Kedekatan 1

1932 Words
“Kira-kira apa saja yang perlu kubawa, Sia?” tanya Dalila pada Sia yang akan membantu Dalila untuk berkemas. Sepulangnya Dalila dan Max dari pertemuan terakhir sebelum keberangkatan mereka menjalankan misi pembersihan, tentu saja Dalila berpikir jika dirinya harus berkemas sebelum keberangkatan mereka nanti. Selain berkemas untuk keperluannya, tentu saja Dalila juga harus mengemas keperluan Max. Sebagai seorang istri, tentu saja Dalila perlu memastikan jika kebetuhan Max terpenuhi sepenuhnya. Jelas, Dalila yang baru pertama kali berada dalam situasi dan kondisi ini. Jadi, Dalila agak bingung. Sebab itulah, Dalila merasa jika dirinya perlu meminta bantuan pada Sia. Dalila kini tengah mengeringkan rambutnya setelah mandi dengan tangannya sendiri, karena ia jelas merasa kurang nyaman jika hal sekecil itu pun dibantu oleh Sia. Tentu saja Dalila memilili alasan dengan meminta Sia menyiapkan tas untuk berkemas nantinya. Sia baru saja membuka tas dan bersiap untuk menjawab, tetapi jawabannya tertahan saat Max memasuki kamar tersebut. Max tanpa banyak kata mendekat pada Dalila dan memeluk istrinya itu. Max bermanja pada istrinya dan membuat Dalila kegelian saat Max mengecupi lehernya dengan sangat antusias. Dalila tentu saja merasa sangat tidak nyaman dengan tingkah suaminya itu. Apalagi Sia masih di sana. Dalila terkejut saat melihat Sia yang sudah tidak ada lagi di tempatnya. “Ke mana Sia pergi?” tanya Dalila. Max yang mendengar hal itu pun terkekeh. “Tentu saja dia pergi karena sadar bahwa kini kita memerlukan waktu untuk dihabiskan bersama,” ucap Max lalu menggigit daun telinga Dalila dengan gemas. Tentu saja Max memastikan jika apa yang ia lakukan tersebut sama sekali tidak akan melukai istrinya itu. “Astaga! Jangan melakukan hal seperti itu, Max!” Dalila berusaha untuk mendorong suaminya menjadih darinya. Namun Max tentu saja menolak untuk melepaskan pelukannya dari Dalila. Seakan-akan Max ingin menghabiskan malamnya dengan terus memeluk istrinya dengan sangat erat. Merasakan jika Max tidak akan mau mengalah, pada akhirnya Dalila pun berkata, “Lepaskan aku, Max. Aku harus mengeringkan rambutku yang masih basah!” Max baru menyadari jika ternyata rambut Dalila memang terlihat masih basah. Karena itulah Max mengambil alih haduk dari tangan Dalila dan berkata, “Biar aku bantu untuk mengeringkan rambutmu.” Dalila tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh Max, menngingat jika suaminya itu sudah lebih dulu menarik handuk tersebut dari tangannya. Pada akhirnya Dalila pun duduk memunggungi Max dan membiarkan suaminya itu untuk mengeringkan rambutnya yang memang setengah basah. Untungnya Max melakukannya dengan lembut, jelas ia melakukannya dengan penuh kehatia-hatian. Mengingat jika Max sendiri sangat suka dengan rambut istrinya, jadi tentu saja Max berusahanya untuk menjaganya dengan sebaik mungkin agar tidak rusak. Jika Max terlihat berkonsentrasi untuk mengeringkan rambut istrinya, maka sang istri tersenyum tipis. Tentu saja Dalila menyadari jika saat ini Max tengah sangat berhati-hati dalam mengeringkan rambutnya. Jika tengah berada dalam kondisi seperti ini, Dalila rasa siapa pun tidak akan berpikir jika Max adalah orang yang keras dalam menyikapi sesuatu. Dalila sendiri sebelumnya sama sekali tidak berpikir jika hal seperti ini bisa dilakukan oleh Max yang sejak awal memang sangat menyebalkan baginya. Setelah selesai mengeringkannya, Max juga menyempatkan diri untuk menyisir rambut Dalila dengan hati-hati. Tidak perlu waktu terlalu lama hingga rambut Dalila pun selesai disisir dengan sempurna. Dalila pun berkata, “Terima kasih.” Max mengecup pipi Dalila sebagai jawaban dan menarik istrinya itu untuk berbaring di atas ranjang. Karena ini sudah malam, memang sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat. Max kembali memeluk Dalila dengan erat, dan Dalila sendiri merasakan jika suasana hati suaminya itu belum terlalu baik. Benar, semenjak pertemuan tadi siang, suasana hati Max memang memburuk. Hal itu tentu saja berkaitan dengan terlibatnya Julion pada perjalanan kali ini. Dalila sendiri tidak mengerti, mengapa para tetua bisa bertindak seperti itu? Mereka dengan sebelah pihak memutuskan untuk melibatkan Julion pada perjalanan. Padahal sebelumnya mereka sendiri yang meminta Julion untuk tidak terlibat dan tetap di dalam daerah perlindungan. Selain itu, Max sudah dijadikan pemimpin pasukan khusus secara resmi. Bukankah itu artinya Max yang sepenuhnya memiliki kuasa untuk mengatur timnya? Jika Dalila menjadi Max, tentu saja Dalila akan merasa marah seperti ini. Saat Dalila bekerja sebagai seorang bodyguard dan bekerja dalam sebuah tim, tentu saja hal seperti ini sudah sangat melekat dengan diri Dalila. Menurut Dalila, apa yang dilakukan oleh para tetua jelas sangat salah. Apa pun alasannya, mereka harus tetap mendiskusikan masalah ini dengan Max. Sebab Max memang sudah memegang kendali sepenuhnya terhadap tim tersebut. Saat Max bertingkah manja, Dalila pun tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan suaminya bertingkah seperti itu. Dalila malah membalas pelukan suaminya dan bertanya, “Apa suasana hatimu masih buruk?” Max yang mendengar pertanyaan itu pun menyadari jika sejak tadi Dalila terus memperhatikan perasaannya dan berhati-hati dalam bertindak demi menjaga perasaannya agar tidak terus memburuk. Max tentu saja merasa sangat tersanjung karena Dalila memperhatikannya sejauh itu. Namun, Max sendiri sadar jika rasa senang itu tidak bisa membuat suasana hatinya yang buruk bisa membaik saat itu juga. Pada akhirnya, Max pun memilih untuk mengatakan hal yang sejujurnya ia rasakan. “Ya, masih buruk. Rasanya suasana hatiku yang buruk ini tidak akan pernah bisa membaik jika Julion masih terlibat dalam perjalanan misi yang kupimpin ini,” ucap Max. Kebencian terlihat dengan sangat jelas pada sorot mata Max saat ini, dan tentu saja Dalila bisa menangkap hal tersebut dengan mudah. Dalila pun mengulurkan tangannya dan mengusap rahang suaminya yang tampak mengetat, dengan sentuhan lembut. Tentu saja sentuhan tersebut diterima dengan sangat baik oleh Max. Sebab sentuhan tersebut sedikit banyak bisa membuat emosi Max yang sebelumnya bergejolak, secara perlahan tenang walaupun belum sepenuhnya bisa kembali normal. “Apa kalian tidak bisa berbaikan saja?” tanya Dalila saat melihat suaminya sudah kembali tenang. Tentu saja Dalila pikir lebih baik keduanya berbaikan saja. Ke depannya jika Julion menjadi pemimpin kaum vampire dan menjadi salah satu tetua, sudah jelas jika Julion dan Max akan semakin banyak berinteraksi. Mereka harus bekerjasama untuk menjaga keseimbangan kaum iblis dan antar dunia. Jika mereka tidak segera berbaikan, atau setidaknya berbaikan sebelum Julion benar-benar mendapatkan status pemimpinnya, maka situasi jelas akan sangat kacau. Rasanya hubungan buruk antara kaum vampire dan kaum manusia serigala akan lebih memburuk daripada saat ini. Namun ternyata apa yang ditanyakan oleh Dalila sama sekali bukan hal yang bisa diterima oleh Max. Sebab kini kening Max mengernyit dalam, seakan-akan tidak senang dengan apa yang sudah ditanyakan oleh Dalila. Sudah jelas jika suasana hati Max kini kembali memburuk, tampak sangat kesal dengan hal yang rasanya sanga mustahil untuk terjadi tersebut. Max pun berkata, “Bukan berbaikan, Dalila. Tapi memaafkannya. Dia jelas harus meminta maaf atas kesalahan yang sudah ia perbuat di masa lalu.” Dalila terdiam membiarkan Max untuk melanjutkan perkataannya. Ia tahu, jika Max perlu meluapkan isi hatinya. Karena itulah Dalila sengaja mengungkit topik ini. Topik yang jelas bia membuat Max membuka dirinya secara perlahan. Max melanjutkan perkataannya dengan berkata, “Namun, meskipun dia bersujud sekali pun, aku sama sekali tidak akan memaafkan kesalahan yang sudah ia perbuat.” Max terlihat menahan kemarahannya, sebab ia tidak ingin terlihat mengerikan di hadapan istrinya sendiri. Padahal, biasanya Max sama sekali tidak peduli mengenai pandangan orang lain terhadap dirinya. Namun, beda kasus jika hal itu berkaitan dengan Dalila. Max ingin terlihat sempurna bagi Dalila, dan tidak terlihat mengerikan. Max tidak ingin Dalila menjauh darinya. Sebab itulah Max menahan diri untuk bertindak seperti itu dihadapan Dalila. Dalila yang kembali merasakan kemarahan Max yang meluap, memilih untuk kembali mengusap rahang suaminya itu untuk menenangkannya. Max menyadari apa yang tengah diusahakan oleh Dalila. Ia pun menggenggam tangan Dalila lalu mengecupnya dengan lembut sebelum berkata, “Aku tidak bisa memaafkannya karena dialah yang sudah membuat kedua orang tuaku tiada.” Dalila menahan napasnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Max. Meskipun terkejut, Dalila menahan diri untuk tidak mengatakan atau menanyakan apa pun. Dalila tidak boleh merusak suasana yang sudah terbangun di sini dengan rasa keingintahuannya. Dalila harus bijak mengambil langkah, agar tidak membuat suasana ini menjadi kacau. Dalila mengamati Max yang mulai larut dalam emosinya. Max lalu berkata, “Jika saja dia bisa melindungi dirinya sendiri atau setidaknya terluka atau mati tanpa terlihat oleh kedua orang tuaku, pasti aku masih bisa menghabiskan waktu yang panjang bersama dengan kedua orang tuaku.” Max pun menjelaskan bagaimana kematian kedua orang tuanya terjadi. Ternyata mereka mati saat ada kejadian yang mengharuskan mereka memperbaiki kerusakan yang dibuat oleh kaum pembelot. Julion muda dan Max muda juga terlibat dalam misi tersebut. Namun, sebuah insiden terjadi. Insiden yang menempatkan Julion berada dalam bahaya dan hampir mati. Namun, kedua orang tua Max mengorbankan diri dan menyelematakan Julion, mengabaikan permohonan Max untuk membiarkan Julion sembari menunggu tenaga bantuan. Max kehilangan kedua orang tuanya tepat di depan matanya sendiri, dan sebagai gantinya Julion yang memang sudah tidak berhubungan baik dengannya, bisa selamat. Saat itu juga Max murka dan menghajar Julion yang merasa jika dirinya tidak salah apa pun. Semenjak itu hubungan Max dan Julion memburuk. Bahkan sangat buruk. Setiap mereka bertemu, hanya aka nada pertengkaran dan caci maki yang keluar dari bibir Max. Seakan-akan Max memang tidak sudi untuk berada di tempat yang sama dengan Julion. Bahkan jika bisa, Max ingin membuat Julion mati dengan tangannya sendiri. Namun, Max berusaha untuk menahan dirinya. Jika Max melakukan hal itu, jelas ia akan diasingkan. Lalu akan seperti kaum manusia serigala jika Max meninggalkan mereka? Tentu saja kaum akan menjadi sangat kacau jika kehilangan sosok pemimpin yang mengatur hal-hal yang berjalan di dalam kaum. Max menahan diri hingga saat ini karena kaumnya, dan kini bertambah hal lain yang membuat pertahanan diri Max semakin kuat. Hal itu adalah, Dalila. Max tidak bertindak seenaknya karena berpikir, ia harus tetap berada di sisi Dalila. Jika dia melakukan kesalahan dan diasikan oleh para tetua, jelas Dalila akan sendirian dan kembali merasa kesepian. Max dan Dalila pun bertatapan, mereka saling memahami apa yang mereka rasakan satu sama lain. “Semenjak itu, aku memiliki kebencian yang mendalam pada Julion dan seluruh kaum vampire, Dalila,” ucap Max setelah menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Dalila yang mendengar hal itu pun berkata, “Jadi itulah yang terjadi.” Max mengangguk dan mengubah posisi berbaringnya agar dirinya bisa menenggelamkan wajahnya pada pelukan Dalila. Tentu saja hal itu membuat Dalila merasa kegelian. Namun, Dalila tidak mendorong jauh Max, sebab ia tahu jika saat ini Max tidak tengah menggoda dirinya. Max hanya memerlukan tempat dan sebuah pelukan hangat untuk menenangkan emosinya yang bergejolak. Tentu saja Dalila dengan senang hati memberikan apa yang dibutuhkan oleh Max tersebut. Dalila menyusupkan salah satu tangannya pada helaian rambut tebal Max dan menikmati kelembutannya. Max sendiri memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan tersebut sebelum bertanya, “Apakah aku salah saat aku tidak bisa memaafkannya, Dalila?” Dalila yang mendengar pertanyaan tersebut menghentikan gerakan tangannya. Tentu saja Dalila tidak pernah memperkirakan jika dirinya akan mendapatkan pertanyaan semacam ini dari Max. Namun, Dalila masih menunjukkan ekspresi tenangnya. Tentu saja Dalila tengah berpikir, jawaban seperti apa yang perlu ia berikan pada Max. Tentu saja tidak mudah bagi Dalila untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang sangat sensitif seperti itu. Lalu Dalila pun memberikan sebuah jawaban, “Menurutku, iya. Kau salah, Max.” Tentu saja jawaban yang diberikan oleh Dalila membuat Max menatap istrinya itu dengan tidak terima. Wajahnya bahkan dihiasi oleh ekspresi kesal, seakan-akan dirinya adalah anak kecil yang tidak terima karena sang ibu lebih membela anak lain daripada dirinya. Dalila yang melihat hal itu tersenyum pelan dan mengecup pelan bibir sang suami, membuat Max yang semula marah, kini menahan diri untuk tersenyum, hingga sudut bibirnya bahkan berkedut dibuatnya. “Jangan marah dulu, dan dengarkan apa yang ingin kukatakan,” ucap Dalila membuat Max mau tidak mau mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Dalila. Namun, sifat jahilnya muncul dan dirinya berkata, “Kalau begitu, aku minta kecupan lagi.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD