BAB 13

1195 Words
Selama Eric bekerja di kantornya, Sherry menghabiskan waktu dengan memperbaiki kebunnya. Sudah beberapa hari belakangan, Mrs. Bryson ikut menemaninya. Kelihatan sekali kalau wanita paruh baya itu ingin mendekatkan diri dengan Sherry. Mrs. Bryson memiliki masa lalu yang suram. Dia terlahir di keluarga miskin, termasuk dalam keluarga terpinggirkan. Ketika remaja, dia menikah dini dengan seorang pria. Untuk gadis dari pemukiman kumuh, pernikahan adalah satu-satunya pilihan untuk membantu kehidupan ekonomi. Akan tetapi ketika masih mengandung Eric, suaminya pergi dengan wanita lain. sejak saat itulah, dia terpaksa menjerumuskan diri ke dalam tempat hiburan malam. Eric pun tumbuh di lingkungan terburuk untuk anak-anak. Bahkan kehilangan keperjakaan di usia sepuluh tahun oleh teman ibunya yang sesama penghibur. Sifat nakal Eric semakin liar. Hari demi hari kegiatannya hanya merusak di mana-mana, terutama membuat ulah kepada keluarga penghuni kawasan elite Paradise. Dia membenci para orang kaya itu karena selalu menganggapnya contoh buruk. Ya, dia selalu digambarkan penjahat di hadapan anak-anak mereka. Sekalipun dia berbuat baik, dia selalu dikira sedang berencana buruk. Orang kaya dan orang miskin memang sangat dibedakan di tempat itu. Orang yang terlahir di keluarga penghuni kawasan Paradise akan dianggap terhormat, sekalipun memiliki sifat nakal. Namun, orang seperti Eric yang terlahir di kawasan kumuh pinggiran Paradise akan selalu dipandang jijik. Walaupun sekarang sudah bekerja keras hingga membuat dirinya kaya raya, tetap saja—semua orang masih membencinya. Dia bak sebuah noda hitam di kehidupan putih warga Paradise. Tak ada yang menyambutnya datang. Sekaya apapun Eric Bryson, dia akan tetap menjadi termiskin di antara mereka. “Aku baru tahu kalau masa kecil Eric seperti itu,” ucap Sherry menghentikan aktifitasnya dalam menyiram kaktus-kaktus kecil. Dia berdiri tepat di depan rak bunga hias berbagai jenis, kebanyakan kaktus kecil. Perasaannya menjadi sedih, tak menyangka kehidupan suaminya jauh lebih sulit ketimbang yang ia bayangkan. Mrs. Bryson ikut menyirami bunga-bunga mawar rambat yang ada di tembok pembatas halaman belakang. “Aku tahu dari Pam dia sedikit menyakitimu saat memaksamu menikah dengannya, aku sungguh meminta maaf atas ulah itu.” “Jangan meminta maaf, Mom, Eric tak pernah kasar padaku.” “Kau tak perlu membelanya sebenarnya, Sherry, tolong katakan saja kalau dia keterlaluan.” “Tidak, dia baik.” “Aku masih tak percaya anakku bisa mendapatkanmu, kau adalah gadis yang selalu dia pandang dari dulu.” Sherry agak tersipu. Dia sudah mengetahui itu dari Eric, namun tetap merasa ingin tahu dari sudut pandang sang mertua. “Oh benarkah?” “Ya, aku masih ingat dia mencuri uang dari pelanggan, maaf, aku tahu ini memalukan bagimu, Sherry—tapi Eric sangat nakal dulu, dia terbiasa mencuri dan semacamnya, ada satu waktu, dia mencuri hanya demi membeli pakaian bagus—dan dia pikir bisa datang ke pesta rumahmu.” “Pesta?” ulang Sherry merasa sedikit tidak enak, dia merasa selama ini Eric selalu membahas pesta yang dilakukan oleh keluarganya. “Eric sungguh sangat ingin pergi ke pesta rumahku?” “Ya, waktu itu ulang tahunmu yang ke tujuh belas, dia sangat ingin melihatmu, tapi ayahmu—menghinanya, lalu memukulinya sampai dia pergi. Dia menjadi sangat marah karena dia datang sesuai dengan isi undangan, semuanya diundang—dia bilang begitu.” Ulang tahun ke tujuh belas memang istimewa. Dia mengingat jelas kalau itu adalah ayahnya menghabiskan banyak uang merayakan pesta putri semata wayangnya. Jika dibandingkan dengan saat ini, dahulu sang ayah sangatlah baik dan penyayang. Namun semenjak kematian sang ibu tujuh tahun silam, semuanya menjadi berantakan. Ayahnya tak lagi bisa fokus pada pekerjaan, hutang menumpuk demi memperbaiki bisnis keluarga. Ya, berbisnis makanan beku memang harus senantiasa mengikuti pasar, persaingan menjadi ketat, dan penjualan malah menurun. Keluarga Saunders yang terkenal kaya raya mendadak kehilangan pamornya. Lalu puncak dari semua ini adalah kebangkrutan. Sherry tak ingin mengingat semua itu. Sebenarnya kalau saja tidak terpaksa menikahi Eric dahulu, dia sudah berencana untuk bekerja di perusahaan temannya. Pada awalnya pernikahan ini memang dilandasi sebuah kebencian, tapi kini dia tak merasakan hal itu. “Mom, mungkin seharusnya aku yang meminta maaf, ayahku sangat arogan, tapi kami dulu mendapat pandangan buruk pada Eric—aku menyesal juga termakan omongan orang-orang, dia ternyata orang baik,” ucapnya disertai senyuman lembut. Belum sempat ucapan tersebut dijawab, seseorang datang. Eric. Dia tampak masih mengenakan jas hitam, warna yangs enada dengan dasi yang dia kenakan. Sembari berjalan mendekati sang istri, dia berkata, “Sherry, kelihatannya kau sudah akrab dengan ibuku.” Mrs. Bryson menoleh. “Eric, kau sudah pulang? Kukira ini belum waktunya makan siang.” “Mom, aku tahu aku tak boleh sombong, tapi aku bos, aku tak perlu menunggu jam kalau ingin pergi—pulang menemui istriku,” kata Eric memeluk Sherry dalam belakang. Dia menyandarkan dagunya di atas bahu kanan wanita itu. senyuman manis mengembang dari bibirnya, betapa dia mencintainya terlihat jelas dari binar matanya. “Aku punya berita bagus untukmu, Sherry.” Tak ingin mengganggu, Mrs. Bryson mengatakan alasan, “aku akan membantu Dolores memilih makan siang untuk kalian berdua, datanglah ke ruang makan satu jam lagi.” “Ya, tentu,” sahut Eric senang. Ibunya sempat mengedipkan mata, lalu pergi ke dalam rumah. Sementara itu, Sherry berhenti mengurus kaktusnya, lalu berbalik badan serta melingakrkan tangan di leher pria favoritnya ini. “Apa beritanya? Bisnismu makin berkembang?” “Bisnis? Untuk apa aku membahas bisnis denganmu? Apa itu namanya berita bagus?” “Kau suamiku, tentu saja bisnismu yang makin berkembang juga kebahagiaanku. Jadi bagaimana penjualannya? Makin pesat? Aku berharap semua orang—seluruh Amerika bisa mengenal produkmu, lalu mengenal namamu. Kau akan dikenal, dan takkan ada yang menghinamu lagi.” Eric tertegun mendengar suara lembut Sherry mengatakan hal semacam itu. Ia memang sudah menyangka bahwa Sherry itu sertia, tapi tak mengira sampai peduli dengan hal-hal yang tak seharusnya dia pedulikan. “Ya ampun, di saat wanita lain hanya memikirkan uang suaminya, kau juga memikirkan perkembangan bisnisku?” “Eric, aku mencintaimu—” Sherry memainkan dasi suaminya. “Aku tak mungkin memikirkan uangmu saja.” Eric mengecup singkat keningnya. “Kau yang terbaik, Sayang.” “Ngomong-ngomong, ada apa memangnya? Kau pulang dari pekerjaanmu demi mengatakan berita bagus, jadi sebagus apa beritanya?” “Well, kita belum merasakan bulan madu sejak menikah, bukan? Yang kuberikan padmau hanya kejengkelan saja, aku—sangat menyesal, jadi maukah kau berlibur ke Hawaii—untuk bulan madu?” Sherry terperanjat. “Hawaii? Kau bercanda’kan?” “Aku serius.” Eric tersenyum menggoda. “Aku sudah memesan tiket ke sana.” “Tentu saja aku mau, aku selalu ingin ke Hawaii.” “Kau belum pernah ke sana?” “Belum, ayahku sangat ketat, dia tak memperbolehkan aku kemanapun tanpa keluarga.” “Astaga, kukira keluarga Saunders sudah terbiasa keliling dunia.” “Kami tak seperti yang kau pikirkan, kadang-kadang.” Eric tertawa pelan, lalu mencubit pipi istrinya itu. “Ya, kau pasti suka tempatnya. Aku seirng kesana saat sedang bisnis atau ingin melepaskan penat.” “Benarkah? Kau sering?” “Ke Maui, di sana menyenangkan, banyak—wanita cantiknya,” bisik Eric yang berniat menggoda Sherry, dia menanti reaksi wanita itu bagaimana. Dia memang sering berkencan dengan banyak wanita di pulau Hawaii itu, tapi tentu saja semua hanya berdasarkan atas hubungan one night stand. “Kau memang penakluk wanita,” kata Sherry cemburu. “Aku harap kau tak melakukan apapun saat mengajakku bulan madu ke sana, seperti—membobol keperawanan gadis remaja.” Eric tertawa terbahak-bahak. “Aku tak pernah melakukan itu lagi, dan takkan mendekati wanita manapun sekarang—aku sudah menikah.” Dia memberikan seringai pada wanita itu. “Lagipula untuk apa aku mendekati wanita lain—di saat istriku sangat memuaskan di ranjang.” “Oh, mulai jorokmu,” kata Sherry dengan wajah memerah. Dia buru-buru pergi ke pintu masuk, tak ingin suaminya mengeluarkan kata-kata jorok lain yang akan membuatnya merinding. “Sherry—” bisik Eric menarik lengan istrinya itu, menariknya agar kembali dalam dekapannya. “Kau dengar tadi Mom berkata apa? Sejam lagi kita di suruh ke ruang makan, artinya ada waktu sejam kita. Cukup lama, bukan, Sayang?” Sherry makin malu, tapi dia tak bisa menolak ciuman mesra yang didaratkan sang suami ke bibirnya. Dia pun pasrah terhadap segala perlakuan Eric pada tubuhnya. Bahkan tak peduli sekalipun ini berada di luar ruangan. Saat bersama pria itu, dia merasa dunia hanya milik berdua. _____   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD