Anak Campuran 2

1843 Words
“Berlutut.” Ucapan Dalila sama sekali tidak keras. Namun karena ledakan sihir yang ia miliki, semua orang bisa dengan mudah tunduk karena tekanan sihir tersebut. Semua orang berlutut tanpa terkecuali. Termasuk Max dan Julion. Keduanya jelas berusaha untuk bangkit dari posisi tersebut, tetapi mereka tidak bisa melakukan hal itu. Seakan-akan tekanan yang mereka rasakan menjadi lebih berat saat mereka berusaha untuk melawan tekanan tersebut. Tentu saja ini adalah pengalaman pertama bagi mereka semua mengalami hal seperti ini. Meskipun begitu, mereka semua masih berusaha untuk tidak merasa panik. Mereka memilih untuk tetap berada dalam posisi berlutut dan mengawasi apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ternyata kini Dalila melangkah dengan anggun menuju Elle yang memang tengah berlutut di tengah area bertarung. Dengan penampilannya saat ini, Dalila terlihat sangat menawan. Jelas karena tidak ada satu pun orang memiliki penampilan yang sama dengan Dalila saat mereka bertransformasi. Dalila jelas memiliki penampilan yang khas, mengingat jika dirinya adalah anak campuran dari manusia seriga dan seorang vampire. Tidak hanya penampilannya saja yang menakjubkan dan unik, kekuatannya juga sama. Dalila memiliki tipe kekuataan yang rasanya tidak akan ditemukan pada orang lain. Dalila benar-benar pedang bermata dua yang jelas harus diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Agar Dalila tidak berada di pihak yang salah. Max berusaha untuk bersuara. Setidaknya ia ingin memberikan peringatan pada Dalila untuk tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain. Sayangnya, sama seperti tubuh mereka yang tidak bergerak, ternyata suara mereka pun tidak bisa mereka temukan. Suara mereka menghilang begitu saja, hingga mereka harus menggunakan sihir telepati untuk berkomunikasi satu sama lain. Para tetua sekali pun belum pernah menghadapi situasi yang jelas menggemparkan tersebut. Sudah jelas, jika kekuatan yang digunakan oleh Dalila untuk menekan merasa sangat luar biasa. Dan Dalila masih memiliki kekuatan besar yang belum ia tunjukkan. Semua orang sepakat untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka berusaha untuk percaya jika semua pelatihan yang Dalila lakukan selama ini akan berbuah manis. Atau dalam artian lain, Dalila tidak akan lepas kendali dan membiarkan kekuatannya untuk menguasai dirinya sendiri. Dallila mengulurkan tangannya dan meraih dagu Elle. Gerakannya terasa seperti membawa aliran sihir yang membuat semua orang dibuat tak bisa mengalihkan pandangan dari gerakan tersebut. Dalila mencengkram dagu Elle dengan cukup kuat. Membuat Elle mau tidak mau mendongak terhadap Dalila yang jelas-jelas berada dalam posisi berdiri, sementara dirinya berlutut secara paks di hadapan Dalila. “Kau lihat, inilah posisimu,” ucap Dalila dengan suara rendah tetapi masih terlihat sangat ringan dan indah di telinga orang-orang. Dalila tidak mengatakannya dengan keras. Namun, semua orang bisa mendengarnya dengan jelas. Mengingat bahwa Dalila membuat semua orang tidak bisa mengatakan apa pun. Hingga suasana menjadi sangat hening. Bahkan saking heningnya, semua orang bisa mendengar suara helaan napas serta detak jantung mereka dengan begitu jelas, terlepas dengan indra pendengaran mereka yang memang sangat tajam sebagai makhluk immortal. “Dengan posisi seperti ini, apakah kau masih berpikir kau pantas untuk menghinaku atau kedua orang tuaku?” tanya Dalila lagi pada Elle yang masih berada dalam cengkramannya. Tentu saja Elle tidak memberikan jawaban apa pun walaupun dirinya benar-benar ingin menjeritkan makian terhadap kearoganan Dalila yang menurut Elle sangat tidak pantas dimiliki oleh seorang anak yang mendapatkan kutukan seperti Dalila. Kelahirannya di dunia saja sudah berupa kutukan yang diberikan oleh Sang Pencipta bagi kaum immortal. Sebab, bisa saja kehancuran seluruh kaum berada di tangah Dalila. Hanya memikirkan jika Dalila memiliki kuasa untuk melakukan hal itu, sudah membuat darah Elle mendidih. Ia pun memberikan tatapan penuh kebencian pada Dalila. Hal tersebut membuat Dalila yang masih berada dalam kondisi transformasi mengernyitkan keningnya. Jelas kini dirinya tengah merasa terganggu dengan sikap Elle yang masih belum menyadari posisinya. “Rupanya kau belum menyadari posisimu sendiri. Jika sudah seperti ini, aku jelas harus memberikan pelajaran lebih lanjut untukmu,” ucap Dalila lalu ia pun menarik tangannya dari Elle, dan sesaat kemudian Elle merasakan sakit yang menggerogoti organ dalamnya. Kini, Elle seakan-akan merasakan seluruh organ dalamnya diremas dengan kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang membuat Elle tidak kuasa untuk menahan dirinya terbatuk darah. Tentu saja hal itu membuat semua orang yang masih terpaku dalam posisi berlutut mereka, terkejut bukan main. Sudah jelas jika saat ini Dalila tengah menyiksa Elle dengan melukai organ dalamnya. “Apa kau masih tidak mau mengakui posisimu?” tanya Dalila pada Elle yang terlihat sangat kepayahan dengan apa yang ia alami. Lalu tak lama, Elle pun memberikan tatapan penuh permintaan maaf yang sepertinya memang sudah ditunggu oleh Dalila sejak awal. Kemarahan Dalila sebenarnya disebabkan oleh penginaan yang ia terima mengenai kedua orang tuanya. Dalila hanya memerlukan penyesalan dari orang yang sudah memberikan penghinaan tersebut, dan ia bisa merasa lebih tenang dan mungkin saja memberikan maaf pada orang itu. Pada akhirnya, Dalila pun menghentikan siksaannya terhadap organ dalam Elle. “Aku harap, kau tidak meremehkan dan menghina orang lain seperti apa yang kau lakukan terhadapku. Karena bisa saja, kau akan kehilangan nyawa karena sikap kurang ajarmu itu,” ucap Dalila. Lalu sesaat kemudian semua orang lepas dari tekanan yang membuat mereka berlutut secara paksa. Para tetua dan pemimpin kaum segera berdiri dari posisi mereka. Sementara Dalila sendiri sudah kembali pada penampilan normalnya dengan rambut cokelat serta netra biru yang berkilau. Dalila mengabaikan Elle yang masih berlutut dan memilih untuk berbalik. Ia rasa, semuanya sudah jelas. Siapa yang lebih unggul di antara dirinya atau Elle. Dalila tentu saja ingin segera beristirahat. Karena ia sadar sudah menggunakan energi sihir dalam jumlah yang sangat besar. Sebenarnya, Dalila sendiri tidak menyangka jika dirinya bisa melakukan hal seperti tadi. Seakan-akan tuas dalam diri Dalila disentuh dan membuat kekuatannya meledak begitu saja. Sepertinya nanti Dalila harus menceritakan apa yang ia rasakan pada suaminya. Max sendiri segera menuju pintu ke luar area bertarung. Namun, saat semua lengah, secara tiba-tiba Elle bangkit dari posisinya dan melakukan penyerangan yang luar biasa berbahaya terhadap Dalila. Untungnya, Dalila memiliki refleks yang sangat baik. Selain karena pelatihannya selama ini, tentu saja refleks tersebut muncul karena pengalamannya dalam melakukan pertarungan baik sebagai atlet maupun sebagai seorang pengawal yang lebih sering bertarung tanpa menggunakan peraturan apa pun. “Dasar pengecut,” cela Dalila saat melakukan serangan balik pada sosok Elle yang menyerangnya. Namun, ternyata sosok Elle yang diserang oleh Dalila hanyalah sebuah tiruan sihir. Sementara sosok Elle yang asli sudah muncul tepat di belakang Dalila berniat untuk menusuk jantung Dalila. Tentu saja semua orang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Elle. Sebab itu adalah hal yang sangat berbahaya. Jika Dalila tidak bisa menghindar, maka kematian baginya. Max yang menyadari hal itu berusaha untuk menginterupsi pertarungan tersebut. Namun, Dalila kembali mengejutkan semua orang. Sama seperti Elle yang menipu Dalila, ternyata Dalila juga menipu Elle. Sosok Dalila yang diserang dari belakang punggungnya oleh Elle, tak lain adalah wujud Dalila yang terbentuk karena sihir. Dalila yang asli muncul tepat di belakang punggung Elle dan tanpa permisi memukul Elle hingga lawannya itu jatuh tidak sadarkan diri. Elle pun terkatuh dan terkapar di tengah area bertarung. Dalila menatapnya dengan dingin dan berkata, “Kau membuatmu benar-benar terlihat buruk karena dikuasi oleh kecemburuan.” Melihat semua hal itu, tentu saja para tetua tidak memiliki celah apa pun terhadap kemampuan Dalila. Gadis itu sudah melampaui semua harapan dan ekspektasi mereka. Joe dan Julian yang melihat hal itu juga sangat takjub. Max sendiri menghela napas. Terlepas dari kemampuan Dalila yang luar biasa, Max merasa lega karena Dalila sama sekali tidak terluka. Dalila lolos tanpa mendapatkan luka sedikit pun. Hanya saja, kelegaan Max tidak bertahan lama. Karena sesaat kemudian, ternyata Dalila malah terbatuk darah. Membuat Max dan yang lainnya terkejut. Lalu sedetik kemudian Dalila kehilangan kesadaran. Max dan Julion secara refleks segera menggunakan teleportasi, sihir tingkat tinggi untuk mencapai tubuh Dalila. Namun, Max sampai sedetik lebih cepat dan mengamankan tubuh Dalila untuk tidak menghantam tanah. Max yang menyadari apa yang akan dilakukan oleh Julion pun menatap orang yang ia benci itu dengan tajam. “Sudah kuberi peringatan berulang kali. Perhatikan sikapmu, Julion. Aku sama sekali tidak ramah pada orang yang berusaha untuk menyentuh milikku,” ucap Max pada Julion. Joe yang melihat sikap sang kakak juga terdiam. Dengan ini, Julion sudah benar-benar mengonfirmasi bahwa dirinya memiliki perasaan terhadap Dalila. Joe berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa dirinya menyadari hal itu dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Sementara para tetua segera berbagi tugas. Ada yang mengurus Elle dan ada yang berusaha untuk membantu Dalila serta menengahi ketegangan antara Julion dan Max. “Jangan menyentuh istriku,” ucap Max penuhperingatan pada Arfel dan Joe yang sepertinya akan menggunakan sihir penyembuhan untuk membantu menyembuhkan Dalila dari lukanya. Namun, ternyata hal itu tidak disetujui oleh Max. Pria itu memeluk tubuh istrinya dengan erat sebelum berkata pada Arfel, “Kalian yang meminta evaluasi ini, dan kalian sendiri yang memilihkan lawan untuk istriku. Tapi, lihat apa yang terjadi. Lawan Dalila memiliki niat yang sangat buruk. Sejak awal ia ingin membunuh istriku.” Arfel tentu saja merasa sangat bersalah. Tentu saja ia tidak menyangka jika situasi akan menjadi seperti ini. Padahal, Elle adalah salah satu vampire muda yang kemungkinan besar akan menjadi petinggi kaum vampire di masa depan karena kemampuannya. Ia memilih Elle karena kemampuannya yang tidak perlu lagi diragukan. Sayangnya, ternyata Elle memiliki pemikiran yang melenceng mengenai anak campuran dan membuat kekacauan seperti ini. “Aku sungguh minta maaf. Aku sendiri tidah tahu jika semuanya akan berakhir seperti ini. Karena itulah, biarkan aku menebus kesalahanku dengan mengobati Dalila hingga dirinya sembuh total,” ucap Arfel benar-benar berniat untuk memberikan bantuan sebagai permintaan maafnya. Joe yang mendengar hal itu cukup terkejut. Karena sungguh langka mendengar Arfel mengatakan permintaan maaf. Joe pun melirik Julion yang masih saja menatap Dalila yang berada dalam pelukan Max. Ternyata Max juga menyadari hal itu danmengubah posisi Dalila agar Julion tidak lagi bisa melihat wajah Dalila. “Jangan gila. Kau pikir aku bodoh? Mana mungkin aku memberikan keselamatan istriku pada seseorang yang hampir saja membuat nyawanya melayang?” tanya Max. “Istriku akan mendapatkan penanganan yang tepat di mansionku sendiri. Kuharap, kau mengetahui apa yang salah di sini, Arfel. Dan kuharap, apa yang terjadi kali ini tidak membuat kaumku marah dan menyerang daerah kekuasaan kalian,” ucap Max secara tersirat memberikan sebuah ancaman. Jika sampai ada hal buruk yang memang menimpa Dalila, maka Max tidak akan berpikir dua kali untuk memecah perang. Maka hubungan kaum vampire dan kaum manusia serigala sama sekali tidak akan pernah membaik. Mereka jelas akan saling bermusuhan dan membenci. Karena sejak awal pun, Max tidak menyukai mereka. Karena mereka selalu saja membuat ulah yang membuat nyawa orang lain dalam bahaya atau bahkan terenggut begitu saja. Arfel tidak berikan kesempatan untuk menjawab perkataan tersebut karena Max sudah lebih berbalik dan membawa pergi istrinya. Arfel pun tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan tempat tersebut. Arfel memilih untuk menyelesaikan masalah yang sudah terjadi. Jelas ia harus menanyai Elle yag melakukan hal yang tidak mereka sepakati. Sementara Joe masih berada di area bertarung itu bersama sang kakak. Jika Julion terlihat mengamati kepergian Max dengan membawa Dalila dalam gendongannya, maka Joe tengah mengamati sang kakak dalam diam. Julion yang fokus dengan apa yang ia lakukan, bahkan tidak menyadari bahwa adiknya terus mengamatinya. Hingga, Joe pun bersuara, “Kakak benar-benar menyukainya. Dan ini, berbahaya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD