Perasaan Julion 2

1866 Words
“Syukurlah, tidak ada hal buruk mengenai kondisimu. Kau benar-benar membuatku cemas,” ucap Max sembari mengusap pipi Dalila dengan lembut. Tidak hanya mengusap, tetapi juga mencubit dan memainkan pipi Dalila yang putih bersih. Hal itu membuat Dalila yang sebenarnya tengah makan, merasa jengkel. Ia pun menampar tangan Max dan membuatnya menjauh darinya. Max yang enggan untuk menjauh dari Dalila malah berganti dengan cara memeluk istrinya itu. Tentu saja hal tersebut membuat Dalila merasa semakin kesal. “Astaga, aku sedang makan, Max!” seru Dalila jengkel bukan main. Max yang mendengarnya  pun mengangguk. “Ya, aku tau kau tengah makan. Lalu kenapa?” tanya Max seolah-olah tidak mengerti kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat Dalila merasa sangat jengkel seperti saat ini. Dalila yang mendengarnya memutar bola matanya. Merasa sangat jengkel karena sikap tidak tahu malu suaminya itu. Sementara Danke dan Sia yang memang masih berada di dalam kamar tersebut, diam-diam mengulum senyum. Melihat tingkah manis Max terhadap Dalila. Mungkin Dalila tidak tahu apa yang terjadi saat dirinya tidak sadarkan diri, tetapi semua orang terutama Danke dan Sia yang menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri. Max terus bersikap dingin para para tetua yang membantu dalam penyembuhan Dalila yang sempat tidak sadarkan diri dalam beberapa hari. Setelah para tetua memberikan pengobatan pada Dalila, Max pun segera mengusir mereka pada detik itu juga. Lalu Max memberikan perintah tegas untuk tidak mengizinkan siapa pun untuk memasuki area kekuasannya, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Setelah itu, Max pun fokus untuk mendampingi Dalila yang masih tidak sadarkan diri. Untungnya Dalila memang tidak memiliki luka apa pun yang membuat Max harus cemas. Dalila hanya perlu waktu untuk memulihkan diri dan energinya yang terkuras habis karena ledakan kekuatannya saat evaluasinya beberapa hari yang lalu. Namun, Max tetap mencurahkan semua fokus dan perhatiannya hanya untuk Dalila. Max tidak meninggalkan sisi Dalila barang sejenak pun. Seakan-akan takut jika Dalila terbangun tanpa ada dirinya di sana. Semua itu tentu saja membuktikan, bahwa Dalila memang menduduki posisi penting dalam hati Max. Sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang baru, mengingat jika keduanya adalah pasangan yang sudah ditakdirkan. Di mana Sang Pencipta sendiri yang sudah membuat semuah garis takdir yang memungkinkan keduanya untuk berbagi perasaan serta cinta kasih yang dalam satu sama lain. Namun, melihat Max yang bersikap seperti ini, tetap saja terara mengagumkan bagi mereka yang memang sudah mengenal Max sejak lama. “Jika kau terus seperti ini, aku tidak bisa melanjutkan makanku,” keluh Dalila karena dirinya memang sangat lapar dan ingin menghabiskan makanan lezat yang disiapkan oleh kepala koki secara khusus untuknya. Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, tentu saja Dalila merasa sangat lapar. Begitu ada makanan lezat yang sudah disiapkan untuk memanjakan lidah dan mengisi perutnya, tentu saja Dalila merasa jengkel jika kegiatan menyenangkannya terganggu. Dalila terlihat sangat jesal, hingga membuat Max pun tidak kuasa untuk menahan diri mengecup pipi Dalila. Membuat Dalila menatap suapinya dengan jengkel. “Apa yang kau lakukan?” tanya Dalila tajam. Menunjukan rasa jengkelnya yang tidak main-main terhadap Max. “Apa lagi? Tentu saja menunjukkan rasa cintaku pada istriku ini,” jawab Max tidak tahu malu membuat Dalila yang mendengar hal itu merinding bukan main. “Kau benar-benar membuatku merasa geli. Sekarang menjauh! Aku ingin menghabiskan makananku,” ucap Dalila masih merengek meminta Max untuk melepaskan pelukannya. Karena pelukan Max memang membatasi pergerakannya dan membuat Dalila tidak bisa menghabiskan makanan yang sangat ingin ia habiskan itu. “Biar aku yang menyuapimu,” ucap Max lalu meraih alat makan Dalila. Ia benar-benar berniat untuk menyuapi Dalila. “Apa kau pikir aku adalah anak kecil?” tanya Dalila jengkel. “Tidak. Kau adalah istriku. Jadi, ayo makanlah,” ucap Max memaksa Dalila untuk menerima suapannya. Jujur saja Dalila enggan untuk menerima suapan tersebut. Karena itu memang terasa sangat memalukan. Namun, Max sama sekali tidak akan membiarkan Dalila pergi begitu saja sebelum memenuhi apa yang ia inginkan. Dalila lebih dari yakin mengenai hal tersebut. Jadi, pada akhirnya suka atau tidak, Dalila menerima suapan dari Max. Toh, ia juga sangat lapar. Max tentu saja merasa sangat senang karena Dalila memilih untuk menurut dan menerima suapannya. Dalila makan dengan lahap hingga Max pun memulai pembicaraan lagi. “Para tetua menyatakan jika kau lolos dari evaluasi,” ucap Max membuat Dalila mengangguk. Menurut Dalila sendiri, rasanya tidak masuk akal jika dirinya tidak lolos dari evaluasi tersebut. Mengingat jika dirinya saja sudah mengalahkan lawannya. Elle memang kalah telak dari Dalila. Meskipun Dalila melawan Elle ketika dirinya kembali mengalami ledakan energi, tetapi kini Dalila memang mengingat apa yang terjadi dengan baik. Dalila bahkan merasa jika dirinya cukup hebat kala itu. “Meskipun begitu, kau tetap harus mengikuti pelatihan. Kini kita akan fokus dengan melatih pengendalianmu pada kekuatan tranformasimu. Kau tentu saja tidak bisa terus menerus mengalami ledakan energi dan jatuh tidak sadarkan diri seperti ini. Karena bisa saja ini akan berbahaya untuk kondisi kesehatanmu,” ucap Max. Dalila mengangguk sembari menerima suapan dari Max. Rasanya Dalila terlihat seperti anak burung yang sibuk untuk mengisi perutnya. Hingga tidak memiliki waktu untuk menjawab perkataan Max. Meskipun terlihat sangat tidak sopan karena mengabaikan perkataan Max, tetapi Max tidak peduli. Terlihat sangat menggemaskan rasanya di mata Max. “Aku ingin dagingnya,” ucap Dalila meminta Max untuk memberinya daging yang rasanya memang sangat lezat sesuai dengan selera Dalila. Max pun menuruti apa yang diminta oleh Dalila. Ia pun menyuapi Dalila dengan makanan yang diinginkan oleh sang istri. Melihat Dalila yang makan dengan lahap, tentu saja membuat Max merasa sangat lega. Setidaknya Dalila sudah makan dengan lahap, dan itu tentu saja baik bagi pDalilas pemulihan Dalila. “Kau memiliki waktu untuk beristirahat selama satu minggu untuk memulihkan diri secara maksimal sebelum kembali berlatih seperti biasanya,” ucap Max. “Berarti aku memiliki waktu untuk bermalas-malasan selama beberapa hari,” ucap Dalila  membuat Max menghela napas. Dalila memang rajin saat bekerja atau berlatih. Namun, saat Dalila mendapatkan waktu libur dan istirahat, maka Dalila akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk istirahat. Atau lebih tepatnya bermalas-malasan. Dalila hanya akan menonton televisi, berbaring, dan makan makanan yang ia sukai. Melakukan apa pun yang ia sukai untuk menghabiskan waktu liburnya. “Ya, kau bisa menggunakan waktu liburmu dengan cara apa pun. Termasuk malas-malasan sekali pun. Karena menurutku itu memang cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktu liburmu, daripada kau menghabiskan waktu di luar mansion,” ucap Max lalu menyeka noda pada sudut bibir Dalila. Jujur saja Dalila masih merasa tidak terbiasa dengan sikap Max yang jauh lebih lembut daripada biasanya ini. Namun, Dalila tidak bisa menolaknya. Selain karena melihat jika sikap yang ditunjukkan oleh Max ini bukanlah sikap pura-pura, alias sikap penuh ketulusan. Dalila juga merasakan jika hati kecilnya merasa senang dengan semua perhatian yang diberikan oleh Max. Walaupun sebenarnya menurut Dalila, Max terkadang terlalu berlebihan. “Tapi sepertinya waktu libur ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan hal lain,” ucap Max. Dante yang menyadari apa yang akan dibicarakan oleh sang tuan, segera membawa Sia untuk meninggalkan kamar utama tersebut. Sementara Max kini sudah membawa Dalila untuk duduk di atas pangkuannya. Tentu saja Dalila melotot, karena selain terkejut, ia juga tidak mengerti mengapa Max melakukan hal ini. Sembari mencengkram kedua bahu Max, Dalila pun bertanya, “Kenapa kau melakukan hal ini? Jangan bertingkah macam-macam!” “Tidak mau. Aku mau melakukan hal macam-macam pun, rasanya tidak masalah. Toh aku melakukannya dengan istriku sendiri,” jawab Max dengan menyunggingkan senyuman dan berusaha untuk mencium Dalila. Saat itulah Dalila berusaha menghindar dan menahan wajah Max agar tidak mendekat padanya. Ia pun menoleh panik ke arah di mana Dante dan Sia sebelumnya berdiri, menunggu perintah selanjutnya dari mereka. Namun, Dante dan Sia sudah berada di sana. Membuat Dalila mengernyitkan keningnya, bertanya-tanya sejak kapan keduanya pergi. Kenapa dirinya tidak menyadari kepergian keduanya? Namun saat Dalila lengah itu, Max pun menyingkirkan jarak antara dirinya dan Dalila dan menanamkan sebuah ciuman tepat pada bibir Dalila. Tentu saja Dalila segera berniat untuk melemparkan protes pada suaminya itu. Namun, Max sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Dalila untuk melakukan hal tersebut. Mengingat Max malah memperdalam ciuman mereka, membuat Dalila benar-benar kehilangan kuasa terhadap dirinya sendiri. Dalila pun melemah dalam pelukan Max, dan memutuskan untuk menerima ciuman manis dari suaminya itu. Dalila melingkarkan kedua tangannya pada leher Max, dan hal itu membuat Max berbisik di sela-sela ciumannya dengan sang istri, “Aku akan memastikan jika waktu liburmu akan terasa lebih menyenangkan.” Selama satu minggu itu, Max berusaha untuk bersikap manis dan penuh perhatian pada Dalila. Meskipun terkesan kaku karena pada dasarnya itulah sifatnya, Max tetap berhasil untuk mendapatkan hati sang istri. Sebab Dalila sendiri bisa merasakan ketulusan Max disetiap tindakan dan perlakuannya. Max mampu meluluhkan hati Dalila dengan kejujurannya. Tentu saja hubungan Dalila dan Max menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Keduanya menjadi lebih dekat, dan tentu saja itu adalah kabar baik bagi mereka semua. Max jelas harus berterima kasih pada Dante dan Sia yang mengambil andil besar terhadap hal tersebut. Jika Max tidak mendapatkan saran dari kedua orang itu, sudah dipastikan jika tidak aka nada kemajuan dalam hubungannya dengan Dalila. Saat ini saja, Dalila masih bergelung di dalam pelukan Max setelah melakukan sesuatu yang menyenangkan di atas ranjang. Max mencium pundak mulus Dalila yang tidak tertutupi apa pun dengan senyuman yang membuatnya terlihat sangat bahagia. Namun, ternyata waktu yang menyenangkan tersebut terinterupsi dengan Dante yang melaporkan kedatangan Julion melalui sihir telepati. Max yang menyadari hal itu pun segera memberikan perintah khusus pada Dante. Ia meminta Dante untuk tetap memblokir kedatangan Julion. Sebab Max, tidak ingin Julion bertemu dengan Dalila. Sebisa mungkin, ke depannya Max akan membuat interaksi antara Julion dan Dalila semakin singkat saja. Dante yang menerima perintah tersebut segera memasang senyum pada Julion. Ia memblokir jalan Julion secara langsung dan berkata, “Tuan Julion, Anda masih belum mendapatkan izin untuk memasuki area kekuasaan kami. Nyonya Dalila juga belum bisa ditemui. Karena beliau harus tetap beristirahat total selama satu minggu, jadi ia belum bisa menemui tamu.” Julion yang mendengar hal itu tentu saja mengernyitkan keningnya. Sebenarnya ia agak jengkel dengan apa yang terjadi. Ia sudah lama berusaha untuk mengunjungi daerah kekuasaan Max untuk menemui Dalila. Julion sebagai seorang guru memang berusaha untuk memastikan kondisi kesehatan Dalila apakah anak didiknya itu sudah membaik apa belum. Namun, ternyata untuk kesekian kalinya ia ditolak. Julion tentu saja tahu jika ini adalah ulah dari Max yang tidak ingin Dalila bertemu dengannya. Meskipun jengkel, Julion berusaha untuk mengendalikan perasaannya agar tidak melakukan kesalahan yang mungkin saja membuat sebuah masalah besar. Julion pada akhirnya tidak bisa menahan diri untuk mengingat perkataan Joe padanya. Julion mengepalkan keduan tangannya erat-erat, walaupun wajahnya yang tampan dihiasi oleh sebuah senyuman manis yang memukau. “Baiklah, aku tidak akan memaksa. Sampaikan saja salamku pada Dalila. Semoga kondisinya cepat membaik dan bisa kembali berlatih lagi,” ucap Julion lalu berbalik untuk menyembunyikan perasaan yang saat ini ia rasakan. Julion jelas harus berhati-hati. Ia tidak boleh sampai membuat siapa pun menyadari perasaannya terhadap Dalila. Sudah cukup hanya Joe yang menyadarinya. Karena Joe saja sudah sangat mempersulit dirinya. Ditambah dengan Max yang juga sudah sangat protektif dan tidak membiarkan Joe berlalu lalang di sekitar Dalila dengan leluasa. Seakan-akan Max sudah mengendus perasaan Julion yang sesungguhnya terhadap Dalila. Jangan sampai dirinya menjadi benar-benar tidak bisa berinteraksi dengan Dalila, ketika semua orang menyadari perasaan yang ia miliki terhadap Dalila.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD