Pintu dibuka.
“Sherry?”
Eric memanggil sang istri saat sudah masuk ke dalam kamar. Pandangannya menjadi sendu tatkala mengetahui wanita itu menangis di atas ranjang. d**a sesak, langkahnya pun kikuk. Kini dia menjadi orang yang sangat berbeda. Tidak ada arogansi dalam suaranya atau tingkahnya.
Sherry semakin membenamkan wajahnya di tumpukan bantal. Dulu ia pernah mengagumi sosok Eric yang berani dan pemberontak— sebuah sikap yang dia dambakan, jauh di lubuk hatinya dia menginginkan itu pula. Akan tetapi berada di sebuah keluarga Saunders menuntutnya untuk tetap menjaga diri. Dia sangat ingin mendekati Eric— namun sikap liarnya terus saja mendorongnya menjauh.
“Sherry, aku minta maaf, aku keterlalun— aku minta maaf,” kata Eric duduk perlahan di tepi ranjang. Dia menyentuh lengan istrinya selembut mungkin. “Aku ingin mengakui sesuatu—”
Sherry masih sesenggukan. Tidak ada niatan menjawab permintaan maaf itu.
“Pam itu adikku beda ayah, kau tahu'kan ibuku itu dulu ya begitulah, kami memang tidak mirip— tapi, kau tahu, kami dekat— orang-orang selalu salah paham, kami pasangan, tapi, jujur saja— kami hanya kakak beradik yang kompak,” jelas Eric tersendat-sendat, nyaris tidak jelas karena diselimuti rasa malu serta benci.
Pam benar, dia malu. Meskipun sudah menjadi orang yang berkuasa sekalipun— masa lalu jelek terus saja melekat. Dia tidak bsia menerima dirinya sendiri, Sherry yang benar-benar dari darah terhormat— dan parahnya masih perawan— sedangkan dirinya yang sudah seperti barang tak terselamatkan lagi.
“Waktu itu Pam selalu membantuku melemaskan punggung karena aku— tidak suka disentuh wanita lain, aku tidak bisa menjelaskan lebih dari ini,” karena aku hanya menginginkanmu, aku tidak sudi disentuh siapapun sekarang, sialan, lanjut Eric dalam hati. Dia tidak mungkin juga mengutarakan isi pikiran itu.
Sherry mulai berhenti mengeluarkan air matanya. Dia berpaling dengan pandangan penuh tanya. “Apa maksudmu, Eric? Saudara perempuan?” Kini dengan sebab yang pasti, hatinya perlahan perasaan lega.
Eric memalingkan wajah. “Ya, aku hanya membelikannya baju untuk pesta perkenalan kita di kawasan paradise ini. Aku hendak memperkenalkan keluargaku juga— tapi Pam itu agak ya sebut saja nakal, pilihan gaunnya pasti tidak sopan, makanya aku sendiri yang membelikan.”
Sherry bangun dari atas ranjang. Ia spontan menyentuh bahu suaminya itu. “Kenapa kau tidak bilang dari awal? Aku hanya tahu kau punya ibu— aku baru tahu kau punya adik perempuan.”
“Ceritanya panjang—” Eric menundukkan kepala. Dia sungguh tidak mau membagi kisah suram dengan Sherry. Tidak mungkin juga. Lagipula ini terlalu memalukan— hidupnya memalukan. Sungguh keberuntungan dia bisa menikahi wanita ini, yang selalu dia inginkan sejak dahulu. Takdir seolah mempermainkannya.
Ia bercerita singkat, “intinya setelah ibuku mengandungnya, dia tidak lagi bekerja sebagai wanita penghibur di tempat itu, kau tahu, aku yang bekerja saat itu serabutan— tapi ujung-ujungnya Pam tumbuh besar di lingkungan begitu. Dia gadis yang manis dan penurut, aku tidak ingin dia terjebak di dunia seperti itu.”
“Oh, Eric.” Sherry mengelus lengan suaminya. Kini dia tahu beban berat yang ditanggung pria ini. Apa mungkin dia marah-marah sepanjang hari karena terlalu lelah?
“Aku memulai pekerjaanku dari nol, membeli tanah-tanah dan menciptakan perkebunan, lalu pabrik-pabrik anggur— semua kukerjakan dengan tanganku sendiri—” Eric terdengar sedih karena mengingat kerja kerasnya yang hamoir tidak ia percayai. Dia berhasil dan mendapatkan Sherry.
Dia menoleh pada wanita itu. “Aku minta maaf— kau benar, kemarahanku padamu selalu tidak jelas, aku bersumpah tidak menjadikanmu piala, Sherry, aku mencintaimu sejak dulu. Kalau saja tidak karena tekad untuk memilikimu, aku tidak akan berusaha sekeras ini untuk menaikkan status sosialku.”
“Cinta?” ulang Sherry terkesiap. Degup jantungnya kencang, wajahnya memerah.
Eric mengusap sisa air mata di bawah mata wanita itu. “Iya, aku mencintaimu. Kau salah kalau berpikir aku menikahimu karena menganggapmu piala terbaik di paradise ini— aku dari dulu ingin dekat denganmu, tapi ayahmu tidak akan membiarkan putrinya dekat dengan berandalan sepertiku. Dulu, dia pernah mengancam akan menghajarku kalau melihatmu lagi— well, aku akui aku sering mampir ke rumahmu kalau malam, hanya demi melihat bayanganmu di jendela— sedang ganti baju.”
“Eric—” Antara malu atau bahagia, Sherry tidak tahu apa yang ia rasakan. Hanya saja dadanya merekah sekarang. Ternyata kebahagiaan karena cinta memang terasa seperti ada ratusan kepakan sayap kupu-kupu di dalam hati.
Eric tersenyum lemah. “Aku memang pecundang— aku marah-marah karena mengira kau pasti tidak menyukaiku, kau menganggapku hina'kan? Aku— tahu.”
Sherry menggelengkan kepala. “Aku juga mencintaimu, aku merasa kau tidak menyukaiku selama ini— aku wanita yang membosankan pastinya. Aku selalu mengira kau menginginkanku karena obsesi semata— yang kemungkinan bisa berpindah ke wanita lain.”
Eric tidak percaya mendengarnya. Dia menyesal menipu diri sendiri. Seharusnya dari awal, dia bersikap baik pada Sherry. Padahal tujuannya menikahi wanita ini agar dia terbebas dari jerat malapetaka ayah kurang ajarnya.
“Aku sangat mencintaimu— aku minta maaf, Sayang, rasa maluku pada diriku membuatku menyakitimu—” ungkapnya dengan pandangan berkaca-kaca.
Sherry gembira mendengar panggilan sayang yang tulus itu. Kini, dia yakin pria ini memang dijodohkan untuknya. Walau jalan terjal yang mengawali kisah mereka, setidaknya salah paham mulai tersingkap.
“Eric, aku takut sekali saat kau membawa adikmu itu ke kamar— lalu kau meninggalkanku saat tahu aku masih perawan— kemudian paginya, aku menemukanmu bersama adikmu lagi,” katanya sangat lirih, “kukira aku tidak memenuhi seleramu— aku sampai berpikir untuk pergi dari hidupmu saja ketimbang dipandang seperti hama olehmu.”
“Oh, Sayang, apa yang kulakukan.” Eric membelai kulit wajah halus wanita itu. “Kau adalah fantasiku selama ini— aku dulu selalu merasa bersalah setiap kali sadar baru tidur dengan wanita lain, karena aku hanya ingin membagi diriku denganmu saja. Aku hanya—” Dia memindahkan elusan tangannya ke paha kanan sang istri. “—tidak enak, ya, kau masih perawan.”
Pipi Sherry terasa terbakar. Walau agak cemburu mendengar pengakuannya tidur dengan wanita lain, tapi ia tidak bisa menyalahkan Eric juga.
“Jadi maksudmu aku harus tidur dengan pria lain dulu agar rasa tidak enakmu berakhir?” godanya tersenyum tipis.
Eric kaget. Ia memperingatkan denga nada serius, “jangan coba-coba, Sherry, aku bahkan tidak rela kau membayangkan sedang berhubungan dengan pria lain. Kita sudah menikah, segala bentuk pendekatan yang dilakukan pria lain padamu— akan segera kulibas, terutama mantan kekasihmu— Paterson itu. Berani sekali dia muncul tiba-tiba?”
“Dia sudah punya pasangan, Eric, kau tidak sepatutnya cemburu.” Sherry menahan tawa. “Tapi bagaimana denganmu? Apakah kini kau juga tidak pernah berhubungan dengan wanita lain?”
“Sejak sukses, aku menolak bercinta dengan wanita lain— kalau dipikir-pikir sudah bertahun-tahun lamanya. Bisa kau bayangkan, sejak memikirkanmu— aku mendadak jadi tidak nafsu dengan wanita lain, entah.”
Sherry tanpa sengaja tergelak. Dia tidak mampu lagi menahannya karena ekspresi Eric jujur sekali. Ia pun bercerita, “saat SMA, aku selalu iri kala mendengar ada gadis lain yang kau ajak b******u— kau selalu terdengar seperti pangeran haus darah perawan— herannya mengapa malah ketakutan menghadapi keperawananku?”
Eric mendehem. Lalau membalas ledekannya, “ya, siapa yang menyangka kalau kau masih perawan di usiamu yang mau menanjak ke angka tiga puluh?”
Serry memalingkan wajah karena malu. Dia tak bisa berkata-kata selama beberapa menit. Suasana hening menyertai mereka. Sementara itu, Eric masih memberikan seringainya.
_____