“Hallo….”
“Kak Dan, ini aku. Ai—“
“Ada apa? Tidakkah kau sibuk menghabiskan malam pertama bersama suamimu?” Dari seberang panggilan Danial memotong.
“Kok bicaranya gitu?” entah kenapa, tiba-tiba saja Aileen merasa sedih. “Kak Dan kan tahu sendiri, kalau pernikahanku ini terjadi, hanya untuk menyelamatkan keluarga Oliver. Jadi gak perlu berpikiran macam-macam dibaliknya.”
“Gak ada yang memintamu untuk melakukan semua ini, Aileen! Gak ada!”
Aileen terlonjak. Meski Danial berteriak hanya melalui panggilan telepon, tetap saja Ia merasakan ketakutan. “Tapi kan Kak, bukankah Kakak sendiri yang menuliskan di foto itu, bahwa Kakak ingin aku menikah sama Oliver—“
“Kebalik. Kakak ingin Oliver yang menikahimu. Ingat baik-baik, Kakak memintanya pada Oliver. Bukan sama kamu Leen, bukan. Kakak juga gak pernah memintamu untuk membuka foto-foto itu. Dari awal semua itu sudah ditujukan untuk Oliver seorang. Kalau pada akhirnya dia tidak mengetahui kebusukan Caroline, terus untuk apa pernikahannya denganmu ini diadakan? Kamu hanya akan dijadikan bahan olok-olokan saja nantinya.”
“Gak masalah,” Aileen sama sekali tidak akan mundur dengan keyakinannya. Lagipula mau mundur bagaimana, toh Ia sudah berada diposisi tidak dapat bergerak kemanapun. “Memangnya Kakak tega melihat keluarga sahabat Kakak sendiri hancur, karena perselingkuhan pacar bersama Ayahnya sendiri.”
“Itu memang sudah menjadi konsekuensinya, Aileen. Bukan kapasitasmu untuk menjaga keutuhan rumah tangga orang. Bukan. Itu tugas mereka sendiri. Kita hanya membantu membongkarnya saja, lalu salahnya dimana?”
“Justru itu masalahnya. Aku bukannya gak mau kebusukan Om Gabi terbong—“
“Mulai sekarang kamu harus belajar memanggilnya dengan sebutan Papa, Aileen,” potong Danial mengingatkan.
“Gak mau. Udah, jangan dulu masukkan pembahasan yang lain, kita pokus saja sama topic sebelumnya.”
“Oke. Sampai mana tadi?”
“Bukannya aku gak mau kebusukan Om Gabi terbongkar. Tapi aku gak akan tenang kalau semuanya terbongkar karena Kakak. Jika sampai terbongkar pun, aku gak akan sanggup membayangkan depresinya Oliver nanti seperti apa. Kakak bayangkan saja, gimana rasanya kalau pacar Kakak ketahuan selingkuh sama Papi?”
“Benci lah.”
“Nah, tuh tahu sendiri kan. Terus gimana sama Mami? Kakak mau Mami hancur juga?”
Setelahnya hening cukup lama. Merasa Kakaknya tidak akan bersuara, Aileen pun melanjutkan kembali. “Jadi, jika bisa mencegah kenapa harus menyakiti banyak orang.”
“Oke—oke, kamu benar. Baiklah, Kakak tidak akan marah. Tapi kamu harus janji, akan memberitahukan semuanya pada Oliver.”
“Gak bisa.”
“Hanya Oliver saja, Aileen. Apa susahnya, itu semua demi kebaikanmu. Kalau tidak begitu, selamanya dia akan salah paham.”
“Tetap gak bisa Kak. Aku gak mungkin berani menyakitinya dengan kenyataan tersebut.”
“Tapi kan, sebagai ganti, kamu bersedia membantunya.”
“Kali ini saja, tolong Kakak percaya sama keputusanku ya?”
Terdengar helaan napas panjang dari Danial. Setelah diam beberapa saat barulah Lelaki itu bersuara. “Oke. Dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Aileen cepat.
“Kalau ada apa-apa sama pernikahan kalian, jangan sungkan katakan pada Kakak.”
“Iya. Tapi, Kakak juga harus janji, untuk tidak memberitahukan perselingkuhan Om Gabi pada Oliver. Jangan salah paham dulu, sungguh, aku bukannya mendukung perselingkuhan itu. Hanya saja aku gak mau kalau terbongkarnya karena keluarga kita. Kakak paham sama maksudku kan?”
***
Satu jam kemudian Danial datang ke hotel dengan membawa barang-barang pesanan Aileen yang disebutkannya dalam sambungan telepon beberapa waktu sebelumnya. Tidak banyak, hanya beberapa pakaian sehari-hari serta baju tidurnya. Kemudian beberapa skincare, dan yang terakhir ponsel. Semua benda-benda tersebut hanya dimuat dalam sebuah koper.
“Kemana Oliver?” tanya Danial pada Aileen yang baru saja keluar kamar dengan menggosok rambut setengah basahnya menggunakan handuk kecil.
“Gak tahu, di apartemennya kali,” jawab Aileen malas, Seraya mendudukkan tubuh, hingga bersebelahan dengan sang Kakak.
“Kalian akan tinggal terpisah seperti ini?”
“Ya. Setidaknya seperti ini lebih baik, dari pada harus tinggal bersama. Dari awal juga sudah kubilang kan, Lelaki itu hanya menggunakanku untuk perlindungan dirinya dari rasa malu. Setidaknya setelah ini, Kakak gak perlu mengkhawatirkanku secara berlebihan lagi. Aku akan baik-baik saja.” Aileen mengangguk penuh keyakinan.
“Bukankah ini justru lebih buruk?”
“Buruk bagaimana maksudnya?” Aileen benar-benar tidak mengerti.
“Coba saja pikirkan. Kalian sudah menikah, itupun dihadiri tamu undangan yang sangat banyak, lalu beritanya dimuat disegala media yang otomatis suatu waktu berita itu akan diketahui sama Caroline juga. Ini Kakak bukannya mau nakut-nakuti ya, tapi hanya ingin kamu jaga-jaga. Meski saat ini dia masih aman dalam pengawasan anak buah Kakak, tapi penyanderaan itu gak akan mungkin Kakak lakukan selamanya bukan? Cepat atau lambat orang-orang terdekatnya akan mencarinya, dan pada saat itu mau tidak mau Kakak harus membebaskannya.”
Jadi ini maksud dari tulisan Danial yang menyebutkan Caroline aman ditangannya? Kakaknya ini benar-benar melakukan penyanderaan dalam artian sebenarnya ternyata.
"Kalau Caroline benar-benar disandera, lantas kenapa para keluarganya diam saja?"
Danial terkekeh kecil. "Kakak ngancem mereka pakai foto Caroline yang telanjang bersama Om Gabi, lah. Makanya tidak ada yang protes sama pernikahan kalian." Ayah Oliver memang bernama Gabriel, namun orang-orang terdekatnya biasa memanggil dengan sebutan Gabi.
"Aku benar-benar gak nyangka, Kakak benar-benar matang dengan semua rencana Kakak." Aileen bertepuk tangan.
"Udah biasa, gak usah muji berlebihan." Danial merendah namun wajahnya terlihat sangat berbangga diri membuat Aileen menyesal dengan pujiannya.
"Oh iya. Sampai mana tadi?" Danial bertanya.
"Apa ya? Aku lupa deh." Aileen menggaruk kecil pelipisnya.
“Oh, Kakak ingat. Jadi sekarang, sebisa mungkin kamu harus selalu berada disisi Oliver, agar kita tidak kecolongan lagi.”
Aileen menatap Kakaknya dengan horror. “Kakak becanda? Aku gak mungkin bisa Kak, yang ada nanti Oliver semakin besar kepala dan menganggapku—“
“Oh, yaduah kalau kamu gak bisa. Biar Kakak langsung serahkan foto-foto ini ke Oliver aja kali ya, biar permasalahan langsung jelas ke intinya.” Danial mengeluarkan foto-foto dari dalam jaketnya. Itu merupakan foto-foto yang sama seperti foto yang Aileen lihat kemarin.
Bagaimana bisa foto-foto itu berada di tangan Danial kembali?
“Tadi, kamu kan yang minta, supaya Kakak masuk kamarmu dan mengambil barang-barangmu. Lagian kotak itu tergeletak gitu aja di samping tempat tidur kok. Jadi, yaudah Kakak ambil aja. Untung belum ada yang ngambil, kalau sudah hilang bagaimana coba?” tutur Danial. Untuk sejenak Aileen lupa, kalau Kakaknya dapat membaca ekspresi wajahnya yang kadang-kadang terlihat polos ini.
Perempuan itu mendesah,“Semalam aku sibuk banget, ngurusin segala hal yang berkaitan dengan pernikahan mendadak ini. Jadi aku lupa, gak sempat nyimpan itu di tempat yang lebih aman.” Jangankan benda itu, separuh nyawa Aileen yang bernama ponsel saja, Ia lupakan.
“Sekarang keputusan ada di tanganmu. Kamu mau mendekatkan diri pada Oliver untuk berbaikan, atau Kakak kasih semua ini padanya langsung, biar kamu gak perlu repot-repot mepet-mepet sama dia?”
Aileen diam sejenak, nampak menimbang-nimbang. “Yaudah. Mulai besok aku akan mendekatkan diri sama dia.”
“Dia siapa?” Danial menginginkan jawaban yang lebih jelas.
“Oliver.”
“Mendekatkan diri bagaimana?” kali ini Kakak Aileen bertanya dengan menaik turunkan alisnya. Oh, rupanya Danial sengaja menggodanya.
“Kak Dan!” Dalam sekali pergerakan, Aileen melemparkan bantal sofa hingga tepat mengenai kepala Danial. “Udah, sana pulang. Lihat tuh, udah mau pagi juga.”
Benar saja, jam dinding yang Aileen tunjuk sudah mengarah pada pukul tiga dini hari. Dan sejak tadi dirinya belum sempat memejamkan mata barang sekejap pun.
“Iya—iya. Ini juga udah mau pulang, kok.” Danial bangkit, seraya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Tapi ingat ya, begitu bangun kamu harus pindah ke tempat Oliver. Lihat saja, kalau besok malam kamu masih ada di sini, Kakak gak akan segan-segan memberikan semua ini padanya.” Sekali lagi Danial mengancam sang adik menggunakan foto-foto yang masih berada dalam genggaman.
“Ya,” jawab Aileen singkat yang sudah mengikuti Danial untuk mengunci pintu setelah kepergian Kakaknya itu.
“Gak hanya foto-foto ini, tapi Kakak juga akan ngasih tahu Mami sama Papi kalau pernikahanmu—“
“Hati-hati di jalannya, ya Kak. Selamat pagi. Sampai jumpa kembali.” Potong Aileen yang langsung mendorong Danial dan menutup pintu dengan setengah membantingnya. Salah sendiri, punya mulut kok gak bisa di rem.
“Aaarrhhh! Bisa gila aku lama-lama,” teriak Aileen seraya menarik rambut dengan punggung yang bersandar pada daun pintu. Kemudian meluruhkan badannya ke lantai sampai kepalanya menunduk, menggunakan kedua lutut sebagai tumpuannya.
Isi kepalanya sibuk, memikirkan segala cara untuk tinggal bersama Oliver. Sebenarnya caranya mudah saja, dengan bilang ‘Aku akan tinggal di tempatmu,’ saja, pasti Oliver akan mengizinkannya. Yang jadi permasalahannya, bagaimana tanggapan Oliver setelah itu? pasti menertawakan Aileen setengah mampus kan.
“Arrrggghhh!” Kenapa juga hatinya harus peduli pada depresi yang belum tentu Oliver alami. KENAPAAAA? Tidak hanya itu, tetapi Aileen juga jadi benci pada perasaannya yang lemah seperti ini.
"Dasar Oliver sialan!"
***