“Nyonya tidak perlu cemas. Kami semua yakin, Nyonya akan melakukannya dengan sempurna. Nyonya pasti bisa melakukannya,” ucap Sia sembari merapikan ikatan rambut Dalila.
Hari ini adalah hari yang ditentukan, di mana Dalila akan melakukan evaluasi kemampuannya sesuai dengan apa yang diminta oleh para tetua yang menjadi pemimpin AKI (Asosiasi Kaum Immortal). Tentu saja Dalila harus mengenakan pakaian dan bersiap dengan sangat nyaman. Agar dirinya bisa bergerak dengan sangat leluasa ketika evaluasi nanti. Pakaian disiapkan secara khusus. Sementara rambut Dalila diikat menjadi satu tinggi-tinggi sebelum dikepang dan dibentuk menjadi cepolan yang ketat.
Dalila terlihat sangat tegang. Karena kini ia sudah mengetahui evaluasi seperti apa yang akan ia hadapi. Itu adalah evaluasi pertarungan satu lawan satu, dengan menggunakan segenap tenaga. Sebenarnya, evaluasi pertarungan satu lawan satu seperti ini sama sekali bukan hal yang baru Dalila. Ia mantan atlet dan mantan pengawal elit. Selain bertarung di dalam ring dengan peraturan ketat. Ia bahkan melakukan pertarungan langsung tanpa menggunakan kaidah pertarungan resmi. Bisa dibilang jika Dalila memiliki pengalaman yang lebih dari cukup.
Namun, Dalila sama sekali tidak bisa merasa tenang. Semua pengalaman itu tidak bisa membuatnya merasa percaya diri. Mengingat bahwa lawannya kali ini berbeda dengan lawan-lawan yang sudah pernah ia hadapi sebelumnya. Lawannya jelas-jelas adalah salah satu kaum immortal yang sejak lahir sudah mengetahui jati diri mereka sebagai seorang immortal dan mengasah kemampuan mereka sejak kecil. Tentu saja siapa pun lawannya nanti, bukanlah lawan yang mudah. Dalila sepertinya harus mati-matian melawannya.
Dalila mengulas senyum tipis saat mendengar semangat yang diberikan oleh pelayan pribadinya itu. “Terima kasih, Sia. Aku harap, aku tidak mengacaukannya,” ucap Dalila membuat Sia pun ikut tersenyum.
“Percayalah pada diri Nyonya sendiri, karena kami semua juga mempercayai Nyonya,” ucap Sia.
Pada akhirnya Dalila mengangguk. Berusaha untuk menanamkan apa yang sudah dikatakan oleh Sia di dalam dirinya sendiri. Ya, semuanya berawal dari dirinya sendiri. Jika Dalila tidak percaya pada dirinya sendiri, maka Dalila tidak akan bisa melakukannya dengan baik. Dalila tidak boleh sampai kehilangan dirinya sendiri. Ia harus melakukannya dengan sempurna, selayaknya seorang Dalila yag sesungguhnya.
“Mari, Nyonya,” ucap Sia sembari memimpin jalan.
Tentu saja Dalila harus bergegas karena semua orang sudah menunggu. Ini adalah momen yang sangat penting. Di mana Luna dari kaum manusia serigala akan mendapatkan evaluasi. Hal yang akan menentukan apakah dirinya memang pantas mendapatkan kesetian serta hormat dari kaumnya secara mutlak. Sebenarnya Dalila tidak peduli akan kekuasaan semacam itu. Namun, ia sadar jika ini pun berkaitan dengan kehormatan Max.
Setidaknya, Dalila tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri atau Max dengan mengacaukan evaluasi tersebut. Begitu tiba di pintu utama Dalila melihat suaminya yang terlihat berpakaian resmi dengan Dante yang memang lekat dengan pakaian resminya. Karena sangat jarang melihat Max mengenakan pakaian resmi ditambah dengan rambut hitamnya yang ditata dengan sangat rapi, Dalila agaknya terpana melihat sang suami. Karena bagi Dalila, Max yang berpenampilan seperti ini benar-benar terlihat sangat berbeda daripada biasanya. Ia memiliki pesona lain dengan penampilannya ini.
“Kau sudah siap?” tanya Max sembari mengulurkan tangannya pada Dalila.
Dalila tidak segera menerima uluran tangan suaminya itu. Ia terpaku untuk beberapa detik saat melihat uluran tangan itu. Sebelum menghela napas dan menerima uluran tangan tersebut. Ia membalas genggaman tangan Max yang lembut dan berkata, “Siap atau tidak, bukankah aku tetap harus melakukannya? Jadi, anggaplah jika aku saat ini tengah merasa siap.”
Jawaban yang diberikan oleh Dalila tentu saja membuat Max dan Dante yang mendengarnya mengulum senyum. Khusus Max, tentu saja ia bisa merasakan kegugupan dan rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh Dalila, mengingat mereka sudah terikat dalam janji suci serta secara alami berbagi perasaan yang sama. Max meraih Dalila ke dalam pelukannya. Memeluk istrinya dengan lembut. Seakan-akan ingin mengatakan jika Dalila tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri.
“Jangan merasa cemas. Kau tidak menghadapi situasi ini sendiri. Lagi pula, percayalah pada dirimu sendiri, Dalila. Kau hebat, dan kau pasti bisa melewati evaluasi ini dengan baik,” bisik Max sebelum menanamkan sebuah kecupan pada kening Dalila.
Dalila yang mendengar ucapan lembut dari suaminya itu pun menghela napas. Ia menghirup aroma tubuh Max yang rasanya bisa menenangkan kegelisahan yang tengah ia rasakan. Untuk kesekian kalinya, Dalila pun sadar jika dirinya mulai bergantung terhadap Max. Dalila sudah benar-benar menerima Max di dalam hidupnya. Pria yang sudah menjadi suaminya itu sudah memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.
“Terima kasih,” gumam Dalila.
Setelah itu, Max, Dalila, Dante, dan Sia beranjak untuk pergi menuju ke tempat evaluasi yang tentu saja dirahasiakan. Selain kaum manusia serigala sendiri, hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaan Dalila sebagai seorang anak campuran. Tentu saja para tetua yang sepakat untuk membuat keberadaan Dalila menjadi rahasia untuk sementara waktu. Masalah evaluasi hasil belajar Dalila juga menjadi hal yang sangat dirahasiakan. Karena itulah, evaluasi dilaksanakan di tempat yang tertutup dan orang-orang yang bisa berada di sana hanya orang-orang yang memang sudah mengetahui fakta mengenai identitas Dalila, serta terlibat langsung terhadap masalah inti dari AKI (Asosiasi Kaum Imortal).
Kedangan rombongan Max dan Dalila tentu saja sudah sangat ditunggu. Mengingat Dalila sendirilah yang akan menjadi bintang dalam acara tersebut. Tyska yang terbilang sudah sangat dekat dengan Dalila, segera menyambut Dalila dengan cara memeluknya lembut. Saat memeluknya, Tyska pun berbisik, “Tenanglah. Aku yakin kau pasti akan melalui evaluasi ini dengan baik.”
Dalila yang mendengar hal itu pun ikut tersenyum. Karena Tyska adalah seorang perempuan, dan seseorang yang sudah hidup selama ratusan tahun, tentu saja ia bisa mengambil langkah yang tepat untuk memiliki kedekatan dengan Dalila. Ia menepuk punggung Dalila dengan lembut sebelum melepaskan pelukannya dan kembali ke tempatnya. Saat itulah, Dalila bisa melihat jika di sana selain para tetua, ada juga Julion, serta seorang pria dan wanita yang tidak Dalila kenal.
Arfel sang tetua yang paling tua segera berkata, “Selamat datang, Dalila. Seperti yang kau ketahui, hari ini adalah hari di mana kami akan mengevaluasi kemampuan yang sudah kau latih selama ini. Cara yang kami pilih adalah melakukan pertarungan dengan lawan yang kami kira akan sepadan dengan kemampuan yang kau miliki sekarang. Perkenalkan, dia adalah lawanmu hari ini.”
Arfel menunjuk seorang wanita asing yang berdiri di samping Julion. Wanita itu terlihat tidak menampilkan ekspresi apa pun. Namun, ia menunduk sedikit memberi salam sebelum berkata, “Aku Elle. Dari kaum vampire.”
Dalila pun mengangguk ringan. Ia rasa tidak perlu memperkenalkan diri, karena ia yakin bahwa Elle ada di sana tentu saja setelah mengetahui identitas dan alasan mengapa dirinya akan menjadi lawan Dalila pada evaluasi hari ini. Daripada memperkenalkan diri, Dalila memilih untuk menggunakan waktunya mengenalisis lawannya. Elle terlihat memiliki tubuh ramping seperti dirinya. Hanya saja Elle terlihat lebih tinggi daripada Dalila.
Dalila berusaha untuk menenangkan dirinya dari kegugupan, saat Arfel meminta Joe adik dari Julion untuk mempersiapkan area yang akan digunakan untuk pertarungan evaluasi tersebut. Saat itulah Max kembali memeluk Dalila. Max sama sekali tidak merasa malu melakukan sentuhan intim seperti itu di hadapan para tetua. Ia bahkan dengan sengaja ingin menunjukkan bahwa ia sudah memiliki kemajuan yang signifikan mengenai hubungannya dengan Dalila.
“Lakukan sebaik biasanya, istriku. Tidak perlu tertekan, percayalah pada dirimu sendiri,” ucap Max sembari memberikan kecupan-kecupan pada puncak kepala Dalila. Tanpa sadar, Dalila pun memebalas pelukan suaminya itu. Hal tersebut rupanya sama sekali tidak terlepas dari pengawasan Julion.
Interaksi antara Dalila dan Max tentu saja terlihat sangat manis. Saking manisnya, Julion sampai merasa sangat muak. Ia muak karena tahu bahwa Max dengan sengaja melakukan hal itu untuk mengejek dan memprovokasinya. Sayangnya, Max salah. Julion bukan orang bodoh yang bisa diprovokasi dengan mudah seperti apa yang ia bayangkan.
Selama ini, Julion sudah hidup dengan sangat baik dengan memastikan jika emosinya terus terkendali dengan baik. Ia sudah membangun imej yang baik, dan ia tidak mau sampai merusaknya karena sudah terpancing permainan Max yang menyebalkan itu. Julion tidak akan kalah dalam permainan ini. Ia akan membuktikan siapa yang lebih bodoh di antara mereka berdua.
“Semuanya sudah siap,” ucap Joe setelah benar-benar memastikan jika area bertarung sudah siap.
Joe memang bertugas untuk memastikan jika area tersebut tidak dimanipulasi oleh salah satu pihak, dan memastikan jika semua sisi area sudah memiliki perlindungan sihir. Joe memanglah penyihir terbaik kedua di dalam kaum vampire. Banyak orang yang berkata, jika saja Joe terlahir sebagai anak pertama, mungkin saja ia yang akan dinobatkan sebagai calon pemimpin kaum vampire selanjutnya. Dan bukannya Julion yang menurut orang-orang agak terlalu lembut sebagai seorang calon pemimpin.
“Kalau begitu, kita mulai evaluasinya,” ucap Arfel dan mengarahkan Dalila dan Elle pun memasuki area pertarungan.
“Ingat, kalian bisa menggunakan kemampuan terbaik yang kalian miliki. Hanya saja, pastikan jika kalian tidak melakukan serangan yang bisa mengancam nyawa satu sama lain,” ucap Alison memberikan arahan terhadap Dalila dan Elle yang memang akan bertarung sesaat lagi.
Sebelum pertarungan dimulai, Alison memberikan waktu bagi Dalila dan Elle. Tentu saja, waktu untuk mempersiapkan diri untuk melakukan pertarungan yang sebenarnya hanya digunakan untuk mengevaluasi kemampuan Dalila. Bukan untuk saling melukai dan membuat nyawa lawan dalam bahaya. Sementara Dalila dan Elle bersiap, para pemimpin dan perwakilan kaum duduk di tempat yang sudah disediakan.
Dalila memejamkan matanya. Berusaha untuk berkonsentrasi dengan apa yang akan ia hadapi. Sesaat kemudian Dalila membuka matanya, sudah benar-benar siap. Lalu pertarungan pun benar-benar dimulai. Secara mengejutkan, Elle segera memberikan serangan yang sangat agresif. Dalila yang sudah mendapatkan pelatihan yang sangat ketat dan keras selama ini, tentu saja bisa bertahan sekaligus memberikan perlawanan terhadap Elle.
Sementara semua orang fokus dengan pertarungan Elle dan Dalila, maka Joe sama sekali tidak memperhatikan pertarungan tersebut. Joe malah lebih tertarik untuk memperhatikan sang kakak yang sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Dalila. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Julion itu membuat Joe merasa semakin cemas. Ia bukan orang bodoh, dan sudah sangat mengenal Julion. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa rasa tertarik yang dimiliki oleh Julion bisa berkembang menjadi hal yang berbahaya di masa depan.
Joe berpikir, ia mempertimbangkan harus seperti apa dirinya bersikap di masa depan. Karena tentu saja ia tidak mungkin membiarkan situasi terus seperti ini. Sebab keselamatan dan kestabilan kaum vampire dipertaruhkan di sini. Namun, untuk saat ini Joe memilih untuk meninggalkan hal ini dan fokus pada hal lain. Yaitu pertarungan Dalila dan Elle.
Secara mengejutkan, Elle terus saja menyerang Dalila dengan sangat agresif. Hal yang lebih mengejutkan adalah, Elle memasang sihir yang membuat pembicaraannya dengan Dalila tidak bisa didengar oleh orang lain. Tentu saja hal itu membuat semua orang mencemaskan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi, semua orang bisa merasakan jika ternyata Elle memiliki niat membunuh dalam setiap serangan yang Elle lemparkan terhadap Dalila.
Max yang memang mengawasinya, berniat untuk menginterupsi pertarungan tersebut. Tentu saja ia cemas dengan kondisi Dalila jika hal tersebut masih dibiarkan begitu saja. Namun, langkah Max terlambat karena Dalila sudah lebih dulu terluka karena serangan Elle. Dalila terpental dan salah satu tangannya berdarah karena goresan cakar Elle.
Elle menatap Dalila dengan penuh ejek. Terkesan sangat meremehkan Dalila yang ternyata tidak sehebat yang ia dengar. Elle melipat kedua tangannya di depan d**a dan berkata, “Ternyata anak campuran sama sekali tidak sehebat yang aku dengar.”
Dalila dengan susah payah bangkit dari posisinya. Elle pun berdecih dan kembali berkata, “Entah mengapa kau disambut dengan sangat baik oleh orang-orang. Disebut sebagai seorang yang akan membawa kedamaian di dunia ini. Namun, kurasa kau adalah seorang makhluk yang membawa sial. Sama seperti kedua orang tuamu, seharusnya kau tidak perlu terlahir di dunia ini. Syukurlah, kedua orang tuamu sudah mati. Setidaknya, mereka tidak akan menjadi aib karena sudah melanggar peraturan yang sudah ada.”
Mendengar perkataan tersebut, Dalila merasa sangat marah. Ia benar-benar sangat marah saat kedua orang tuanya mendapatkan sebuah hinaan. Padahal, keduanya saja sudah tidak lagi ada di dunia. Lalu seketika, Dalila kembali meledakkan kekuatan yang ia miliki. Rambutnya yang berwarna kecokelatan berubah menjadi hitam legam. Lalu warna kedua matanya juga berubah. Warna biru jernihnya berubah, di kiri menjadi merah dan di kanan menjadi keemasa.
Tentu saja apa yang terjadi membuat semua orang berdiri dari tempat mereka. Para tetua juga berniat bergegas untuk menghentikan apa yang terjadi. Karena mengira jika Dalila akan lepas kendali. Namun, secara mengejutkan Dalila berkata dengan sangat tenang, “Berlutut.”
Lalu semua makhluk immortal, baik yang berada di area tersebut maupun para makluk immortal yang bahkan tengah berada di dunia manusia, dipaksa untuk berlutut. Ada tekanan yang membuat mereka sama sekali tidak bisa menahan diri untuk segera berlutut di tempat mereka. Max dan para tetua pun sadar, inilah kekuatan seorang anak campuran yang begitu luar biasa. Dalila kembali menunjukkan kemampuannya sebagai seorang anak campuran yang ajaib.