Rencana Julion 2

2088 Words
“Kau merasa gugup?” tanya Max sembari mengecup pundak Dalila yang terpampang dengan sangat jelas. Mengingat jika gaun yang Dalila kenakan belum sepenuhnya terpakai dengan benar. Dalila sendiri sempat menegang terkejut, karena sebelumnya Sia yang membantunya berpakaian. Namun, kini Max yang berdiri di belakang punggungnya dan membantunya menaikkan resleting gaunnya. Dalila menghela napas. Ia menyadari satu hal, ternyata ia sudah terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak sadar jika Sia sudah pergi dan Max datang menemuinya. Ini karena Dalila terlalu gugup dengan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Max sepertinya sudah sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Dalila saat ini. Karena itulah, Max memeluk Dalila dengan lembut. Ia mencium bahu Dalila yang kini sudah sepenuhnya tertutupi gaunnya. “Tenanglah, semuanya akan berjalan dengan lancar. Kau sendiri melihat, seluruh anggota kaum kita menyambut kehadiranmu dengan hangat. Memangnya siapa yang berani untuk menolak dan mengecam kehadiranmu, Dalila?” tanya Max lembut. “Jangan terlalu berkata manis, Max. Jangan pikir, bila aku tidak tahu imej apa yang melekat dalam diri seorang anak campuran,” ucap Dalila sembari menatap Max melalui pantulan mereka pada cermin. Max tentu saja mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dalila saat ini. Selain dianggap sebagai pedang bermata dua, anak campuran yang terlahir karena sebuah pekhianatan dan penolakan garis takdir yang ditetapkan dewa, disebut sebagai seorang keturunan terkutuk. Di mana ada dua darah kaum yang berbeda yang mengalir dalam tubuhnya. Seharusnya, anak campuran tersebut tidak bisa diterima oleh kaum mana pun, mengingat jika dirinya sama sekali tidak memiliki darah kaum yang murni dalam tubuhnya. Sebelumnya, Max memang bisa menekan kaumnya sendiri untuk menghormati Dalila. Apalagi ditambah dengan Dalila yang memang pada akhirnya menjadi Luna bagi kaum manusia serigala, karena mereka terikat dengan takdir yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Semuanya memang terkendali, tetapi Max tidak tahu apa yang akan terjadi jika identitas Dalila diungkap secara resmi pada seluruh kaum immortal yang nanti akan dikumpulkan di satu tempat. Karena Arfel akan mengumumkan perihal situasi dan para kaum pembelot. “Aku mengerti dengan maksudmu. Tapi, apa pun yang terjadi nantinya, aku sendiri yang akan menjamin keamananmu, Dalila. Tidak akan ada siapa pun yang berani untuk menyentuhmu, atau melukaimu. Kau berada di bawah perlindunganku sepenuhnya, Dalila.” Mendengar perkataan Max tersebut, Dalila pun menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada d**a Max. Membebankan berat badannya sepenuhnya pada Max, yang tentu saja tidak keberatan akan hal tersebut. Dalila saat ini merasakan kenyamanan dan ketenangan yang berbanding terbalik dengan rasa gugup yang sebelumnya ia rasakan. Max ternyata memang bisa membuat dirinya merasa tenang dengan hanya memberikan perkataan seperti itu dan tetap berada di sisinya. Rasa gugup Dalila bukan hanya karena pengungkapan identitasnya akan segera terjadi, tetapi juga karena dirinya akan ikut dengan pasukan untuk menjalankan sebuah misi yang sangat penting. Dalila gugup, jika keberadaan dirinya di dalam tim tidak memberikan bantuan sama sekali. Ia takut menjadi beban. Mengingat jika dirinya belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatan yang ia miliki. Dalila takut jika dirinya bukannya memberikan bantuan, tetapi malah membuat orang-orang di sekitarnya terluka karena kekuatan yang tidak terkendali. Menyadari apa yang tengah dipikirkan oleh Dalila, Max pun membuat Dalila berbalik menghadapnya dan mencengkram bahu istrinya itu dengan lembut. “Tidak perlu cemas dengan misi yang akan kita lakukan. Kau pasti bisa memberikan kontribusi yang sangat baik dalam perjalanan ini, Dalila,” ucap Max. “Tapi, aku takut menjadi beban,” ucap Dalila. “Apa karena pengendalian kekuatanmu?” tanya Max. Dalila pun mengangguk. “Tidak perlu mencemaskan hal itu. Kau memang harus waspada agar kendali dirimu tidak menjadi longgar. Tapi, jangan meremehkan dirimu sendiri. Jadikan perjalanan ini sebagai latihan dan pembuktian diri. Pengalaman yang akan kau dapatkan dalam perjalanan ini jelas-jelas sangat bermanfaat bagi dimu, karena itulah fokus dan tetap percaya diri,” ucap Max lalu mengecup kening Dalila dengan lembut. Dalila memejamkan matanya. Menikmati kehangatan yang ia terima dari Max. Ketulusan yang rasanya sudah sangat lama tidak ia rasakan. Mengingat dirinya yang sudah hidup sebatang kara selama bertahun-tahun lamanya. Dalila pun mendapatkan sebuah kepercayaan diri yang sebelumnya sempat menghilang. Max memeluk Dalila untuk kembali memberikan semangat, dan Dalila sendiri membalas pelukan tersebut dengan senang hati. “Aku harap semuanya berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan,” ucap Dalila dengan penuh harap.       **       Semua kaum immortal yang berkumpul di area luas yang disediakan oleh Asosiasi Kaum Immortal, tampak menampilkan ekpsresi yang sama. Yaitu, terkejut. Mana mungkin mereka tidak terkejut saat Max selesai mengumumkan identitas sebenarnya dari Dalila. Beberapa dari mereka memilih untuk tidak mengatakan apa pun, tetapi sebagian besar dari mereka secara terang-terangan membicarakan mengenai hal yang sebelumnya sudah ditakutkan oleh Dalila. Mengenai penilaian mereka yang berpikir jika Dalila lebih pantas sebagai anak yang terlahir dengan sebuat kutukan. Daripada membicarakan identitas Dalila sebagai anak campuran, ternyata lebih banyak dari mereka yang sebenarnya tertarik dengan eksistensi Dalila. Mereka masih merasa tidak percaya dengan kenyataan bahwa anak campuran memang ada. Kini sosok yang hanya mereka dengar dalam sebuah legenda dan ramalan, ternyata berdiri tepat di hadapan mereka. Rasanya sangat tidak nyata, tetapi itu memang memang kenyataannya. Merasakan jika orang-orang memang membicarakan istrinya, Max pun memberikan gestur yang penuh perlindungan pada Dalila yang berdiri di sampingnya. Sekaligus gesture yang lebih dari cukup, membuat semua orang bungkam. Mereka sadar, jika berbicara lebih dari ini, maka mereka sama saja dengan menantang Max serta kaum manusia serigala. Tentu saja itu bukanlah pilihan yang baik. Mengingat jika mereka Max dan kaumnya bukanlah seseorang yang lemah. Apalagi Max jelas-jelas adalah seorang alpha, sosok yang paling berkuasa dalam kaum manusia serigala. Sekaligus salah seorang pemimpin dalam Asosiasi Kaum Immortal. “Sepertinya kita bisa membicakan hal yang lebih serius,” ucap Arfel lalu mempersilakan Max untuk melanjutkan perkataannya. Max pun mengangguk. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari sang istri, Max berkata, “Aku rasa, kalian semua sudah mengetahui apa yang terjadi di dunia manusia. Situasi tengah kacau balau, karena para pembelot yang membuat ulah. Ada banyak kekacauan, termasuk wabah yang tengah menyebar. Karena itulah, sebuah pasukan khusus yang dipimpin olehku sendiri, akan melakukan perjalanan demi menjalankan sebuah misi.” Semua orang yang mendengar hal tersebut pun secara mudah teralihkan dari hal yang sangat mengejutkan tadi. Saat ini mereka semua merasa marah, mengingat jika tingkah para pembelot membuat mereka repot saja. Setelah memilih untuk ke luar dan mengkhianati kebaikan Sang Pencipta, sekarang mereka bukannya hidup dengan diam-diam, kini malah bertingkah tidak tahu malu. Mereka berbuat seenaknya dan membuat kekacauan di sana-sini, dengan sengaja membuat kekacauan yang jelas akan mengganggu para kaum immortal yang masih patuh akan perintah dari Sang Pencipta. “Dua hari lagi, perjalanan pasukan khusus akan berlangsung. Hanya orang-orang yang terpilih yang akan terlibat dalam perjalanan ini. Aku, dan istriku secara khusus memang akan terlibat dalam perjalanan ini. Bagi kalian yang memang tidak terlibat dalam perjalanan ini, bisa tetap di dalam daerah yang mendapatkan perlindungan dari Sang Pencipta. Hal ini untuk meminimalisir masalah yang akan terjadi di masa depan. Arfel akan memimpin kalian semua, dan kuharap kalian patuh akan perintahnya,” ucap Max mengakhiri perkataannya. Setelah itu, para kaum imotral bisa kembali ke tempat mereka masing-masing. Sementara para tetua meminta Max dan para anggota pasukan khusus untuk berkumpul. Hal yang mengherankan adalah, Julion juga ikut berkumpul. Membuat Max yang melihatnya mengernyitkan keningnya dengan sangat tidak senang. Max menatap Julion dan menghalangi jalannya saat pria itu akan masuk ke dalam ruangan rapat. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Max tajam. “Tentu saja untuk memenuhi perintah para tetua,” jawab Julion dengan nada biasa saja. Seakan-akan dirinya sama sekali tidak marah atau jengkel dengan sikap tidak ramah yang ditunjukkan oleh Max padanya. Tentu saja hal tersebut tidak mengherankan bagi orang-orang yang mengenalnya, mengingat citra ramah memang sudah sangat menempel pada Julion. Max yang mendengar hal itu tentu saja tertawa mengejek apa yang dikatakan oleh Julion tersebut. “Apa kau bermimpi? Jelas-jelas jika kau tidak kupilih sebagai salah satu anggota. Joe juga tidak menyarankan dirimu sebagai salah satu perwakilan dari kaum vampire. Apalagi dengan perintah Arfel yang memintamu untuk tetap berada di dalam area perlindungan,” ucap Max. Dalila yang masih berada di sana, mengingat Max sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya, hanya bisa menghela napas. Ia tahu, jika masalah ini pasti akan berlanjut. Jika tidak segera dihentikan, pasti perselisihan ini tidak hanya akan berhenti sebagai adu pendapat saja. Namun, sebelum Dalila berhasil menginterupsi, Julion sudah lebih dulu berkata, “Aku mendapatkan tugas khusus dari Arfel. Pada akhirnya, ia memberiku izin untuk teribat dalam perjalanan ini dan menjadi salah satu anggota dari pasukan khusus. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada Arfel. Toh, kita akan melakukan pertemuan. Kau bisa mengonfirmasinya di sana.” Melihat kepercayaan diri tersebut, Max mengernyitkan keningnya. Merasa jika kepercayaan diri tersebut tidak mungkin datang tanpa alasan. Max menarik Dalila dengan lembut memasuki ruangan rapat dan tanpa basa-basi bertanya pada Arfel, “Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau benar-benar mengizinkan Julion untuk masuk menjadi salah satu pasukan khusus?” Tentu saja semua orang yang mendengar hal itu seketika menatap Max yang berada di tengah ruangan. Mereka juga tidak tahu, mengenai Julion yang masuk ke dalam pasukan khusus. Mengingat jika mereka yang hadir di sana adalah para tetua, dan anggota dari pasukan khusus yang dipilih khusus oleh Max serta Joe. Jadi, mereka jelas tahu satu sama lain sebagai anggota dari pasukan khusus. Dan Julion sama sekali bukan anggotanya. Bagaimana mungkin secara tiba-tiba kini Julion menjadi bagian dari mereka? Joe sendiri merasa sangat terkejut. Padahal sebelumnya ia sudah menemui Arfel secara pribadi untuk meminta Arfel dan para tetua yang lain sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Julion dan pada akhirnya mengubah keputusan mereka. Namun, pada akhirnya perkataan yang sudah dikatakan oleh Arfel pada Joe sama sekali tidak berlaku. Mengingat jika Julion sekarang sudah ditetapkan untuk masuk dan terlibat dalam perjalanan demi melaksanakan misi berbahaya yang tak lain pembersihan kaum pembelot yang mengacau. Joe melirik dan menyipitkan matanya pada sang kakak yang kini tersenyum penuh kemenangan. Seakan-akan ingin menunjukkan kebanggaannya bahwa apa yang sudah ia katakan sebelumnya menjadi sebuah kenyataan. Julion benar-benar bisa membuat para tetua mengubah keputusan yang meraka ambil. Hingga kini Julion bisa terlibat dalam perjalanan tersebut, dan bisa melindungi Dalila sesuai dengan apa yang ia harapkan. Arfel dan para tetua menghela napas dalam waktu bersamaan. Orang-orang yang mengetahui keterlibatan Julion dalam perjalan ini memang hanya para tetua. Mereka memang harus mengambil keputusan secara sepihak, tanpa melibatkan Max karena tahu reaksi seperti inilah yang akan ditunjukkan olehnya. Arfel pun dengan tenang berkata, “Ini keputusan yang kami, para tetua harus ambil. Karena kami sadar, Julion pasti akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam misi ini. Ingat, Julion memiliki pengalaman dalam melakukan pembersihan karena selama ini Julion bertugas di luar daerah perindungan.” “Tapi kau jelas-jelas sudah memberikan hak bagiku untuk memimpin pasukan ini. Lalu mengapa kini kau memutuskan hal seperti itu dengan seenaknya?” tanya Max sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa tidak sukanya sekalipun itu dihadapan Arfel sebagai ketua dari para tetua. “Kenapa kau meributkan hal ini? Bukankah orang yang berpengalaman bisa memberikan kontribusi yang baik bagi pasukan? Kita jelas-jelas tengah dalam situasi yang genting. Jadi, lebih baik kita bekerja sama saja sebagai sebuat tim,” ucap Julion menyela pembicaraan Max dengan Arfel. Max pun menatap Julion dengan perasaan tidak suka yang sangat jelas. “Apa kau pikir, dengan sejarah hubungan kita, aku bisa bekerja sama denganmu dengan senang hati?” tanya Max dengan sarkas. “Aku rasa, aku bisa melakukannya dengan baik. Aku akan mendukung tim kita dengan pengalaman serta pengetahuanku mengenai pergerakan kaum pembelot. Aku rasa itu akan sangat membantu,” ucap Julion membuat Max merasa sangat jengkel. Karena memang pengetahuannya pasti sangat dibutuhkan dalam perjalanan kali ini. Dalila pun balas menggenggam tangan Max dan mengusap d**a suaminya itu dengan lembut. Berusaha untuk meredakan kemarahannya. Tentu saja gesture tersebut membuat keduanya terlihat sangat intim. Membuat semua orang menyadari bahwa keduanya memiliki hubungan yang sangat-sangat baik, mungkin saja jauh dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. “Jangan marah, Max. Tenangkan dirimu. Sekarang coba berpikirlah dengan tenang sebagai seorang pemimpin,” ucap Dalila. Ucapan tersebut membuat Max memejamkan matanya. Tak lama, ia pun menggenggam tangan Dalila dengan lembut. Max membawa genggaman tangan tersebut dan mencium punggung tangan Dalila dengan penuh kasih sebelum berkata, “Terima kasih, Dalila. Kau sangat memahamiku.” Setelah itu Max menatap Julion dan berkata, “Baik, kau akan menjadi salah satu anggota dari pasukan khusus. Mari kita lihat, akan seberapa berpengaruhnya kau dalam perjalanan kali ini. Dan mari kita lihat, akan bertahan sejauh mana kau dalam perjalanan yang tentu saja tidak akan mudah, terutama bagimu.” Max menyeringai, saat menyadari perubahan suasana hati Julion yang memburuk karena melihat kedekatannya dengan Dalila.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD