Sherry menghabiskan berjam-jam waktunya hanya untuk berendam. Dia takut berhadapan dengan Eric setelah apa yang terjadi siang tadi. Dadanya masih perih karena membayangkan apa yang dilakukan Eric dengan wanita tadi di atas ranjangnya.
Pikirannya menjadi kalut, marah dan — cemburu. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. Bagaimana mungkin dia cemburu dengan kelakuan Eric? Padahal sejak dulu selalu saja begitu?
Ia meyakinkan diri kalau itu bukanlah cemburu. Setelah menepuk pipinya beberapa kali, dia kembali sadar. Dia adalah seorang wanita baik-baik. Segala macam pengaruh buruk dari Eric tidak akan dia pedulikan.
“Eric, bisakah kau tidak lagi membawa wanita lain ke rumah?” pintanya sopan begitu keluar dari kamar mandi. Dia memandang suaminya sudah bertelanjang d**a di atas ranjang.
Eric menantang, “kenapa? Ini rumahku.”
“Coba pikirkan pandangan orang, kau tidak bisa menyuruh wanita berpakaian seperti itu masuk ke dalam rumah di saat kau sudah menikah.”
“Oh, jadi kau lebih peduli pandangan orang,” Eric terdengar kecewa karena dia ingin tahu perasaan Sherry bukan pandangan orang.
“Kita tinggal di kawasan Paradise, apa yang dilihat—akan berpengaruh pada pendapat mereka.”
“Baik, Ms. Saunders, seperti biasa—anda begitu anggun dan paham masalah prilaku baik dan benar,” sindir Eric memandang rendah Sherry.
Sherry mendekat dan duduk di tepian ranjang, “Eric, aku khawatir mereka berpikir buruk padamu.”
“Ah! Omong kosong!” Eric berpaling wajah, “kau cuma peduli dengan reputasimu! Kenapa? merasa tertekan punya suami sepertiku? Seharusnya kau sadar siapa di antara kita yang menumpang hidup disini.”
“Aku berusaha untuk membantumu memperbaiki citramu.”
“Aku tidak butuh, aku punya uang, mereka menghormatiku sekarang, jangan melihatku rendah terus menerus!”
“Aku tidak begitu!”
“Ya sudah jangan pedulikan orang lain!” sergah Eric tertawa palsu, “jangan berkata seolah-olah kau peduli pada reputasiku, kau hanya peduli pada reputasimu.”
Sherry menghela napas panjang. Lalu mengalihkan pembicaraan yang tiada akhir itu, “siapa wanita tadi? Apa maksudmu dia wanita di hidupmu juga?”
“Kenapa? Kau penasaran tadi aku melakukan apa saja di sini?” tanya Eric mendekati Sheery sembari membelai selimut ranjang, “—kalau aku berkata sedang berguling disini bersamanya, apa masalahmu?”
Sherry berdiri, “aku mau ganti baju dulu.” dia baru sadar kalau masih memakai kimono handuk. Lagipula dia takut dengan ekspresi jahat Eric yang tertuju pada tubuhnya.
“Kau tentu tidak lupa janjimu'kan Sayang?” tanya Eric menarik lengan wanita itu sampai dia terjungkal ke atas pangkuannya,
“sekarang sudah malam.”
Tanpa menunggu banyak waktu, dia menyeret tubuh Sherry naik ke atas ranjang. Lalu menahan tubuh wanita itu debgan berat tubuhnya sendiri.
“Eric!” Sherry panik karena tahu-tahu telentang di bawah Eric. Jantungnya berdebar-debar. Perlakuan kasar sang suami membuat wajahnya semerah kulit udang rebus.
Gerakan tangan Eric luwes menurunkan kimono Sherry. Dia mencium leher dan bahunya dengan tergesa-gesa.
“Aku merasa sesak kalau membayangkan tubuh ini pernah dipermainkan banyak orang,” bisiknya dengan napas memburu. Ia begitu serakah menghirup aroma kulit istrinya. Matanya telah dikuasai hawa nafsu. Tidak tertahankan lagi.
Sherry mendongakkan kepala karena Eric terus menjelajahi lehernya. Tanpa sengaja bibirnya mendesah pelan.
“Kau manis sekali seperti cheri,” bisik Eric tersenyum pedih, “aku menginginkanmu, Sayang.”
Dia senang bisa membuat Sherry 'panas', namun menyakitkan saat membayangkan banyak orang yang melakukan hal ini sebelumnya. Iya, karena ketidakberdayaannya dulu, Sherry pasti sudah sering bersama orang lain.
Oh, tapi sekarang Sherry Saunders adalah miliknya seorang. Miliknya. Tidak akan dia biarkan wanita ini disentuh orang lain lagi.
Sherry berusaha menyadarkan dirinya, tapi terus gagal. Dia tidak pernah merasakan sensasi kenikmatan semacam ini sebelumnya. Ia membenci dirinya sendiri yang takluk kepada seorang Eric Bryson seperti wanita “liar” lain. Dia tidak mau terlihat seperti itu. Tidak mau.
“Eric, aku—” ia tidak bisa menghilangkan wajah wanita berambut pirang tadi siang.
Eric membungkamnya dengan ciuman. Dia lebih ganas daripada ciuman sebelumnya. Seluruh kemarahan, seluruh kekecewaan dan perasaan cinta ingin ia salurkan. Ia ingin Sherry memahami betapa lamanya dia ingin melakukan itu.
Dengan tetap berciuman, dia menggunakan lutut kanan untuk memisahkan kedua kaki Sherry. Tangannya begitu ahli merayap kemana-mana tanpa harus melihat apapun. Fokusnya hanya berciuman—ciuman dan ciuman.
Tangan Sherry mendorong d**a bidang Eric dengan perlahan. Ia ingin menolak semua ini, tapi apa daya hasrat tadi pagi kembali hadir. Kutukan demi kutukan memenuhi benaknya akibat kelihaian Eric yang membuat kepalanya pening.
Eric berhenti menciumnya untuk meminta, “buka bibirmu untukku, Sherry.”
Sherry menganggyk sembari melingkarkan tangan di leher Eric. Dia terlalu malu dalam mengutarakan keinginannya.
“Aku akan menunjukkan kalau aku berbeda dengan pria lain yang pernah menyentuhmu,” ucap Eric setengah mendesah. Dia mengarahkan jemarinya ke paha Sherry.
Sherry masih berusaha menjelaskan, “Itu—aku—”
Lagi-lagi dia dibungkam dengan bibir Eric. Dia memainkan lidahnya dengan milik Sherry. Sudah tidak bisa mundur ataupun menunggu lagi. Terlebih setelah merasakan betapa lembut seluruh kulit sang istri.
“Aku ingin melihatmu—dan merasakanmu,” bisiknya sembari melepaskan diri dari tangan wanita itu. Lalu melorotkan resleting celananya.
Ia memang ingin melihatnya. bagian bawah dari Sherry. Perlahan-lahan, dia terus membelai pahanya seraya menciuminya, termasuk pusar perut. Begitu indah dan sensual.
“Kau cantik dan—” dia terhenti saat melihat sesuatu.
Sherry masih terpejam menikmati semua sentuhan yang diberikan. Dia sama sekali tidak menolak apapun yang dilakukan oleh Eric. Malam ini dia akan menyerahkan semua untuk sang suami. Hatinya patah hati, namun tubuhnya berkata lain.
“—perawan?” lanjut Eric langsung menutup tubuh Sherry dengan kimono handuknya lagi rapat-rapat. Dia melompat mundur dari ranjang sampai hendak terjungkal ke lantai.
Sherry membuka matanya dengan terkejut. Dia duduk sambil menatap dalam wajah syok ketakutan Eric. Ia khawatir ada bagian tubuhnya yang tidak sesuai dengan keinginan pria itu. “Ada apa?”
“K—Kau perawan?” tanya Eric terbata-bata. Ia kembali memasang resleting celana.
Sherry mengangguk pelan, “tentu saja, aku ingin menjaganya sampai menikah. Mom dan—”
“Bagaimana mungkin kau masih perawan!” potong Eric memarahinya seolah itu adalah sebuah penghinaan.
“Aku—” Sherry tidak tahu menjawab apa. Bagi keluarganya menjaga kehormatan sampai menikah merupakan sesuatu yang penting. Bagaimana pun keluarganya dibentuk dari sekumpulan orang-orang terhormat.
Dipandang aneh membuat wanita ini marah. Dia teringat kelakuan buruk Eric dan membalasnya dengan geram, “aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri dengan pergaulan bebas yang hanya akan membuatku tampak murahan! Aku hanya mau melakukannya dengan orang yang tulus mencintaiku!”
Eric tersulut emosi karena pandangan rendah Sherry, “pandangan itu lagi! Oh Yang mulia Sherry Saunders, Kesucianmu membuatku mual! Aku jadi tidak minat melakukan apapun—”
Ia pergi keluar dengan membanting pintu kamar. Tanpa penjelasan apapun, dia meninggalkan pengantinnya dengan mimik wajah marah.
“Kenapa kau membenci apapun tentangku!” teriak Sherry yang putus asa, “seharusnya semua suami akan bahagia! Ada apa denganmu, Eric!”
Wanita ini meringkuk di atas ranjang semalaman. Sendirian dan kedinginan. Dia mulai yakin kalau Eric memang hanya ingin menyakitinya saja. Apakah dia tidak sesuai dengan keinginannya? Apakah dia harus seperti wanita “liar” agar bisa sesuai standarnya? Mengapa keperawanannya sampai membuatnya marah besar?
Tidak masuk akal.
————