“Jangan bertingkah lemah. Ayo bangkit, lanjutkan latihanmu,” ucapa Max pada Dalila yang terduduk dan masih berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
Seperti biasanya, Max masih berusaha untuk mendorong Dalila meningkatkan kekuatan fisiknya. Sekarang, selain berlari Dalila juga memiliki latihan lain berupa lompat tali dan melayangkan tinju. Tentu saja hal tersebut membuat Dalila semakin dibuat lelah. Dalila menyeka keringat yang membahasi keningnya, enggan beranjak dari posisinya. Ia membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengatur napasnya.
Max yang melihat tingkah Dalila tersebut melipat kedua tangannya di depan d**a dan berkata, “Jika kau terus seperti ini, aku tidak memiliki pilihan lain, selain menambah latihanmu. Aku sama sekali tidak akan memberikan perlakuan spesial terhadapmu, Dalila. Meskipun kau istriku, tetapi selama latihan, kau adalah anak didiku.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Max, Dalila sontak semakin marah. Saat ini Dalila lelah, ia berusaha untuk mengikuti pelatihan yang terasa begitu berat. Selama Dalila menjadi seorag atlet atau bahkan seorang pengawal, Dalila sama sekali tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Dalila tidak pernah merasa terlalu tertekan karena situasi sulit yang ia hadapi. Pelatihan ini benar-benar berat bagi Dalia, dan rasanya Dalila ingin menyerah begitu saja.
Mungkin, jika Max tidak melibatkan sihir dalam latihan ini, Dalila tidak akan merasa terlalu kesulitan seperti ini. Sebab berlari, lompat tali, bahkan push up bukanlah hal yang baru bagi Dalila. Itu adalah latihan dasar yang bahkan menjadi pemanasan bagi para atlet. Sebagai atlet bela diri, Dalila tentu sudah sangat khatam masalah seperti ini. Sayangnya, Max melibatkan sihir dalam pelatihannya. Max seakan-akan ingin membuat Dalila kesulitan.
“Apa kau tidak bisa mempertimbangkan fakta bahwa aku masih belum bisa menggunakan kekuatanku? Jangan menyamankanku dengan orang-orang yang selama ini kau latih. Mereka terlahir dan tumbuh sebagai seorang immortal. Mereka sudah berlatih sepanjang hidup mereka dan bisa mengendalikan kekuatan mereka itu. Sementara aku tidak! Aku adalah manusia biasa yang bahkan baru mengetahui fakta bahwa ternyata aku bukan seorang manusia seperti yang aku ketahui selama ini,” ucap Dalila hampir berteriak.
“Jangan terus mengeluh, kau—”
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu,” ucap Dalila memotong perkataan Max. Membuat Max sedikit banyak jengkel dengan sikap istrinya itu. Belum pernah ada satu pun orang yang berani untuk memotong perkataannya seperti tadi.
Sejak lahir, Max memang sudah memiliki kekuatan yang luar biasa. Secara alami dirinya sudah dinobatkan sebagai pewaris sejak dirinya masih berada di dalam kandungan ibunya. Rasa hormat, dan rasa takut orang-orang selalu Max miliki. Tidak ada satu pun orang yang berani bertingkah kurang ajar di hadapannya seperti Dalila ini. Namun, Max sadar jika dirinya tidak bisa menyamakan Dalila dengan yang lainnya. Status mereka berbeda. Dalila bukan orang lain bagi Max. Dalila adalah istrinya. Bagian dari hidupnya, separuh jiwanya.
“Kau terus saja mengeluhkan sikapku, seakan-akan aku tidak bekerja keras. Padahal nyatanya aku selama ini terus bekerja keras. Aku berusaha untuk mengikuti semua pelatihan yang tidak masuk akal ini, tetapi kau seakan-akan tidak menghargai dan menilai remeh semuanya,” ucap Dalila.
Max pun dengan ringannya berkata, “Di mana letaknya tidak masuk akal latihan ini? Semuanya adalah latihan dasar. Berlari dan latihan dasar lainnya, semua ini masih permulaan. Aku masih belum memulai latihan sesungguhnya karena masih perlu membangun kekuatan fisikmu.”
Dalila mengatupkan bibirnya yang rasanya sudah sangat siap untuk melemparkan makian demi makian terhadap pria di hadapannya ini. Sayangnya kali ini Dalila harus menghemat energinya. Karena jika sampai kehabisan energi, maka Dalila sendiri yang akan rugi. Namun, Dalila sama sekali tidak berniat untuk mundur dari perdebatan tersebut. Karena menarik diri, artinya kalah.
Max menyugar rambut hitamnya yang terlihat begitu lebat dan berkilau di bawah terpaan sinar matahari sore. “Dalila, kau tidak bisa terus seperti ini. Tolong berpikir dengan realistis. Jika kau bertemu sendirian dengan kaum pembelot dengan kemampuan seperti ini, apa yang akan terjadi? Kau pasti tidak akan selamat. Aku hanya ingin kau bersiap. Setidaknya kau harus memiliki kemampuan untuk melindungi dirimu sendiri, secepat mungkin tentunya. Karena tidak ada siapa pun yang bisa memprediksi, kapan kah kaum pembelot bisa menyebabkan kekacauan,” ucap Max menjelaskan.
Sebenarnya, Dalila sendiri paham apa yang dimaksud dan ditakutkan oleh Max. Sayangnya, Dalila tidak setuju dengan cara yang dipilih oleh Max. Rasanya Max juga terlalu memaksakan, itu yang dirasakan oleh Dalila. Hal yang tidak Dalila ketahui adalah, ini adalah cara yang paling baik yang telah Max pilih. Ada banyak opsi untuk menguatkan kemampuan fisik, dan pengelolaan kekuatan bawaan lahir Dalila. Namun, sebagian besar akan membawadampak buruk pada Dalila.
Cara-cara itu akan terasa mudah pada awalnya, tetapi pada akhirnya akan menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin saja akan menyisakan efek samping yang buruk pula pada tubuh Dalila. Ini cara paling alami dan tidak akan membuat Dalila merasakan efek samping. Mungkin akan terasa berat bagi Dalila karena Max melibatkan sihir dalam latihan ini, tetapi Max tentu saja sudah menyesuaikan semuanya dengan kemampuan fisik dan kemampuan sihir milik istrinya ini.
“Jadi, sekarang lanjutkan latihanmu, dan berhenti mengeluh seperti anak kecil,” ucap Max membuat kernyitan pada kening Dalila semakin dalam.
“Seperti anak kecil kau bilang? Dasar brings*ek!” maki Dalila lalu tanpa pikir panjang menyerang pria itu.
Lalu Max sendiri sama sekali tidak keberatan untuk melayani ajakan untuk bertarung tersebut. Max memang sudah merencanakan untuk mengevaluasi hasil latihan dua minggu ini. Dalila mungkin tidak sadar, tetapi begitu Max melepaskan sihir penambah gravitasi, gerakan Dalila segera lebih lincah dan cepat daripada sebelumnya. Karena pada dasarnya, Dalila memang sudah memiliki keahlian bela diri yang dilatih sejak kecil, Max hanya perlu menambah kekuatan fisik serta pengalaman Dalila dalam melakukan pertarungan dengan atribut sihir.
Dalila cukup hebat, bahkan lebih hebat daripada perkiraan orang-orang. Dante dan yang lainnya yang sebelumnya tengah berlatih dan menggunakan bagian lagi dari area berlatih, memilih untuk menghentikan latihan mereka. Mereka semua menonton acara berlatih tersebut dengan penuh rasa antusias. Siapa pun bisa melihat jika Dalila menyerang dengan kemarahan di setiap gerakannya, tetapi Max dengan baik bisa mengarahkan pertarungan tersebut menjadi sebuah latihan. Ini adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik, dan sudah memiliki pengalaman mengajar bertahun-tahun lamanya.
Semua orang tidak bisa menahan diri untuk berdecak kagum, melihat kemampuan Dalila yang benar-benar sangat luar biasa sebagai seseorang yang selama hidupnya hanya sadar bahwa dirinya adalah seorang manusia. Dengan waktu dua minggu lamanya, kemampuan Dalila terlihat memiliki kemajuan yang begitu pesat. Kemampuan yang rasanya sangat luar biasa, karena bakat yang memang sudah menjadi bawaan lahirnya. Rasanya semua itu sudah menjadi alasan yang sangat kuat, bagi Dalila dinobatkan sebagai Luna bagi kaum manusia serigala.
Pertarungan Dalila dan Max terilhat sangat sengit. Semua orang tampak menahan diri untuk bersorak, karena itu bisa saja memecah konsentrasi Dalila. Mereka tidak tahu saja, jika setiap sebulan sekali, Dalila bahkan bertarung di dalam ring dengan sebuah taruhan. Kehidupan Dalila tidak semudah dan semanis yang orang-orang bayangkan. Jika semua orang terlihat antusias, Dante mengernyitkan keningnya. Seolah-olah cemas akan sesuatu. Jelas, Dante cemas akan kondisi Dalila.
Apalagi saat Max dengan mudah menghindari serangan Dalila, dan malah memberikan serangan balik yang membuat istrinya terjatuh ke atas tanah dengan cukup keras. Tentu saja hal tersebut membuat semua orang terkejut. Terlebih, saat Max berkata, “Lihat, kau bahkan mudah dijatuhkan seperti ini. Padahal aku tidak melawanmu dengan menggunakan kemampuan terbaik yang kumiliki.”
Mendengar hal itu pun, Dalila merasakan suasana hatinya semakin memburuk daripada sebelumnya. Rasa kesal yang muncul karena Dalila dikalahkan dengan mudah. Max pun mengulurkan tangannya untuk membantu Dalila bangkit. Namun, Dalila menolaknya. Dalila berpikir jika Max akan berhenti di sana. Sayangnya tidak, Max malah menarik Dalila dengan mudah dan memanggul istrinya itu pada pundaknya.
Tentu saja Dalila berteriak kesal dengan perlakuan Max itu. “Apa yang kau lakukan?!” tanya Dalila.
“Kita harus kembali ke kamar. Aku harus memeriksa, apakah kau terluka karena kejadian tadi,” jawab Max dan melangkah pergi masih dengan Dalila yang berada di bahunya.
Tentu saja Dalila terus berteriak sepanjang perjalanan mereka kembali ke kamar. Sementara Dante mengurut pelipisnya, merasa jika apa yang dilakukan oleh tuannya benar-benar salah. Ia pun melihat para bawahannya dan berkata, “Kembali ke posisi kalian. Dan jangan membicarakan hal macam-macam mengenai kejadian yang sebelumnya kalian lihat.”
**
“Ini pesan dari Nyonya Tyska, Tuan,” ucap Dante sembari meletakan sebuah surat di atas meja Max.
Karena mereka berada di daerah yang berbeda dan berjauhan, walaupun masih berada di daerah yang mendapatkan perlindungan dari Sang Pencipta, pertemuan antar kaum tidak mudah terjadi. Apalagi kaum serigala memang terbilang lebih teritori pada wilayah kekuasaan. “Padahal sudah ada ponsel, tetapi ia masih saja bertahan menggunakan cara ini untuk berkomunikasi,” ucap Max mengkritik kaum elf yang masih saja mempertahankan untuk menggunakan cara komunikasi yang tradisional.
Walaupun sebenarnya, surat yang mereka gunakan untuk berkomunikasi, bukanlah surat biasa. Itu adalah surat yang tidak memerlukan kurir. Karena surat tersebut akan berubah menjadi burung, atau hewan-hewan lainnya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengirimnya. Surat tersebut tidak akan jatuh ke tangan orang lain, ia benar-benar akan tiba ke tangan orang yang memang dimaksud oleh pengirim pesan. Dengan kata lain, surat ini memang paling aman untuk digunakan mengirim pesan yang rahasia dan memerlukan waktu cepat untuk disampaikan.
“Prinsip hidup mereka memang menyatu dengan alam dan jika bisa meminimalisir hal yang bisa merusak alam. Bagi mereka menggunakan hal-hal modern bisa merusak keasrian alam. Setidaknya, jika berada di daerah perlindungan, mereka tidak akan menggunakan semua itu,” ucap Dante.
Max sendiri segera membuka surat tersebut, karena sudah terkonfirmasi jika dirinya memang penerima surat, maka surat pun terbuka dengan mudahnya. Kening Max mengernyit dalam, seakan-akan tidak senang dengan pesan yang ia terima tersebut. Dante sendiri mengamati dalam diam. Tentu saja dirinya tidak beranjak dari ruang kerja sang tuan, karena ada beberapa hal yang harus ia sampaikan secara pribadi.
Max, aku sudah mendengar kabar yang kurang sedap mengenai hubunganmu dengan Dalila. Cobalah bersikap lebih lembut. Dalila memang terlihat seperti wanita tangguh, tetapi dia tetap saja wanita. Ia memiliki hati yang lembut dan rapuh. Jangan samakan Dalila dengan orang-orang yang selama ini kau hadapi, Max. Dia spesial, karena dia istrimu, dia mate yang telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta untukmu.
Aku yakin, kau sendiri yang lebih tau seperti apa perasaan seorang mate saat berhadapan dengan pasangannya sendiri. Jangan melakukan sesuatu yang membuat pasanganmu menjauh, Max. Ingat, Dalila sangat membutuhkanmu untuk mengendalikan kekuatannya. Kau sendiri tau, jika pilihan yang paling tepat untuk mengendalikan kekuatan Dalila adalah membuatnya mengandung buah hati kalian. Itu mungkin sulit untuk saat ini, tetapi cobalah untuk membuat Dalila menerimamu, dan mencintaimu, Max. Jangan terlalu terpaku pada fakta bahwa kalian adalah mate yang memang ditakdikan oleh saling mencintai.
Kau perlu berusaha untuk membuat Dalila menyadari jika kau memiliki cinta untuknya. Karena itulah cara untuk membuat Dalila membuka diri dan membalas cintamu. Belajarlah untuk mendapatkan hati istrimu, Max. Bersikap keras padanya bukan pilihan yang terbaik, mengingat sifat Dalila yang juga sama tegasnya dengan dirimu. Perlu air untuk menghadapi sebuah buah batu. Aku yakin kau memahami pesan yang ingin kusampaikan ini. Doa kami, para tetua akan turut menyertai kalian. Semoga kalian senantiasa dilingkupi oleh berkah Sang Pencipta dan saling mencintai.
—Tyska—
“Kenapa para orang tua itu berusaha untuk ikut campurn mengenai hubunganku dengan Dalila?” tanya Max terlihat begitu tidak senang.
Dante yang mendengar hal itu pun berkata, “Karena Tuan memang sepertinya membutuhkan bantuan untuk menyadari jika apa yang tengah Tuan lakukan adalah kesalahan besar.”
Max meletakan surat yang berada di tangannya dan menatap bawahan setianya sebelum bertanya, “Kesalahan apa yang kau maksud?”
Dante menghela napas. Benar-benar yakin jika ternyata Max tidak menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan. “Astaga Tuan, Anda sama sekali tidak akan mendapatkan hati Nyonya jika terus bertindak seperti ini!” seru Dante benar-benar frustasi dengan tingkah tuannya ini.