BAB 11

1050 Words
“Selamat pagi, Sherry!” sapa seorang pria tiga puluh tahunan berambut pirang gelap. Dia punya mata sebiru lautan dan senyuman secerah musim semi. Paddy. Penampilannya selalu rapi, memakai kemeja putih dibalik jas hitam. Dia jelas sedang tidak ingin berbelanja, dan tidak wajar dia ada di supermarket ini. Dari awal, dia memang sudah mengikuti Sherry masuk bangunan ini, mengawasinya, dan kini memiliki kesempatan untuk menghampirinya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia berikan kepada wanita itu. sekarang ada waktunya. Sherry mendadak terdiam di samping rak bumbu masakan, tak berani melakukan apapun. Dia sudah berjanji tidak berhubungan dengan Paddy, tapi mana mungin dia bersikap acuh pada orang yang selalu membantu keluarganya sekaligus mantan kekasihnya ini. Pengatur suhu bangunan ini di berada di angka normal, namun baginya, ini sangat dingin. Perasaan gugup disertai canggung mendadak melanda. Sebelum menjadi ‘intim’ dengan sang suami, sosok Paddy adalah satu-satunya orang yang mampu membuatnya nyaman. “Pagi,” sapanya dengan senyuman ramah, “maaf saat itu—aku tidak menemuimu.” Paddy ikut menyunggingkan senyuman. “Sebenarnya aku datang ke pesta sambutan penghuni baru Paradise, aku senang melihatmu terlihat bahagia dengan Eric, Sherry.” Sherry merasa ucapan tersebut tidak tulus, terutama pada penekanan kata terlihat. Dia menghela napas panjang, lalu menjelaskan, “aku memang bahagia.” Paddy meninggalkan troli belanjanya, lalu mendekati wanita yang masih ia cintai itu. “Maafkan aku, harusnya aku datang lebih cepat.” Dia meraih telapak tangannya. “Aku tahu apa yang terjadi, dan mengapa kalian bisa menikah.” “Bukan begitu, Paddy.” Paddy melangkah lebih dekat. “Ayahmu harusnya menghubungiku, bukan orang itu.” “Paddy—Eric sudah berubah,” sahut Sherry mundur selangkah, “dia tidak seperti yang kau pikirkan.” “Astaga, Sherry—” Paddy memalingkan wajah dengan kekecewaan tinggi. “Kau harusnya menghubungiku, tidakkah kau tahu, ada aku.” “Aku tidak tahu, ayahku bangkrut, dan kurasa dia tak punya pilihan lain, satu-satunya opsi yang tercepat dan dekat adalah Eric saat itu. sebelum membeli rumah kami, dia tinggal di kawasan elite Heaven Hill, sebelah kawasan Paradise, dan kurasa ayahku tahu kalau Eric sangat menginginkanku, jadi—” Sherry tak bisa melanjutkan ucapan itu karena menurutnya terdengar seperti dia sadar kalau sedang dijual. Dia menggelengkan kepala, menepis semua anggapan buruk itu. Hingga sekarang dia masih belum mengetahui alasan mengapa ayahnya tega melakukan ini, tapi semua tidak berarti lagi—karena Eric benar-benar orang baik. “Jadi?” “Jadi aku menawarkan diri untuk menjadi—” “Penghangat ranjang berandalan itu?” sela Paddy dengan suara serius. Nada suara yang menunjukkan kecemburuan berat. Sudah bertahun lamanya tidak bertemu, namun hatinya masih milik Sherry. “Aku tidak paham dengan pikiranmu, Sherry, kenapa kau tak laporkan saja ke polisi? Tinggalkan saja rumahmu, tak perlu menjadi jaminan, kau tidak perlu melakukan ini—aku—” “Apa ini pembicaraan yang pantas dibicarakan di supermarket?” Sherry agak benci dengan nada keras Paddy. Dia beberapa kali mengawasi sekitar, berharap tak ada yang melihat. Karena sudah mulai ramai, dia mendorong trolinya, dan menjauh dari Paddy. “Maaf, mulai sekarang mungkin kita tidak perlu bertemu lagi.” Paddy mengikutinya ke rak manapun. “Sherry, maafkan ucapan kasarku barusan.” “Tidak masalah, kau hanya tidak mengenal Eric.” Sherry berhenti di rak cangkir dan peralatan dapur. Dia memilih cangkir kopi yang menurutnya bagus untuk Eric. “Dia mengaku kaya tapi istrinya diminta untuk berbelanja sendiri?” “Aku yang ingin berbelanja sendiri.” “Sherry, tolonglah, kau terlalu baik. Jujurlah padaku.” “Tidak ada apa-apa. Eric sudah berubah, dia memperlakukanku dengan baik, dan tidak seperti yang ada di bayanganmu, dia bahkan mendekorasi ulang taman bungaku—dia tahu aku suka bunga, dia juga secara khusus menyewa tukang kebun untuk itu.” “Kau kedengarannya sangat bahagia.” “Memang.” “Bohong tapi’kan? Kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui, Sherry, lembut—penyayang, dan—cantik.” Paddy terdiam sejenak memandangi wajah cantik Sherry yang begitu mempesona. Di pagi hari ini, wanita itu bertambah cantik, terlebih dalam balutan gaun pendek berwarna biru terang. “Paddy, aku sudah menikah, dan kuharap kau tak menganggap hubungan kita lebih.” “Kenapa kau bersikap seperti istri setia begini? Dia Eric Bryson, tak pantas mendapat kesetianmu. Mereka menyebutnya benih kotor.” “Jangan seperti itu pada Eric,” pinta Sherry agak kasar sembari melototi Paddy, “kita tidak bisa menilai orang dari asalnya—aku tahu, dulu aku begitu karena aku sangat menghormati ayahku dan percaya segala perkataannya, kita tidak boleh mendekati orang ini, orang itu karena begini atau begitu—tapi ini tidak benar, dan aku sadar, Eric sangat baik, dia hanya suka bersikap seenaknya, tapi bukan berarti dia ingin menyakiti hati orang.” “Oh lihatlah, kau bersandiwara’kan? Berapa hutang ayahmu padanya, biar aku yang menuntaskan, takkan kubiarkan dia—” “Jangan mengira membayar hutang ayahku, kau membeliku.” “Apa maksudmu?” “Kau seperti bertingkah ingin membeliku dari Eric. Aku tidak suka sorot matamu itu, apa kau tahu, Eric memberikan pinjaman kepada ayahku karena dia kasihan padaku—ya aku yakin, karena dia pikir aku tak bisa hidup miskin dan susah,” kata Sherry menyadari semua tindakan Eric dan ucapan tersembunyinya. Dia selalu merasa ada niat baik di balik tindakan yang terlihat jahat ini. Dari awal, Eric pasti hanya ingin membuatnya tetap tinggal di kawasan Paradise dan tidak berada di jalanan. Caranya? Dengan menikahinya. “Cukup, kau tak perlu seperti ini. Dia mengerikan, tak perlu kau pikirkan.” Paddy menyambar lengan tangan Sherry. “Ayo kita membahas lebih lanjut, dimana ayahmu kalau begitu? Aku ingin membantu kalian keluar dari masalah ini.” “Jangan ikut campur, Paddy.” “Kau berubah, kau biasanya tak begini padaku. Apa Eric lebih baik dariku? Atau kau diancam? Sherry, tidak apa-apa, ini aku, kapan aku mengecewakanmu?” “Kau serius bertanya begitu?” Sherry mengingat jelas alasan dia harus memutuskan hubungan. Paddy lebih memilih mengurus bisnisnya ketimbang melakukan pertunangan mereka. “Kau mengewakanku sebelumnya, ya—tapi bukan apa-apa juga, kita tetap berteman.” “Aku menyesal.” Paddy terlihat penuh kepedihan. “Kenapa kau langsung memutuskan hubungan kita hanya karena aku ingin pertunangannya ditunda? Ini tidak masuk akal, Sherry, kau tahu itu.” “Paddy, kau memang baik, tapi kecintaanmu pada pekerjaan terkadang melupakan aku dan orang lain, aku tidak mau bersama orang seperti itu. Pekerjaan memang penting, aku tahu, tapi itu bukan sekali kau melakukannya—tapi berulang kali, dan kita tak seharusnya membahas ini.” Paddy tak terima. “Jadi Eric memang lebih baik dariku? Orang b******k yang memiliki usaha klub malam? Alkohol? Dan hal-hal sesat semacam itu? Aku CEO jaringan hotel Paterson, Sherry, nama Paterson sangat baik di mata orang-orang. Saat mereka mendengar nama itu, yang ada dalam benar mereka adalah keluarga terhormat. Lalu ketika nama Bryson disebut, yang ada hanyalah tawa meledek—anak pelacur.” “Diam!” Sherry tak tahan. “Jangan menghina suamiku.” “Aku tidak menghinanya, aku bicara fakta, dan kau berusaha menutup mata dan telingamu. Kau benar-benar ingin menyandang nama Bryson? Kau ingin melahirkan anak si b******k itu?” Sherry menghembuskan napas panjang, berusaha tak tersulut emosi di depan publik. Dia ingin menuntaskan kesalahpahaman di antara mereka. Jadi dia berkata, “bagaimana kalau ke kedai setelah ini, kita bicara baik-baik, dan aku ingin kau mendengarkanku—kau tak boleh mengatakan hal yang kau tahu dari masyarakat Paradise. Kau paham?” “Oke.” ______    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD