Setelah beristirahat selama tiga puluh menit sesuai dengan apa yang dijadwalkan, semua orang terlibat dalam permasalahan penyebaran wabah, kini berkumpul di ruang pertemuan. Tentu saja pertemuan pertama antara perwakilan Asosiasi Kaum Immortal dengan perwakilan setempat berlangsung dengan sangat rahasia dan tertutup. Tentu saja untuk menjaga jika informasi yang akan dibicarakan tidak tersebar. Walaupun sebenarnya akan sangat mustahil, masalah tersebut tersebar seperti apa yang ditakutkan oleh mereka.
Sebab area di mana mereka tengah berada saja tidak terkontaminasi atau bisa dimasuki oleh sembarangan orang. Hanya orang-orang yang memiliki tanda pengenal khusus, atau surat izin yang bisa memasuki area tersebut. Namun, tetap saja. Mereka semua memilih untuk tetap berhati-hati untuk mencegah hal tidak yang tidak diinginkan di masa depan nantinya. Sebab jelas hal yang akan didiskusikan adalah hal yang rahasia dan berbahaya jika jatuh di tangan yang salah.
Dalila kini duduk di salah satu kursi yang melingkari sebuah meja rapat yang panjang. Di mana para kaum immortal duduk berseberangan dengan para perwakilan manusia. Max juga tengah duduk dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh perwakilah pemerintah. Jelas ekspresi yang menghiasi para kaum immortal dari waktu ke waktu menjadi sangat memburuk. Hal tersebut tidak terlepas dari penjelasan yang mereka dengar. Sebelumnya, wabah yag disebar oleh para kaum pembelot masih tergolong lemah dan tidak terlalu membahayakan.
Namun, untuk kali ini berbeda. Bibit yang mereka sebar sangatlah kuat. Hanya memerlukan hitungan jam, bibit itu bisa membuat seseorang jatuh tidak sadarkan diri dan tidak bisa sadarkan diri selama berhari-hari. Virus itu juga akan menggerogoti organ dalam hingga menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa. Jelas hal tersebut sangat berbahaya. Apalagi bagi anak-anak, dan para manula yang memiliki kondisi tubuh yang sangat lemah.
Hal yang paling disoroti saat ini adalah, wabah tersebut sudah menyerang sebuah desa. Satu desa yang berpopulasi sekitar 800 orang harus diisolasi. Hal tersebut terjadi karena seluruh orang di desa tersebut benar-benar sudah terkontaminasi wabah tersebut. Untuk mencegah penyebaran wabah yang lebih luas, pemerintah jelas memilih untuk mengisolasi semua warga yang berada di desa tersebut. Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan semua keperluan yang dibutuhkan oleh warga selama mereka masih diisolasi.
Namun, kini para perwakilan asosiasi kaum immortal sudah datang. Jelas ini adalah angina segar bagi pemerintah yang sudah sangat terdesak dengan penyebaran wabah ini. Max yang sudah mendengar penjelasan mengenai kondisi yang tengah terjadi mengangguk ia mengerti. Tentu saja kini Max tinggal menyusun rencana seperti apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Max berkata, “Kalau begitu aku meminta peta dan semua data yang berkaitan dengan desa yang diisolasi tersebut.”
“Tentu saja. Kami sudah menyiapkan semuanya,” jawab perwakilan pemerintah yang berma Rae tersebut.
Max mengangguk. Lalu ia menatap Joe yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu. “Apa ada yang ingin kau tambahkan?” tanya Max.
Joe mengangguk. Sebab ada hal yang memang harus ia sampaikan pada Rae selaku perwakilan pemerintah setempat. “Aku juga memerlukan data medis dari warga desa. Aku yakin jika kalian memiliki data mengenai riwayat medis mereka. Aku juga perlu semua data itu untuk menentukan pasien mana dulu yang nantinya harus aku prioritaskan,” jawab Joe pada Rae.
Rae yang mendengar hal tersebut tentu saja mengangguk. Ia tidak keberatan untuk menyediakan hal tersebut. Meskipun riwayat medis adalah hal yang sangat dirahasiakan. Sebab ini adalah data yang sangat pribadi. Jelas mengungkap data pribadi seperti ini tanpa izin pemilik, adalah hal yang illegal. Termasuk bagi pemerintah sekali pun. Namun, di situasi segenting ini, dan karena alasan untuk menyelematakan para pemilik riwayat medis tersebut, rasanya jelas ini adalah keputusan yang terbaik.
“Baik, akan saya persiapkan sekarang juga. Saya akan kembali secepat mungkin untuk memberikannya,” ucap Rae.
“Tidak perlu. Aku dan timku akan ikut, sembari untuk membagi hasil penelitian kami dan formula yang dibutuhkan untuk melawan virus wabah ini,” ucap Joe sembari bangkit dari kursinya.
Tentu saja Joe menatap Max terlebih dahulu untuk mendapatkan izin. Max yang mengerti hanya mengangguk, sebagai isyarat jika Joe memang diperbolehkan untuk pergi. Joe dan beberapa orang yang memang dikenal sebagai ahli alkimia segera melangkah pergi bersama Rae. Max dan anggota tim lain yang tersisa masih berada di ruang pertemuan, tentu saja akan melanjutkan pertemuan mereka. Kini hanya ada kaum immortal yang masih berada di ruangan tersebut. Sebab jelas, perwakilan pemerintah setempat sudah tidak diperlukan lagi keberadaannya di sana.
“Seperti yang sudah kalian dengar, situasi saat ini sudah sangat memburuk,” ucap Max membuat semua orang terlihat menegang.
Jelas mereka tegang, meskipun mereka tidak terlalu terikat dengan manusia, tetapi mereka tetap tidak merasa jika kematian orang yang tidak bersalah dapat dibiarkan begitu saja. Apalagi semua ini adalah ulah yang diperbuat oleh para pembelot yang dibutakan oleh kekuasaan dan ketamakan mereka. Anak-anak dan para wanita yang tidak memiliki salah apa pun, juga menjadi korban dari para pembelot tersebut. Jelas, mereka tidak bisa merasa baik-baik saja menghadapi situasi seperti ini.
Dalila juga terlihat larut dalam kemarahannya. Sebab ia tadi membaca data, bahwa ada sekitar lima puluh anak di bawah usia tujuh tahun yang juga terjangkit wabah. Para orang dewasa saja kesulitan untuk menghadapi rasa sakit yang disebabkan oleh wabah tersebut, apalagi anak-anak yang jelas sangat lemah. Dalila mengutuk tindakan para pembelot yang tidak mengenal tempat tersebut. Mereka semua benar-benar tidak memiliki hati, hingga melakukan hal yang sangat mengerikan seperti ini.
“Aku tahu jika kalian semua pasti merasa emosi dengan apa yang terjadi ini. Tapi ingat satu hal, kalian harus memakai akal sehat kalian. Tetap berpikir dengan jernih. Jangan sampai kalian semua melakukan kesalahan yang membuat situasi menjadi berbalik tidak menguntungkan bagi kita semua. Apa kalian semua mengerti?” tanya Max.
“Kami mengerti!” seru mereka semua dengan kompak.
Tak lama Rea kembali untuk memberikan apa yang diminta oleh Max. Ia pun kembali meninggalkan ruangan tersebut, karena sadar bahwa Max tidak menginginkan keberadaannya lebih lama di sana. Max yang sudah memegan peta dan semua data yang ia butuhkan pun, segera membentangkannya dan menunjukkan semuanya kepada para anggotanya. “Sekarang, dengarkan baik-baik. Aku akan mulai menjelaskan rute dan apa saja yang akan kita lakukan ke depannya,” ucap Max.
Semua orang tentu saja mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh Max secara seksama. Begitupula Dalila, yang sadar jika dirinya tidak boleh menjadi beban. Jadi, ia harus berusaha ekstra untuk tidak menjadi penghalang bagi tim. Dalila memang tidak memiliki pengalaman, tetapi ia tidak boleh menjadi batu sandungan yang membuat pergerakan tim menjadi terhambat. Dalila yang tampak fokus pada penjelasan Max, tampak berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Julion.
Sebab kini, Julion benar-benar tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Max. Ia malah memperhatikan Dalila dengan seksama. Seakan-akan Dalila memang sudah menarik semua perhatian yang ia miliki. Mungkin Dalila dan yang lainnya tidak menyadari apa yang sudah dilakukan oleh Julion, tetapi hal itu berbeda dengan Max. Pria itu sedari awal sudah sangat mengantisipasi Julion dan memberikan perhatian lebih pada pria yang terus saja berusaha untuk mendekati Dalila. Tentu saja menjadi hal yang mudah bagi Max untuk menyadari hal itu.
Lalu dengan sengaja Max melemparkan spidol kea rah Julion dengan kekuatan yang jelas tidak main-main. Namun, Julion jelas memiliki kemampuan yang bisa menyadari serangan yang diberikan oleh Max tersebut. Ia pun menghindari lemparan spidol yang diarahkan padanya tersebut, dan ia pun menatap Max dengan pandangan penuh permusuhan. “Apa yang kau lakukan?” tanya Julion dengan nada dingin.
Jelas semua orang yang melihat hal tersebut, bisa merasakan jika saat ini Julion merasa terganggu dengan perlakuan yang diberikan oleh Max padanya. Di sisi lain, mereka juga tidak mengerti, mengapa secara tiba-tiba Max bisa melemparkan serangan seperti itu pada Julion. Karena jelas tidak ada yang menyadari apa yang sudah dilakukan oleh Julion. Max yang mendengar pertanyaan tersebut pun menjawab, “Jelas untuk membuat kesadaranmu kembali. Bukankah kau tadi tidak memperhatikan apa yang sudah kujelaskan?”
Julion hanya bisa menipiskan bibirnya, karena apa yang dikatakan oleh Max memang benar adanya. Julion tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh Max, sebab terlalu sibuk untuk memperhatikan Dalila yang menurutnya semakin memesona dari waktu ke waktu. Hal itulah yang membuat Julion benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Dalila. Melihat jika Julion benar-benar tidak bisa mengelak atau memberikan pembelaan pada dirinya sendiri, membuat Max merasa semakin kesal saja.
Lalu Max pun tidak bisa menahan diri untuk berkata, “Ingat dengan apa yang sudah kuperingatkan sebelumnya, Julion. Kau adalah salah satu anggota dalam pasukan atau tim ini. Itu artinya kau harus mematuhi peraturan yang sudah kubuat, serta melakukan kerja sama yang baik dengan anggota yang lain. Jika sampai kau melakukan sesuatu yang membahayakan anggota lain karena kekeras kepalaanmu ini, jangan pernah menyalahkanku saat aku mengusirmu sepenuhnya dari tim ini.”
Julion tidak mengatakan apa pun, dan hanya menatap Max yang memberikan tatapan dingin padanya. Pada akhirnya, situasi kembali terasa sangat canggung di sana. Membuat semua orang benar-benar harus berhati-hati dalam bertindak dan mengatakan sesuatu. Sebab hal itu jelas akan membuat situasi memburuk. Tentu saja hal tesebut tidak boleh terjadi. Apalagi mereka baru saja memulai misi mereka.
Untungnya, Dalila kembali hadir sebagai sosok yang bisa melerai perselisihan antara Max dan Julion. Ia pun berkata, “Max, lanjutkan penjelasanmu mengenai perjalanan kita. Lalu Julion, aku harap kau bisa meletakkan sepenuhnya fokus yang kau miliki atas penjelasan yang diberikan oleh Max. Kita harus bergegas, ada banyak orang yang membutuhkan bantuan kita.”
Semua orang bisa merasakan aura yang membuat semua orang seakan-akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dalila dengan penuh perhatian. Setelah itu, Max pun melakukan apa yang memang sudah disarankan oleh Dalila. Max kembali memberikan pengarahan. “Karena desa yang akan kita tuju sudah diisolasi, dan memang sulit untuk diakses dengan cepat jika menggunakan kendaraan, jadi lebih baik kita menggunakan kemampuan fisik kita saja secara langsung,” ucap Max.
“Baik!” seru para anggota muda yang tentu saja kembali merasakan kobaran semangat yang luar biasa.
Setelah itu, tidak membutuhkan waktu terlalu lama bagi mereka untuk mempersiapkan perjalanan mereka. Saat sore menjelang, Max dan tim pun siap untuk memulai menjalankan misi mereka yang sesungguhnya. Sebelum benar-benar berangkat menuju desa yang terkena wabah, Max menatap Rae dan para perwakilan yang lain. Max berkata, “Ingat kalian harus bertindak sesuai dengan setail yang sebelumnya sudah kusampaikan.”
Rae yang mendengar hal tersebut jelas mengangguk. “Kami akan melaksakannya sesuai dengan apa yang sudah Anda sampaikan sebelumnya,” ucap Rae karena ia jelas sudah tahu detail dari apa saja yang harus ia lakukan. Karena Max sudah menjelaskannya secara jelas pada Rae.
Bahkan Rae mencatat semuanya dengan sangat detail. Tidak ingin sampai dirinya melakukan kesalahan yang membuat situasi menjadi kacau. Mendapatkan jawaban dari Rae, Max pun mengangguk. “Kalau begitu, kami akan berangkat sekarang juga. Sampai jumpa,” ucap Max lalu menggenggam tangan Dalila dan memimpin timnya untuk segera berlari dengan kemampuan fisik mereka yang luar biasa.
Benar, mereka berlari dan menggunakan kemampuan fisik mereka yang di luar nalar manusia, untuk mencapai area yang terisolasi. Kecepatan yang membuat Dalila yang juga sebenarnya memiliki kekuatan luar biasa, ternyata kesulitan untuk beradaptasi dengan kecepatan tersebut. Namun, Dalila masih berusaha untuk tidak menjadi beban atau menghambat perjalanan tersebut. Apalagi Max yang menjadi pemimpin berada di depan untuk memimpin. Dalila pun berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Max, dan lebih memilih untuk berada di berada di belakang rombongan.
Sayangnya, Max tidak berniat untuk melepaskan tangan Dalila. Ia tetap menggenggam tangan istrinya sepanjang perjalanan. Max menyalurkan sedikit sihirnya agar membuat langkah Dalila menjadi lebih ringan daripada sebelumnya. Hal tersebut lebih dari cukup untuk membuat Dalila bisa beradaptasi dan mengikuti langkah rombongan. Tentu saja para anggota bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh Max. Membuat mereka sadar jika Max memang memperlakukan istrinya dengan sangat istimewa.
“Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku, Dalila,” bisik Max membuat Dalila terlihat malu-malu dengan pipi yang memerah dengan cantiknya. Julion tentu saja bisa melihat hal tersebut dan semakin kesal dengan interaksi yang terjadi di antara keduanya.