Hening.
Di dalam keheningan ini, Sherry dan Eric hanya saling mengagumi. Keduanya sudah tertarik sejak lama, dan kini perasaan itu semakin meningkat. Rasa cintanya pada Sherry hampir membuat Eric gila. Dia melakukan segalanya agar bisa mencapai posisi dimana dia bisa menggapai seorang Sherry.
Kini semuanya sudah ada di depan mata.
Sherry menjelaskan maksud dari pengakuannya, “aku selalu memimpikan bisa menikah dengan pria baik— dan menyerahkan diriku di setelah pernikahan, keluargaku seperti itu.”
“Kau sungguh tak pernah—”
“Tidak.”
“Semakin kau bercerita tentang kesucianmu, aku semakin terjerumus ke lubang putus asa, Sayang,” ucap Eric mengelus tengkuknya yang merinding tanpa sebab. Dia sebenarnya sangat bahagia mengetahui kalau wanita ini masih belum pernah tersentuh— dia hanya bingung melampiaskan kebahagiaan itu. Apakah harus marah atau bagaimana? Karena dia sendiri sudah hancur. Kalau tahu semua akan jadi seperti ini— dia rela tidak menikmati hubungan intim manapun demi menyamai kesucian Sherry.
Sherry meraba bahu suaminya. “Kau pria yang baik, Eric, kau hanya harus mengontrol tempramen dan kecurigaanmu, tentu saja. Terkadang itu membuatku agak sedih.”
Ia memberikan senyuman tulus penuh cinta. Tidak pernah ia tahu kalau akan jadi begini akhirnya— kesalahpahaman ini berakhir. Kalau saja dia tahu, sisi liar Eric ternyata hanyalah sisi terluka— dia pasti akan membujuknya dari dulu. Bukan pria itu saja, ada penyesalan dalam dirinya.
“Aku sungguh menyesal, Pam benar— kalau saja aku masih bersikap konyol— kau mungkin meninggalkanku dan bersama Paterson sialan itu,” ucap Eric membalas senyumamnya, “maafkan aku, Sayang, sungguh, kau boleh melakukan apapun padaku.”
“Jangan membenci Paddy, dia tidak seburuk itu.”
“Oh, lihat, istriku punya panggilan kesayangan untuknya. Paddy?” Eric memberikan istrinya lirikan tak mengenakkan. Memang dia tetap cemburu— namun tidak keterlaluan seperti tadi.
Sherry tersenyum. “Namanya Patrick, oke, siapapun orang yang mengenalnya akan memanggilnya Paddy.” Ia mencubit pipi suaminya. “Panggilan kesayangan itu seperti kalau aku memanggilmu beruang grizzly.”
“Aku tidak seganas itu,” bantah Eric menepis kecemburuannya. Dia bisa merasakan hasratnya membara lagi. “Atau kamu suka aku mengganas sekarang?”
“Aku akan memaafkan sikap aroganmu padaku kalau kau mengganasiku sekarang—” ucap Sherry dengan nada berani, sensual dan sedang mengundang. Kedua tangannya merayap ke leher sang suami, lalu membisikkan, “bagaimana?”
“Kau— yakin, Sherry? Maksudku— aku—” Ucapan Eric terbata-bata. Dia sangat ingin mencumbui setiap lekuk tubuh wanita ini, tapi perasaan bersalahnya masih menggelayut. “Aku sangat, kasar padamu dan aku—juga tidak, maksudku, aku sangat—”
“Kau'kan sudah terbiasa merenggut keperawanan wanita lain, jadi aku merasa tenang bisa melakukannya dengan— yang bukan amatir, kau pasti melakukannya dengan lembut’kan?” sahut Sherry mencium pinggiran bibir suaminya. “Aku istrimu— kalau kau tidak ingin aku menyuruh Paddy meniduriku dulu, sebaiknya kau melakukan tugasmu dahulu.”
Eric menertawai cara Sherry menggodanya. Tanpa perlu dikatakan, bau manis tubuh wanita ini sudah cukup menggiurkan. Dia merebahkannya dia atas ranjang, lalu mulai mengecup setiap bagian dari wajahnya. “Gadis nakal~”
Serangan bibir kelaparan pria ini mulai merambah ke leher jenjang Sherry. Sesekali dia memberikan jilatan kecil di bawah cuping telinganya. Itu jelas berhasil menaikkan keinginan bercintanya.
“Nanti malam kita ada pesta,” bisik Eric mulai menurunkan tali gaun pada bahu istrinya, “masih yakin mau melakukannya sekarang?”
“Kalau aku bilang tidak— maukah kau berhenti?” Sherry meremas kepala Eric yang telah mencapai salah puncak dadanya.
Eric menjawab tegas, “tidak mungkin.” Dia tergelak pelan sambil mengangkat tubuh mereka agar berada di tengah ranjang. “Aku sudah sakit kepala dari kemarin karena menginginkanmu.”
“Aku tidak tahu Mr. Bryson bisa sakit kepala— kukira kau membuat orang lain yang sakit kepala—” ejek Sherry terlihat memejamkam kedua mata. Dia menikmati setiap ciuman basah dari bibir suaminya.
Wanita ini terbuai akan keposesifan tangan Eric. Sentuhannya mulai aktif di sekitar pinggang. Sekarang tidak ada tekanan batin, tidak ada penyesalan— dia menikmati semuanya. Perlakuan Eric lebih lembut dari yang sebelumnya. Ia yakin ini karena pria itu bukan hanya diselimuti nafsu belaka, melainkan cinta.
“Aku menginginkanmu, Sherry,” ungkap Eric mulai melucuti pakaiannya sendiri. Ia berada di antara tubuh setengah telanjang sang istri. Begitu indah nan sempurnanya lekuk tubuh ini. Tidak pernah dia bayangkan— hari ini akan terjadi. Khayalan masa remajanya menjadi kenyataan.
Sekarang Sherry menyerahkan diri padanya dengan sukarela. Dia membanggakan dirinya yang ternyata dicintai pula oleh wanita ini. Rasanya mustahil— seorang Ms. Saunders ternyata menginginkan jiwa liarnya. Sekarang dia akan memberikannya.
Setelah melepaskan atasannya, dia kembali mendaratkan ciuman panas ke bibir Sherry. Sambil menempelkan kening mereka, dia menggoda, “kulitmu panas sekali, Sayang— kena demam?”
Sherry tersenyum manis. Dia hanya mengatakan, “aku mencintaimu, Eric— selalu,” dengan suara mendesah. Dia berhasil membuat semakin b*******h.
“Aku juga, aku sangat mencintaimu~” ucap Eric terus meraba pangkal paha Sherry, mempersiapkannya hanya untuk dirinya. Dia meninggalkan jejak basah di setiap bagian tubuh itu— seolah tengah menandai kepemilikannya. “Dan sialnya, aku menginginkanmu setiap saat, ini menyiksaku.”
“Aku sering membayangkan akan berada di situasi ini bersamamu.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Dan apa yang kulakukan dalam fantasi nakalmu itu?”
“Kau berbuat nakal padaku.”
Eric tertawa pelan.
Mereka berciuman kembali, saling bertaut lidah. Napas mereka memburu dengan irama yang pas. Tubuh mereka lekat bersentuhan. Sherry terus menarik tubuh suaminya agar tetap menindihnya— tak ingin kulit mereka terpisah.
“Kau benar-benar menggoda, Sayangku,” bisik Eric sudah begitu tegang, ingin sekali memasukkan miliknya ke dalam kehangatan wanita ini. “Katakan padaku, apa yang kau inginkan?”
“Aku menginginkanmu juga.”
Wanita ini berani meraba isi celana Eric. Ketegangan di baliknya membuat ia terkesiap kaget. Dia meremas— menginginkannya sekali. Diberikanlah pandangan lapar pada suaminya. “Oh aku mau sekarang—”
“Begitu, Sayang, kau harus lebih sering meremasnya,” bisik Eric dengan nada menggoda diiringi oleh seringai lebar, “kau benar-benar berbakat. Aku jadi tidak yakin kau ini perawan.”
Sherry balik menyindirnya, “mungkin karena kau terlalu sering diremas dengan wanita lain, jadi akan sensitif eh?” Dia memberikan tatapan menggoda, tatapan yang memberikan sengatan ke pikiran Eric. “Aku sangat cemburu sekarang.”
“Tidak, Sayang, ini karena tanganmu terlalu lembut, hanya kau yang berhasil membangkitkan gairahku dalam sekejab,” bisik Eric mengecup kembali seluruh leher jenjang Sherry. Dia sengaja mengembuskan napas hangatnya di kulit cantik itu. “Hanya kau, Sherry—milikku, sekarang kau milikku.”
“Kau pasti mengatakan itu pada setiap wanita,” canda Sherry dengan senyuman lebar di bibir. Dia masih belum puas untuk menggodanya. Sudah lama dia ingin sekali melakukan pembicaraan penuh cinta seperti ini. Hanya berdua, di dalam kamar, dan dalam kondisi sedang terbakar gairah.
“Jangan begitu, wanita lain tak sepertimu. Bagiku kau ini dewi nafsu pribadiku. Benar-benar menggoda, mempesona, dan tubuhmu selalu menjadi fantasiku. Wangi tubuh ini—sangat membiusku.”
“Mmmph~” desah Sherry yang sudah tak bisa menahannya. Tanpa menunggu lama, dia pun mengeluarkannya. “Eriiic~ Eric, besar~”
“Besar itu nikmat, kau akan menyukainya,” bisik Eric nyengir sembari menyentuh bagian tubuh hangat di antara s**********n Sherry, “dan sepertinya kau sudah sangat basah, aku akan melayanimu sekarang.”
“Tolong pelan saja,” pinta Sherry sedikit ragu.
Eric menyeringai. “Lemaskan dirimu, santailah, aku bukan seperti bayanganmu, aku bukan remaja lagi yang main masuk seperti dulu—kau pasti punya gambaran buruk tentangku.”
“Well, kau memang berandalan.”
“Lantas apa hubungannya?”
“Para gadis di SMA kita dulu selalu mendeskripsikan bagaimana caramu memperlakukan mereka~”
“Bagaimana?”
“Kasar dan liar, dan aku sangat iri.”
“Kau akan merasakannya sebentar lagi.”
Belum dimulai saja, Sherry sudah terbang ke awan kenikmatan berkat sentuhan tangan Eric. Dia tersenyum bahagia, keinginannya mendapatkan suami baik terpenuhi—dan ternyata dia adalah orang yang memang sudah dia inginkan sejak dulu. Teman amsa sekolah menengah atas, Eric Bryson, si berandalan dari tempat kumuh.
Dia pun merelakan dirinya berada dalam genggaman pria itu.
—————