Ternyata Dalila memang sangat merindukan Winter, hingga ia bahkan tidak melepaskan Winter saat dirinya tidur. Seakan-akan ingin memastikan jika memang Max tidak bisa mencuranginya dengan berubah menjadi Max ketika dirinya tidur. Sebelum benar-benar jatuh tidur, Dalila memang sempat membuat Max berjanji untuk tidak berubah wujud saat dirinya tidur. Tentu saja Max tidak memiliki pilihan lain, selain menuruti apa yang diinginkan oleh Dalila tersebut. Ia pun sudah berjanji, jika dirinya tidak akan berubah wujud ketika Dalila tidur.
Sebenarnya, saat Dalila tidur seperti ini, jelas Max memiliki kesempatan untuk mengubah wujudnya. Namun, ia tidak bisa melakukan hal itu, selain ada kemungkinan Dalila terbangun karena merasakan perubahan pada pelukannya, Max juga tidak bisa melanggar janjinya. Seorang pria sama sekali tidak pernah melanggar janjinya. Terlebih, Max adalah seorang Alpha. Pria yang paling berkuasa di kaum manusia serigala. Rasanya sangat memalukan jika dirinya tidak bisa menahan diri dan pada akhirnya melanggar janjinya sendiri pada istrinya.
Max memilih untuk memperbaiki posisi Dalila, dan menyelimuti Dalila dengan ekornya yang memang berbulu lebat dan lembut. Tentu saja paa yang dilakukan oleh Max tersebut membuat Dalila tersenyum, dan merasa semakin nyaman dalam tidurnya. Max yang melihat hal tersebut tentu saja merasa senang. Sebab itu artinya Dalila memang merasa nyaman berada di sekitarnya, dan sama sekali tidak merasa cemas untuk benar-benar menurunkan kewaspadaannya. Meskipun merasa senang, saat ini kondisi Max tidak terlalu baik.
Hal itu terjadi karena Max memang merasa tersiksa. Saat ini, Dalila berada begitu dekat dengan dirinya. Atau bahkan bisa dibilang begitu menempel pada tubuhnya. Namun, Max tidak bisa melakukan apa pun yang ia inginkan terhadap Dalila. Mengingat situasi yang saat ini tengah terjadi. Max yang berada dalam penampilan Winter, jelas tidak bisa menyentuh Dalila dengan leluasa. Untuk kesekian kalinya, Winter pun mengaing sedih dengan kondisinya sendiri.
Max sama sekali tidak pernah bermimpi atau membayangkan jika dirinya akan berada dalam situasi yang terasa sangat menyedihkan serta memalukan ini. Max kembali menatap istrinya yang tengah terlelap dengan nyenyaknya. “Sepertinya kau benar-benar terlelap dengan nyenyak,” ucap Damien. Merasa gemas sendiri pada tingkah istrinya yang benar-benar tidak peka atas apa yang ia rasakan saat ini.
Dalila memang terlihat sangat nyenyak, hingga membuat Max tidak tega untuk membangunkan istrinya itu. Jadi, pada akhirnya Max berusaha untuk menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang mungkin saja membuat Dalila terbangun dalam tidurnya. Max yakin, jika hal itu tidak akan terlalu sulit baginya yang memang sudah terbiasa bersikap tenang. Mengingat jika sifat tersebut memang pada dasarnya adalah sifat yang ia miliki sejak lahir dan memang sudah mendarah daging dengannya. Sayangnya, apa yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan harapan dan bayangan Max.
Sebab selanjutnya, Max hampir menangis karena merasa kesulitan dengan apa yang sudah terjadi. “Kau benar-benar kejam padaku, Rosie,” ucap Max yang masih berada dalam wujud Winter. Ekspresi Winter saat ini terlihat sangat murung. Bukannya terlihat menyedihkan, hal tersebut malah terlihat sangat menggemaskan. Jika Dalila masih sadar dan melihatnya, tentu saja hal tersebut membuat dirinya merasa sangat gemas dan akan mengecupinya berkali-kali.
Tentu saja Dalila sama sekali tidak memberikan jawaban atas keluhan yang dikatakan oleh Max tersebut. Mengingat jika Dalila memang masih terlelap dengan nyenyaknya di dalam pelukan hangat sosok Winter yang berbulu lebat dan lembut. Harapan Dalila untuk mendapatkan istirahat yang nyaman agar dirinya siap untuk menyongsong hari esok ternyata menjadi kenyataan. Ia memang berhasil menghentikan Max untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka terjaga hingga pagi. Walaupun itu artinya, Dalila membuat Max tersiksa karena dirinya memang harus mati-mati menahan dorongan untuk menyentuh Dalila.
Hal ini tentu saja sangat wajar di antara para pria kaum manusia serigala. Di mana saat mereka sudah tertarik, atau sudah mengklain seorang wanita menjadi milik mereka, mereka akan memiliki rasa tertarik yang begitu besar, yang sebanding dengan hasrat yang mereka untuk wanita mereka. Tentu saja, hal tersebut akan membuat mereka kesulitan untuk menahan diri, agar tidak melakukan kontak fisik berlebih atau menahan hasrat mereka. Rasanya, mereka selalu haus dan merasa kecanduan untuk terus menyentuh dan menyentuh kekasih mereka.
Mereka tentu saja akan sama-sama merasa tersiksa jika berada di posisi yang sama dengan Max kini. Bayangkan saja, Max sudah menahan diri dalam waktu yang lama untuk tidak menyentuh Dalila. Sebab Max ingin istrinya itu fokus dengan apa yang ia lakukan. Apalagi, kemarin jelas ada evaluasi yang sangat penting yang membutuhkan fokus tinggi dari Dalila. Lalu disusul dengan Dalila yang terluka karena kekuatannya kembali meledak dengan hebatnya. Jelas, Max harus fokus terlebih dahulu pada Dalila yang memulihkan diri. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyalurkan hasratnya.
Namun, begitu kesempatan datang, suasana dan kondisi yang mendukung, Max belum bisa menyalurkan seluruh hasrat dan kasih sayangnya pada Dalila yang selama ini terpendam. Lagi-lagi, karena ada situasi yang tidak terduga. Dalila sudha tertidur dengan lelapnya, dan kini ia sendiri berada dalam wujud serigala. Jelas, rasanya tidak mungkin Max bisa menyalurkan hasratnya begitu saja pada Dalila. Jika ia memaksakan diri, rasanya Max sudah bisa memperkirakan masa depan seperti apa yang menantinya di masa depan nanti.
“Aku benar-benar bisa gila jika terus seperti ini,” ucap Max lagi.
Max menatap wajah Dalila yang masih terlihat tenang. Tampaknya tidak terganggu dengan kegelisahan yang menguar dari Max disusul dengan gumaman yang terus saja dilemparkan oleh Max yang merasa sangat tidak berdaya dengan situasi yang tengah terjadi tersebut. Max pun menghela napas panjang sebelum melolong pelan. Merasa jika dirinya benar-benar tidak berdaya dan sangat menyedihkan. Siapa pun yang melihatnya seperti ini, pasti akan merasa iba pada Max.
“Apa aku benar-benar harus berada di sini semalaman?” tanya Max lagi. Merasa ika dirinya hampir tidak bisa menahan diri. Rasanya Max ingin mencari jalan untuk melarikan diri dari istrinya ini.
Rasanya sangat lucu bagi Max, merasakan perubahan perasaan yang sangat ekstrem ini. Semula dirinya sama sekali tidak ingin berjauhan dengan Dalila. Ia cenderung akan mencari jalan untuk mendekat dan melakukan kontak fisik dengan sang istri. Namun, ketika di hadapkan pada situasi di mana dirinya harus menahan diri untuk tidak melakukan kontak fisik yang berlebihan, jelas hal tersebut membuat Max secara alami memilih untuk melarikan diri dari Dalila.
Setidaknya, Max berpikir jika dirinya menjauh dari Dalila, ia sama sekali tidak akan merasa tersiksa atau tertekan. Lebih baik dirinya tidak melakukan kontak fisik apa pun, daripada dirinya harus melakukan kontak fisik yang pada akhirnya membuat dirinya tertekan dan sangat frustasi. Mengingat jika dirinya mendapatkan batasan untuk melakukan kontak fisik yang tidak boleh lebih dari apa yang sudah ditentukan oleh sang istri. Max pun berpikir, jika sebenarnya ia bisa melarikan diri dari Dalila.
Toh, sebelumnya Max hanya berjanji untuk tidak mengubah wujudnya kembali menjadi Max dan tetap berada dalam wujud Winter—sang serigala hitam kesayangan Dalila—semalaman. Itu artinya, Max tidak pernah berjanji untuk tidak meninggalkan Dalila. Jika pun dirinya melarikan diri dari pelukan Dalila saat ini, sudah dipastikan jika dirinya sama sekali tidak melanggar janjinya pada Dalila. Max tidak menjadi pengecut, karena masih menepati janji yang sudah pernah terucap dari bibirnya.
Namun, belum sempat Max melancarkan aksinya, Dalila yang masih terlelap, segera mengeratkan pelukannya. Sepertinya, Dalila yang masih berada di alam bawah sadarnya, mendapatkan firasat buruk jika sang suami akan melarikan diri dari pelukannya. Tentu saja, hal tersebut membuat pergerakan Max semakin dibatasi. Membuat Max benar-benar hampir menjerit dengan sangat frustasi, akibat apa yang dilakukan oleh Dalila membuat dirinya sama sekali tidak bisa melarikan diri dari pelukan istrinya itu.
“Jika niatmu untuk membuatku merasa tersiksa, maka kau berhasil, Dalila. Kau benar-benar sudah berhasil membuatku tersiksa dengan hanya memelukku seperti ini,” ucap Max benar-benar merasa sangat frustasi dengan apa yang terjadi.
Tentu saja Dalila sama sekali tidak mengatakan apa pun, karena ia masih terlelap dengan nyenyaknya. Dalila bahkan mendengkur, tanda jika dirinya memang benar-benar sangat lelap, hingga tidak menyadari apa pun yang tengah terjadi saat ini. Di mana Dalila saat ini tanpa sadar tengah menyiksa Max dengan perlakuannya tersebut. Max meringis, dan menangis tanpa suara. Meratapi nasibnya yang benar-benar terasa sangat menyedihkan.
**
Di ruangan remang-remang, tampak kembali berkumpul beberapa orang yang terlihat dalam kelompok pembelot. Mereka dikenal sebagai petinggi dari para kaum pembelot, yang memang sudah sangat dipercaya untuk memimpin kaum pembelot mewakili Tuan C yang memang tidak selalu berada di markas. Karena identias Tuan C yang sangat misterius, tetapi sangat dipercaya oleh para pengikutnya, tentu saja hal tersebut terjadi karena selama ini Tuan C selalu mengetahui apa pun. Tuan C selalu memiliki langkah tepat untuk mereka menebarkan kekacauan tanpa tertangkap oleh para anggota Asosiasi Kaum Imortal.
Salah satu dari mereka meletakkan sebuah kristal di atas meja yang saat ini tengah dikeliling oleh para petinggi kaum pembelot tersebut. Lalu tak lama, sebuah hologram muncul dari kristal sihir tersebut. Dan Tuan C muncul dari hologram tersebut. Tentu saja para petinggi kaum pembelot memberikan hormat pada Tuan C yang menghubungi mereka menggunakan sihir. Hal seperti ini sama sekali tidak terasa aneh, mengingat jika Tuan C memang sering melakukan hal seperti ini karena tidak bisa hadir secara langsung dalam rapat yang diadakan secara rutin tersebut.
“Salam, Tuan,” ucap mereka semua dengan kompak pada Tuan C yang masih mengenakan jubah bertudung yang menyembunyikan wajahnya dengan sangat sempurna.
Tuan C tidak menjawab hal tersebut dan hanya menatap para bawahannya yang setia. Namun, sepertinya suasana hati Tuan C sama sekali tidak berada dalam situasi yang baik. Ia pun segera berkata, “Kenapa kalian semua sangat tidak berguna? Jika kalian memang tidak berniat untuk membantuku, lebih baik ke luar saja dari kelompok kita.”
Tentu saja hal tersebut terjadi karena Tuan C memang tidak senang dengan hasil kerja para bawahannya. Sebelumnya, ia memang sudah memberikan sebuah tugas pada mereka. Namun, mereka tidak melaksanakan tugas yang ia berikan dengan baik. Hal tersebut jelas membuat Tuan C merasa sangat kesal. Selain itu, memang sebenarnya ada hal yang membuat Tuan C kesal. Namun sepertinya Tuan C dengan sengaja melampiaskan kekesalannya pada para bawahannya.
Meskipun menyadari hal itu, mereka tidak berkomentar mengenai perasaan tidak adil itu. Mereka memilih untuk berlutut dan memohon maaf atas kesalahan mereka. “Maafkan kami, Tuan C! Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya!” seru mereka dengan sangat kompak.
Tampaknya, suasana hati Tuan C masih belum membaik. Hal tersebut membuat para pengikut menahan napas mereka. Merasa sangat tidak tenang dengan situasi yang terasa tidak nyaman itu. Tentu saja hal tersebut membuat mereka berusaha untuk kembali meminta maaf. Tuan C pun memberikan isyarat yang membuat mereka seketika terdiam. “Jika kalian memang ingin mendapatkan maaf dariku, maka sekarang dengarkan aku baik-baik,” ucap Tuan C dengan aura menekan.
Meskipun Tuan C tidak hadir di sana semua tekanan dan auranya terasa begitu kental di sana. Membuat para pengikut sama sekali tidak bisa mengangkat pandangan mereka pada Tuan C. Mereka juga sadar, hal inilah yang memang membuat Tuan C tepat untuk dipilih menjadi seorang pemimpin. Tuan C memiliki sebuah kuasa dan kekuatan yang sebanding dengan Max sekali pun, yang terkenal sebagai sosok yang paling kuat saat ini.
“Baik, Tuan. Kami akan mendengarkannya dengan baik-baik,” ucap para pengikut berkata pada Tuan C bahwa mereka sudah siap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Tuan C selanjutnya.
Ternyata, Tuan C pun merasa sangat puas dengan kesetiaan yang ditunjukkan oleh para pengikutnya. Ia pun menyeringai dan berkata, “Sekarang, bersiaplah. Rencana besar kita akan benar-benar dimulai. Harapan kita untuk menguasai dunia dan menjadikan manusia sebagai b***k kita akan segera terwujud. Kita, akan segera menjadi penguasa yang sesungguhnya. Ini adalah waktunya kita menunjukkan kekuatan sesungguhnya yang dimiliki oleh kaum immortal.”