Kencan pertama Dalila dan Max, secara mengejutkan berjalan dengan sangat lancar. Meskipun ke luar dari daerah yang mendapatkan perlindungan dari Sang Pencipta, tidak ada masalah yang terjadi yang mengganggu jalan kencan keduanya. Daerah yang mendapatkan perlindungan Sang Pencipta sendiri, adalah sebutan daerah yang memang bersih dari kontaminasi dari para kaum pembelot. Karena sudah berkontak dengan sihir gelap, para pembelot memang tidak bisa masuk ke dalam daerah perlindungan.
Daerah perlindungan sendiri adalah seluruh daerah yang ditinggali oleh kaum immortal yang masih patuh dengan peraturan yang ditetapkan oleh para pemimpin AKI (Asosiasi Kaum Immortal). Meskipun secara sengaja mengisolasi dari daerah yang ditinggali oleh manusia, mereka sama sekali tidak merasa kesulitan dalam hal apa pun. Malah, kemajuan teknologi dan kehidupan mereka lebih baik daripada kehidupan manusia. Mereka memiliki segalanya, dengan ikut campurna sihir dalam kehidupan mereka.
Ada banyak tempat yang bisa dijadikan tempat kencan di dalam daerah perlindungan, tetapi Max pikir rasanya lebih baik membawa Dalila ke luar. Toh, itu tidak akan berbahaya. Selagi Dalila tetap berada di sisinya. Dan mereka menggunakan sihir perlindungan yang menyembunyikan identitas mereka. Dalila sama sekali tidak akan ketahuan sebagai anak campuran yang memang tengah dalam perburuan kaum pembelot. Jika pun ada kaum pembelot yang menyadarinya, Max sama sekali tidak cemas. Ia memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk melindungi istrinya.
Kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa dengan mudah Max hadapi. Hal yang terpenting saat ini adalah membuat Dalila merasa nyaman dan menikmati perjalanan tersebut. Ternyata keputusan yang diambil oleh Max memang sangat tepat. Dalila yang sudah lama tidak ke luar ternyata sangat menikmati perjalanan mereka. Dalila bahkan terlihat lebih sering tersenyum. Dalila terlihat sangat bahagia ketika dirinya menyantap junkfood, alih-alih makanan mewah.
“Sudah cukup? Apa mau tambah lagi?” tanya Max sembari menyeka pipi Dalila yang terkena saos. Gerakannya terlihat sangat alami, seakan-akan Max memang sudah terlatih atau sering melakukan hal seperti. Ekspresi wajah Max terlihat datar, walaupun sebenarnya ia sudah melakukan sentuhan manis yang bagi sebagian orang terasa begitu intim.
Berbeda dengan Dalila. Dalila terlihat agak malu, saat menerima perlakuan seperti itu dari Max. Namun, Dalila tidak lupa untuk menjawab pertanyaan yang sudah diajukan oleh suaminya itu. “Aku rasa sudah. Aku sudah kenyang dengan ini,” jawab Dalila lalu kembali makan makanannya, untuk mengurangi rasa malunya.
Saat ini keduanya tengah berada di sebuah restoran junkfood yang sangat terkenal di segala kalangan usia. Kebetulan karena itu adalah jam untuk makan siang, restoran tersebut cukup penuh. Sebenarnya, para pelanggan juga tengah menikmati makanan mereka. Namun, sepertinya makanan mereka kalah menarik dengan pasangan menawan yang hadir di tengah-tengah mereka. Benar, Dalila dan Max sangat menarik perhatian.
Selain wajah mereka yang jelas-jelas berada di atas rata-rata, pakaian mereka juga terlihat serasi. Seakan-akan ingin mengatakan pada semua orang jika mereka adalah seorang pasangan yang sudah saling mencintai. Tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk masuk di antara keduanya. Siapa pun yang waras, tentu saja tidak akan berani untuk berpikir merebut salah satu di antara mereka. Mengingat jika keduanya sudah terlihat sangat serasi. Apalagi, si pria yang memiliki rambut hitam itu terlihat sangat mencintai kekasihnya.
Max memang terlihat begitu lembut memperlakukan Dalila. Walaupun tetap saja Max tidak bisa mengenyahkan aura dingin yang pada dasarnya sudah menjadi bawaan lahir Max. Namun, setidaknya tatapan matanya saat menatap Dalila adalah tatapan hangat penuh kelembutan. Yang jelas berbeda saat dirinya memberikan tatapan penuh peringatan pada pemuda yang menatap Dalila lebih dari tiga detik.
“Apa kau menikmati kencan kita in?” tanya Max tiba-tiba setelah minum air putih yang ia pesan.
“Jangan menyebut ini sebagai kencan. Aku merasa geli mendengarnya,” jawab Dalila sembari menyeka tangannya setelah makannya selesai.
Max pun mengambil alih tugas tersebut. Ia menyeka tangan Dalila dengan tisu basah dengan teliti. Memastikan jika tidak ada remah atau saus yang mengotori tangan istrinya itu. Max berkata, “Jika ini bukan kencan, lalu apa lagi? Toh, bukannya wajar jika pasangan berkencan? Karena itulah, tepat rasanya aku menyebut jika ini adalah kencan kita. Kencan pertama bagi kita.”
Max lalu menyunggingkan senyuman yang hampir membuat para pelanggan wanita di sana menjerit karena merasa Max sangatlah memukau. Dalila mengernyitkan keningnya saat merasa jika para wanita terus saja mencuri pandang pada Max. Sebenarnya, ini sudah Dalila rasakan ketika mereka baru saja memulai acara jalan-jalan mereka. Max selalu menjadi pusat perhatian dan menarik pandangan para wanita yang mereka lewati. Entah mengapa, Dalila benar-benar tidak menyukai fakta tersebut.
“Mungkin ini akan terasa sangat menyenagkan, jika kau nanti memakai topi,” ucap Dalila membuat Max tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu.
Dalila merasa jengkel ketika Max menampilkan ekspresi tidak paham. Dalila mendengkus, “Maksudku, kau pakai topi saja. Agar tidak terlalu menarik perhatian. Setelah itu, aku rasa perjalanan kita ini akan terasa lebih menyenangkan.”
“Jika aku mengenakan topi, maka kau juga harus mengenakannya. Kau juga harus menutupi wajahmu. Aku tidak senang saat pria menatap wajah istriku ini,” ucap Max membuat pipi Dalila sontak memerah dengan cantiknya. Entah mengapa, Dalila merasa sangat senang dengan ucapan yang sarat akan posesiv tersebut. Padahal, Dalila jelas-jelas tidak senang dengan pengekangan yang berlebihan. Namun, kali ini berbeda. Jantung Dalila bahkan berdegup dengan sangat kencang.
Seakan-akan ingin mengatakan dan menyadarkan Dalila, akan sesuatu yang terus ia abaikan selama ini. Dalila mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk menyadarkan diri, jika dirinya tidak boleh memikirkan hal yang macam-macam. Karena itulah, Dalila berkata, “Jangan mengatakan hal yang konyol!”
Max pun agak mencondongkan wajahnya dan berkata, “Aku tidak mengatakan hal yang konyol, Dalila. Saat ini, aku merasa marah dan menyesal. Marah karena mereka semua terus mencuri pandang padamu, padahal jelas-jelas sudah kuberikan peringatan. Menyesal, karena aku membawamu ke luar dengan penampilan cantik seperti ini, dan membuatku tersiksa sendiri karena rasa kesal ini.”
**
Max memakaikan sebuah topi untuk Dalila. Topi itu berwarna putih, serupa dengan topi yang juga dikenakan oleh Max. Dari sisi mana pun, kini keduanya benar-benar terlihat seperti pasangan muda yang tengah berkencan. Dengan tangan yang saling bergandengan dan pakaian dari ujung kepala hingga ujung kaki yang serasi, memangnya siapa yang tidak berpikir bahwa keduanya adalah pasangan? Terlebih dengan bagaimana Max memperlakukan Dalila. Semua orang bisa melihat betapa protektif dirinya menjaga sang kekasih.
“Sekarang kita ke mana?” tanya Dalila saat Max mengajaknya melangkah menyusuri pusat perbelanjaan besar yang mereka kunjungi untuk membeli topi barusan.
“Entahlah. Aku berpikir untuk menunjukan betapa kayanya diriku padamu,” jawab Max lalu menghela Dalila memasuki sebuah toko dari sebuah brand mode yang terkenal.
Dalila mengernyitkan keningnya, saat Max mengajaknya untuk melihat koleksi sepatu hak tinggi. Ini bukan kali pertama Dalila mengunjungi toko-toko barang mewah seperti ini. Bagi Dalila, ini adalah hal lumrah. Tentu saja itu tidak terlepas dari fakta bahwa dirinya dulu adalah seorang pengawal elit. Ia sudah terbiasa ke luar masuk tempat mewah, walaupun tentu saja tidak pernah membeli barang-barang itu.
Dalila memang suka dengan uang. Ia bekerja keras tentu saja untuk mengumpulkan uang. Namun, Dalila sama sekali tidak suka menghabiskan uang dengan cara membeli barang mewah seperti itu. Dalila lebih senang menyimpannya. Jika pun Dalila ingin berbelanja, hal yang Dalila lakukan adalah berbelanja banyak bahan makanan. Melihat lemari dapur dan lemari pendinginnya terisi penuh dengan semua makanan yang ia sukai, membuat Dalila merasa sangat senang. Kesenangan yang setara dengan dirinya yang mendapatkan jatah libur kerja.
“Pilihlah mana yang kau inginkan,” ucap Max.
Sesuai dengan tebakan Dalila, ternyata Max memang ingin membelikan barang-barang mewah ini. Sayangnya, Dalila tidak tertarik. Apalagi untuk mengenakan sepatu hak. Sebelumnya saat dirinya bertugas, ia memang harus mengenakan sepatu hak. Itu pun dengan tinggi yang tidak lebih dari lima sentimeter. Namun, itu sudah terasa menyiksa bagi Dalila. Karena kini dirinya tidak bekerja, rasanya Dalila tidak ingin berdekatan dengan barang itu. Jadi, Dalila pun berkata, “Tidak mau. Tidak perlu membelikan apa pun untuku.”
Ucapan Dalila membuat pelayan toko yang menemani keduanya agak terkejut. Tentu saja ia tidak boleh membiarkan hal ini begitu saja, ia tidak boleh sampai kehilangan seorang pelanggan. Ia pun tersenyum lebar dan berkata, “Nona sa—”
“Nyonya, bukan Nona. Dia istriku,” ucap Max memotong perkataan pelayan itu membuat Dalila mencubit tangan suaminya. Merasa jika Max tidak perlu menegaskan hal tersebut.
“Ah, baik, maafkan saya. Jika memang tidak ada koleksi sepatu yang Nyonya sukai, Nyonya juga bisa melihat koleksi tas serta beberapa dress koleksi terbaru kami. Saya rasa, ada banyak yang akan cocok untuk Nyonya,” ucap pelayan itu dengan senyum profesionalnya.
Namun, Dalila segera menjawab, “Terima kasih, tetapi tidak perlu. Aku tidak memiliki niat untuk membeli apa pun. Maafkan suamiku yang mengatakan hal sembarangan.”
Sayangnya, Max yang memang sudah berniat untuk membelikan sesuatu untuk Dalila segera berkata, “Tutup toko kalian. Nanti, akan ada beberapa orangku yang akan mencocokan ukuran sepatu, dan gaun yang sesuai dengan tubuh istriku.” Setelah mengatakan hal itu, Max pun memberikan kartu namanya. Pelayan pun terkejut saat melihat nama belakang Max, ia pun segera beranjak untuk melakukan permintaan Max, karena apa yang diminta oleh Max bukanlah hal yang tidak masuk akal. Mengingat kekayaan yang ia miliki sebagai anggota keluarga Lucca yang terkenal.
Sementara Dalila merasa jika apa yang dilakukan oleh Max sangat tidak masuk akal. Ketika Max menghela istrinya itu untuk ke luar dari toko, Dalila pun berkata, “Kau gila? Berapa uang yang akan kau habiskan untuk membeli apa yang belum tentu akan kugunakan?”
Max mengendikan bahunya. “Rasanya, jika aku membeli pusat pembelanjaan ini pun, uang yang kuhabiskan tidak seberapa. Uangku tidak akan terlihat berkurang.”
Mendengar hal itu, Dalila merasakan sudut bibirnya berkedut. Ia tidak bisa menahan diri untuk mengatai suaminya itu. “Sombongnya, aku jadi tertantang untuk membuatmu menangis karena bangkrut,” ucap Dalila.
“Mau taruhan? Aku rasa, aku tidak akan pernah bangkrut, walaupun tiap hari membiarkanmu menggunakan kartu kreditku,” ucap Max.
Dalila hampir tertawa karena merasa kesal dengan tingkah sombong suaminya itu. Saat tiba di area perbelanjaan yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dan makanan. Dalila segera berkata, “Kalau begitu, biarkan aku memilih camilanku.”
Max melepaskan genggaman tangannya dan berkata, “Pergilah. AKu beri waktu setengah jam. Ambil apa pun yang kau inginkan.”
Dalila yang mendengar hal itu merasakan angina segar yang menerpa wajahnya. Tanpa pikir panjang, Dalila pun mengambil troli belanja dan mendorongnya dengan suasana hati yang berbunga-bunga. Max sendiri mengambil troli dan melangkah menuju area daging. Ia juga ingin membeli daging-daging berkualitas, dan nantinya ingin Dalila memasak untuknya sebagai bayaran semua camilan yang ia beli.
Dalila terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah setelah mendapatkan peringkat satu di kelasnya. Ia terlihat antusias memilih makanan ke sana ke mari. Hingga, Dalila kesulitan untuk mengambil camilan di rak yang tinggi. Ia menoleh ke sana ke mari mencari suaminya, tetapi Dalila tidak melihatnya. Hingga, Dalila dibantu oleh seseorang yang jelas lebih tinggi dan mampu meraih barang yang memang diinginkan oleh Dalila.
“Terima kasih,” ucap Dalila sembari menoleh dan terkejut jika seseorang yang menolongnya tak lain adalah seorang pria yang terlihat sangat tampan.
Pria itu tersenyum lembut dan menjawab, “Sama-sama. Ada yang perlu kubantu untuk kuambilkan?”
Dalila pun mendongak dan menunjuk beberapa barang sembari berkata, “Kalau begitu aku akan memanfaatkan kebaikan hati kamu. Tolong ambilkan itu dan itu ya.”
Pria itu terkekeh dan mengambilkan apa yang ditunjuk oleh Dalila dengan senang hati. “Sudah?” tanya pria itu sembari memberikan barang-barang itu padanya.
Dalila menerimanya dan berterima kasih untuk kedua kalinya. Lalu, pria itu pun berkata, “Jika tidak keberatan, tolong bayar pertolonganku ini dengan saling berkenalan.”
Dalila tersenyum tipis, dan pada akhirnya menjabat tangan pria itu. “Dalila,” ucap Dalila.
Lalu, saat pria itu akan menyebutkan namanya. Seseorang sudah lebih dulu menarik Dalila hingga jabatan tangan mereka terlepas. Itu tak lain adalah Max yang kini menyembunyikan Dalila di belakang punggungnya. “Apa sekarang kau tengah mencoba untuk membuat masalah denganku, Julion?” tanya Max dengan tatapan tajamnya.
Pria tampan yang bernama Julion itu pun tersenyum. Ia mencuri pandang pada Dalila yang masih disembunyikan di belakang punggung Max. Karena ukuran tubuh Max yang tinggi besar, tubuh Dalila disembunyikan secara sempurna di belakang punggung suaminya itu. Julion pun berkata, “Tidak. Aku hanya tengah menyapa dan berkenalan dengan sahabat baruku.”
Mendengar ucapan itu, Max mengernyitkan keningnya dalam-dalam dan berkata, “Menjauh darinya, Julion.”
“Memangnya kenapa? Aku rasa, aku tidak memiliki kewajiban untuk menuruti perintahmu,” ucap Julion jelas tidak ingin menuruti perintah Max.
“Tentu saja kau harus. Karena dia adalah istriku,” jawab Max penuh penekanan.