BAB 07

1033 Words
Sherry menghabiskan waktu sorenya dengan membantu Mr. Elwood di kebun samping rumah. Memandangi bunga-bunga cantik bermekaran, mencium aroma semerbak mereka mampu menenangkan kondisi hati. Keraguan masih mendera, apakah ia sedang cemburu atau marah karena hal lain? Kalau dia cemburu, apa itu artinya dia mencintai Eric? Benar.  Mungkin itu kebenaran lama yang berusaha ia sangkal. Mau bagaimana lagi, selain dia bukan tipikal idaman Eric, prinsip hidup mereka juga sangat berbeda. Walaupun orang mengatakan pernikahan adalah menyatukan dua perbedaan, namun terkadang ada hal-hal yang tidak mungkin dipaksa menyatu. Dirinya yang dibesarkan dengan norma-norma kesantunan tidak akan sanggup mengimbangi hidup liar Eric. “Mrs. Bryson, anda sebenarnya tidak perlu ikut menata halaman, ini akan mengotori baju anda,” kata Mr. Elwood yang tidak tega melihat majikannya berkotor-kotoran di antara pot bunga. Sherry malah menyeka keringat di keningnya dengan siku. Lalu menoleh sesaat dengan senyuman ramah. “Tidak masalah, aku sudah memakai sarung tangan, lagipula ini tidak sekotor itu, dari dulu aku yang membersihkan, Mr. Elwood. “Tolong panggil saya Edmund saja, Nyonya,” pinta Mr. Elwood kembali melakukan tugasnya. Ia sampai berlutut demi mengeruk dedaunan yang ada di sela-sela tanaman rimbun. Tak jarang kulit lengannya tergores duri mawar rambat. “Kalau begitu panggil aku Sherry, tidak perlu terlalu sopan padaku, kita keluarga disini sebenarnya.” Shery berkata dengan suara halus sehingga membuat lawan bicaranya menaruh hormat lebih. “Hampir seluruh keluargaku mengenal keluargamu, Sherry. Kalian sangat dermawan dan baik.” “Terima kasih, Edmund, aku merasa tersanjung.” “Aku turut berduka apa yang terjadi pada ayahmu. Aku tidak menyangka-” Sherry menyela, “tidak masalah, terima kasih pada Eric, dia sekarang menjadi orang yang lebih baik, dan kuharap ayah baik-baik saja- dimana pun dia berada.” “Terima kasih Eric ya?” seseorang berkata di belakang. Sherry tersentak kaget. Dia menoleh seketika dan melihat suaminya baru pulang. “Eric, selamat datang.” Eric membawa buket mawar merah yang pastinya wanita itu kenali. Wajahnya kelihatan muram. Ia berjalan mendekati ambang pintu, lalu bersandar di kusen. Sambil memperhatikan bunga itu, ia menyindir, “dari penggemar beratmu sepertinya ya? apa dia sudah pulang- dari luar negeri, Mr. Paterson ini?” “Iya dia baru pulang-” Sherry masih tidak nyaman mengobrol dengan suaminya. Terlebih lagi setelah melakukan pertengkaran di tempat umum tadi. Sekarang pun ia memalingkan wajah- tidak ingin menatapnya lebih lama. Eric mengalihkan perhatian pada Edmund, “Mr. Elwood, bisakah kau urus taman depan sekarang? Agak- berantakan.” Dia tentu hanya ingin berdebat tanpa ada orang ketiga. Edmund mengangguk patuh. Dia berpamitan sekilas, kemudian segera pergi ke taman depan. Meskipun tidak mengetahui apapun, akan tetapi dia bisa merasakan aura ketegangan di antara pasangan suami istri itu. Rumor itu benar- tidak ada cinta di pernikahan ini. Sherry merasa harga dirinya semakin diinjak-injak saja. Kalau terlalu banyak orang yang mempertanyakan alasan pernikahan ini- tentu dirinya akan dianggap sebagai barang dagangan sabg ayah saja. Padahal dalam waktu singkat, dia telah berusaha menjaga agar pandangan orang pada pernikahan mereka terbentuk karena jalinan kasih tulus. Kalau terlalu banyak perdebatan dan pertengkaran, atau malah gadis pirang di rumah- pastinya akan membuat semua usahanya sia-sia.  Dia tidak tahan. Eric mulai membuka perdebagan, “kau pergi keluar tanpa berpamitan denganku, ternyata kencan dengan pria lain, lalu buket bunga dari teman kencanmu ada di rumah- seolah-olah ingin memamerkannya padaku, jadi apa rencananya sekarang?” “Bunga itu sudah ada sejak pagi, dia hanya mengucapkan selamat untuk pernikahan kita, tidakkah kau membacanya- baca dengan baik, bunga itu tidak ditujukan padaku, tapi pada kita,” tegas Sherry memberanikan diri untuk menaikkan suara, “kau tidak bisa dihubungi karena sibuk dengan gadis pirangmu, aku sudah berusaha menelpon, aku hanya ingin minum kopi dengan temanku. Apa salahnya?” “Teman? Teman apa? Teman tidur?” Eric mengatakannya dengan nada dingin. Kecemburuan berat jelas terlihat disini. “Berani sekali kau masih berkata seolah aku ini murahan? Aku bahkan masih perawan- dan kau tahu itu,” sergah Sherry mendadak muak. Biasanya dia merasa malu mengatakan hal seperti ini, tapi Eric sudah keterlaluan.  Sampai sekarang, dia tidak paham- apa salahnya? Karena masih perawan? Suami tidak tahu diuntung, dan dia akan terjebak selamanya. Dia mulai memperhitungkan semua jumlah uang yang dia butuhkan untuk membeli rumahnya lagi, lalu dengan begitu- dia akan bisa mendepak keluar monster di depannya itu. Akan tetapi membayangkan hidup tanpa Eric mungkin agak sulit. Selama ini dia berusaha tidakk memikirkan laki-laki itu. Setelah sekian lama- setelah bertahun lamanya, apa mungkin bisa berpisah kembali? “Lucu sekali, Saunders.” Eric berkata dengan gelak tawa meledek. “Kau mulai berani bicara lantang padaku, kukira kau ini semacam putri tidur- apa kau berani karena kekasihmu sudah kembali pulang? Kau berharap dia membebaskanmu dariku? Kau pikir aku akan kalah dengannya?” Sherry melotot padanya. “Sudah kubilang, aku bukan piala berjalan. Apa yang ada di otakmu, Eric? Aku berusaha keras menjadi istrimu- membuatmu tidak terkena gossip miring, tapi apa, kau malah berkeliaran dengan gadis muda?” “Berusaha keras?” ulang Eric kecewa sekaligus kian marah, “kelihatan sekali kalau Ms. Saunders tidak bisa menahan diri lagi menjadi istri Mr. Bryson. Mau bagaimana lagi, dia tidak bisa hidup dengan mantan- berandalan miskin.” “Pembahasan itu lagi? Disini masalahnya adalah dirimu, Eric, bukan aku. Kau kekanak-kanakan, masa lalu selalu menjeratmu, dan itu membuatmu membenciku, aku tidak tahu masalahmu apa? Yang jelas sekarang, aku tahu kau tidak mencintaiku- kau tidak b*******h padaku lagi karena aku masih perawan- karena tipikal idealmu wanita jalang.” “Jangan menghina Pam!” sentak Eric mengobarkan amarah. Muak rasanya saat ada persamaan wanita jalang dengan anggota keluarganya. Dia berusaha keras menjauhkan kata itu dari semua orang, tapi wanita yang ia cintai malah menyebutnya. “Oh, namanya Pam, baguslah, kalau begitu mencintainya begitu, seharusnya kau menikahinya, bukan aku-” kata Sherry mendekati suaminya itu.  Dia sama sekali tidak mampu menyembunyikan kegusaran hatinya yang telah diselimuti rasa cemburu. Dengan kasar, dia mendorong d**a pria itu, kemudian berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Eric jelas melihat tangisan pada tundukan wajah barusan. Perasaannya mulai tidak karuhan. Segala umpatan mulai bergantian terlepas dari bibirnya. Itu bukanlah kemaraha, melainkan penyesalan. Apakah barusan terlalu keterlaluan?  Padahal dia hanya ingin melampiaskan kecemburuannya- namun mengapa makin bertambah luas. Kini dia menyadari kalau ucapan adiknya mungkin ada benarnya. Ia keterlaluan dan harus meminta maaf. Tentu saja, sebelum si b******k bernama Paterson itu mendahui langkahnya lagi. Dia tidak aka pernah mengalah seperti masa-masa remajanya dulu. Sekarang dia berbeda- dia berkuasa. Ia menyusul sang istri masuk ke dalam. Mendadak dia menjadi gelisah, berharap bisa memperbaiki keadaan. Betapa bodoh memperdebatkan hal yang seperti ini. Kedatangan pria itu seolah menjadi badai topan yang menghancurkan. Ketakutannya akan ingatan masa lalunya kembali muncul- melihat Sherry bersamanya di kedai itu. Bagaimana kalau Sherry memang tertarik padanya? Sebenarnya apa yang ia inginkan? “Sherry-” panggilnya sedih. -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD