“Jika kau berpapasan dengan pria itu lagi, kau harus mengabaikannya,” ucap Max saat dirinya masih fokus dengan kemudinya.
Benar, kini Dalila dan Max sudah dalam perjalanan kembali dari acara kencan mereka. Secara terpaksa, Dalila harus meninggalkan pusat perbelanjaan, unntungnya Max membayar semua barang yang sudah Dalila pilih. Jadi, setidaknya Dalila tidak terlalu merasa kecewa. Walaupun dirinya harus pulang kembali ke daerah yang sudah terisolasi itu.
“Kenapa sikapmu sangat berlebihan? Tadi kau juga tidak membiarkanku untuk mengatakan apa pun pada Julion. Kau benar-benar berlebihan, untuk berhadapan dengan seseorang yang bersikap tenang sepertinya,” ucap Dalila mengomentari sikap Max yang benar-benar terasa berlebihan menurut Dalila.
Max yang mendengar hal itu tentu saja merasa sangat tidak senang. Max merasa jika saat ini Dalila tengah berpihak pada Julion. Entah mengapa Max merasa kalah saing dari Julion. Padahal, jelas-jela Dalila adalah miliknya. Istri yang menjadi separuh dari jiwanya.
“Kau tidak tau apa yang tengah ia rencanakan di balik sikap tenangnya itu, Dalila. Dia adalah pria licik berotak busuk. Dia sama sekali bukan orang baik, yang bisa kau jadikan sebagai teman. Dia vampire siala*n yang tidak patut untuk berada di sekitarmu,” ucap Max membuat Dalila sadar akan satu hal.
Ternyata, memang pada dasarnya Max memiliki masalah pribadi dengan Julion. Entah mengapa itu, sudah dipastikan jika pun Dalila bertanya, Max tidak mungkin menjawabnya. Di sisi lain fakta bahwa Julion ternyata adalah seorang vampire, membuat Dalila terkejut. Dalila masih merasa sangat takjub, jika orang-orang normal yang ia temui selama ini kemungkinan besar adalah seorang kaum immortal.
Tadi saja, Dalila bertemu dengan Julion, yang seorang vampire. Namun, Dalila sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia benar-benar terlihat seperti manusia normal, seperti halnya Max dan Nich yang sebelumnya sudah jauh lebih dulu ia temui. Saking normalnya, jika Dalila memang belum masuk ke dunia ini, Dalila pasti akan menertawakan mereka saat mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk immortal.
“Dia seorang vampire?” tanya Dalila pelan, tetapi bisa didengar dengan jelas oleh Max yang memang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Selain itu, Max juga bisa mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya itu.
“Ya. Dia vampire teburuk yang pernah aku kenal. b******n*n yang tidak pernah bisa dipercaya, dan selalu memiliki trik licik. Seseorang yang tidak akan pernah bisa bekerja sama denganku. Entah bagaimana nantinya kaum vampire berada di bawah kepemimpinanya,” ucap Maax terlihat begitu membenci Julion yang tidak ada di sana.
Rasanya Max ingin kembali mengutuk Julion, tetapi Max menahan diri. Ia tidak mau membuang-bbuang tenaganya hanya untuk melakukan hal itu. Bagi Max, ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Namun, ternyata apa yang dikatakan oleh Max malah membuat Dalila semakin tertarik untuk membicarakan hal itu lebih lanjut. Dalila pun bertanya dengan nada sedikit takjub, “Dia calon pemimpin selanjutnya dari kaum vampire?”
Tanpa sadarm pertanyaan tersebut rupanya membuat Max dibuat semakin kesal. Max menghentikan laju mobilnya dan menatap Dalila dengan tatapan yang terlihat begitu kesal. “Apa sekarang kau tengah mengaguminya? Mengagumi si Bajinga*n itu?” tanya Max dengan nada tidak percaya.
“Memang apa salahnya? Dia memang terlihat mengagumkan, aku rasa dia masih sangat muda untuk memimpin kaum vampire,” ucap Dalila membuat Max semakin tidak percaya dibuatnya.
“Hei, sebelumnya, aku sudah lebih dulu menjadi pemimpin kaum. Selain itu, dia tidak muda. Dia seusia denganku. Itu artinya dia jauh tertinggal dariku, dan tidak patut untuk mendapatkan kekaguman darimu. Jika kau ingin mengalamatkan kekaguman, sudah pasti akulah yang sepantasnya mendapatkan hal tersebut,” ucap Max sembari menghentikan laju mobilnya. Merasa jika pembicaraan ini benar-benar harus dituntaskan.
Dalila mengernyitkan keningnya. “Jika dia memang sudah tua, dan bahkan kau menyebutnya sudah tua, itu berarti kau juga sudah tua? Memangnya berapa umur kalian?” tanya Dalila benar-benar penasaran.
Max yang menyadari ke manakah arah pembicaraan ini, segera berdeham. “Untuk apa kau mengetahuinya? Hal yang paling penting adalah, kau tidak boleh dekat-dekat dengan pria itu. Abaikan saja jika kau memang berpapasan dengannya. Anggap saja kau melewati kotoran,” ucap Max.
Dalila menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau. Dia sama sekali tidak berbahaya bagiku, jadi kurasa aku tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti apa yang kau perintahkan itu. Jika kau memang memiliki masalah dengannya, maka kau harus menyelesaikan sendiri masalahmu. Jangan libatkan aku dalam perselisihan kalian,” ucap Dalila membuat Max benar-benar kesal.
“Apa tidak bisa sekali saja kau mendengarkan apa yang aku perintahkan? Apakah sesulit itu? Aku hanya memintamu untuk menjauhi Bajinga*n itu. Apakah itu terasa sulit?” tanya Max membuat Dalila menatapnya dalam-dalam.
“Jika kau berada di posisiku, maka kau akan sadar, seberapa sulit situasiku saat ini. Aku mengalami berbagai hal yang sulit dan mengejutkan dalam waktu yang berdekatan. Rasanya aku belum bisa bernapas dengan benar, lalu sekarang kau menkanku dengan berbagai perintah yang membuatku semakin tertekan saja. Jika kau memintaku untuk memberikan penilaian, jelas kau lebih bajinga*n daripada pria yang kau sebut bajinga*n,” ucap Dalila tajam.
Tentu saja apa yang dikatakan oleh Dalila membuat Max menampilkan ekspresi gelapnya. Max pikir, hubungan mereka sudah memiliki kemajuan, karena dirinya sudah mengikuti saran yang diberikan oleh Dante padanya. Namun ternyata, mereka malah semakin berjarak karena selisih pendapat. Seharusnya, sejak awal Max memang tidak membawa Dalila ke luar. Bertemu dengan Julion ternyata malah membuat mereka kembali ke titik awal.
Sejak dulu, Julion memag hanya membawa masalah baginya. Pria itu rasanya selalu menebar ranjau yang menyulitkan orang-orang yang berada di sekitarnya, terutama Max sendiri. Max mengetatkan rahangnya dan berkata, “Seharusnya sejak awal aku tidak perlu berpikir untuk memperbaiki hubunganku deganmu, Dalila. Karena pada dasarnya, kau sendiri tidak memiliki pemikiran untuk menjalin hubungan yang baik, sebagai pasangan suami istri denganku.”
**
Acara kencan Dalila dan Max ternyata berakhir dengan kurang baik. Bukannya membuat suasana mansion menjadi membaik, kini keduanya terlihat bersitegang daripada sebelumnya. Setelah pulang dari acara kencan, Dalila bahkan mengurung diri di dalam kamar. Sementara Max memilih untuk menyibukan diri dengan semua pekerjaannya dengan Dante yang mendampinginya.
Tentu saja apa yang terjadi ini membuat Dante merasa cemas. Seharusnya kencan yang mereka lakukan membawa kabar baik mengenai hubungan mereka. Setidaknya, ada kemajuan dalam hubungan itu. Namun, sepertinya yang terjadi malah berkebalikan dengan hal yang diinginkan oleh semua orang. Entah apa yang terjadi, hingga membuat hubungan keduanya semakin mendingin saja.
Padahal, sebelumnya Dante dan Sia yang sudah mengurus pesanan pakaian serta barang-barang mewah lainnya yang memang dipesan atas nama Max untuk Dalila. Seharusnya, melihat hal itu, kencan mereka memang berjalan dengan baik. Dante tidak bisa menebak hal apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat keduanya kembali berjarak seperti ini. Tentu saja Dante tidak bisa menanyakan hal itu begitu saja pada Max. Karena Dante sendiri yakin jika sang tuan tidak mungkin menjawab pertanyaannya begitu saja.
“Tuan, bukankah lebih baik Tuan kembali mengajak Nyonya untuk menghabiskan waktu di luar? Mungkin, itu akan lebih baik untuk hubungan kalian,” ucap Dante memberikan saran.
Sayangnya, Max berkata, “Tutup mulutmu, Dante. Mulai saat ini aku tidak akan menuruti saran apa pun berkaitan dengan hubunganku dengan Dante. Biar aku sendiri yang mengurus mengenai hubungan kami.”
Dante pun menahan diri untuk tidak menghela napas dan meletakan sebuah laporan terbaru dari orang-orang yang memang bertugas di luar daerah kekuasaan mereka. Max tidak mengatakan apa pun dan memilih untuk membaca laporan tersebuat dengan saksama. Kening Max pun secara cepat mengernyit dalam. Tanda jika apa yang ia baca ternyata adalah masalah yang benar-benar tidak bisa dianggap remeh.
“Apa masalahnya memang seburuk ini?” tanya Max.
Dante mengangguk. “Kami berharap jika situasinya tidak lebih buruk daripada ini. Mereka yang bertugas di luar, masih berusaha untuk menanganinya dan mengendalikan masalah ini agara tidak semakin membesar,” ucap Dante menjelaskan situasi terbaru saat ini pada sang tuan yang terlihat tidak puas dengan penjelasan tersebut.
“Jika seperti ini, aku harus mendiskusikannya segera dengan yang lainnya. Beritahu bahwa esok akan diadakan rapat tertutup untuk kami para pemimpin klan,” ucap Max dengan tangan dinginnya.
Sementara Max masih berkutat dengan masalah pekerjaannya, maka Dalila memang tengah berada di dalam kamarnya dengan Max. Dalila tampaknya memutuskan untuk beristirahat. Setidaknya tidur akan membuat suasana hati Dalila membaik. Memikirkan hubungannya dengan Max sama sekali tidak akan ada ujungnya. Hal itu hanya membuat Dalila semakin stress saja.
“Selamat tidur,” ucap Dalila pada dirinya sendiri sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Selimut dan ranjang yang terasa lembut berkualitas, membuat Dalila tidur dengan lebih nyenyak daripada biasanya. Semenjak menetap di mansion mewah ini, Dalila memang mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Ini jelas surga bagi Dalila yang mencintai tidur yang nyaman.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama bagi Dalila untuk terlelap dengan mudahnya. Kini, Dalila sudah benar-benar terlelap, dan tenggelam dalam alam bawah sadarnya. Dalila mengira, jika tidurnya malam itu akan berlangsung dengan sangat nyenyak seperti malam-malam sebelumnya. Tidak mendapatkan mimpi indah, bukan masalah bagi Dalila. Ia hanya ingin tidur dengan nyenyak dan bangun dengan segar di keesokan paginya.
Sayangnya, malam itu Dalila ternyata tidak bisa mendapatkan tidur nyenyak yang ia dambakan. Dalila tidak mendapatkan sebuah mimpi indah, melainkan mimpi buruk yang terasa begitu mencekiknya. Dalam mimpinya, Dalila bertemu dengan seorang pria di tengah area berkabut. Dalila jelas tidak mengenal tempat itu, berikut dengan pria yang berada di hadapannya. Dalila bisa mengetahui jika pria di hadapannya ini memanglah seorang pria dari postur tubuhnya, tetapi Dalila sama sekali tidak bisa melihat wajah pria itu.
“Dalila,” panggil suara rendah yang sama sekali tidak Dalila kenali. Suara itu terdengar mengerikan, hingga membuat Dalila mundur satu langkah.
Pria itu masih berada di tengah kabut dan berkata, “Tolong aku, Dalila.”
Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah memang meminta pertolongan dari Dalila. Namun, Dalila merasa jika dirinya sama sekali tidak perlu menolongnya. Sosok itu tidak perlu mendapatkan pertolongan darinya. Saat pria itu terus mencoba untuk mendekat dan meraih Dalila, maka Dalila akan sekuat tenaga menjauh dari jangkauan tangan tersebut.
“Menjauh dariku!” teriak Dalila saat merasa jika dirinya benar-benar terancam.
Namun, sosok yang berada di tengah kabut itu mulai ke luar dari sana. Semula, Dalila pikir jika dirinya akan melihat sosok pria yang menerornya itu. Hanya saja ternyata, secara tiba-tiba pria itu berubah menjadi sosok tubuh hitam legam yang mengerikan. Dalam sekejap mata, sosok hitam itu mencekik Dalila dengan sekuat tenaga. Menghambat jalur pernapasan Dalila.
Tentu saja Dalila berontak. Dalila yang sadar jika itu adalah mimpi, berusaha untuk bangun. Ia harus bangun, karena mimpi mengerikan yang tidak bisa ia hadapi lagi. Untungnya, upaya Dalila berhasil di detik-detik terakhir. Dalila terbangun dengan kondisi tubuh mengejang dan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia pun terduduk dan mengatur napasnya yang memburu. Dalila sangat lelah. Itu mimpi yang sangat mengerikan, mungkin bisa Dalila kategorikan sebagai mimpi yang paling mengerikan yang pernah Dalila alami.
Saat Dalila sudah bisa mengendalikan dirinya, Dalila pun menoleh untuk menatap sisi ranjang di sampingnya. Ternyata, sisi ranjang itu terlihat masih rapi. Saat Dalila mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaannya, tidak ada kehangatan sedikit pun di sana. Tanda jika Max memang tidak kembali barang sebentar untuk berbaring di sana. “Dia tidak kembali,” gumam Dalila dengan nada sendu.
Dalila tahu, jika kemungkinan besar, pembicaraan terakhir mereka tadi sore membuat Max marah dan enggan untuk bertemu dengannya lagi. Dalila tentu saja sadar betul akan kemungkinan tersebut. Namun, entah mengapa kini Dalila merasakan sesuatu yang aneh menggeliat dalam dadanya. Dalila mengulurkan tangannya untuk menyentuh dadanya. Mencoba meresapi, sebenarnya apa yang saat ini tengah ia rasakan.
Lalu secara mengejutkan, Dalila bertanya pada dirinya sendiri, “Tidak mungkin. Kini, aku merasa … sedih? Karenanya? Karena pria itu?”