Serigala Manis 2

1867 Words
Max memastikan jika Dalila memakain kemeja miliknya dengan benar. Istrinya itu saat ini tengah terlelap bak seorang bayi dalam pelukan hangatnya. Jika Dalila mengenakan kemeja milik Max yang berukuran besar, hingga menutupi setengah pahanya yang ramping dan mulus, maka Max sama sekali tidak membutuhkan hal itu. Ia membiarkan tubuh bagian atasnya terpampang begitu saja. Ia bersandar pada batang pohon, dengan menjadikan tubuhnya sebagai sandaran bagi Dalila yang tengah tidur. Wajah tampan Max terlihat lebih bersinar, tanda jika suasana hatinya saat ini tengah sangat baik. Bagaimana tidak baik, jika tadi Max sudah melakukan sesuatu yang terasa sangat menyenangkan dengan Dalila. Benar, ia sudah berhasil bercinta dengan Dalila di tengah hutan yang tentu saja aman dan tidak dikunjungi oleh siapa pun. Karena sudah berselang satu minggu dari malam pertama mereka, ternyata kesempatan kedua mereka terasa lebih luar biasa. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, rasanya ada getaran listrik yang mengalir dengan penuh gelitik menyenangkan. Rasanya, Max sama sekali tidak ingin mengakhiri kegiatan menyenangkan itu. Namun, karena waktu sudah terlalu larut, dan Dalila sudah kelelahan, Max pun berusaha untuk mengakhiri kegiatan menyenangkan penuh gairah tersebut. Walaupun tentu saja Max kesulitan untuk mengakhirinya karena terlalu larut dalam acar bersenang-senang tersebut. “Ini sudah waktunya kita kembali,” ucap Max. Ia menatap pakaian Dalila yang tergeletak di atas tanah. Ia merapalkan mantra, dan pakaian-pakaian itu menghilang begitu saja. Max pun bangkit dari posisinya, dengan Dalila yang masih berada dalam pelukannya. Sebelum bergerak untuk menempuh perjalanan pulang, Max memastikan jika posisi Dalila sudah sangat nyaman. Tentu saja Max tidak ingin mengganggu tidur sang istri. Setelah itu barulah Max berlari dengan kecepatan tidak masuk akal. Max sebelumnya melingkupi tubuh Dalila dengan sihir, agar tidak merasakan dingin atau terpaan udara kencang selama perjalanan pulang mereka. Dengan kecepatan tersebut, Max tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai kediaman yang menyatu dengan bangunan pusat di mana Max memimpin kaum serigala. Kepulangan Max disambut oleh Dante. Semua pria yang sadar jika Dalila yang berada dalam pelukan Max tidak mengenakan pakaian yang lengkap, dan hanya mengenakan kemeja suaminya, segera mengalihkan pandangan mereka atau menundukan kepala mereka dalam-dalam. Tentu saja mereka tidak ingin sampai kepala mereka terlepas dari lehernya, karena sudha menatap sesuatu yang tidak seharusnya. “Air hangat sudah disiapkan oleh Sia, Tuan,” ucap Dante sembari mengikuti langkah sang tuan yang memang tengah melangkah menuju kediaman utama di mana Max dan Dalila tinggal. Begitu sampai di dalam kamar utama, Max pun berkata, “Sekarang pergilah. Aku akan yang mengurus istriku.” Mendengar perkataan tersebut, tentu saja semua orang yang mendengarnya dibuat terkejut. Bagi mereka, Max adalah makhluk dingin tanpa perasaan. Selama ini pun, mereka tidak pernah melihat Max dan Dalila akur. Rasanya, keduanya selalu saja bertengkar atau memiliki suatu hal yang diperdebatkan. Namun, kali ini Max mengatakan jika dirinya akan mengurus istrinya sendiri? Tentu saja sangat wajar semua orang terkejut karenanya. Hanya saja, mereka pun seketika sadar, jika apa yang terjadi ini juga adalah hal yang wajar. Mengingat, jika hubungan Max dan Dalila bukanlah pernikahan biasa. Itu adalah pernikahan yang didasari oleh takdir yang sudah dipersiapkan oleh Sang Pencipta. Keduanya adalah soulmate yang memang sudah sewajarnya memiliki perasaan yang mendalam satu sama lain. Pada akhirnya, Sia dan yang lainnya pun undur diri, meninggalkan Max yang memang mengurus istrinya dengan baik. Sebelum membawa Dalila membersihkan diri, Max menanamkan sihir agar Dalila tidak terganggu dalam tidurnya. Sihir tersebut berfungsi dengan sangat baik karena Dalila benar-benar tidak bangun, saat Max memandikannya. “Bisa gila aku,” gumam Max sembari menghela napas berulang kali. Ya, Max bisa gila karena dirinya saat ini tengah memandikan Dalila dengan tangannya sendiri. Max kembali tergiur untuk menyentuh Dalila dan mengajak istrinya itu kembali meraih surga dunia. Dengan memandikan Dalila, Max memang tengah menapaki jalan berduri bagi dirinya sendiri. Namun, Max merasa jika ini adalah keputusan yang tepat, mengingat jika Dalila memang tidak suka dibantu membersihkan diri oleh orang lain. “Ya, dia tidak suka dibantu oleh orang lain. Tapi, aku jelas bukan orang lain. Aku suaminya,” gumam Max pada dirinya sendiri. Setelah memastikan jik Dalila sudah bersih, ia mengeringkan tubuh Dalila dengan lembut dan memakaikan gaun tidur yang sudah dipersiapkan oleh Sia sebelumnya. Gaun tersebut sangat nyaman karena modelnya yang longgar dan terbuat dari bahan yang lembut serta sejuk. Tidur Dalila jelas semakin nyenyak karena ia mengenakan gaun tidur itu. Max yang juga sudah membersihkan diri, ikut berbaring di samping Dalila. Ia menarik Dalila untuk mendekat, atau lebih tepatnya menempel pada dirinya dan memeluknya dengan lembut. Max mengisi paru-parunya dengan aroma lembut yang menguar dari tubuh istrinya itu. Sebelum mengecup kening Dalila dan berkata, “Selamat tidur, Dalila.”         **         Dalila mengernyitkan keningnya, merasa sangat tidak nyaman. Mungkin, Dalila tidak mendengar pembicaraan apa pun mengenai dirinya. Namun, Dalila tahu jika sebenarnya para pelayan dan pengawal saat ini tengah memperhatikannya dengan lekat. Perhatian berlebihan yang rasanya membuat Dalila kesulitan untuk menelan makanan yang tengah ia santap. Kali ini, Dalila memang bebas dari latihannya yang menyiksa. Setelah satu minggu melwati hari-hari yang sulit karena berlatih di bawah pengawasan Max, kini Dalila mendapatkan waktu istirahat. Yang awalnya Dalila pikir akan menjadi waktu istirahat yang terasa menyenangkan. Setidaknya, Dalila bisa melalui hari yang tenang seperti apa yang ia lakukan selama libur dari pekerjaannya. Dengan tidak adanya Max, Dalila pikir waktu liburnya ini akan menjadi sangat sempurna. Sayangnya, itu hanyalah harapan yang tidak akan terwujud. Mengingat jika Dalila bahkan tidak bisa menikmatinya dengan tenang barang sedetik pun. Karena semua perhatian yang tertuju padanya. Merasa benar-benar tidak nyaman lagi, pada akhirnya Dalila pun meletakan alat makannya dan membuat Sia yang memang bertugas sebagai pelayan pribadinya segera mendekat. “Apa yang terjadi, Nyonya? Kenapa Nyonya tidak menghabiskan makanan Nyonya? Apa mungkin saya perlu menghubungi pihak dapur untuk kembali membuat sarapan Nyonya?” tanya Sia agak cemas. “Tidak perlu. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian memperhatikanku dengan berlebihan seperti ini? Apa mungkin kalian memiliki sesuatu untuk dikatakan atau ditanyakan padaku? Jika benar, lebih baik kalian katakan saja. Aku benar-benar tidak nyaman jika kalian terus menatapku diam-diam seperti itu,” keluh Dalila. Rasanya Dalila benar-benar kesal, karena tidak bisa menikmati makanan lezat yang bisa ia makan dengan gratis itu. Perhatian yang tertuju padanya itu, benar-benar mengubah rasa masakan itu. Bukannya seperti menelan daging berkualitas terbaik, Dalila malah merasa seperti seakan-akan menelan batu. Sangat sulit. Sia yang sadar mengenai hal yang membuat Dalila tidak nyaman pun, segera memberikan isyarat pada yang lainnya untuk memperbaiki sikap mereka. Mereka tentu saja tidak boleh membuat sang Luna merasa tidak nyaman. Sebagai Luna—pasangan dari pemimpin kaum serigala yang bergelar Alpha—posisi Dalila tentu saja sejajar dengan kepemimpinan Max. Karena itulah, mereka semua harus berhati-hati dalam memperlakukan sang nyonya besar ini. “Maaf atas ketidak nyamanan yang Nyonya rasakan. Kami hanya merasa kagum atas diri Nyonya. Selain itu, kami semua hanya ingin memastikan jika Nyonya memang nyaman dengan semua yang sudah kami persiapkan,” ucap Sia menjelaskan. Sayangnya, penjelasan tersebut malah memunculkan sebuah pertanyaan baru di benak Dalila. “Kagum padaku? Memangnya apa yang sudah kuperbuat hingga membuat kalian kagum? Lalu, kalian tidak perlu berlebihan memperlakukanku. Karena itu jelas membuatku merasa tidak nyaman,” ucap Dalila. Sia pun menjawab, “Kami kagum, karena ternyata Nyonya ternyata membawa dampak yang begitu besar terhadap Tuan Max. Lalu, kami tidak bisa bersikap biasa terhadap Nyonya. Karena kami adalah bawahan Nyonya. Kami perlu menghormati Nyonya sebagai seorang pemimpin. Selain itu, ini adalah perintah langsung dari Tuan Max.” Jika ini perintah dari Max, maka Dalila tidak akan menggolongkannya sebagai perhatian, melainkan sebuah pengawasan. Dalila yang sudah bekerja sebagai seorang pengawal elit, tentu saja bisa membedakan hal tersebut dengan mudah. Sama seperti Dalila, Max juga pasti belum sepenuhnya bisa mempercayai dirinya. Mereka memang sudah menikah, mereka bahkan sudah dua kali mencari kenikmatan dunia dalam gemelut gairah yang memabukan. Namun, pada dasarnya mereka belum memiliki kepercayaan yang mendalam untuk satu sama lain. Sebenarnya Dalila sadar akan hal itu. Hanya saja Dalila sama sekali tidak senang saat mengetahui fakta tersebut. Dalila marah. Ia merasa jika Max benar-benar tidak menghargai apa yang sudah Dalila upayakan selama ini. Padahal, selama ini Dalila sudah berusaha untuk menunjukan bahwa dirinya bisa bekerja sama. Mengingat situasi yang kemungkinan memburuk jika Daila masih memaksakan diri untuk kembali ke rumahnya dan membuat kekacauan akibat tingkah para kaum pembelot. “Kalian diperintahkan untuk mengawasiku?” tanya Dalila dengan nada rendah. Sia yang mendengar hal itu jelas terkejut. Ia tidak mengira jika pada akhirnya Dalila menyimpulkannya seperti itu. Namun, sebelum Sia menjelaskan, Max sudah lebih dulu muncul dengan Dante yang mengikutinya dengan patuh. Keduanya memang sering terlhat bersama, mengingat jika semua kegiatan dan pekerjaan Max selalu dibantu oleh Dante selaku Beta dari Max. Melihat jika makanan di atas piring Dalila masih tersisa banyak, Max mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Kenapa tidak menghabiskan makananmu?” Begitu Max duduk di kursinya, Dalila pun menatap pria itu dengan ekspresi yang terlihat tidak sedap. “Apa situasi saat ini memang memungkinkan untuk membicarakan hal seperti itu? Kurasa, ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan,” ucap Dalila membuat Max mengernyitkan keningnya. Saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang makan tersebut, barulah Max sadar jika ternyata semua pelayan yang berada di sana terlihat tegang. Dengan mudah Max pun bisa menebak apa yang terjadi, Max pun mencoba untuk mendengarkan apa yang tengah dipikirkan oleh Dalila. Namun, entah mengapa saat itu Max tidak bisa menembus pikiran Dalila. Seakan-akan sesuatu yang menghalanginya. “Kenapa kau marah seperti ini, Dalila? Aku hanya memerintahkan semua orang untuk memperhatikan dirimu. Lalu di mana letak salahnya?” tanya Max. Dalila pun bangkit dari kursinya dan berkata, “Salahnya ada dalam perintahmu itu. Kau jelas-jelas bukan memerintahkan semua orang untuk memperhatikanku, melainkan memberikan perintah untuk mengawasi gerak-geriku. Kau pikir aku orang bodoh? Sayangnya tidak. Aku sudah berulang kali tertipu olehmu, dan aku belajar dari pengalaman.” Saat Dalila akan pergi, dengan mudah Max menarik Dalila untuk duduk di atas pangkuannya. Hal tersebut membuat semua pelayan dan Dante memunggungi keduanya. Memberikan ruang untuk keduanya. Dalila tentu saja jengkel dan berusaha untuk turun dari pangkuan suaminya itu. Sayangnya, gerakan Dalila sudah diblokir secara sempurna oleh Max. “Dalila, jangan berpikir macam-macam. Tidak ada seorang pun yang mengawasimu. Mereka semua secara tulus memperhatikanmu. Selain itu, jika pun aku memerintahkan mereka mengawasimu, bukankah itu adalah hal yang wajar. Aku suamimu,” ucap Max semakin membuat Dalila jengkel. “Tutup mulutmu!” seru Dalila sembari menjambak helaian rambut tebal Max yang secara mengejutkan terasa begitu lembut pada tangan Dalila. Max sama sekali tidak berekasi karena jambakan yang sebenarnya membuat kulit kepalanya terasa perih itu. Max sadar jika saat ini Dalila tengah marah. Seharusnya, Max tidak boleh membuat Dalila semakin jengkel. Sayangnya, Max yang menyadari hal itu, sama sekali tidak berniat untuk mengikuti hal yang sepatutnya ia lakukan. Ia malah berusaha untuk membuat Dalila semakin kesal. “Aku baru bisa menutup mulutku, jika kau cium. Jadi, bagaimana jika kau memeberiku ciuman?” tanya Max. Para pelayan yang mendengar perkataan Max tersebut memerah dibuatnya. Sementara Dante menggeleng tidak percaya dengan tingkah tuannya itu. Max benar-benar salah mengambil langkah. Karena selanjutnya, dirinya yang sudah mencondongkan wajahnya demi mendapatkan ciuman dari istrinya, malah mendapatkan tamparan pedas pada bibirnya yang merah itu. Dalila menatap tajam dan berkata, “Sayangnya, aku memiliki cara lain untuk membuatmu menutup mulut, Max. Bagaimana? Kau ingin mendapatkan tamparan manis lagi dariku?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD