“Sialan!” seru Max lalu menyerang Julion yang ternyata memang sudah siap siaga untuk menerima serangan tersebut.
Pada akhirnya, keduanya pu bertarung dan membuat Dalila memilih untuk duduk di tepi area berlatih. Dante dan Sia yang menunggu di sana tentu saja memberikan air minum dan menyediakan camilan untuk Dalila. Tentu saja Dalila yang melihat hal itu mendengkus. “Kalian mempersiapkan semua ini seakan-akan sudah memperkirakan bahwa mereka akan seperti ini lagi,” ucap Dalila sembari melihat pertarungan antara Max dan Julion, yang tentu saja berada dalam skala yang luar biasa.
Keduanya adalah para pemimpin muda, yang tentu saja memiliki kekuatan yang luar biasa. Bukan hanya kaum mereka saja yang mengakui, tetapi seluruh kaum mengakui kekuatan mereka. Jadi, wajar saja jika pertarungan keduanya menjadi sebuah pertarungan luar biasa yang belum pernah Dalila lihat sebelumnya. Pada awalnya, Dalila merasa sangat takjub melihat pertarungan keduanya. Namun, kini Dalila tidak lagi merasa seperti itu. Ia malah merasa muak karenanya.
Bagaimana mungkin Dalila tidak merasa muak, mengingat bahwa keduanya selalu saja bertengkar dan bertarung ketika mereka bertemu. Masalahnya, mereka selalu bertemu ketika pelatihan Dalila berlangsung. Mengingat, para tetua memutuskan bahwa kelas sihir dan kelas kekuatan fisik digabung, karena Dalila kini sudah masuk ke tahap pelatihan selanjutnya. Sayangnya, keputusan tersebut membuat keduanya terus saja bertengkar dan membuat Dalila merasa pening dibuatnya.
Bagi Dalila, daripada para pemimpin, keduanya terlihat seperti anak kecil. Bertingkah kekanakan dengan saling mengjek lalu berakhir bertengkar dan bertarung seperti ini. Dalila menghela napas dan menikmati makanan ringannya sembari menatap pertarungan antara Max dan Julion dengan bosan. Selama beberapa hari ini, hal yang bisa Dalila nilai dari keduanya adalah, selalin kekanakan, keduanya memiliki kekuatan yang seimbang. Sebab, keduanya selalu bertarung, tetapi tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan satu sama lain. Alias selalu berakhir seri.
“Sebenarnya apa yang membuat mereka saling membenci seperti ini?” tanya Dalila pada Sia dan Dante yang memang masih berada di sisinya. Keduanya memang ditugaskan untuk tidak meninggalkan sisi Dalila. Terutama Sia yang memang menjadi pengawal pribadi dari Dalila. Sia selalu harus berada di sisi Dalila membantunya melakukan apa pun.
“Kami tidak memiliki kewenangan untuk menceritakan hal tersebut, Nyonya. Saya rasa, lebih baik Nyonya menunggu Tuan bercerita sendirinya. Jangan menanyakan apa pun mengenai hal ini, karena mungkin saja suasana hati Tuan yang semula baik, akan berubah memburuk dalam waktu singkat,” jawab Dante dengan jelas.
Dalila yang mendengar hal itu pun mengernyitkan keningnya. Tentu saja ia sadar bahwa kemungkinan besar, memang ada hal yang terjadi di antara keduanya. Ini bukan sekadar masalah di mana sejak dulu hubungan antara kaum manusia serigala dan kaum vampire tidak pernah baik. Ada hal yang terjadi, dan Dalila belum mengetahuinya. Hal tersebut tentu saja membuat Dalila merasa sangat penasaran. Ia tergelitik untuk mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dalila kembali melirk kedua pria yang masih bertarung itu dan berkata, “Aku lelah. Aku ingin kembali ke kamar saja. Jika keduanya sudah selesai bertengkar, katakan saja pada mereka untuk melanjutkan pertengkaran mereka hingga merasa puas. Tidak perlu berhenti jika mereka belum merasa puas.”
Dante yang mendengar hal itu menahan diri untuk tidak mengulum seyum. Karena ia sadar, jika Dalila sudah sangat merasa jengkel dengan tingkah suaminya itu. Dalila pun beranjak pergi diikuti oleh Sia. Sementara Dante masih berada di tepi area berlatih, untuk melanksanakan tugasnya. Pertengkaran Max dan Julion masih terus berlangsung selama dua jam lebih. Pakaian mereka sudha kacau balau, tetapi tidak ada yang terlukan sedikit pun. Tanda jika serangan demi serangan yang mereka lemparkan atau terima, sama-sama seimbang.
Keduanya berhenti bertarung, saat mereka sadar jika Dalila sudah tidak ada di sana. Tentu saja Dante pun mendekat pada keduanya dan bertanya, “Apa kalian sudah selesai bertarung?”
Pertanyaan biasa saja, tetapi terdengar seperti penuh ejekan di telinga Max dan Julion. Pada akhirnya Julion pun bertanya, “Di mana Dalila?”
“Nyonya sudah kembali ke kamarnya,” jawab Dante membuat Max dan Julion terkejut. Sungguh, mereka tidak menyadari jika Dalila sudah pergi begitu saja.
Padahal, Dalila belum selesai dengan kelasnya. Sebab di tengah kelasnya, Max dan Julion kembali beradu kata kasar sebelum kembali bertengkar. Bukan hanya bertengkar, tetapi bertarung saling melukai. Bahkan mungkin keduanya memiliki niat untuk saling membunuh. Jika saja tidak saling menahan diri, sudah dipastikan jika memang ada salah seorang dari mereka yang sudah menjadi korban. Serta aka nada kerusakan besar di kediaman ini.
Sepertinya karena keduanya terlalu sibuk dengan pertarungan mereka, hal itu membuat keduanya tidak sadar jika Dalila sudah menghilang sejak tadi. Dante pun berkata, “Nyonya berpesan, jika Tuan Max dan Tuan Julion sudah selesai dengan pertarungan kalian, saya harus bertanya apakah kalian sudah merasa puas dengan pertarungan tersebut? Jika belum, silakan lanjutkan saja. Hingga kalian merasa benar-benar puas. Tidak perlu berhenti sebelum merasa puas.”
Max dan Julion pun saling bertatapan dan menghindar, sebelum berdeham canggung. Keduanya tentu saja sadar bahwa Dalila sudah memberikan sindiran keras terhadap apa yang sudah mereka lakukan. Pada akhirnya Max pun berkata, “Pergilah. Ini sudah pasti Dalila tengah mengusirmu. Jika bisa jangan pernah kembali ke sini.”
**
Julion menghela napas. Ia tiba di kastil di mana dirinya tinggal. Rasanya hari-hari Julion kahir-akhir terasa sangat berat. Mengingat jika dirinya terus berselisih dengan Max. Bukan masalah dirinya yang berselisih dengan Max yang membuatnya lelah, melainkan karena kesadaran Julion akan perasaannya sendiri. Kini, Julion merasakan hatinya semakin memberat kaera perasaannya terhadap Dalila semakin dalam.
Seiring dengan rasa Julion yang semakin mendalam terhadap Dalila, sikap Max juga semakin menyebalkan di mata Julion. Max tidak pernah meninggalkan sisi Dalila. Ia juga menjaga Dalila agar tidak lepas dari pandangannya. Seakan-akan Dalila adalah anak kecil yang tidak boleh lepas dari pengawasannya. Interaksi Max dan Dalila juga semakin dekat serta manis saja seiring waktu berjalan. Membuat hati Julion tergelitik oleh rasa tidak senang yang membuatnya tidak nyaman.
Hal tersebutlah yang mendesak Julion untuk terus melayani Max. Entah dengan membalas perkataan tajam dan kasarnya, maupun dengan melayani ajakan bertarungnya. Sepertinya bertarung dan bertengkar dengan Max sudah menjadi rutinitas yang dilakukan oleh Julion sehari-hari. Bahkan, itu sudah bukan hal yang anah di mata orang-orang yang melihat mereka.
“Kakak.”
Julion menghentikan langkah kakinya dan menoleh kea rah sumber suara. Ia pun melihat Joe, yang tak lain adalah sosok yang memanggilnya. “Ya, ada apa?” tanya Julion.
“Aku ingin bicara. Apa Kakak bisa?” tanya Joe terlihat sangat ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. Namun, terlihat sangat berhati-hati. Mengingat jika Julion yang berada di hadapannya sangat berbeda.
Sebab Julion saat ini terlihat marah. Padahal Julion selama ini dikenal dengan pribadi yang ramah dan tenang. Ia bahkan tidak pernah menunjukan kemarahannya. Namun, kali ini berbeda. Julion terlihat dengan jelas tengah marah karena suatu hal yang tentu saja tidak diketahui oleh Joe. Sebab itulah, Joe meminta waktu untuk berbincang dengan kakaknya, dengan hati-hati. Mengingat jika apa yang akan Joe bahas sangat sensitif.
Julion pun berpikir sejenak. Mempertimbangkan apakah masih memungkinkan dirinya untuk berbicara dengan tenang bersama adiknya. Mengingat jika kini situasi hatinya memang sangat buruk. Jika nanti Julion tidak bisa mengikuti pembicaraan itu dengan baik, mungkin saja suasana hati Julion menjadi lebih buruk daripada sebelumnya. Namun, Julion rasa tidak baik jika mengabaikan adiknya. Pada akhirnya Julion mengangguk. “Ya, ayo kita bicara. Kita cari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara,” ucap Julion.
Joe pun memimpin jalan dan memilih beranda untuk berbicara. Udara malam yang segar dan dingin membuat keduanya terdiam untuk beberapa saat. Keduanya memilih untuk menikmati suasana tersebut. Tak lama, Julion pun bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
Joe tidak segera menjawab. Seakan-akan apa yang ia bahas memang tidak mudah untuk dibicarakan. Namun, sepertinya Joe sudah mempertimbangkan hal tersebut sejak lama, dan pada akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. “Kakak sebaiknya berhenti menjadi guru dari Dalila,” ucap Joe.
Julion yang mendengarnya mengernyitkan keningnya merasa jika perkataan Joe tidak bisa ia terima. “Kenapa kau masih saja berusaha untuk membuatku berhenti dari tugas ini, Joe? Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Julion.
Julion tentu saja sadar sepertinya adiknya ini mengetahui sesuatu, tetapi memilih untuk sangat berhati-hati dalam menyampaikannya. Hal yang sebenarnya cukup Julion sukai dari sang adik yang bisa menempatkan diri dengan baik dalam situasi dan kondisi apa pun. Hal itu membuat Julion berpikir, jika saja Joe lahir lebih dulu daripada dirinya, pasti Joe yang akan dinobatkan menjadi calon pemimpin selanjutnya. Bukan Julion.
Kini kakak beradik itu saling bertatapan. Berusaha untuk saling mengorek isi pikiran mereka satu sama lain. Namun, tidak ada yang bisa mereka temukan. Seakan-akan keduanya memang berusaha untuk menyembunyikan apa yang mereka pikirkan dari satu sama lain. Joe pada akhirnya berkata, “Karena menghabiskan lebih banyak waktu dengan Dalila, hanya akan berbahaya untukmu, Kakak.”
Perkataan Joe tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengonfirmasi bahwa ternyata Joe memang sudah mengetahui apa yang telah terjadi. Atau lebih tepatnya, perasaan apa yang dimiliki oleh Julion terhadap Dalila. Hal yang sebenarnya sangat wajar terjadi, mengingat Joe satu-satunya orang yang memang bisa memahami Julion. Orang yang sudah mengenal Julion luar dan dalam.
Julion mengernyitkan keningnya. Bertanya-tanya sejak kapan Joe menyadari hal ini. Dan apa yang menyebabkan Joe menyadari hal itu? Padahal, Julion sudah berhati-hati dalam bertindak. Selain itu, interaksinya dengan Dalila tidak diketahui oleh banyak orang. Semua yang terjadi di area kekuasaan kaum manusia serigala, tidak bisa ke luar dan tersebar. Jadi, Julion tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya kenapa Joe bisa mengetahui perasannya pada Dalila. Apa mungkin ada seseorang yang menjadi mata-mata? Atau mungkin, selama ini Joe mengawasinya?
“Kakak sebaiknya berhenti. Sebelum apa yang Kakak rasakan semakin berbahaya. Ingat Kak, ini bukan hanya berkaitan dengan masa depan Kakak saja, tetapi juga dengan masa depan kaum. Kakak tidak ingin kesalahpahaman di antara Kakak dan Max semakin memburuk bukan? Jika itu sampati terjadi, maka kemungkinan terburuk yang tidak kita inginkan bisa tterjadi,” ucap Joe lagi.
Julion terdiam sesaat sebelum berkata, “Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan ini, Joe.”
Joe yang mendengar hal itu pun terdiam. Ia sadar jika Julion memang sengaja menghindari pembicaraan tersebut. Atau mungkin berusaha untuk menghindari pembicaraan tersebut. Entah karena memang Julion sudah memahami dan merasa jika apa yang Joe bicarakan. Namun, Joe berharap jika apa yang ia sampaikan memang dipahami dan dipertimbangkan oleh Julion.
“Aku harap Kakak bisa mengambil langkah dengan bijaksana. Ingat, bahwa Kakak akan menjadi pemimpin selanjutnya bagi kaum vampire, kaum yang tak lain adalah keluarga kita,” ucap Joe dengan raut serius. Berharap jika sang kakak benar-benar memahami apa yang ia katakan.
Julion mengulum senyum. Atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk tersenyum sebagai respons perkataan tersebut. “Tidak perlu cemas, Joe. Aku tau apa yang aku lakukan, dan aku akan memastikan jika apa yang kulakukan tidak berbahaya bagi siapa pun,” ucap Julion kembali pada dirinya yang terlihat ramah.
Joe terdiam, seakan-akan masih berusaha untuk mengolah perkataan Julion tersebut. Tak lama Julion bangkit dari posisi duduknya dan menepuk bahu adiknya dengan ringan dan berkata, “Tidak perlu mencemaskan apa pun yang tidak perlu, Joe. Fokus saja dengan apa ayang tengah kau kerjakan, karena itulah yang akan aku lakukan.”
Setelah mengatakan hal itu Julion beranjak pergi. Sementara Joe masih duduk di tempatnya, dan mengamati kepergian Julion dalam diam. Joe pun bergumam saat masih menatap punggung sang kakak, “Aku harap kau sadar dengan apa yang kau lakukan, Kak. Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang menghancurkan hidupmu dan seluruh kaum.”