“Fokus!” seru Max pada Dalila yang tengah melakukan latihan berupa bertarung secara langsung dengannya.
Tentu saja Dalila berusaha untuk berntransformasi. Max menekan Dalila untuk bisa mengendalikan perubahan wujud. Atau lebih tepatnya mengendalikan ledakan energinya. Tentu saja hal itu sangat sulit bagi Dalila. Namun, kini Dalila sudah bisa mengendalikan perubahan warna matanya. Kini, warna mata Dalila salah satunya berwarna merah, dan yang lainnya berwarna keemasan. Meskipun belum bisa mengendalikan sepenuhnya kekuatan yang ia miliki, tetapi setidaknya kini Dalila sudah bisa melakukan separuh tranformasi penampilannya.
Dalila terlihat berkeringat deras, saat masih berusaha untuk memberikan perlawanan terhadap Max. Tentu saja Dalila merasa sangat lelah. Apalagi latihan ini sudah berlangsung sekitar dua jam, dan dengan intensitas yang tinggi. Tidak hanya harus fokus menggunakan kekuatan fisiknya, Dalila juga harus mengendalikan energi sihirnya yang begitu berlimpah. Dengan dua elemen sihir yang mengalir dalam tubuhnya, tentu saja Dalila harus memiliki konsentrasi tinggi untuk mengendalikannya. Jika tidak, maka kedua elemen sihir itu akan bentrok dan malah membahayakan nyawa Dalila sendiri.
“Kubilang fokus!” seru Max saat berhasil menyerang kaki Dalila, hingga membuat istrinya itu terjatuh dan tersungkur.
Meskipun raut wajah Max saat ini terlihat tenang, kedua kakinya terlihat bergerak dengan cepat untuk mendekat pada istrinya. Jika diamati, netra emasnya juga dihiasi oleh sorot kecemasan yang begitu kental. Dalila sendiri mengerang, karena merasakan hal yang salah pada tulangnya. Dalila tahu, jika Max tidak secara sengaja menyerangnya untuk melukainya. Max hanya berniat untuk mengasah kemampuan Dalila. Namun, Dalila tidak bisa melakukannya dengan baik, hingga mengalami cidera seperti ini.
Max pun dengan segera memeriksa kaki Dalila, dan sadar jika tulang Dalila mengalami retak. Max menghela napas, karena tadi sudah melakukan latihannya dengan berlebihan dan membuat Dalila terluka seperti ini. Meskipun Max tahu jika kemampuan Dalila sudah meningkat pesat, tetapi Dalila masih belum bisa mengendalikan kekuatannya secara sempurna. Seharusnya ia tetap berhati-hati saat melakukan pertarungan latihan ini.
Max pun mulai merapalkan mantra, dengan sorot mata yang terlihat begitu menyesal. Disusul dengan rahangnya yang mengeras. Tanda jika dirinya saat ini benar-benar tengah merasa marah. Ia kesal pada dirinya sendiri yang masih saja belum bisa bertindak benar saat bersama dengan istrinya. Max terlalu gegabah. Melihat jika suaminya saat ini tengah merasa marah pada dirinya sendiri, Dalila pun mengulum senyum.
Entah sejak kapan, tetapi Dalila sadar jika sedikit demi sedikit, ia bisa memahami apa yang dirasakan oleh suaminya ini. Karena hal itulah, Dalila mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Max dengan lembut. Ia pun turun menyentuh rahang Max yang selalu saja mengeras jika dirinya tengah menahan emosinya. Dalila menghadiahkan sebuah kecupan pada rahang itu, lalu berkata, “Aku tidak apa-apa. Sihirmu akan segera menyembuhkanku.”
Benar saja, setelah Max selesai merapalkan mantra dan sebuah sihir berpendar mulai bekerja untuk menyembuhkan retakan pada tulang Dalila dengan kurun waktu yang sangat cepat. Tentu saja hal tersebut membuat Dalila tidak lagi merasakan sakit. Namun, raut wajah Max masih saja belum membaik. Hal itu membuat Dalila kembali mengecup rahang Max dan berkata, “Sekarang sudah sembuh. Tidak perlu memasang ekspresi seperti itu.”
Max pun membawa kedua tangan Dalila untuk melingkar pada lehernya. Lalu Max berkata, “Jika ingin menciumku, seharusnya kau melakukannya dengan benar.”
Lalu Max mengerucutkan bibirnya, meminta ciuman pada tempat tersebut. Dalila yang melihat hal tersebut tentu saja segera memasang ekspresi tidak percaya. “Wah, aku memang seharusnya tidak pernah mengasihani orang yang tidak tahu diri sepertimu,” ucap Dalila mencela suaminya sembari menampar pelan bibir Max yang masih mengerucut, menunggu kecupan yang manis di sana.
Tentu saja Max mengerang kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun Dalila sama sekali tidak peduli. Setelah melakukan hal itu, Dalila pun menjauhkan diri pada Max. Sayangnya, Max yang sudah terlanjur ingin menggoda Dalila, segera menarik istrinya itu. Tarikan tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat Dalila terhuyung dan berbaring di atas tanah. Max pun mengurung tubuh Dalila di bawah tubuh kekarnya yang menguarkan aroma khas yang sangat pria.
Dalila yang sadar bahwa Max berniat untuk menggodanya, segera mencubit perut liat Max dengan kesal. “Menjauh,” ucap Dalila memberikan perintan.
“Jika aku tidak mau?” tanya Max.
“Maka aku akan membuat adikmu yang berharga, tidak bisa bangun lagi,” jawab Dalila sembari tersenyum, dan menekan s**********n Max dengan lututnya. Tekanan yang sangat pas, di bagian yang sangat penting bagi Max.
Max yang mendapatkan ancaman balik seperti itu memilih untuk mengangkat tangannya dan menjauh dari Dalila. “Baik, aku kalah,” ucap Max sembari mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Dalila sendiri segera bangkit dari posisinya dan membersihkan debu pada bagian belakang tubuhnya. Max yang melihat beberapa bagian belum bersih, turun tangan untuk membantunya. Namun, lagi-lagi Max membuat ulah. Ia menepuk kedua p****t Dalila membuat istrinya itu berjengit dan berseru, “Max, kau benar-benar ingin kupukul?!”
Max yang mendengar hal itu tentu saja tertawa, dan menerima pukulan dari istrinya itu dengan senang hati. Hubungan keduanya memang menjadi lebih hangat dan dekat seiring berjalannya waktu. Tentu saja Max secara pribadi bersyukur karena hal tersebut memang yang ia inginkan. Max berharap, jika ke depannya mereka bisa lebih dekat daripada ini, dan tidak menyisakan celah bagi siapa pun di antara mereka. Jika pun ada yang berusaha untuk membuat celah tersebut, Max sendiri yang akan menghancurkan orang itu, agar tidak berani-berani kembali mengganggu dirinya.
“Sudah, sekarang kita kembali saja. Ini sudah waktunya kau beristirahat,” ucap Max lalu menggandeng tangan istrinya.
Ia membawa Dalila untuk masuk ke dalam mansion, tetapi langkah keduanya melambat saat melihat Dante yang berlari dengan wajah tegangnya. Tentu saja Dalila dan Max secara alami berpikir jika ada hal buruk yang telah terjadi. Pada akhirnya keduanya pun menghentikan langkah mereka dan Dante pun segera memberikan hormat pada keduanya setelah tiba di hadapan mereka. “Tuan, Nyonya, ada hal yang gawat,” ucap Dante.
“Apa yang terjadi?” tanya Max.
“Saat ini, kau pembelot menyerang para manusia dengan gilanya di berbagai negara di sepenjuru dunia. Wabah yang berbahaya kini kembali menyebar, bahkan lebih berbahaya daripada yang terakhir kalinya pernah menyebar,” ucap Dante menjelaskan situasi genting yang tengah terjadi saat ini.
Mendengar penurutuan dari Dante, wajah Dalila dan Max tentu saja menegang. Situasi memang segawat itu, tentu saja mereka para petinggi kaum immortal harus segera mengambil tindakan. “Apa para tetua akan melakukan pertemuan?” tanya Max lagi.
Dante mengangguk. “Kedatangan saya adalah untuk menyampaikan pesan para tetua. Mereka akan mengadakan pertemuan para pemimpin kaum, berikut para petingginya. Jadi, para tetua juga ingin Nyonya Dalila datang menghadiri pertemuan,” jawab Dante.
Mendengar hal itu, Max pun mengernyitkan keningnya. Seakan-akan sudah bisa membaca apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh para tetua itu. Mereka jelas-jelas ingin mengungkap identitas Dalila terhadap para petinggi kaum yang memang belum mengetahui identitas Dalila. Meskipun merasa jika dirinya agak tersinggung, sebab tidak diminta pendapat, Max tidak memiliki pilihan lain untuk membawa Dalila. Toh, saat ini memang sudah waktunya untuk memperkenalkan Dalila secara resmi dan mengungkapkan identitasnya.
Max menatap Dalila yang ternyata juga tengah menatap dirinya. Dengan lembut, Max menyelipkan helaian rambut Dalila yang halus ke belakang telinganya dan berkata, “Kita harus pergi.”
Dalila yang mendengar hal itu tersenyum tipis, karena lagi-lagi menyadari kecemasan sang suami. “Tentu saja. Kita harus pergi.”
**
Max menggenggam tangan Dalila dengan erat. Membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam gedung Asosiasi Kaum Imortal atau lebih dikenal sebagai AKI. Karena kali ini akan diadakan rapat para petinggi kaum immortal, tentu saja gedung tersebut dibuat steril dari para pengunjung. Apalagi apa yan gakan dibahas oleh para petinggi adalah hal yang sangat sensitif dan harus terjaga kerahasiaannya. Suasana yang terbangun di gedung tersebut pun secara otomatis terasa sangat tegang dan canggung.
Dalila yang datang bersama dengan Max tentu saja bisa merasakan hal tersebut. Namun, untungnya karena Max selalu berada di sisinya dan memastikan jika dirinya aman. Memberikan ketenangan lebih untuk Dalila. Tak lama, keduanya pun tiba di depan pintu ruangan rapat. Dante yang mengikuti keduanya, segera melaporkan kedatangan Max dan Dalila, lalu pintu pun segera terbuka. Max dan Dalila memasuki ruangan rapat, tetapi Dante tidak bisa masuk ke dalam ruangan. Hanya memberikan hormat hingga pintu ruangan tersebut tertutup.
Max mengajak Dalila untuk duduk di tempat yang memang sudah disediakan secara khusus bagi pemimpin kaum manusia serigala. Biasanya, Max hanya duduk di sana sendirian. Mengingat jika dirinya belum memiliki pasangan. Namun, untuk kali pertama, Max hadir dalam rapat dengan ditemani oleh Dalila, sang istri yang memang sudah dikenal oleh para petinggi. Ternyata tempat duduk Dalila dan Max berseberangan dengan tempat duduk para petinggi kaum vampire. Di mana Julion dan Joe duduk di sana, sebagai perwakilan resmi dari kaum mereka.
Max yang menyadari jika tatapan Julion sama sekali tidak meninggalkan istrinya, dengan sengaja malah menunjukkan sikap manisnya terhadap sang istri. Tentu saja Dalila tidak merasa keberatan dengan tingkah Max tersebut. Karena memang dirinya sudah terbiasa mendapatkan perlakuan manis dari Max. Sebab mereka sudah memiliki kedekatan yang lebih daripada sebelumnya. Jadi kontak fisik bukanlah hal yang asing dan aneh lagi bagi mereka. Seolah-olah mereka memang sudah menjadi pasanga suami istri dalam waktu yang cukup lama.
Julion yang menyadari tingkah Max tersebut, merasakan suasana hatinya semakin memburuk. Joe sendiri hanya melirik pada kakaknya yang memang akhir-akhir ini memang selalu berada dalam suasana hati yang buruk. Mengingat jika usahanya untuk menemui Dalila di daerah kekuasaan manusia serigala, sama sekali tidak pernah berhasil. Barulah, saat ada rapat besar untuk membahas tingkah para pembelot yang semakin menjadi serta apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
“Sepertinya semua orang sudah hadir. Karena itulah, mari kita mulai rapatnya sesegera mungkin,” ucap Arfel selaku para perwakilan tetua memulai untuk membuka rapat mendadak tersebut.
Dalila dan Max tentu saja segera berkonsetrasi untuk mendengar pembahasan yang akan dibicarakan bersama. “Seperti yang kalian ketahui, tingkah para pembelot semakin menjadi. Mereka semakin berani untuk menebar kekacauan. Bahkan tidak lagi di negara kita saja, tetapi menyebar ke beberapa negara yang jauh di sana. Laporan yang kita terima semakin menumpuk dari hari ke hari. Jelas, kita harus segera mengambil tindakan yang benar untuk menanggulangi masalah ini. Jadi, mari kita bicarakan solusi yang tepat dan silakan ajukan saran jika kalian memang sudah memilikinya,” ucap Arfel.
“Sepertinya, sudah keputusan yang tepat jika kita mengirim sebuah tim yang dipimpin secara langsung oleh salah seorang pemimpin kaum immortal untuk menyisir dan membasmi wabah sekaligus kaum pembelot. Tim pembersih yang sudah berada di luar, sepertinya memang membutuhkan tim besar untuk melakukan tugas tersebut,” ucap Julion.
Semua orang mengangguk, merasa jika apa yang dikatakan Julion memang benar adanya. Arfel pun berpandangan dengan para tetua dan berdiskusi pelan sebelum berkata, “Kalau begitu, apakah ada yang mau mengajukan diri untuk memimpin?”
Max dan Julion secara sigap mengangkat tangan mereka dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja keduanya bertatapan, bersaing ingin mendapatkan posisi sebagai pemimpin tim pembersih yang akan berkeliling dunia dan membersihkan kekacauan. Arfel mengamati keduanya, dan pada akhirnya berkata, “Kalau begitu, Max akan menjadi pemimpinnya, sementara Joe akan menjadi wakilnya. Kalian bisa berdiskusi dan memilih mana saja yang akan kalian bawa sebagai sebuah tim. Julion akan tetap di dalam daerah perlindungan.”
Tentu saja Julion terlihat terkejut dengan keputusan Arfel. Berbeda dengan Max yang kini menyeringai penuh kemenangan, karena jelas-jelas Julion tidak akan bisa terlibat dalam pembersihan tersebut. Max merasa begitu senang, karena jelas-jelas Julion kalah darinya dan bahkan tidak bisa ikut serta dalam menjalankan misi. Julion sendiri merasa sangat keberatan dengan apa yang sudah diputuskan oleh Arfel. Namun, Julion sadar jika dirinya tidak bisa mengatakan apa pun di sana. Karena bisa saja hal tersebut menyinggung para tetua. Jadi, pada akhirnya Julion hanya bisa menahan kekesalannya dan memikirkan cara untuk merayu para tetua.
Setelah itu, Max menatap Arfel dan bertanya, “Apa aku boleh berkata sesuatu?”
“Silakan,” jawab Arfel.
“Aku ingin melibatkan istriku dalam pembersihan ini,” ucap Max membuat semua orang terkejut. Mengingat semua orang tahu jika Dalila memang belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya. Namun, Arfel yang bertatapan dengan Max sadar, jika sudah ada kemajuan yang begitu pesat dalam diri Dalila.
Jadi, pada akhirnya Arfel mengangguk. Namun, ia menambahkan, “Kau bisa membawa dan melibatkan Dalila dalam pembersihan ini. Hanya saja, umumkan identitas Dalila sebelum kepergian kalian.”