“Mrs. Grange, kurasa kau tidak perlu menambahkam banyak pemanis di pai itu, Eric tidak pernah suka yang manis-manis,” saran Sherry memperhatikan pembantu rumah tangganya sedang mengaduk adonan di meja dapur.
“Baiklah,” Mrs. Grange mengangguk, “kelihatannya anda sangat memahami Mr. Bryson.”
“Hanya tahu sedikit,” Sherry berbohong. Dia hampir mengetahui setengah dari rahasia suaminya.
Semenjak masih sekolah menegah atas, dia selalu penasaran dengan anak nakal paling terkenal itu. Citra buruknya memang sangat mengerikan. Hampir setiap minggu berganti kekasih, selalu bergaul dengan kakak kelas, melakukan hal-hal buruk di luar. Walau demikian dia selalu percaya kalau Eric hanya kesepian, tapi tidak tahu cara menanganinya.
Karena terlalu banyak melamun, Sherry tidak mendengar pembantunya berbicara. Dia menjadi gugup, “maaf, Mrs. Grange, apa—yang kulewatkan barusan?”
Wanita tua itu segera mengulang, “Anda bisa memanggil saya Dolores.”
“Baiklah, Dolores, kau juga bisa memanggilku Sherry, kita tidak perlu terlalu formal, kita ini sekarang keluarga,” ucap Sherry dengan suara lemah lembut khasnya, “ya?”
“Eric sangat beruntung memilikimu, Sherry, kau memang wanita yang lembut,” puji Dolores tersenyum bahagia, “tadinya aku khawatir kalau kalian tidak saling menyukai—aku mengenal dekat ibu Eric, memang sulit percaya kalau sekarang—”
“Ibu Eric?” potong Sherry penasaran, “apa dia masih tinggal di—”
“Di tempat itu? Tidak, Sherry, Eric sudah membelikannya rumah di tempat lain, hampir tidak ada yang tahu dimana dia sekarang.”
“Begitu ya, kalaupun aku tanyakan itu pada Eric, pasti dia tidak akan mau menjawabnya,” Sherry menjadi sedih. Dia sebenarnya ingin bertemu wanita itu, melihat keadaannya, apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sehat?
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Dia pasti mengira aku ingin menemui ibunya untuk menghinanya—” sahut Sherry langsung terhenti karena sadar kelepasan bicara. Dia sebisa mungkin tidak mengumbar konflik pribadinya dengan Eric. Di mata orang, pernikahan mereka itu haruslah penuh cinta bukan drama.
“Ma—maksudnga bukan—” ia ingin meralat ucapannya, tapi kelihatan sekali kalau tidak bisa menciptakan kebohongan.
Dolores menahan senyuman. Ia menyodorkan wadah adonan pai pada wanita itu seraya berkata, “bagaimana kalau kau yang menakar pemanisnya?”
Sherry mengangguk.
Akan tetapi belum sempat menyentuh mangkuk adonan, pintu diketuk seseorang.
“Oh aku lupa kebiasaan menutup pintu, aku harus membukanya—mungkin Eric sudah pulang,” kata Sherry buru-buru mendekati pintu utama.
Dia terenyum kecil tanpa alasan. Entah mengapa kejadian tadi pagi teringat kembali sehingga membuat pipinya merona.
Sambil memasang wajah ceria, dia membukakan pintu. Namun ia berubah kaget setelah melihat suaminya datang bersama wanita berambut pirang. Bukan itu saja, tangan Eric berada di atas bahunya dengan mesra.
Mereka jelas sangat dekat.
“Minggir,” pinta Eric sombong. Ia senang bisa membawa wanita pirang berpakaian serba mini dan ketat.
Sherry menepi untuk membiarkan mereka masuk. “Eric, kau pulang—”
Parfum milik wanita pirang itu beraroma menyengat bak racun mematikan. Kepala Sherry mendadak pusing karena amarah dan kecewa.
“Ada apa? Kau seperti melihat hantu?” sindir Eric melewatinya, “bukan dirimu saja di hidupku, ini juga wanitaku.”
Dada Sherry bagai tertancap pisau seketika. Menyakitkan. Lebih dari menyakitkan. Ini keterlaluan. Dia sampai tidak tahu harus memasang reaksi wajah bagaimana. Wanitanya dia bilang? Bagaimana bisa dia begitu tega melakukan ini?
“Eric—” panggilnya dengan mata tak lepas dari penampilan liar wanita itu. Baru kali ini dia melihat langsung rok jins pendek yang begitu menantang. Ia yakin hanya pernah menontonnya di televisi.
Eric menurunkan tangan menuju ke pinggang wanita itu. Dia memamerkan aksi itu pada Sherry. “Aku ingin persiapan sebelum malam pertama kita, Sherry, jangan ganggu, ada waktu sendiri untukmu nanti malam, Sayang.”
Dia pergi meninggalkan Sherry yang mematung di ambang pintu. Suara tawa kecil terdengar keluar dari bibirnya. Tentu saja dia sangat menikmati kekagetan sang istri.
Sherry menutup pintu.
Bagaimana dia bisa berpikir Eric berubah? Memang beginilah kegiatannya, bermain dengan semua wanita. Dia memegangi dadanya yang semakin perih.
Apakah ini akan berlangsung seumur hidup? Bagaimana bisa dia membiarkan wanita lain masuk ke dalam rumah? Bagaimana kalau orang luar berpikir buruk? Kawasan Paradise adalah kalangan elit yang terpelajar nan terhormat, tidak seharusnya dia membawa wanita “liar” ke dalam rumah.
Tidak boleh.
Sherry ingin meluapkan amarahnya. Dia tidak rela rumahnya lambat laun dijadikan tempat berbuat perbuatan buruk.
———
Eric meledakkan tawa begitu sudah sampai di dalam kamar. Pemandangan tadi membuat sekujur tubuhnya geli bukan main.
Wanita tadi dengan santainya duduk di sofa dengan muka masam, “kau selalu sengaja memamerkan diri di depan Sherry.”
“Pam, kau tidak lihat tadi wajahnya? Gugup, takut, dan marah? Sherry memandang kita seperti kuman dari tempat kumuh yang mengotori rumah ini!” kata Eric mulai melenyapkan tawanya dan digantikan dengan ekspresi dingin, “selalu saja begitu.”
“Kau juga selalu begitu, sejak sekolah dulu—kau berusaha menyainginya dalam berganti-ganti pasangan, padahal menurutku Sherry tidak seperti itu, dia itu suci, beda denganmu yang memang gila-gilaan.”
“Sok suci! Tahu apa kau tentangnya? Dia dikelilingi hampir seluruh murid lelaki.”
“Cemburu?”
“Cemburu? Dia melihatku dengan jijik karena aku anak p*****r yang menyandang nama 'Bryson', keluarga termiskin disana, tapi aku tidak boleh jijik dengan gadis yang selalu dikelilingi laki-laki karena dia kaya dan 'berdarah Saunders'?”
“Kemarahanmu pada Sherry tidak berdasar.”
“Bisakah kau diam saja? aku memanggilmu kemari bukan untuk ceramah.”
“Tapi kau harusnya berkata padanya kalau kita kakak adik,” saran Pam memperhatikan kamar kakaknya yang mewah ini. Dia menggelengkan kepala saat tahu lampu gantungnya lebih mewah ketimbang berlian yang pernah ia lihat.
Eric melepaskan kancing kemejanya, “untuk apa? Dia juga tidak akan peduli. Dia itu tidak akan pernah peduli dengan orang-orang yang menurutnya menjijikan.”
“Dia istrimu, Eric, kau menikahinya tanpa memperkenalkan kami,” kata Pam terdengar sebal.
“Sudah kubilang percuma.”
“Sebenarnya bukan dia yang jijik, kau yang malu mengakuiku dan ibu, iya'kan?”
Eric melepaskan kemeja itu, memamerkan tubuh itu pada adiknya sendiri. Dia seolah ingin mengalihkan diri dari pertanyaan itu. Jauh di lubuk hatinya ucapan itu benar adanya. Makanya dia sendiri tak tahu harus menjawab apa.
Pam tersenyum pahit, “Kan, kau terobsesi mensejajarkan dirimu dengan para orang kaya di kawasan Paradise ini demi pantas untuk Sherry, kau mencintainya, kau malu pada masa lalumu, tapi kau tidak mau mengakuinya.”
“Menyingkirlah dari sofa, itu tempat pijatnya,” kata Eric ogah menanggapinya.
Pam berdiri cepat, “asal kau tahu saja, Sherry itu orangnya tidak peduli dengan perbedaan sosial, Eric, kau terlalu keras menghukum dirimu sendiri—jatuhnya malah menyakiti Sherry.”
“Bisakah kau mulai saja memijatku saja, Pamela?” pinta Eric melototinya, “ini bukan bilik pengakuan gereja, ini kamarku, aku mau dipijat karena pekerjaanku sangat melelahkan.”
“Ya, kenapa tidak di ranjang saja?” tanya Pam menuding ranjang ukuran besar yang pasti empuk. Dia sangat ingin melompat-lompat di atasnya.
“Aku tidak rela ranjangnya disentuh orang selain aku dan Sherry.”
Pam tergelak, “aku jadi semakin ingin bercinta dengan pacarku di atasnya, lalu merobek selimutnya, menggigit bantalnya saat klimaks, lalu kusuruh pacarku menyebar semen-nya dimana-mana.”
“Kau punya pacar?” sindir Eric menertawainya, “pekerjaanmu bagaimana?”
“Lucu sekali, Mr. Bryson,” Pam meliriknya tajam, “aku sudah berhenti bekerja malam semenjak dapat uang bulanan dari kakak jutawanku.”
“Ya sudah, cepat ambil losionnya di laci kanan meja rias,” perintah Eric sambil tengkurap di atas sofa. Dia memang tidak terlalu akrab dengan adik beda ayahnya ini. Namun kelihatan kompak ketika bersenda gurau.
Pam menatap celana Eric, lalu menggodanya, “kau yakin mau dipijat punggung saja? Pelangganku sangat suka pelayanan bagian bawah juga, ya—sedikit ada perbedaan tarif, tentu saja.”
“Oh,” Eric menoleh padanya dengan seringaian, “maaf, Pam, bagian itu khusus Sherry.”
“Aku ragu Sherry bisa melakukannya, pasti dia tidak pernah melakukannya,” Pam tertawa terbahak-bahak, “pasti!”
“Aku yakin dia sering melakukannya,” kata Eric menampakkan wajah jijik membayangkan istrinya sendiri melakukan hal memalukan, “aku jadi penasaran bagaimana rasanya kalau yang melakukannya adalah wanita terhormat.”
“Aku ingin bertaruh lipstik merona Vivianne Brands, dia pasti masih perawan, Eric,” ucap Pam mendekati laci, lalu mengambil losion untuk pijat.
Eric tertawa sinis, “sebaiknya kau bersiap membelikanku sekardus Wild Turkey besok, karena itu tidak mungkin.”
“Aku akan menunggu lipstiknya,” kata Pam yakin dengan insting wanitanya, “kalau bisa belikan satu paket.”
***