. Aku akan berusaha berhati-hati dalam mengemudi. Setidaknya, agar kejadian di masa lalu tidak terjadi di masa kini. Di tengah perjalanan menjelang sampai apartemen, aku kehabisan bahan bakar. Beruntung, tidak jauh di dekat situ ada pom bensin. Jadi, aku tidak perlu mencari lagi. Ketika sedang mengantri dan sampai tiba giliranku. Tiba-tiba, aku melihat sosok si Kali Krukut. Aku pun baru teringat cerita Rea bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu. Kalingga si Kali Krukut bekerja di tempat pengisian bahan bakar umum. Dan sialnya, petugas yang bertugas mengisi bahan bakar mobilku adalah dia. Tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku mencari sesuatu di dalam mobil. Seperti kacamata dan syal. Aku memakai kacamata hitam dengan syal yang aku lilitkan di kepalaku. Dengan keadaanku yang seperti ini, aku berharap dia tidak akan mengenaliku. Terdengar suara ketukan dan aku lihat dia yang mengetuk jendela mobilku. Aku buka perlahan dan hanya seperempat aku buka. Sepertiganya aku biarkan tertutup agar dia tidak bisa melihatku. "Berapa, Bu?" tanyanya. "Penuhi saja," jawabku dengan suara yang sengaja aku buat-buat. Setidaknya, aku berusaha agar dia tidak mengenaliku. "Oke," katanya. Aku kembali menutup jendela mobil. Nanti akan aku buka setelah pengisian selesai. Dan, tidak lama kemudian dia kembali mengetuk. Aku pun sama, kembali membuka jendela mobil hanya seperempat saja. "Berapa?" tanyaku "Dua ratus ribu," jawabnya. Aku membuka dompet dan mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah. Lalu, mengulurkan tanganku menyerahkan uang itu padanya. Tapi, alih-alih mengambil uangnya. Si Kali Krukut justru memegangi tanganku. "Apa kau berusaha menghindar dari takdirmu, Elegi Vektor?" Aku benar-benar tersentak dengan pertanyaannya. Jadi, sejak tadi pria itu mengenaliku dan aku bersikap seolah dia tidak mengenaliku. Astaga, Tuhan! Kenapa aku jadi sebodoh ini? "Lepas, Lepasin tangan aku, Kali Krukut!" Inginku berteriak, tapi tiba-tiba aku memiliki ide cemerlang. Tangan kananku yang senantiasa dia pegang, aku tarik kuat-kuat ke dalam. Yah, meskipun hanya tertarik sedikit, tapi mampu menaikkan sebelah sudut bibirku ke atas. Tangan kiriku bergerak memencet sebuah tombol dan jendela mobil tertutup dengan cepat. "Kau pikir, aku akan kesakitan?" tanyanya mengejek. Meski lengannya terjepit, tangannya tidak berencana untuk melepaskan tanganku. Entah apa yang pria itu pikirkan. "Lepas, Kali Krukut! Banyak kendaraan lain di belakang yang mengantri." "Kalau aku tidak mau lepas, gimana?" tanyanya sambil tersenyum. "Kau! Lepas atau aku naikkan lagi jendelanya," balasku mengancam. "Naikkan saja." Pria ini benar-benar tidak mengenal rasa takut. Menyebalkan sekali. "Kali Krukut!" Aku membentaknya karena sudah tidak tahan lagi melihat sikap keras kepalanya. "Aku akan melepaskan tanganmu, tapi sebelum itu, aku ingin memberitahumu sesuatu." Raut wajahnya tiba-tiba berubah serius dan mampu membuatku merinding, "Sekeras apa pun usahamu untuk menghindar, kita akan selalu dipertemukan. Semakin kau menghindar, maka semakin kita akan dipertemukan. Karena kau tidak akan pernah bisa menebak, seberapa kuat takdir mempertemukan kita." Setelah kata-kata itu terlontar, aku terdiam sesaat. Mencerna debaran jantungku yang tiba-tiba ingin membeludak keluar. Suara klakson mobil antrian di belakang membuyarkan lamunan. Kalingga pun bergegas melepaskan tanganku. Sontak, tangan kiriku memencet tombol menurunkan jendela agar dia bisa menarik tangannya. "Ingat itu," kata Kalingga sebelum akhirnya berjalan ke belakang melayani konsumen dan aku pun mulai melajukan mobilku keluar dari area pom bensin. Apa sebaiknya aku berhenti menghindar saja? Tapi, sumpah demi apa pun aku sangat-sangat tidak menyukainya. Dia orang pertama tidak tahu diri yang berani mendekatiku. Bahkan sangat-sangat memaksa. Dulu, banyak pria yang mendekatiku. Tampang dan status sosialnya pun sama tingginya denganku. Akan tetapi, dalam satu kali hempasan mereka langsung menjauh. Ya, meskipun masih ada beberapa dari mereka yang bersikeras untuk mendekatiku. Tapi, aku tidak masalah karena mereka tampan dan kaya. Tidak seperti si Kali Krukut. Sudah jelek, dekil, pendek, miskin, punya banyak pekerjaan paruh waktu lagi. Pokoknya aku tidak mau berjodoh dengannya. "Jangan terlalu membenci kalau kamu tidak mau berubah mencintai." "Sekarang kamu boleh bilang kalau Lingga bukan tipe pria idaman kamu. Tapi, kita tidak tahu kalau suatu saat nanti kamu yang akan mengejarnya." Sial! Lagi-lagi, ucapan Rea dan Jasmin teringat setiap kali aku merutuki si Kali Krukut. Aku berharap ucapan mereka berdua hanya sebuah ucapan biasa dan tidak akan pernah menjadi doa yang akan menjadi nyata. Untuk pembaca yang memiliki dendam denganku di cerita sebelumnya. Aku mohon dengan amat sangat, jangan pernah mengaminkan ucapan Rea dan Jasmin. Karena meskipun aku dulu orang jahat, tapi sumpah sekarang aku sudah menjadi orang yang baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD