“Ah, nyamannya,” gumam Dalila saat dirinya baru selesai merapikan diri setelah mandi, lalu segera berbaring di atas ranjangnya dengan Damien yang memang sangat luar.
Sia tentu saja ada di ruangan tersebut bisa mendengar hal tersebut dan hanya mengulum senyum sebelum beranjak untuk merapikan beberapa barang yang sebelumnya digunakan oleh Dalila. Selama seminggu ini, Dalila memang lebih senang menghabiskan waktunya di dalam kamar. Karena mendapatkan waktu libur, tentu saja Dalila berhak untuk menggunakannya untuk melakukan apa pun yang ia inginkan. Termasuk untuk bermalas-malasan seperti ini. Karena Max sendiri sudah memberikan izin padanya.
“Ini hari ke tujuh?” tanya Dalila memastikan apakah perhitungannya sebeumnya sudah benar atau belum. Namun, Dalila berharap jika perhitungannya salah dan masih tersisa banyak waktu libur untuknya.
Sia yang mendengar pertanyaan tersebut pun menjawab, “Benar, Nyonya. Ini hari ke tujuh, hari terakhir liburan Nyonya. Dan esok Nyonya harus kembali beraktifitas seperti biasanya. Sepertinya Nyonya akan kembali berlatih dengan jadwal baru bersama Tuan Max dan Tuan Julion.”
Mengingat jika dirinya harus kembali pada aktifitas yang melelahkan, tentu saja Dalila agak malas. Rasanya ia ingin lebih lama bermalas-malasan dan menikmati waktunya ini. Dalila menghela napas, karena ia sadar apa yang ia inginkan tersebut sama sekali tidak bisa terjadi. Mengingat jika dirinya memang harus segera kembali pada aktifitasnya, ketika liburannya selesai. Karena hari ini adalah hari libur terakhirnya, Dalila berpikir jika dirinya harus melakukan sesuatu yang istimewa.
Dalila pun mengubar posisinya menjadi duduk dan menghadap Sia yang rupanya juga baru menyelesaikan pekerjaannya. “Sia, kiar-kira apa yang harus kulakukan?” tanya Dalila.
Sia tentu saja bingung mendapatkan pertanyaan tersebut. “Nyonya ingin melakukan hal apa? Jika memungkinkan, mungkin saya akan membantu Nyonya untuk melakukan hal tersebut. Tentu saja selagi hal itu tidak berbahaya bagi Nyonya,” jawab Sia.
Dalila pun memikirkan hal apa yang sekiranya cocok untuk ia lakukan di hari terakhir liburnya ini. Jelas Dalila harus melakukan hal menyenangkan yang tidak bisa lakukan secara bebas di hari-hari biasanya biasa karena tugasnya yang harus berlatih dan mengelola kekuatannya yang masih belum sepenuhnya terkendali. Lalu Dalila pun teringat dengan sebuah kegiatan yang rasanya sudah sangat lama tidak ia lakukan. Kegiatan itu tak lain adalah memasak.
“Aku sudah mendapatkan ide. Aku sudah memutuskan akan melakukan apa untuk hari libur terakhirku ini,” ucap Dalila tampaknya semangat dengan apa yang akan ia lakukan.
Sia yang melihat hal tersebut belum bisa menebak apa yang direncanakan oleh Dalila. Mengingat sebelumnya, Dalila sama sekali tidak memiliki aktifitas yang berlebihan di hari liburnya. Ia memilih untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan di dalam kamar, dan menikmati waktunya seorang diri untuk menonton film serta menikmati camilan lezat. Jadi, kini Sia bertanya-tanya apa yang Dalila rencanakan. Atau lebih tepatnya, kegiatan apa yang sudah dipilih oleh Sia untuk menghabiskan hari liburnya ini.
“Jadi, apa yang Nyonya ingin lakukan?” tanya Sia pada akhirnya. Tentu saja sebagai seorang pelayan pribadi, Sia akan terus mendampingi Daila dan membantu Dalila untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Lalu Dalila pun menjawab, “Aku ingin memasak.”
Mendengar itu pun, Sia terkejut. Tentu saja dirinya terkejut karena tidak menyangkan Dalila akan memutuskan hal ini sebagai cara dirinya untuk menghabiskan hari liburnya. Sia memang pernah mendengar kemampuan memasak Dalila yang cukup baik. Namun, tetap saja rasanya kurang pantas untuk membuat Dalila masuk ke dalam dapur dan memasak. Mengingat jika saat ini Dalila adalah seorang nyonya besar, seorang Luna di mana dirinya harusnya hidup dengan nyaman dan dilayani orang-orang. Masuk ke dapur, tentu saja rasanya tidak cocok dengan status Dalila yang tinggi.
“Memangnya Nyonya ingin memakan apa? Jika memang ingin menikmati makanan tertentu, Nyonya bisa mengatakannya saja pada saya. Biar saya dan staf dapur yang akan menyiapkan makanan tersebut. Nyonya tidak perlu masuk ke dapur dan memasaknya sendiri,” ucap Sia mulai membujuk Dalila untuk mengurungkan niatnya.
Sayangnya, Dalila sama sekali tidak ingin mengurungkan niatnya. Bukannya Dalila tidak senang atau tidak puas dengan makanan yang dibuat oleh para staf dapur. Makanan buatan mereka selalu lezat dan membuat dirinya senang. Hanya saja, Dalila kini merasa rindu untuk memasak dan makan makanan yang ia masak sendiri. Meskipun jelas tidak bisa dibandingkan dengan masakan para profesional, tetapi dirinya tetap ingin menikmati makanan yang ia buat sendiri. Mengingat jika sebelumnya ia selalu menikmati makanan yang ia buat dengan tangannya sendiri.
“Tidak perlu. Aku ingin memasaknya sendiri, jadi tidak perlu memikirkan atau mencemaskanku. Jadi, tolong antarkan aku ke dapur,” ucap Dalila.
Sia menggeleng tegas. “Dapur itu bukan yang tempat yang aman. Rasanya lebih baik Nyonya mengatakan apa yang ingin Nyonya makan, dan saya yang akan menyiapkannya. Tuan Max juga pasti tidak akan senang dan mengizinkan Nyonya untuk masuk ke dapur yang berbahaya,” ucap Sia.
Dalila yang mendengar hal itu pun menggeleng. “Kau salah, Max sama sekali tidak akan marah atau melarangku untuk melakukan hal tersebut. Karena Max sendiri yang mengatakan jika aku boleh melakukan apa pun yang ingin kulakukan. Berarti, aku bisa masak atau masuk ke dapur dengan sesuka hati,” ucap Dalila.
“Tapi, Nyonya,” ucap Sia tampakya masih belum bisa mengizinkan Dalila pergi ke dapur.
Tentu saja Dalila bisa merasakan hal tersebut. Ia pun pada akhirnya berkata, “Jika kau masih tidak yakin, kau bisa bertanya pada Max saja terlebih dahulu. Pastikan apakah aku boleh, atau tidak untuk pergi ke dapur.”
Pada akhirnya, Sia pun kalah dan membawa Dalila untuk mengunjungi dapur. Sia tentu saja sudah mengurus izin untuk menggunakan dapur. Begitu Dalila masuk ke dapur, para staf dapur dan kepala koki memberikan hormat pada Dalila. Tentu saja mereka memang merasa sangat senang dengan kunjungan Dalila. Karena baru pertama kali Dalila mengunjungi dapur utama yang jelas terpisah dengan dapur bersih yang berada di dalam bangunan di mana Dalila dan Max tinggal.
Meskipun mereka merasa senang dengan kehadiran Dalila di sana, di sisi lain mereka juga merasa gugup. Sebelumnya, Sia sudah berkata pada mereka bahwa Dalila datang ke dapur untuk meminjam dapur beberapa saat karena ingin memasak sesuatu. Tentu saja secara alami koki dan para staf dapur lainnya berpikir jika masakan mereka tidak lezat dan tidak bisa memuaskan Dalila. Padahal, tugas mereka hanya menyediakan hidangan lezat untuk Dalila dan Max, karena ada orang lain yang bertanggung jawab menyiapkan hidangan untuk para anggota kaum yang bekerja di sana.
“Kenapa kalian terlihat sangat gugup?” tanya Dalila. Saat melihat para staf dapur yang memang terlihat sangat gugup seperti tengah berhadapan dengan sesuatu yang terasa sangat menakutkan. Apa mungkin, Dalila terlihat menakutkan di mata mereka?
Lalu kepala koki pun menjawab, “Selamat datang di dapur kami, Nyonya. Kami jelas gugup dan antusias karena Nyonya berkunjung ke tempat di mana kami biasanya bekerja dan menghabiskan sebagian besar kami.”
Dalila yang mendengar jawaban sopan itu pun mengangguk. “Tidak perlu merasa cemas seperti itu. Aku hanya akan memasak sebentar dan pergi setelah itu. Sebelumnya, tentu saja aku meminta maaf karena mengganggu kalian seperti ini. Kalian mengizinkanku untuk menggunakan dapur ini untuk beberapa saat bukan?” tanya Dalila.
“Tentu saja, Nyonya. Setiap sudut di mansion ini adalah milik Nyonya. Bagaimana mungkin kami melarang Nyonya untuk melakukan sesuatu,” ucap kepala koki.
Namun, Dalila jelas melihat jika ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh kepala koki. Namun, sepertinya kepala koki masih memiliki hal yang ingin ia katakan pada Dalila. Sebagai seseorang yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan penyedia jasa keamanan. Hal tersebut membuat Dalila bisa menyadari dan mengerti apa yang dirasakan oleh kepala koki tersebut. Ia pun segera berkata, “Katakan apa yang ingin kau katakan.”
Kepala koki itu pun terkejut, karena Dalila mengatakan hal tersebut padanya. Dalila ternyata benar-benar memiliki sisi yang tidak terduga dalam dirinya. Dalila memiliki sisi lembut yang mungkin memang bisa menyeimbangkan sisi keras dalam diri Max. Jelas, Dalila terlihat sebagai seseorang yang memang pantas untuk mendampingi Max sebagai seorang pemimpin kaum manusia serigala. Ia bisa menjadi sosok contoh bagi para wanita di dalam kaum tersebut.
Merasa jika Dalila memang sudah mempersilakannya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan, kepala koki pun berkata, “Kami bukannya tidak merasa senang Nyonya berkunjung ke dapur, atau menyangsikan kemampuan memasak Nyonya. Hanya saja, kami berpikir apakah selama ini masakan yang sudah kami buat tidak sesuai dengan selera Nyonya, hingga membuat Nyonya harus bersusah payah untuk memasak sendiri demi mendapatkan makanan yang sesuai dengan Nyonya.”
Mendengar apa yang dipikirkan oleh kepala koki, Dalila pun terkejut. Ia tidak berpikir jika mereka bisa menyimpulkan hal tersebut. Dalila pun mengulum senyum lembut dan berkata, “Kalian tidak perlu cemas. Kalian memiliki kemampuan memasak yang sangat baik. Bahkan kemampuan memasakku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kalian. Kalian membuatku berkesempatan menikmati masakan lezat yang bahkan tidak pernah kumimpikan bisa kunikmati.”
Pujian yang diberikan oleh Dalila sedikit banyak berhasil membuat ekspresi kepala koki dan staf dapur lainnya terlihat bahagia. Tentu saja bagi mereka, mendapatkan pujian yang berkaitan dengan hasil memasak mereka, adalah hal yang sangat membahagiakan. Hanya saja, masih merasa cemas. Jika mereka memang sudah memuaskan selera Dalila, mengapa Dalila masih datang untuk memasak sendiri? Apa mungkin yang dikatakan oleh Dalila barusan adalah sebuah kebohongan?
“Aku hanya datang untuk sedikit mengobati kerinduanku pada kegiatan yang sering kulakukan dulu. Seperti yang kalian tau, aku dulu tidak memiliki kehidupan senyaman ini. Aku terbiasa untuk memasak dan memakan masakanku sendiri. Aku merindukan momen itu, karena itulah aku datang untuk mengobati rasa rinduku.”
Semua orang pun dibuat mengerti dengan penjelasan Dalila tersebut. Sia yang berada di sana pun merasa mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Dalila tersebut. Namun, Sia rasa jika Dalila sebenarnya tidak perlu menjelaskan hal ini secara detail pada mereka semua. Mengingat jika Dalila memiliki posisi dan kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka semua. Perkataan Dalila adalah hukum bagi mereka semua.
Namun, Dalila memilih untuk repot-repot menjelaskan semua hal itu pada mereka semua. Tentu saja hal tersebut menunjukkan bahwa Dalila menghargai mereka semua. Tentunya apa yang dilakukan oleh Dalila tersebut membuat semua orang merasa sangat terharu. Mereka benar-benar merasa dihargai dan rasanya ada perasaan hangat yang mengisi hati mereka semua.
Kepala koki pun segera berkata, “Nyonya bisa memakai dapur dengan sepuasnya. Namun, kami akan tetap di sini untuk memastikan jika Nyonya sama sekali tidak terluka karena apa pun. Meskipun terlihat biasa, tetapi dapur adalah tempat yang cukup berbahaya.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh kepala koki, Dalila pun tersenyum. “Terima kasih atas perhatian kalian semua,” ucap Dalila.
Setelah itu pun Dalila beranjak untuk menuju tempat penyimpanan bahan makanan yang berupa lemari pendingin. Saat Sia membukakan pintu lemari pendingin, Dalila dibuat dengan sangat takjub karena isi lemari pendingin yang memang terlihat sangat komplit. Rasanya Dalila belum pernah melihat semua bahan itu berkumpul di satu tempat yang sama, kecuali di super market. Dalila sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya hingga Dalila pun berkata, “Wah, ini benar-benar menakjubkan.”
Sia yang melihat rasa takjub tersebut tentu saja mengulum senyum. Ia pun bertanya, “Jadi, apa yang akan Nyonya masak?”
Dalila melipat kedua tangannya di depan dadannya dan berkata, “Melihat semua bahan yang kita miliki, sepertinya aku bisa memasak banyak menu yang aku inginkan.”
Dalila menggunakan beberapa saat untuk memikirkan apa yang akan ia masak. Lalu Dalila pun tersenyum setelah memutuskan apa yang akan ia masak. “Baik, aku sudah memutuskan apa yang akan aku masak. Sia, bantu aku.”
Lalu setelah itu Dalila pun menatap semua staf dapur dan berkata, “Dan kalian semua, jangan berpikir untuk menyentuh pekerjaan apa pun selama aku belum selesai memasak.”
Kepala koki dan semua staf dapur yang mendengar hal itu tentu saja merasa gugup. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan tentu saja itu sangat tidak nyaman. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa pun. Mengingat jika Dalila memiliki kuasa di sana. Kini, mereka hanya bisa melihat dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh Dalila selanjutnya, sekaligus berdoa jika hal buruk tidak terjadi.