Max meletakan surat yang berada di tangannya dan menatap bawahan setianya sebelum bertanya, “Kesalahan apa yang kau maksud?”
Dante menghela napas. Benar-benar yakin jika ternyata Max tidak menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan. “Astaga Tuan, Anda sama sekali tidak akan mendapatkan hati Nyonya jika terus bertindak seperti ini!” seru Dante benar-benar frustasi dengan tingkah tuannya ini.
Benar, Dante sangat frustasi dengan apa yang dilakukan oleh tuannya. Padahal, semua orang menyambut bahagia fakta bahwa Max sudah menemukan pasangan yang sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta. Ia menemukan pasangan yang bahkan disebut sebagai mate. Sistem mate sudah menghilang sejak ribuan tahun yang lalu, membuat semua makhluk immortal memiliki kebebasan untuk memilih siapa pun untuk menjadi pasangannya. Namun, Max mendapatkan berkat dari Sang Pencipta dengan kembali merasakan sistem mate atau soulmate.
Pasangan yang dipilihkan oleh Sang Pencipta tentu saja adalah pasangan yang sangat sempurna untuk Max. Semua kaum manusia serigala berharap jika aka nada kabar baik mengenai hubungan Dalila dan Max. Mereka mengharapkan calon penerus yang menggemaskan. Tentu saja kediaman milik Max membutuhkan tawa anak-anak untuk menceriakan dan menyegarkan suasana yang terlalu suram dan serius di sana.
Sayangnya, harapan mereka harus ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan. Mengingat hubungan Max dan Dalila yang terlihat memburuk dari waktu ke waktu. Setiap hari, rasanya ada saja yang memantik perdebatan antara keduanya. Rasanya Max selalu bersikap menyebalkan di mata Dalila dan membuat istrinya itu kesal atau marah. Di sisi lain, Max juga bersikap manis, setelah membuat Dalila kesal. Walaupun hal tersebut sebenarnya tidak bisa membuat Dalila merasa lebih baik, karena sudah benar-benar kesal pada suaminya itu.
“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Max tidak tahu malu, membuat Dante ingin meneriaki pria yang berstatus sebagai tuannya itu.
Max benar-benar membuat Dante merasa sangat frustasi. Padahal Max selalu sempurna dengan apa yang ia lakukan. Max selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sermpurna. Ia juga tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, baik saat memimpin klan, maupun saat mengurus masalah perusahaan. Max benar-benar sempurna, jika mengenyampingkan masalah percintaannya. Max memang belum pernah memiliki kedekatan dengan wanita sebelum bertemu dengan Dalila. Mungkin, inilah yang membuat Max tidak bisa bertindak benar pada istrinya.
“Tuan tidak bisa terus membuat Nyonya merasa kesal setiap hari. Itu akan buruk untuk hubungan kalian. Memang kalian sudah ditakdirkan untuk saling mencintai selama sisa hidup kalian, tetapi itu tidak berarti jika Tuan bisa bersikap seperti ini dan lengah hingga tidak memberikan perhatian semestinya pada Nyonya. Masih ada kemungkinan yang tak terduga dalam hubungan Tuan dan Nyonya,” ucap Dante mencoba untuk menjelaskan secara perlahan.
“Kemungkina tak terduga seperti apa yang kau maksud?” tanya Max dengan kening mengernyit dalam.
“Coba bayangkan, jika pada akhirnya Nyonya mencintai pria lain, dan hal itu malah mematahkan status pasangan hidup kalian? Apa Tuan akan membiarkan Nyonya pergi begitu saja dengan pria itu? Pria yang jelas-jelas sudah merebut Nyonya dari Anda?” tanya balik Dante membuat Max benar-benar kesal.
Bukan hanya kesal, Max merasa sangat marah dengan hanya membayangkan jika istrinya ternyata memiliki perasaan untuk pria lain. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Max ingin mencabik-cabik pria yang berada dalam khayalannya. “Jika itu benar terjadi, aku sama sekali tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh pria itu dengan cara paling kejam yang ada di dunia ini. Cara yang belum pernah dan tidak akan pernah terbayangkan olehnya,” ucap Max dengan aura yang jelas sangat mengerikan.
Dante sebenarnya ngeri dengan pemandangan ini. Namun, Dante tahu jika ia harus mendorong Max hingga batas ini, agar sang tuan bisa sadar dan mengambil langkah yang tepat. “Karena itulah, Tuan harus melakukan sesuatu untuk mencegah hal itu terjadi. Tuan harus mempertahankan Nyonya di sisi Tuan,” ucap Dante.
Max mendengkus. “Kau benar-benar seperti para orang tua itu,” keluh Max jengkel karena sadar bahwa ia sudah terkenal dalam permainan emosi yang dibuat oleh bawahannya itu.
“Lalu, sekarang apa yang harus kuperbuat?” tanya Max pada akhirnya. Merasa jika tidak ada salahnya untuk melakukan apa yang sudah disarakan oleh orang-orang padanya. Setidaknya, ini bukan sesuatu yang terasa sulit baginya. Karena Max yakin, bukan hal yang sulit untuk membuat Dalila menyadari perasaan yang sudah tumbuh dalam hatinya.
Sebagai seorang pasagan yang sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta, mereka sudah sama-sama memiliki bibit cinta dalam hati mereka. Hanya perlu waktu bagi Dalila untuk menyadarinya, seperti Max yang memang sudah menyadari hal tersebut. Kini, Max hanya perlu mendengarkan arahan dari Dante, penasihat sekaligus bawahan setianya. Karena Dante jelas memiliki pengalaman lebih banyak daripada Max, mengenai hubungan dengan seorang wanita.
Saat itulah Dante terlihat begitu antusias. Akhirnya, sang tuan mau mendengarkan apa yang ia dengar. Dante mengatupkan kedua tangannya, terlihat akan melakukan segala hal agar membuat hubungan tuan dan nyonya besarnya bisa membaik. “Pertama, buat Nyonya merasa lebih nyaman. Bagaimana jika Tuan membawa Nyonya untuk berlibur?” tanya Dante tersenyum.
**
“Terima kasih,” ucap Dalila pada Sia yang sudah membantunya menata rambutnya menjadi satu dan diikat dengan ikatan rambut sederhana tetapi cantik.
Dalila mengenakan kaos berwarna biru muda, dengan celana jins berwarna biru gelap. Ia juga mengenakan sepatu kets putih. Tampak sudah siap untuk segera ke luar dan menikmati waktu santainya dengan Max. Sebenarnya Dalila sendiri tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba Max meliburkan latihan dan berkata bahwa ia akan mengajak Dalila untuk menikmati waktu di luar daerah kekuasaannya. Padahal, sebelumnya Max sangat keras, dalam menekankan bahwa Dalila tidak boleh berpikir untuk ke luar dari daerah kekuasaannya.
“Semoga hari Anda menyenangkan,” ucap Sia dan para pelayan.
Dalila mengangguk dan beranjak untuk melangkah menuju pintu utama, mengingat Max memang berada di sana. Saat Dalila tiba di sana, ia melihat Max yang juga berpakaian santai sepertinya. Dalila terkejut, karena ternyata pakaiannya dengan Max sudah dibuat serasi. Bedanya, Max mengenakan kemeja yang tidak dikancingkan, sebagai luaran dari kaosnya. Max tampak lebih muda, dari usinya.
Mengingat usia, Dalila mengernyitkan keningnya. Dalila sebenarnya sampai saat ini pun belum mengetahui usia asli dari Max. Mereka tidak memiliki waktu untuk membicarakan hal itu selama ini. Karena mereka sudah lebih dulu disibukan oleh masalah lainnya. Max pun menggandengan tangan Dalila dengan lembut dan berkata, “Karena itulah, kini kita memiliki banyak untuk membicarakan apa yang sebelumnya belum sempat kita bicarakan.”
Mendengar hal itu, Dalila pun mendongak untuk menatap netra keemasan suaminya. “Kuperingatkan, jangan seenaknya membaca pikiranku. Kau benar-benar menyebalkan,” ucap Dalila berusaha untuk menarik tangannya dari genggaman tangan Max.
Namun, Max mempertahankan genggaman tangan mereka dan berkata. “Baik, aku tidak akan melakukannya. Jadi, jangan marah. Ayo, kita pergi.”
Max pun menghela Dalila untuk melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Dante sebelumnya. Itu adalah mobil mewah, keluaran terbaru. Dalila cukup mengenalnya karena beberapa kliennya yang berasal dari kalangan atas, beberapa dari mereka memang mengenakan jenis mobil yang sama. Dalila pun berpikir, dari mana Max memiliki uang untuk membeli mobil semewah ini. Kediaman Max juga sangat mewah, sepertinya meskipun tinggal di daerah terpencil, terisolasi dari dunia luar, tetapi Max memiliki sumber uang yang besar.
Dalila pun masuk ke dalam mobil, dan Max sendiri yang mengemudikan mobil mewah tersebut. Saat Max mulai mengemudikan mobil tersebut, Dalila pun bertanya, “Aku memiliki beberapa pertanyaan. Apa aku sudah boleh bertanya sekarang?”
“Lakukan semaumu,” jawab Max sambil masih berkonsentrasi dengan kemudinya.
“Apa kau orang kaya?” tanya Dalila hampir membuat Max kehilangan konsentrasi.
Entah harus seperti apa Max bereaksi atas pertanyaan yang terasa sangat konyol di telinganya itu. Max tidak habis pikir, mengapa istrinya itu menanyakan pertanyaan seperti itu. Max benar-benar tidak bisa menebak apa sebenarnya yang mengisi kepala cantik istrinya itu. “Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?” tanya balik Max agak bingung.
“Memangnya apa lagi? Aku tengah memeriksa latar belakang pria yang menjadi suamiku. Meskipun cukup terlambat, tetapi aku rasa ini lebih baik daripada tidak sama sekali,” ucap Dalila seolah-olah tidak peduli dengan apa yang saat ini dipikirkan oleh suaminya itu.
Max mendengkus. “Aku rasa, aku lebih kaya daripada yang kau bayangkan saat ini. Setidaknya, anak dan cucuku nanti sama sekali tidak akan hidup menderita karena masalah sesuap nasi,” jawab Max membuat Dalila mengangguk-angguk.
“Ya, aku yakin. Aku rasa kau tidak mungkin berhutang hanya untuk membeli mobil semewah ini. Setidaknya, kau masih memiliki rasionalitas, walaupun hidup di tengah hal-hal yang tidak masuk akal.” Dalila lalu menatap pemandangan yang dilewati oleh mobil mewah yang dikemudikan oleh Max.
Pemandangan itu sangat indah, dan jujur saja membuat suasana hati Dalila membaik. Dalila memang tidak cocok terus berada di dalam ruangan dan tetap berada di sebuah tempat yang sama dalam rentang waktu yang lama. Dalila lebih senang dengan kegiatan di luar ruangan. Kegiatan yang memungkinkan Dalila untuk bertemu dan mengenal hal baru. Hal-hal yang membuat Dalila mendapatkan pengalaman yang lebih banyak daripada sebelumnya.
Suasana hening itu berubah saat Dalila tiba-tiba teringat mengenai sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat penting. Hal mendasar, yang seharusnya Dalila ketahui dari pasangannya. Dalila berdeham dan bertanya, “Lalu, siapa namamu?”
Max yang mendengar pertanyaan canggung itu, menahan diri untuk tidak menyeringai. Ia juga merasa sangat aneh dengan situasi ini. Pasangan lain, pasti setidaknya mengenal atau mengetahui napa lengkap pasangannya. Namun, hal wajar itu sama sekali tidak terjadi di antara Dalila dan Max. Dalila tidak mengetahui nama lengkapnya. Max pun menjawab dengan santai, “Max Guido Lucca.”
Dalila mengangguk ringan. Sebelum sedetik kemudian membulatkan matanya dan menoleh menatap Max dengan ekspresi terkejut yang terlihat menggemaskan. “Lucca? Kau Tuan Lucca yang itu?!” tanya Dalila hampir meneriakan pertanyaannya.
Max mengernyitkan keningnya. “Aku tidak tau siapa Lucca yang kau maksud, tetapi nama keluargaku memang Lucca,” jawab Max ringan.
Dalila masih belum tersadar dari keterkejutannya dan berkata, “Wah, ini gila. Ternyata suamiku adalah Tuan Lucca. Pengusaha terkaya di negeri ini!”
Dalila mengetahui hal itu karena Tuan Lucca memang menjadi sumber pembicaraan di kalangan atas. Lucca adalah nama keluarga yang terkenal secara turun temurun memiliki kerajaan bisnis yang luar biasa, dan hampir merajai segala bisnis yang ada. Entah dari restoran hingga akomodasi berupa hotel mewah bintang lima. Namun, keluarga Lucca sangat tertutup. Bahkan hingga saat ini tidak ada yang tahu wajah dari keluarga Lucca, saking tertutupnya keluarga tersebut. Mereka biasanya hanya muncul dengan diwakilkan oleh pengacara atau juru bicara resmi mereka.
Namun, hal yang mengejutkan adalah, ternyata Dalila sudah bertemu bahkan menjadi istri dari sosok Tuan Lucca yang sangat membuat pensaran orang-orang. Max sedikit menoleh dan mengulurkan tangannya untuk mengatupkan bibir Dalila yang terbuka. “Ya, aku memang Tuan Lucca yang itu. Lalu, kau adalah Nyonya Lucca, istri dari pengusaha terkaya di negeri ini,” ucap Max sembari menyeringai penuh goda.
Dalila pun tersadar dan menarik diri. Namun, ia masih belum percaya dengan fakta yang baru ia ketahui. “Ini benar-benar menakjubkan. Apa mungkin di kehidupan sebelumnya aku menyelematkan sebuah negara?” tanya Dalila pada dirinya sendiri.
Hal itu jelas membuat Max tertarik. “Menyelamatkan sebuah negara? Apa yang kau maksud? Kenapa kau sering kali membicarakan hal yang aneh?” tanya Max.
Dalila pun menoleh dan berkata, “Apa kau bodoh? Itu istilah dari Timur. Istilah yang digunakan ketika mendapatkan sesuatu yang sangat baik. Entah ini baik atau buruk, tetapi saat ini aku merasa ini adalah hal terbaik yang aku dapatkan. Ternyata aku memiliki seorang pria yang kaya raya.”
Mendengar hal itu membuat Max menyeringai. “Memilikiku sebagai seorang suami jelas adalah hal yang sangat membanggakan. Kau memang patut untuk senang akan hal itu,” ucap Max.
Namun, Dalila mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan penuh rasa percaya diri itu. “Tidak. Hal baik yang kumaksud, bukan dirimu. Tapi hartamu. Maaf, bagiku kau sama sekali bukan pria yang memasuki standar suamiku,” ucap Dalila membuat Max benar-benar dibuat terdiam karena terkejut dengan perkataan matrealistis istrinya itu. Max pun tidak bisa membayangkan akan seperti apa kencan pertama mereka ini. Max berharap, jika kencan ini benar-benar akan berjalan dengan lancar.