Pertengkaran 1

1840 Words
Waktu tiga hari tambahan yang diberikan oleh para tetua sudah selesai. Hari ini, Dalila dan Max bisa beraktifitas seperti biasa. Dalila tentu saja harus kembali pada rutinitasnya yang sebelumnya, disibukkan dengan tugasnya untuk berlatih dan segera menguasai kekuatan yang ia miliki. Untuk hari pertama ini, adalah jadwal Dalila untuk berlatih dengan Julion. Karena memang menurut Dalila ia harus mendapatkan pelatihan dari Julion mengingat sebelumnya ia sudah mendapatkan pelatihan secara full selama seminggu dari Max. Namun, ternyata latihan kali ini tidak hanya melibatkan Dalila dan Julion saja. Karena Max dan Dante juga ada di area berlatih. Max dan Dante sendiri sibuk dengan pekerjaan mereka. Namun, Dalila lebih dari yakin jika Max tidak datang untuk bekerja saja. Jika dirinya memang ingin bekerja bukankah lebih baik ia bekerja di ruang kerjanya yang nyaman dan bukannya di area berlatih seperti ini? Sudah jelas jika Max ingin mengawasi latihan ini. Julion yang sudah lebih dari satu minggu tidak bertemu dengan Dalila, tersenyum dan mengecup punggung tangan Dalila. Tentu saja dengan alasan bahwa hal tersebut adalah bentuk kesopanan yang ia miliki. Dalila tidak memiliki pilihan lain untuk menerimanya. Karena memang ia tidak mungkin menolak kesopanan seorang pria yang menjadi gurunya itu. “Akhirnya kita bisa mulai pelajaran kita lagi. Aku harap, kau tidak membuang-buang waktumu dengan sia-sia selama seminggu ke belakang,” ucap Julion tidak segan menyindir perbuatan Max yang jelas membuat Dalila tidak bisa ke luar dari kamar selama seminggu. Namun, jelas Max tidak merasa tersinggung. Ia sama sekali tidak merasa jika apa yang ia lakukan itu adalah hal yang sia-sia. Bagi Max, itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil selama ini. Selain membuat Dalila berjarak dengan Julion, Max juga membuat hubungannya dengan Dalila semakin erat. Kini, mereka benar-benar memiliki hubungan selayaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya. Tentu saja ini adalah kabar baik yang Max dapatkan setelah melakukan sesuatu yang berani, bahkan mendapatkan teguran dari para tetua. Dalila yang mendengar perkataan Julion pun berkata, “Waktu seminggu sebelumnya sama sekali tidak aku habiskan secara sia-sia. Ada banyak hal yang sudah kupelajari. Karena itulah, aku ingin menunjukkan hal apa saja yang sudah kupelajari.” Tentu saja Julion paham jika Dalila tengah berusaha untuk membela Max. Dalila tidak ingin mendengar Julion mengkritik sikap Max yang sebelumnya sudah membuat pembelajaran mereka terundur selama seminggu. Ada rasa tidak senang yang menyeruak di dalam hati Julion atas apa yang terjadi tersebut. Namun, lagi-lagi Julion berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh sampai menunjukan perasaannya yang sesungguhnya. Sebab itu hanya akan membuat dirinya tersandung masalah. Julion mengangguk dan berkata, “Kalau begitu, ayo tunjukkan terlebih dahulu apa yang sudah kau pelajari. Agar aku bisa merencanakan pelatihan seperti apa yang cocok dengan kemampuan yang kau miliki saat ini.” Dalila pun menunjukkan semua hal yang sudah ia pelajari selama terkurung di kamar bersama dengan Max. Dalila ternyata sudah bisa membentuk senjata dengan menggunakan elemen sihir apinya, tanpa menggunakan mantra sama sekali. Suatu kemajuan yang sangat pesat menurut Julion. Mengingat bahwa Dalila baru mempelajari hal tersebut selama beberapa bulan, dan sebelumnya ia tidak mengetahui mengenai sihir sama sekali. Namun, Julion tidak serta merta memuji dan menunggu Dalila selesai menunjukan kemampuan apa saja yang sudah ia pelajari. Secara mengejutkan, Dalila juga sudah masuk ke tahap penggunaan sihir selanjutnya di mana mengkobinasikan kekuatan sihirnya dengan kekuatan fisiknya. Dalila sudah mulai merasakan energi sihir yang mengalir pada darahnya dan menguatkan sistem tubuhnya. Meskipun kekuatan dan kemampuannya belum terlalu signifikan, tetapi ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah dasar. Julion hanya perlu membimbing Dalila agar mengembangkan kekuatannya tersebut. Julion bertepuk tangan dengan antusias ketika Dalila selesai menunjukkan kemampuan yang ia miliki. Tentu saja Dalila segera bersiap untuk mendengar komentar Julion terhadap apa yang sudah ia pelajari. Julion pun berkata, “Aku tidak menyangka jika kemampuanmu sudah sejauh ini. Jika seperti ini, aku tidak akan menyebut jika kau melewatkan satu minggu secara sia-sia.” Dalila yang mendengar hal itu tentu saja sedikit banyak merasa senang. Karena ternyata usahanya mengikuti arahan Max selama ini berbuah manis. Ia bahkan mendapatkan pujian dari Julion yang jelas-jelas adalah ahli dalam bidang ini. “Lalu, apa yang akan aku pelajari selanjutnya?” tanya Dalila bertanya dengan antusias. Tentunya Dalila ingin segera memiliki kemampuan baru. Seperti belajar bela diri, mempelajari ilmu sihir juga terasa sangat menyenangkan. Hal itu membuat Dalila terdorong untuk semakin memperdalam pengetahuan dan kemampuannya dalam bidang ini. Dalila setidaknya ingin memiliki kemampuan yang tidak akan terasa memalukan dengan statusnya sebagai anak campuran yang dikabarkan memiliki kekuatan yang besar. Karena itulah, Dalila perlu belajar lebih keras dan giat lagi. “Karena kau sudah menguasai dasar dalam penggunaan sihir berkombinasi dengan kemampuan fisik, maka kita akan memperdalam kemampuan ini,” jawab Julion sudah mengambil keputusan mengenai latihan yang akan Dalila ikuti ke depannya. Dalila mengangguk-angguk, paham dengan apa yang dikatakan oleh Julion. Tentu saja hal ini sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Max sebelumnya. Julion pun menambahkan, “Kita harus bergegas, menguasai tahap ini. Mengingat jika akhir bulan ini kau harus mengikuti evaluasi yang diselenggarakan para tetua. Jika kau tidak lolos atau memuaskan penilaian para tetua, aku rasa akan ada masalah yang terjadi.” Mendengar hal itu, Dalila tentu menghela napas. Benar, ia harus bergegas untuk menyiapkan diri sesempurna mungkin, mengingat jika pada akhir bulan nanti dirinya harus mengikuti evaluasi yang bahkan tidak Dalila ketahui pelaksanaannya akan seperti apa. “Ya, aku harus fokus. Aku tentu saja tidak ingin membuat masalah apa pun yang memperumit situasi,” ucap Dalila serupa dengan keluhan. Julion yang mendengarnya terkekeh pelan. Ia menatap Dalila dengan lembut, mengabaikan tatapan penuh peringatan dan tajam yang diarahkan oleh Max padanya. Tentu saja Julion menyadari tatapan membunuh yang diberikan oleh Max tersebut. Namun, Julion memilih untuk tidak mempedulikannya. Karena hal itu malah akan membuat Max semakin marah, dan mempermainkan Max adalah hal yang menyenangkan bagi Julion. “Tidak perlu cemas. Aku yakin kau lebih dari mampu untuk membuat para tetua dengan kemampuan yang kau miliki,” ucap Julion lalu akan meraih daun yang jatuh pada helaian rambut Dalila. Namun, tangan Julion sudah lebih dulu ditepis dengan kasarnya oleh Max. Ya, entah sejak kapan pria itu sudah berada di dekat Dalila. Karena Dalila sendiri sama sekali tidak menyadari kedatangan Max di sana. Dalila melirik kea rah tempat di mana sebelumnya Max berada dan mengerjakan tugasnya. Namun, di sana hanya ada Dante yang memberikan hormat sebelum beranjak pergi begitu saja. Dalila menghela napas pelan, sadar jika Dante menyerahkan urusan Max padanya. “Bukankah sudah kubilang untuk jangan melakukan kontak fisik berlebihan dengan istriku?” tanya Max dengan penuh penekanan di setiap katanya. Raut wajahnya terlihat sangat gelap, dengan tatapan tajam yang menyorot dari netra keemasannya yang berkilauan. Tentu saja Dalila dan Julion bisa merasakan jika saat ini Max tengah marah. Meskipun sudah tahu, Julion sama sekali tidak berniat untuk mundur. Seperti apa yang sudah ia katakan sebelumnya. Membuat Max marah dan mempermainkan dirinya adalah sebuah hiburan bagi Julion. Pria itu pun berkata, “Aku tidak melakukan kontak fisik berlebihan dengan Dalila. Aku rasa Dalila juga sependapat denganku.” Max menatap tajam pada Julion, sementara Julion menatapnya balik dengan tenang tetapi terkesan mengolok-olok dirinya. Tentu saja, situasi semakin menegang. Dalila bahkan merasakan jika udara yang ia hirup hampir terasa mencekik lehernya. Sangat menjengkelkan, tetapi Dalila berusaha untuk tetap tenang. Karena jika ingin menjadi penengah, ia harus bersikap tenang. “Sudah, kenapa kalian terus saja bertengkar seperti ini?” tanya Dalila. “Aku tidak bertengkar dengannya. Aku hanya memberikan peringatan agar dirinya tidak melewat batas,” ucap Max sembari meraih pinggang istrinya dan mencium pelipis Dalila tanpa merasa canggung sedikit pun. Julion yang masih berada di sana tentu saja bisa melihatnya dengan jelas. Diam-diam Julion mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu, jika Max sudah menyadari rasa ketertarikannya pada Dalilla. Julion yakin, hal itulah yang membuat Max mengurung diri dengan Dalila selama lebih dari seminggu di dalam kamarnya. Max juga tidak membiarkan Julion terlalu dekat dengan Dalila. Seakan-akan Max membentangkan jarak yang tidak boleh dipersempit oleh Julion. Hal yang rasanya sangat wajar dilakukan oleh seorang kaum serigala yang dikenal sangat teritori dan sangat menjaga apa yang ia miliki. Mungkin bukan hanya wajar bagi kaum manusia serigala. Namun, wajar bagi semua pria yang sangat mencintai kekasihnya. Hal yang membuat Julion merasa tertantang untuk membuat Max semakin jengkel dan semakin protektif. Ia bahkan tergoda untuk membuat ketakutan Max menjadi nyata. Yaitu membuat Dalila berpaling darinya. Bagi Julion, membuat seorang wanita jatuh hati padanya bukanlah hal yang sulit. Karena selama ini sudah tidak terhitung ada berapa wanita yang memang jatuh hati padanya. Dengan pesona yang ia miliki sebagai seorang vampire, ditambah dengan kemampuannya berkata-kata manis, bukan hal yang mustahil bagi Julion untuk mendapatkan hati wanita mana pun. Jelas, kali ini Julion tertantang untuk mendapatkan hati Dalila, setelah Max melakukan hal ini di hadapannya. “Aku rasa, kau harus pergi. Kau hanya mengganggu kelasku dengan Dalila,” ucap Julion memberikan pengusiran keras terhadap Max. Julion merasa berhak untuk melakukan pengusiran, karena jelas-jelas bahwa ini adalah daerah kekuasaannya sebagai seorang guru. Ini adalah kelasnya, dan tentu saja ia yang memiliki kuasa untuk memberikan perintah apa pun, termasuk untuk mengusir Julion. Sayangnya, Max sama sekali tidak berniat untuk beranjak pergi dari sana. Max malah semakin erat memeluk Dalila, seakan-akan ingin menyatakan jika dirinya tidak akan menjauh dari sosok istrinya itu. Max berkata, “Kenapa aku mengganggu kelasmu? Kini istriku akan melatih kemampuannya dalam menggunakan kekuatan sihir yang dikombinasikan dengan kekuatan fisiknya. Itu artinya, aku juga harus terlibat dalam pelatihan ini.” Julion terkekeh pelan, seakan-akan mengejek perkataan Max tersebut. Tentu saja Max mengernyitkan keningnya, merasa jika Julion mengejeknya. “Sayangnya aku tidak mau berbagi kelas denganmu. Kita lakukan seperti biasanya saja. Satu hari berlatih denganmu, dan satu hari berlatih denganku,” ucap Julion memutuskan. Namun, kali ini Max yang terkekeh, mengejek perkataan Julion yang rasanya sangat konyol di telinganya. “Kenapa kau yang memutuskan? Memangnya kau pikir, kau memilik hak apa hingga berani memutuskannya seperti itu? Aku yang lebih berhak untuk memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya,” ucap Max. “Betapa seenaknya,” cela Julion atas apa yang dikatakan oleh Max tersebut. Tentu saja Max tahu jika Julion mengatakan hal tersebut untuk memprovokasi dirinya. Max tidak terpancing dan malah berkata, “Aku tidak seenaknya. Aku hanya melakukan hal wajar yang semestinya dilakukan oleh seorang suami. Karena kau belum memiliki seorang istri, kau pasti belum mengetahui apa yang aku rasakan. Jadi, diam. Dan lakukan saja apa yang sudah kukatakan.” Julion berdecih, merasa sangat jengkel karena Max menekankan kata istri dan suami di dalam perkataannya. Seakan-akan ingin membuat Julion sadar dengan posisinya. Max ingin membanggakan bahwa ia adalah seorang suami yang memiliki kuasa untuk menentukan apa yang akan dilakukan oleh Dalila. Pada akhirnya, Julion dan Dalila saling bertatapan. Tentu saja bukan dengan tatapan penuh cinta, tetapi dengan tatapan tajam saling mencela. Dalila yang berada di tengah-tengah keduanya hanya bisa menghela napasnya. Ia seakan-akan tengah terjebak di antara pertengkaran anak kecil. Benar, baginya kini Max dan Julion terlihat seperti anak kecil yang tengah bertengkar dengan kata-kata. Sungguh kekanakan, hingga membuat Dalila merasa jengah. Ia pun memejamkan matanya dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sebenarnya apa yang tengah kulakukan sekarang?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD