BAB 10

1133 Words
Pesta malam itu berlangsung meriah. Setiap tamu undangan datang tepat waktu untuk melihat pasangan Bryson yang sensasional ini. Sudah seminggu belakangan berita mereka hangat dibicarakan di seluruh Paradise. Seorang berandalan miskin kini punya kaya raya berkat bisnis anggurnya. Walau sebagian dari mereka memuji dengan tulus keberhasilan Eric, sebagian wanita tua terlihat sinis. Mereka masih belum bisa melepaskan image berandalan anak hasil perzinahan di tempat kumuh dari sosok Eric. Bahkan mereka memulai gossip dengan mempertanyakan sikap anggun Sherry Saunders yang rela menikahi “benih jelek” demi menutupi kebangkrutan keluarganya. Para wanita ini seakan tidak rela memberikan putri mereka kepada Eric sekalipun dia kaya raya. Bagaimanapun, gambaran buruk keluarga Bryson sudah melekat dimana-mana. Tak lama berada disana, Eric mengajak istriya pulang. Mereka sepakat kali ini bulan bulan madu diutamakan ketimbang acara formalitas semacam ini. “Tatapan mereka masih sama seperti dahulu,” gumam Eric melucuti pakaiannya, lalu menyampirkan itu ke punggung sofa, “apa aku ini domba di kawanan serigala?” “Jangan begitu, pemikiran orang memang sulit diubah, tapi percayalah, asal kau sudah berubah, mereka akan berubah juga.” Sherry mengambil pakaian, berniat untuk menggantungnya di hanger almari. Akan tetapi ia dihentikan oleh Eric. Pria itu bertanya, “kau mau apa?” “Menggantung pakaianmu.” “Sherry, kau istriku, bukan asisten rumah tangga. Sudah kubilang, jangan melakukan hal-hal seperti ini, biarkan berantakan karena itu tugas Dolores.” “Tapi tugas istri itu melayani suami, tetap saja ini seharusnya pekerjaanku, tidak baik menuntut Dolres mengerjakan semuanya.” “Well, dia dibayar untuk itu.” “Eric—” Eric merangkul pinggang Sherry. “Kau benar, tugas istri memang melayani suami, tapi jika suaminya aku, maka pelayanannya hanya sebatas untuk urusan rohani dan jasmani.” “Apa maksudmu?” Sherry menahan tawa, dua tangannya melingkar di leher sang suami. “Rohani?” “Jangan berhubungan dengan Paterson lagi demi hatiku, bertemu pun jangan, pokoknya Sherry—aku benar-benar merasa tidak nyaman saat melihat pria itu denganmu,” bisik Eric tersenyum, sesekali menciumi pucuk hidung wanita itu. Napas hangatnya menyembur ke kulit wajah Sherry. Sherry lantas membelai pipi sang suami. “Jangan cemburu, aku takkan dekat dengannya lagi kalau itu maumu.” “Itu baru istriku, istri seorang Bryson, seorang pengusaha anggur yang kaya raya.” “Kau makin sombong eh?” “Aku hanya ingin bisa berada di lingkungan kastamu, Sayang, aku berusaha sampai seperti ini agar aku bisa pantas bersanding denganmu.” “Oh, Eric~” Sherry kembali luluh atas ucapan lembut nan tulus tersebut. Dia merapikan rambut poni yang jatuh di kening Eric. “Kalau saja aku tahu di balik topeng serigala yang kau pakai ini nyatanya berjiwa domba, dari dulu aku akan mendekatimu.” “Jangan begitu, dulu aku hina. Aku malu mengakui ini, tapi aku senang kau tak dekat-dekat denganku dulu—aku tak bisa bayangkan apa jadinya jika Sherry-ku harus ikut terjebak di kehidupan sesatku.” “Aku hanya mencintaimu— dari dulu, Mr. Bryson.” “Aku mencintaimu lebih dulu daripada kau yang mencintaiku.” “Rumit sekali?” Eric tersenyum senang. Ia menyeret tubuh wanita itu kembali ke arah ranjang. Sherry menggodanya, “bukankah kita belum makan malam?” “Setelah ini saja,” bisik Eric seperti sudah tidak mampu menahan diri kembali. “Kau sangat nakal.” Saat mereka hendak berciuman, suara berisik menggelegar di lantai bawah suara seorang wanita berteriak-teriak, begitu familiar di telinga Eric, membuat wajahnya berubah masam. Sherry mengingat suara itu. “Bukannya itu-” “Adik sialan,” “Tadi kita tidak sempat mengobrol dengannya, sebaiknya kita turun-” “Tidak, Sayang, urusan jasmaniku lebih penting.” Eric menahan lengan Sherry agar tak berbalik dari hadapannya. “Aku sangat menginginkanmu.” Ketika mereka akan berciuman kembali, lagi-lagi suara teriakan Pam memanggil di bawah. “Oke, ayo kita turun,” ajak Eric tak bisa konsentrasi pada keinginannya lagi. Dia menggandeng sang istri keluar dari ruangan itu. Mereka turun ke lantai dasar, Pam sudah menyambutnya bersama seorang wanita paruh baya bermata sayu di antara mereka, ibunda dari Eric. Eric tertegun. Sherry tersenyum, dia menyapa mereka. Keahliannya dalam merebut hati orang sungguh mengagumkan. Caranya bersikap, aura kecantikannya yang menebar, membuat mereka takjub. “Mrs. Bryson,” panggilnya menyapa sang mertua. Agak sedikit gugup saat memperkenalkan diri, “namaku Sherry.” Mereka bertukar pandangan selama beberapa detik. Wanita tua itu selalu jatuh hati pada Sherry, dia bangga anaknya bisa menikahinya. “Panggil saja Mom,” katanya, “siapa yang tak mengenalmu, Sherry,kau secantik bunga daisy.” Sherry langsung memeluknya. “Terima kasih, Mom.” “Eric beruntung memilikimu, tak kusangka pula kalian akan bersama.” Mereka melepaskan pelukan. Wanita itu menatap sang putra, mereka sama-sama diam, tak tahu harus mengawali apa- sejak di pesta tadi juga tak mengucapkan apapun. “Eric, kau terlalu cepat pulang tadi-” katanya pelan, penuh keraguan. “Maaf, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan istriku.” “Ah, kalau begitu, lakukan saja, Sayang.” Sherry melirik suaminya itu. “Eric, sebaiknya kita menjamu Mom dan Pam.” Pam menahan tawa saat melihat wajah masam kakaknya. “Kurasa suamimu lebih ingin berduaan denganmu ketimbang menjamu kami, Kakak ipar.” Sherry malu. “Jangan begitu.” “Aku sudah bisa menebak apa yang kalian lakukan tadi-” Pam melirik ke pasangan baru itu. “Aroma keintiman masih menebar dari tubuh kalian, uh~ pasangan yang romantis.” “Pam-” Mrs. Bryson mengingatkan agar bertingkah sopan di hadapan Sherry. Sherry tertawa, lalu melingkarkan tangan di lengan suaminya. “Benar, Mom, kami pasangan romantis.” Eric sedikit tersipu, dia pun berpaling. Pam tak sanggup lagi, dia tertawa. “Sepertinya masalah kalian sudah selesai di atas ranjang. Aku jadi ingat kau awalnya sangat cemburu melihat Sherry peduli pada mantan kekasihnya, Eric-” Belum sempat mendapat jawaban, dia kabur duluan ke ruang makan, takut dengan lirikan sang kakak. “Memang dasar kurang ajar.” “Aku akan mengikuti adikmu, kalau kalian ingin waktu berdua, tidak masalah, tinggalkan kami, kami hanya mampir sebentar.” Mrs. Bryson segera mengikuti anak perempuannya itu. Eric menghentikan langkahnya. “Mom.” Wanita itu menoleh, tatapannya sendu sekaligus penuh kebanggaan pada sang anak. Setelah semua yang terjadi, mereka bisa menginjakkan kaki dirumah semewah ini. Eric lantas memeluknya. “Terima kasih.” “Ini kerja kerasmu, Eric, aku selalu bangga padamu. Aku sangat menyayangimu, aku bersyukur kau bisa mewujudkan keinginanmu untuk menjadikan Sherry seorang istri.” Mrs. Bryson ikut mendekapnya. Sherry tertegun mendengarnya, hanyut dalam kedekatan ibu dan anak itu. Tidak pernah sekalipun dia mengira bahwa mereka adalah orang hina. Selama ini yang jadi masalah adalah sikap berandal Eric. Mereka melepaskan pelukannya. Mrs. Bryson pergi ke ruang makan terlebih dahulu, meninggalkan pasangan suami istri baru ini. Eric menoleh pada Sherry, menyeringai. “Sayang, kita makan atau naik ke ranjang?” “Eric, ada Mom, ayo kita jamu, tidak ada acara ranjang sampai kita menjamu mereka dengan baik.” “Pam tidak akan mau pulang kalau tahu ini-” bisik Eric langsung menarik pinggul Sherry, mendekatkan jarak di antara mereka. Dia mencium kening wanita itu dengan penuh cinta. Sherry mendongak ke wajah tampan sang suami. “Kau adalah pria tertampan yang pernah kukenal.” “Benar?” Eric menggodanya. “Sungguh, aku akan selalu mencintaimu, Eric Bryson. Sejak awal aku melihatmu, sejak itu pula aku jatuh hati padamu.” “Sherry-ku, aku pun mencintaimu sejak dulu, aku hanya malu dengan diriku sendiri- aku takut tidak pantas untukmu.” “Kau lebih dari pantas, bahkan aku merasa aku yang tidak pantas untukmu, keluar Saunders jatuh miskin, dad melarikan diri.” “Tak ada hubungan dengan kita, Sayang. Tak ada. Kita saling memiliki, aku milikmu, kau milikku.” “Aku senang kesalahpahaman kita berakhir.” Mereka saling meraba kulit wajah satu sama lain, penuh kerinduan dan keinginan agar terus menyatu. “Aku mencintaimu, Sherry Bryson.” “Aku juga mencintaimu, Eric Bryson.” “Kau senang menyandang nama Bryson sekarang?” “Aku bangga bernama belakang itu.” Mereka saling tersenyum penuh cinta. Tidak ada sorot kebencian dan kekecewaan lagi. Ciuman singkat mereka lakukan, tanpa hasrat seksual- murni karena cinta yang tulus. Eric masih menyesal, kalau saja sikapnya lebih baik- dia tak perlu menghakimi wanita tercantik yang ada di hidupnya ini. “Kau obsesiku, Sherry,” bisiknya, “kau canduku, aku akan selalu menginginkanmu.” “Aku milikmu, Mr. Bryson.” —————   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD