Perasaan Julion 1

1868 Words
Julion terlihat sudah siap dengan pakaiannya yang rapi. Ia berniat untuk berangkat menuju daerah kekuasaan manusia serigala. Bukan untuk mengajar Dalila. Melainkan untuk memastikan kondisi Dalila yang kemarin jatuh tidak sadarkan diri setelah evaluasi kemampuannya setelah berada dalm pelatihannya. Dalila mengejutkan semua orang dengan kemajuan pesatnya. Namun, ia juga mengejutkan dengan cara terbatuk darah dan pada akhirnya jatuh tidak sadarkan diri. Hingga saat ini Julion dan para tetua yang lainnya memang belum mengetahui kondisi Dalila. Hal tersebut membuat Julion terdorong untuk pergi dan mengetahui kondisi Dalila. Karena mengirim pesan sangat mustahil untuk mendapatkan balasan dari Max, maka Julion memutuskan untuk pergi saya ke kediaman Max. Ia akan merasa tenang jika sudah memeriksa sendiri kondisi Dalila secara langsung. Sayangnya, langkah Julion dihalangi oleh sang adik yang memang berdiri di tengah jalan yang akan ia lewati. Julion mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Ada adap lagi, Joe?” Joe tidak segera menjawab dan memilih untuk menatap kakaknya dalam diam. Tatapan yang tentu saja membuat Julion agaknya merasa gugup dengan tatapan tajam yang diberikan oleh sang adik. Beberapa saat kemudian Joe pun menjawab, “Ada yang ingin kubicarakan, Kak.” Jawaban yang membuat Julion hampir saja tidak bisa menahan diri untuk menghela napas. Tentu saja jika boleh jujur, Julion sama sekali tidak ingin meluangkan waktunya berbicara dengan Joe. Bukannya ia benci atau tengah marah pada adiknya itu. Hanya saja saat ini Julion ingin bergegas untuk menemui Dalila. Julion ingin memastikan kondisi Dalila secepat mungkin. Karena ia terus saja merasa gelisah karena belum mengetahui kondisi Dalila. Namun, jelas Julion tidak bisa mendorong adiknya mundur begitu saja. Kini, hanya Joe satu-satunya keluarga yang ia miliki. Karena itulah Julion harus berusaha untuk menjaga hubungannya agar tetap baik dengan sang adik. Jadi, pada akhirnya Julion mengangguk. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sepagi ini?” tanya Julion tidak berniat untuk beranjak ke tempat lain. Karena ia rasa di sana juga terasa nyaman untuk berbicang. “Berhentilah menjadi pengajar Dalila,” ucap Joe dan kali ini Julion sama sekali tidak menahan diri untuk menghela napas. Tentu saja Julion merasa bosan dengan pembahasan ini. Bukan karena dirinya bosan terhadap Dalila. Melainkan dirinya bosan dengan Joe yang terus memintanya untuk berhenti menjadi guru dari Dalila. Sekan-akan Joe bisa mengatur perasaannya dengan meminta Julion melakukan hal seperti itu. “Kenapa kau masih saja bersikukuh untuk membuatku berhenti dari tugas ini, Joe? Lebih baik kau saja yang berhenti untuk mengurus apa yang aku lakukan dan apa yang tidak kulakukan,” ucap Julion jelas-jelas tengah jengkel dengan sikap adiknya. Ekspresi Julion bahkan terlihat sangat gelap. Tanda jika dirinya sama sekali tidak bisa mengendalikan kemarahannya saat ini. Joe tentu saja belum pernah berhadapan dengan kakaknya yang seperti ini. Namun, Joe tidak bisa mundur begitu saja. Joe jelas harus melakukan apa pun yang harus ia lakukan demi membuat sang kakak mundur dari hal yang bisa membawa bencana di masa depan. “Karena aku jelas harus mencegah bencana yang mungkin saja terjadi di masa depan, Kak,” jawab Joe tenang. Seakan-akan dirinya tidak terpengaruh dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh Julion saat ini. Joe memang harus bersikap tenang jika ingin menyelesaikan pembicaraan tersebut dengan sang kakak. “Bencana? Apa kau masih saja berpikir bahwa aku memiliki perasaan pada Dalila dan memintaku untuk berhenti karena masalah itu? Kenapa itu membuatmu cemas? Toh Dalila bebas untuk menentukan dengan siapa dirinya ingin menjalani hidup. Dan itu tidak menutup kemungkinan jika pada akhirnya Dalila memutuskan untuk berpaling dari Max lalu memilih diriku,” ucap Julion menekankan kemungkinan dalam perkataannya. Joe sudah memperkirakan bahwa sang kakak akan mengatakan hal seperti ini padanya. Dan tentu saja Joe sudah mempersiapkan apa yang harus ia katakan selanjutnya agar kakaknya benar-benar mendengarkan apa yang ia katakan. “Seharusnya Kakak belajar dari masa lalu. Jangan hanya berpikir dan melihat semuanya dari satu sisi. Ingat, Kakak juga pernah melakukan hal yang sama di masa lalu, dengan mengganggu Max. Kakak membuat kesalahan yang pada akhirnya membuat Max membenci Kakak hingga seperti ini,” ucap Joe. Mendengar Joe yang mulai mengungkit masa lalu, membuat Julion benar-benar merasa sangat jengkel. “Apa sekarang kau tengah berusaha mengungkit masa lalu? Dan apakah sekarang kau juga tengah melakukan hal yang sama dengan para kaum serigala? Kau menyalahkanku karena kematian Alpa dan Luna terdahulu yang tak lain adalah orang tua Max?” tanya Julion jelas-jelas tengah menuduh sang adik. Di masa lalu, memang ada sebuah insiden yang membuat kesalahpahaman besar di antara Max dan Julion. Lebih tepatnya, kesalahpahaman yang dirasakan oleh Max mengenai kematian kedua orang tuanya, dan menyalahkan hal tersebut pada Julion karena memang ada insiden yang membuat Max secara alami berpikir bahwa Julion terlibat atau malah sosok yang paling bertanggung jawab atas insiden tersebut. Julion pikir, Joe tidak akan memiliki pemikiran seperti itu terhadap dirinya. Setidaknya, Joe harus berdiri di sisinya, saat semua orang tidak memiliki kepercayaan apa pun terhadap dirinya. “Kakak tau jika bukan itu yang kumaksud,” ucap Joe penuh arti. Joe tahu jika kakaknya adalah seseorang yang cerdas. Mana mungkin ia tidak mengerti dengan apa yang ia maksudh sebenarnya dan malah salah tangkap dengan apa yang ia katakan. Itu rasanya terlalu mustahil. Namun, Julion sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang adik dan memilih memberikan isyarat agar Joe berhenti bicara. Tentu saja Joe tidak memiliki pilihan lain, selain berhenti mengatakan apa pun. Julion lalu berkata, “Mari kita hentikan pembicaraan ini sebelum aku benar-benar marah dan kecewa padamu, Joe. Kuperingatkan, jangan pernah berusaha untuk ikut campur atau menghentikan apa pun yang aku lakukan. Aku tau kau mencemaskanku dan kaum kita, tetapi aku rasa kau tidak boleh melewati batas meskipun tindakanmu itu didasari oleh kecemasanmu.” Julion pun memilih untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, Joe tidak berniat untuk menyerah begitu saja. Ia pun berkata, “Tetapi aku masih akan menyarankan Kakak untuk berhenti dari tugas Kakak saat ini. Lebih baik Kakak berhenti menjadi guru dari Dalila, lalu kembali bertugas di dunia manusian untuk memimpin pasukan pembasmi. Aku rasa, itu pilihan terbaik untuk Kakak dan kaum kita.” Namun, Julion sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ia terus melanjutkan langkahnya dengan tangan mengepal erat. Tanda jika dirinya benar-benar marah dengan apa yang sudah diungkit oleh Joe. Meskipun begitu, Julion berusaha untuk menahan kemarahannya dan tidak meluapkannya pada adiknya itu.         **         Julion kembali ke kastil dengan suasana hati yang sangat buruk. Niatannya untuk menemui Dalila sama sekali tidak berhasil. Sebab Max sudah menurunkan sebuah peraturan bahwa Julion dilarang untuk memasuki arena kekuasaan manusia serigala hingga waktu yang tidak ditentukan. Para tetua juga tidak bisa melakukan hal apa pun. Mengingat jika Max adalah pemegang kekuasaan mutlak di daerah kekuasaannya. Itu artinya, peratutan apa pun yang ditetapkan oleh Max sama sekali tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk oleh para tetua yang memiliki kedudukan tinggi sekali pun. Tentu saja dengan suasana hatinya yang sangat buruk, Julion tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Karena jujur saja Julion tidak ingin sampai menunjukkan suasana hatinya yang buruk ini di hadapan siapa pun. Apalagi selama ini semua orang mengenal sosok Julion sebagai sosok ramah yang murah senyum. Selain itu Julion tidak ingin sampai dirinya melampiaskan kemarahannya ke pada orang yang tidak bersalah. Namun, sepertinya hari ini Julion benar-benar tidak beruntung. Sebab Julion kembali dihalangi oleh Joe. Julion menghela napas panjang dan memilih untuk menghindar. Ia tidak ingin sampai lepas kendali dan marah pada adiknya itu. Seperti yang Julion katakan sebelumnya. Ia tidak ingin sampai hubungannya dengan Joe menjadi buruk karena pertengkaran tersebut. “Kakak, apa Kakak tidak mau mengubah pemikran Kakak?” tanya Joe meskipun sadar jika kakaknya sama sekali tidak ingin berbicara dengan dirinya. Kekeraskepalaan Joe ternyata pada akhirnya membuahkan hasil. Julion menghentikan langkahnya dan menoleh untuk berhadapan dengan sang adik. Julion menatap Joe dengan tatapan yang jelas jauh dari kata ramah. Julion yang saat ini berada di hadapan Joe jelas bukan Julion yang dikenal oleh orang-orang. Ini bukan Julion yang ramah, karena jelas Julion jauh dari kata ramah untuk saat ini. “Dan apa kau masih tidak mau menghentikan tingkahmu ini, Joe?” tanya Julion dengan nada dingin menusuk. Tidak ada kehangatan yang terdengar dari suara Julion yang biasanya selalu membuat orang yang mendengarnya menjadi senang. Saat ini, suara Julion malah membuat orang yang mendengarnya secara alami mundur untuk menjauh. Joe tersenyum tipis. “Aku tidak akan berhenti, sebelum Kakak mendengarkan apa yang aku katakan,” ucap Joe seakan-akan memang tidak terpengaruh dengan peringatan yang sudah berulang kali diberikan oleh sang kakak. “Aku sudah mendengarkan apa yang kau katakan. Jadi, berhentilah,” ucap Julion benar-benar sudah hampir habis kesabaran dengan tingkah Joe yang sangat keras kepala dan tidak kenal takut. “Kakak memang mendengarkanku, tetapi Kakak tidak mau melakukan apa yang sudah Kakak dengar. Seharusnya jika Kakak memang mendengarkanku, Kakak seharusnya juga melakukan apa yang Kakak dengar,” ucap Joe. Karena suasana hati Julion sama sekali tidak berada dalam suasa hati yang buruk, hal itu dengan mudah membuat Julion marah dalam waktu yang singkat. Julion sama sekali tidak tersenyum. Lalu Julion pun berkata, “Sebelum itu. Coba kau jawab pertanyaanku ini Joe. Apa hak yang kau miliki hingga berani mengaturku seperti ini? Kau bukan atasanku, dan kau bukan pemimpin kaum yang bisa memaksaku untuk melakukan apa yang kau inginkan. Jadi, jawab pertanyaanku. Apa hak yang kau miliki untuk mengaturku seperti ini?” Joe tentu saja terdiam saat mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Julion. Joe tentunya tidak menyangka karena dirinya akan mendapatkan pertanyaan seperti ini. Joe pun sadar bahwa hal ini terjadi karena Julion jelas-jelas marah pada dirinya. Sepertinya selain pertengkaran dengannya, ada hal lain yang terjadi yang membuat suasana hati sang kakak semakin memburuk. Namun, lagi-lagi Joe tidak ingin mundur begitu saja. Jika bukan dirinya yang membuat Julion berhenti, tidak ada yang bisa menyadari hal ini sebelum semuanya terlambat. Joe memiliki kewajiban untuk mencegah kehancuran kaumnya, karena itulah Joe harus bertahan hingga titik terakhir. “Aku memiliki hak untuk melakukan ini sebagai adikmu, Kak. Dan aku memiliki kewajiban untuk menyadarkan Kakak untuk menghentikan kehancuran kaum kita,” ucap Joe serius. “Kurasa hal itu tidak cukup untuk membuatmu melewati batas seperti ini, Joe. Jadi, berhentilah. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesali apa yang sudah kau lakukan ini,” ucap Julion memberikan peringatan terakhir pada Joe. Kali itu Julion pun memutuskan untuk meninggalkan sang adik. Namun, Joe belums elesai dengan perkataannya. Ia pun berkata, “Jika Kakak memberikan peringatan terakhir padaku, maka aku juga akan memberikan saran terakhir padamu. Tolong lupakan perasaan apa pun yang saat ini tengah tumbuh dalam hati Kakak.” Julion tanpa sadar menghentikan langkahnya. Tentu saja Julion sadar perasaan seperti apa yang dibicarakan oleh sang adik. Perasaan yang menggeliat dalam hatinya. Perasaan yang memang Julion sadari saat sudah mulai tumbuh membesar, dan mengejutkan Julion karena tidak menyangka jika perasaan seperti itu bisa tumbuh dengan waktu yang sangat singkat. Julion mengepalkan kedua tangannya, karena berusaha untuk menyembunyikan apa yang dipikirkan oleh dirinya. Sayangnya, Joe sudah lebih dulu menyadari hal tersebut. Ia pun berkata, “Sebelum benar-benar terlambat. Lebih baik Kakak segera mengubur perasaan Kakak dari sekarang. Karena jika Kakak terus memaksa, kemungkinan besar kakak akan dikutuk karena mempertahankan perasaan yang tidak seharusnya Kakak miliki. Jika Kakak tidak mau melakukannya demi diriku atau kaum kita. Bagaimana jika Kakak melakukannya demi diri Kakak sendiri. Tolong selamatkan diri Kakak sendiri dari kutukan yang mungkin akan Kakak terima.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD