Sherry dan Paddy berada di kedai kopi. Tidak ada yang saling berbicara setelah itu. Sherry menlirik ke semua arah, berharap keberadaannya tak diketahui oleh siapapun. Sedangkan Paddy sangat resah karena merasa kalah dengan Eric. Dia berulang kali bertanya-tanya dalam diri, mengapa Sherry menjadi begini? Apa yang dilakukan Eric padanya?
“Kau tidak mencintainya’kan? Dengar, Sherry, ini aku, kau bisa jujur padaku—sudahlah, ini saatnya aku membantumu,” kata Paddy kemudian.
“Sungguh, aku tidak merasa sedih atau semacamnya, Eric baik padaku, dan aku mencintainya.”
“Apa katamu?”
“Maaf, Paddy, aku bersungguh-sungguh, dan sebaiknya kita setelah ini tidak bertemu, Eric benar-benar akan curiga—”
“Jangan terlihat seperti istri setia untuknya, ini membuatku kesal.”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku akan setia, aku mencintainya, dan dia mencintaiku. Kami sudah menikah, awalnya mungkin ada kesalahpahaman, tapi sudahlah tak ada masalah apapun.”
“Ini hanya kekeliruan ayahmu, Sherry. Jangan khawatir, aku menemukannya dan membahas ini.”
“Oh, Paddy, tolonglah.”
“Kau sungguh tidak pantas berada di samping orang b******k seperti Eric. Kau tahu apa yang mereka katakan di pesta penyambutan itu? orang-orang lainnya tetap tak menerimanya, reputasimu ikut jatuh, Sherry, kau dianggap w************n. Apa kau tahu? Eric masih suka berkeliaran dengan wanita-wanita di luar, dan dia hanya menganggapmu tak lebih dari istri ranjang saja, dia menikahimu untuk mengejekmu—dari dulu dia menyukaimu, tapi kau tak pernah meliriknya, apalagi kalau bukan mengejek sekarang?”
Sherry tertegun sejenak. Dia juga pernah berpikir seperti itu, namun ucapan Eric sangat tulus. Jadi hal tersebut tidaklah mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin. Dia menggelengkan kepala dengan hati yang telah sudah percaya. “Dia tidak mungkin begitu, dia mencintaiku, dia mengatakannya sendiri dan meminta maaf atas ulahnya, dan aku yakin itu tulus.”
“Kau terlalu mudah percaya, itulah kelemahanmu.”
“Dia baik, Paddy, mungkin jau harus mencoba dekat dengannya.”
“Kau bercanda? Dia sedang tertawa melihatku—dia memandangku rendah, dia balas dendam, dia merasa sudah menang karena mendapatkan rumahmu, dirimu, dan merasa paling sukses di kalangan kita. Ini pembalasan dendam atas perlakuan kita selama ini padanya, Sherry. Dendam takkan mudah hilang.”
“Jangan begitu.”
“Aku hanya kasihan padamu, kau hanya akan jadi istri pajangan untuknya, dia takkan setia padamu—dia Eric Bryson, tak ada playboy yang mengubah sifatnya hanya karena sudah menikah.”
“Menikahi orang yang dia cintai, aku, jadi dia bukan playboy lagi.”
“Astaga.”
“Dia membelimu, dan kau menganggapnya orang baik?”
Sherry keberatan. Dia merasa paddy terus menerus mengatakan hal semacam itu. “Berapa kali kubilang, dia tidak membeliku.”
“Akan kubuktikan padamu, dia hanya membelimu, dan mengejek kita. Kalau nanti ayahmu mengembalikan uang pinjamannya, dia dengan suka rela akan menendangmu—kau sudah tidak dibutuhkan lagi, lagipula tidakkah kau sadar, posisimu? Kenapa dia membawamu? Kau jaminan, Sherry.”
“Berhentilah berkata seperti itu.”
“Itu kenyataannya.”
“Aku hanya berharap Dad baik-baik saja,” kata Sherry menundukkan kepala. Dia sudah tak melihatnya semenjak malam dia meninggalkannya dengan segudang masalah. Kebangkrutan mengerikan. Kalau saja Eric tak membayar hutang-hutang ayahnya, seluruh aset, termasuk rumah kesayangannya juga pasti sudah disita.
Paddy memberikan tatapan serius. “Kau sungguh tak tahu dimana dia?”
“Tidak.”
“Sanak keluarga mungkin?”
“Tidak ada, Paddy.”
“Aku akan berusaha mencarinya untukmu.”
“Terima kasih.”
Paddy menyentuh telapak tangan kanan Sherry di atas meja. “Aku akan berusaha membuka matamu dan percaya padaku, aku tahu aku terlambat, tapi aku akan menebusnya.”
“Eh—aku tidak apa-apa,” ucap Sherry menarik tangannya. Dia kemudian berdiri, dan berpamitan, “maaf, Paddy, aku harus pulang, Eric pasti sedang menungguku.”
Paddy memalingkan wajah, tak terima.
_______
“Dia lama sekali~” Eric mengomel sendiri di meja makan. Dia sudah menghabiskan dua cangkir kopi, tapi istrinya belum juga kembali. Sambil berdiri, dia menggumam, “Sudah kuduga, harusnya dia tak belanja sendiri.”
Pam duduk di seberang meja. “Tenanglah, kenapa kau berubah posesif begini hah?”
Sudah seminggu dia dan ibunya tinggal di rumah itu. Selama itu pula, dia selalu menggoda kakaknya yang sudah menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Sherry. Tiada hari tanpa seringai lebar. Baginya, kisah cinta Eric dengan Sherry lebih menarik diikuti ketimbang drama opera sabun. Satunya berandalan dari tempat kumuh yang sukses dan satunya merupakan putri keluarga terhormat yang bangkrut.
“Aku tidak posesif, aku khawatir,” sahut Eric mondar mandir di ruang itu.
“Khawatir dia bertemu mantan kekasihnya yang baru pulang dari luar negeri itu?”
“Diam kau.”
“Aku berkenalan dengan di pesta penyambutan itu. Jujur saja, Eric, dia benar-benar sopan dan tampan, auranya beda sekali dengan kita. Memang, orang kaya sejak lahir punya aura khas yang berbeda dari orang yang baru kaya.”
“Diam.”
“Kalau aku jadi Sherry, aku akan meminta Paterson itu membayar lunas hutang ayahku padamu, lalu aku menikah dengannya.”
“Diamlah, Sialan, kau membuatku seperti sedang menjadikan Sherry itu jaminan hutang.”
Pam menyeringai. “Heh, bukankah kau memang awalnya begitu?”
“Tidak sama sekali, aku membeli rumah ini dan memberikan uang untuk ayah brengseknya itu hanya agar Sherry tak kesulitan. Aku tidak mau dia hidup di jalanan, dia tak bisa hidup seperti itu.”
“Oh—mendadak jadi lembut setelah merasakan malam pertama eh?”
“Kau benar-benar kurang ajar, kau tahu itu?”
“Kau menyebalkan,” sahut pam tertawa terbahak-bahak, “sudah kubilang lebih baik jujur perasaanmu sendiri padanya, aku jadi ingat reaksi cemburu Sherry waktu pertama kali melihatku datang kali ke rumah ini—aduh, kakakku menyewaku untuk ke atas ranjangnya. Kau nakal sekali, Kakak.”
Eric menghembuskan napas panjang. Dia sama sekali tak peduli denagn ocehan Pam. Baginya, keselamatan Sherry lebih penting. “Setidaknya dia membawa sopir. Aku merasa berdosa sekarang.”
“Astaga, Eric, istrimu hanya berbelanja di seberang jalan perumahan ini, bahkan dia takkan berkeringat jalan kaki kesana, ya, kecuali kalau mampir sebentar ke motel dekat kedai kopi itu—bersama Paterson.”
“Jangan samakan dia denganmu.”
Pam kembali tergelak melihat reaksi jengkel Eric. “Iya, dan aku sebentar lagi akan bertemu klien di sana.”
“Oh, Pam, sudah kubilang, kau lebih baik bekerja di tempatku saja, akan kuberikan uang sepuluh kali lipat ketimbang pria-pria tidak jelas itu.”
“Ha, ha~” tawa yang dibuat-buat Pam pun meledak. “Aku sudah menrutimu untuk tampil bak gadis perawan di pesta penyambutan, tapi aku akan tetap berkencan dengan mereka sampai aku punya kekasih—dan dia bisa menghangatkanku tiap malam.”
“Oke, kukenalkan pada seseorang, kujamin dia akan memenuhi seleramu, dan kebetulan dia akan suka gadis pirang sepertimu, jadi berhentilah bercinta seperti kelinci di mana-mana dan mulai serius dengan satu pria.”
Pam mengangguk. “Oke, kalau dia memuaskan.”
Tak berselang lama, Sherry berjalan menghampiri ruangan itu dengan membawa satu kantong kertas belanjaan. Dai menyunggingkan senyuman senang melihat keluarga barunya ini berkumpul di sana.
“Pam, kau sudah bangun, aku akan membuatkan pai apel untuk kalian, semua bahannya sudah kubeli ini,” katanya.
Eric merebut belanjaannya itu. “Kenapa lama sekali?”
Sherry terpaksa mengatakan dusta, “aku lama memilih apel di rak buah, banyak sekali pengunjungnya juga.” Ia tidak mungkin berkata jujur tentang pertemuannya dengan Paddy.
“Lain kali, biarkan Dolores saja.” Eric menaruh semuanya di atas meja dapur. “Tugasmu hanya menemaniku saat di rumah”
Sherry berdiri di sebelahnya. “Dolores sedang sibuk membantu ibumu berbelanja pakaian’kan? Mana mungkin aku menunggunya pulang, lagipula letak supermarketnya dekat sini.”
“Sayang, aku saja yang berbelanja jika kau ingin sesuatu mendadak.”
“Maaf, aku tak bisa menunggu tadi, Pam dan ibumu ada di sini, aku harus membuatkan sesuatu buatan tangan pada mereka.” Sherry menoleh pada adik iparnya. “Aku tak ingin orang-orang meganggap aku tak bisa apapun hanya karena ayahku memanjakanku.”
Pam terkesan dengan ucapan lembut wanita itu. “Sherry, jujur saja, aku sudah bahagia melihatmu mau dengan kakakku, sungguh, dan, ayolah—aku pun tak bisa memasak, yang kubisa hanyalah melakukan seks dengan baik.”
Eric meliriknya tajam.
“Apa?” tanya Pam menahan tawa. “Kau mau aku berkata lebih halus, maksudmu mengganti kata seks dengan kalimat ‘penyatuan suci antara pria dan wanita demi kelangsungan hidup manusia?’”
Sherry tanpa sengaja tertawa mendengarnya.
Eric menggumam pelan, “mari pura-pura dia tidak ada, Sherry.”
Kini Pam yang tertawa terbahak-bahak.
_______