6. Pindah

1282 Words
Keesokan harinya, setelah beres mandi dan menyelesaikan sarapan, Aileen langsung menghubungi Danial untuk meminta kontak Oliver. Ia saja baru sadar sekarang, bahwa selama bermusuhan dengan Oliver, ternyata tidak sempat menyimpan Nomor Laki-laki itu. Atau mungkin, tidak ingin? Bodo amat lah. Lagipula, untuk apa? Iya kan? “Suami istri macam apa kalian, sampai-sampai nomor pasangan sendiri pun gak saling memiliki,” ejek Danial dari seberang panggilan. “Kok kedengarannya seperti Oliver baru saja minta nomorku dari Kakak juga ya?” “Yap.” Danial langsung membenarkan, padahal tadi Aileen asal menebak saja. “Tunggu saja, sebentar lagi dia juga pasti menghubungimu,” Tepat setelah Danial menyelesaikan ucapan, terdengar ketukan dari arah pintu. “Aku tutup dulu ya Kak, sepertinya ada tamu. Makasih untuk Nomornya,” ujar Aileen yang langsung mematikan panggilan dan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. “Oliv—“ “Kenapa nomormu susah banget dihubungi?” Aileen memicing pada Oliver, yang begitu bersitatap dengannya langsung menggerutu. “Maaf, saya orangnya sangat sibuk. Ada perlu apa, tuan? Pagi-pagi sekali sudah datang kemari.” tanya Aileen, bernada seperti bawahan yang tengah menghadapi atasannya. Berbanding terbalik dengan tubuh yang disandarkan miring, hingga posisinya berhasil menghalangi pintu masuk sepenuhnya. “Kemasi barang-barangmu. Kau harus pindah dari sini. Saat ini juga!” Perintah Oliver dengan menekankan di tiga kata terakhirnya. “Pindah kemana?” tanya Aileen untuk memastikan. Siapa tahu kan, Oliver menyuruhnya pindah ke emperan, mengingat Lelaki itu selalu melakukan segala hal dengan sesuka hati tanpa melihat apakah setelah itu Aileen menderita atau tidak. “Ke tempatku,” jawab Oliver dengan wajah datar. Namun Aileen tahu, ada keterpaksaan dibaliknya. Sebenarnya perintah ini sangat menguntungkan bagi Aileen, mengingat rencananya sendiri yang akan pindah ke tempat Lelaki itu. Tetapi, akan sangat merugikan jika dirinya tidak memancing emosi Oliver terlebih dulu. “Kenapa harus pindah? Aku udah mulai betah tinggal di hotel ini kok?” tantang Perempuan itu, dengan mengangkat dagunya “Gak usah banyak nanya, cepat kemasi saja barang-barangmu.” “Gak mau!” tolak Aileen keras kepala. “Kenapa gak mau, hah?” Dalam sekali pergerakan Oliver telah berhasil mencengkram pergelangan tangan dan dagu Aileen. Cengkraman yang begitu kuat, hingga Aileen meringis kesakitan dibuatnya. “Ol—oliver. Sak—sakit….” Menyadari ketidak nyamanan yang tersirat dari tatapan dan gerak bibir Aileen, membuat Oliver melepaskan cengkramannya seketika. Hingga perempuan tersebut, terbatuk-batuk karenanya. “Bisa gak sih, kalau mau sesuatu tuh gak perlu pake acara maksa-maksa segala. Udah maksa, KDRT pula,” gerutu Aileen setelah perasaannya lebih baik dan rasa sakitnya sedikit berkurang. “Salah sendiri, siapa suruh pagi-pagi udah mancing emosi orang? Bukannya langsung nurut juga.” Alih-alih merasa bersalah, Oliver justru masih mencari alasan sebagai pembelaannya. “Siapa yang mancing? Aku cuma gak suka aja, disuru dengan nada memerintahmu yang arogan itu. Padahal dengan ngomong baik-baik penuh lemah lembut kan bisa.” “Alah, kelamaan. Udah sana, beresin barang-barangmu!” Oliver memutar badan dan mendorong bahu Aileen untuk masuk ke dalam kamar yang diperkirakan sebagai tempat tidurnya. “Jangan pake lama, sebentar lagi aku ada rapat penting.” Padahal Aileen hanya perlu menutup kopernya, karena barang-barang yang Danial bawakan semalam belum sempat dikeluarkannya sama sekali. Tapi, melihat tingkah Oliver yang lagi-lagi memerintah sesukanya, membuat Aileen kesal mendengarnya. “Yaudah sana. Rapat dulu aja, kan bisa?” “Gak. Mamaku udah nungguin kamu di apartmenen. Kalau aku gak bisa bawa kamu pagi ini juga, dia mengancam akan membawamu tinggal di rumahnya.” ‘Ternyata itu alasannya,’ batin Ailenn dengan manggut-manggut. Tetapi bukan Aileen namanya kalau langsung meng-iyakan begitu saja penjelasan Oliver. “Alah, bilang aja kamu yang udah gak sabar untuk tinggal bareng aku. Gak usah pake menjual nama Mama mertuaku segala. Ya kan?” Seakan tidak kapok, lagi-lagi perempuan itu menggoda Oliver dengan menaik turunkan alisnya. Kapan lagi kan dirinya dapat kesempatan untuk menggoda Oliver seperti ini. “Aku? Gak sabar tinggal bareng kamu? Cih, najis.” Oliver membuang muka dengan bergidik jiji. Bukannya tersinggung, Aileen justru semakin membuat senyuman semanis mungkin. “Ati-ati Mas sama omongannya, najis-najis, tau-tau cinta loh nanti.” “Seperti yang kamu alami kepadaku kah? Benci-benci tahu-tahu cinta ‘kan?” Laki-laki sudah berbicara dengan mencondongkan badan ke arah Aileen dengan posisi wajah yang hanya berjarak 5senti. Sepertinya, Oliver mulai nyaman mengintimidasi Aileen dengan cara seperti ini. Setelah diam beberapa detik, barulah Aileen dapat menguasai dirinya kembali. Dalam sekali hentakan, didorongnya daada Oliver hingga Laki-laki itu berhasil mundur beberapa langkah dari hadapannya. “Rasa benciku gak akan pernah berubah jadi cinta. Camkan itu baik-baik.” Setelah mengatakan itu, Aileen langsung menutup pintu kamar dengan setengah membantingnya. Ia benar-benar kesal. ‘Gapapa, Aileen—gapapa. Setidaknya pindahan ini bukan kamu yang mengusulkan. Dengan hal itu saja kamu sudah menang,’ bisiknya untuk menenangkan perasaannya sendiri. *** Ternyata Oliver tidak berbohong. Mamanya memang ada di apartemen, menunggu kedatangan Anak dan menantunya sejak tadi. “Kenapa lama sekali?” tanya Perempuan tersebut lebih kepada Oliver. Namun tangannya bergerak untuk menyambut uluran tangan Aileen yang tengah memberi salam sebagai bentuk kesopanan. “Dijalan kejebak macet, Ma,” jawab Oliver yang seketika mendorong koper berisi barang-barang Aileen dengan kekuatan penuh. Begitu menabrak meja, barulah pergerakan koper itu terhenti. Aileen sudah melotot melihatnya. Andai disini tidak ada Tante Nirina, mungkin Ia sudah mengeluarkan serentetan kalimat untuk memaki Oliver. Bisa-bisanya Laki-laki itu mengeluarkan sifat kekanakannya seperti ini. Berbeda dengan Nirina yang hanya menggeleng kecil dengan kelakuan Putra semata wayangnya itu. “Padahal jarak dari apartemen ke gedung tempat diadakannya pesta semalam tidak begitu jauh, Ver. Dan jalanannya pun tidak seramai jalan raya besar,” tuturnya kemudian untuk menimpali alasan yang Oliver katakan sebelumnya. “Kalau Mama gak percaya, tanya aja sama dia coba.” Tunjuk Oliver pada Aileen. “Benar macet, sayang?” Nirina turut menoleh pada Aileen. “Enggak Tante, Oliver bohong. Tadi dia ngajakin aku sarapan dulu, makanya sampainya telat.” Aileen setengah mati menahan tawanya, apalagi mendapati Oliver yang mengerutkan kening dan mungkin menganggap Aileen sudah sedikit gila dengan penjelasannya. Memangnya kapan mereka sarapan bersama? Bertengkar bersama mungkin akan lebih masuk akal. “Dia yang bohong, Ma. Aku mana mau ngajak dia buat—“ “Jangan panggil Tante, coba mulai sekarang belajar panggil Mama.” Nirina seakan tidak peduli dengan penjelasan yang akan diutarakan anaknya, dan lebih memilih memokuskan obrolan pada Aileen. “Oh. I—iya, Ma. Maaf aku lupa, udah terbiasa panggil Tante soalnya.” Aileen tersenyum kikuk. “Gapapa kok, kan baru permulaan. Nanti lama-lama juga akan biasa ya?” “Iya.” “Aku pergi ke kantor sekarang aja deh, daripada jadi nyamuk kayak gini,” ucapan Oliver berhasil menarik perhatian dari kedua Perempuan itu, dengan Aileen yang pertama kali mendekat dan mencium punggung tangannya dengan berujar…. “Yaudah, kalau mau ke kantor. Hati-hati ya Mas di jalannya, terus kalau udah sampai jangan lupa kabari aku.” “Untuk apa aku ngabarin kamu?” “Oliver….” Sang Mama menginterupsi. “Aileen mau belajar jadi Istri yang baik, kok digituin.” ‘Emang Iya kau mau jadi istri yang baik?’ Oliver bertanya lewat tatapannya. Dan seketika Aileen menganggukan kepala dengan polos. Oliver semakin tidak mengerti dibuatnya. Ini ada apa sebenarnya? kenapa tingkah Aileen langsung berubah 180derajat. Kalau memang berniat jadi Istri yang baik, kenapa Perempuan itu tidak melakukannya dari awal tadi—sejak Oliver menjemputnya. Padahal di sana jelas kok, mereka masih dapat melakukan pertengkaran dengan sangat baik. “Gak usah pura-pura kesambet. Apartemen ini aman, gak akan ada setannya.” Oliver seketika menjitak pucuk kepala Aileen. “Oliver….” Lagi-lagi Nirina menginterupsi. Aileen berbalik dan langsung melemparkan diri pada pelukan sang Mama mertua. “Mama, masa Oliver jahat. Belum genap sehari kami menikah saja, udah berani KDRT.” “Lah. Kok jadi ngadu?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD