Pembesihan 1

1871 Words
“Ingat, tetap berada bersama dengan tim medis. Jangan melakukan apa pun yang bisa membahayakan dirimu. Pelajari apa yang bisa kau pelajari dalam perjalanan pertamamu ini,” ucap Max sembari membenarkan letak jaket yang dikenakan oleh Dalila. Kini, Max dan tim khusus yang ia pimpin sudah memulai perjalanan mereka untuk membersihkan para pembelot yang bertingkah dengan berani menebar kekacauan di sana sini. Selain itu, mereka juga harus mencari bibit wabah yang membuat sebuah desa terisolasi. Tentu saja mereka juga harus mengobati orang-orang yang sudah terjangkit wabah tersebut. Joe yang memimpin para ilmuan, memang berhasil untuk menemukan vaksin yang bisa mengalahkan wabah yang tengah menyebar tersebut. Sebelumnya, vaksin tersebut memang sudah diuji coba dan benar-benar menunjukkan reaksi yang bagus dan sesuai dengan yang diharapkan. “Iya. Aku mengerti,” ucap Dalila patuh membuat Max merasa gemas dan mengecup kening istrinya itu dengan lembut. Lalu Max kembali pada barisan terdepan untuk memimpin tim yang segera bergerak dengan cepat untuk melaksanakan misi yang mereka emban untuk membersihkan para pembelot. Mereka bergerak dengan sangat hening di tengah kegelapan malam. Sebelum memberikan bantuan dalam pengobatan dampak wabah, mereka memilih untuk menghabisi para pembelot yang memang menjadi penyebar dari wabah tersebut. Dalila sama sekali tidak mengatakan apa pun dan hanya ikut bergerak dengan tim tersebut tanpa melakukan kesalahan. Dalila mengikuti gerakan dengan sangat terlatih. Siapa pun yang melihat hal tersebut pasti tidak yakin jika itu adalah perjalanan pertama bagi Dalila. Anggota tim yang lain sadar, jika Dalila memang memiliki kemampuan yang sangat mumpuni. Ia bahkan bisa menyeimbangkan diri dengan mereka yang bergerak dengan cepat sesuai dengan kemampuan kaum immortal yang jelas jauh lebih baik daripada kaum manusia. Rasanya mereka tidak percaya jika selama ini Dalila hanya hidup sebagai manusia biasan, tetapi ternyata memiliki kemampuan sebaik ini. Meskipun tidak bisa melihat kemampuan bertarungnya saat ini juga, tetapi semua orang mulai merasa penasaran dengan kemampuan Dalila. Mereka menunggu kesempatan untuk melihat kemampuan bertarung Dalila secara langsung. Kemampuan sang anak campuran yang disebutkan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dan belum pernah ada sebelumnya. Namun, hal itu entah kapan terjadi. Karena saat ini saja Max menempatkan Dalila di tengah tim, agar tetap aman dengan para medis yang juga terlibat dalam perjalanan tersebut. “Di sana,” bisik Julion dan dalam waktu singkat para anggota tim yang berada di barisan terdepan segera melakukan penyerangan yang sangat tertata. Sementara Dalila dan para medis, hanya berada di ranting pohon. Mengamati apa yang dilakukan oleh para anggota yang memang bertugas untuk melakukan pembersihan. Mereka berada di area belakang sebuah desa yang memang sudah terisolasi. Warga desa yang sebagian besar sudah terkena wabah, memang sudah tidak melakukan aktifitas apa pun ketika malam sudah sangat larut seperti itu. Agar memastikan jika para warga desa tidak terbangun, Julion menebar serbuk yang membuat warga desa tidur dengan lebih pulas dan tidak akan terbangun meskipun mendengar suara keras sekali pun. Walaupun sebenarnya mereka pasti agar bergerak dengan tenang. Termasuk ketika melakukan pembersihan. Mereka akan melakukannya setenang mungkin ketika melakukan pertarungan. Karena itu memang sudah menjadi salah satu hal wajib yang mereka lakukan ketika melakukan pembersihan. Mereka harus menyembunyikan identitas mereka sebaik mungkin sebagai makhluk immortal pada masyarakat umum. Hanya pihak pemerintah yang terlibat dan berhubungan langsung dengan Asosiasi Kaum Immortal yang memang sudha bekerja sama dari tahun ke tahun. Dalila menggunakan sedikit sihirnya untuk menajamkan penglihatannya agar bisa melihat dengan lebih jelas saat malam hari. Mengingat jika pencahayaan yang sangat minim, dan hanya memanfaatkan pencahayaan dari sinar bulan. Dalila pun dibuat takjub dengan pertarungan yang sangat cepat tersebut. Para pembelot melakukan perlawanan yang sangat sengit pada Max, Julion, dan Joe yang juga melakukan pertarungan jarak dekat tersebut. Mereka bergerak dengan sangat cepat, hingga  penglihatan biasa sama sekali tidak akan bisa menangkap pergerakan tersebut. “Sudah selesai?” gumam Dalila saat melihat jika pertarungan memang sudah selesai. Para kaum pembelot sudah terkapar dengan senjata dari bahan perak dan dibuat secara khusus untuk membunuh para kaum immortal yang sudah mengkhianati perintah Sang Pencipta. Dalila tidak menyangka jika pertarungan tersebut akan secepat ini. Namun, Dalila sadar jika hal ini pasti akan terjadi. Mengingat Max, Julion, dan Joe terlibat secara langsung. Julion bergegas membersihkan sisa tubuh para pembelot dengan membakar tubuh mereka menjadi abu. Sementara Max dan kembali menemui Dalila dan bertanya, “Bagaimana kondisimu?” Dalila yang mendapatkan pertanyaan tersebut tentu saja menjawab, “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa kau terluka?” Max yang mendengar pertanyaan tersebut kesulitan untuk menahan diri. Senyuman yang berusaha ia tahan ternyata terbit. Max mengecup kening Dalila dengan lembut dan berkata, “Tidak perlu cemas. Aku tidak mungkin terluka hanya karena melawan mereka.” Dalila bisa menangkap nada arogan dalam perkataan suaminya itu. Namun, Dalila tidak bisa mnyalahkan Max. Mengingat jika Max memang memiliki kemampuan yang sangat baik. Apalagi dengan identitasnya sebagai seorang alpha dan salah satu dari calon tetua yang akan memimpin Asosiasi Kaum Immortal nantinya. Jelas kemampuan Max tidak perlu diragukan lagi. “Abunya sudah dikubur dan disucikan, semuanya sudah selesai. Selanjutnya kita hanya perlu fokus pada penghentian penyebaran wabah dan mengobati para pasien,” ucap Joe yang mendekat pada tim. Julion sendiri ikut bersama dengan Joe. “Apa kita akan melakukan pembersihannya sekarang?” tanya Elle yang juga ikut dalam tim tersebut. Dalila sebenarnya tidak merasa keberatan atau terganggu dengan kehadiran Elle sebagai salah satu anggota dalam perjalanan tersebut. Namun, berbeda dengan Elle. Gadis satu itu sepertinya memang jengkel dengan Dalila setelah dikalahkan dalam evaluasi yang sebelumnya dilakukan untuk memeriksa kekuatan yang dimiliki oleh Dalila. Sejak awal, Elle terlihat mengawasi Dalila berusaha untuk mencari celah memberikan pelajaran pada Dalila, tetapi Dalila berusaha untuk tidak peduli. Karena pada dasarnya ia tidak memiliki masalah apa pun dengan Elle. “Aku rasa lebih baik kita melakukan pengobatan secara diam-diam. Kita manfaatkan situasi yang tengah terjadi. Mengingat masyarakat desa saat ini tengah berada dalam kondisi terlelap. Karena kita harus merahasiakan kehadiran dan identitas kita, jadi lebih baik melakukan hal tersebut. Setelah kita mengobati mereka, besok minta tim medis dari pemerintah untuk segera datang dan melakukan sisanya,” ucap Max. Setelah itu Max pun membagi tim. Semua orang mendapatkan tugas dan disebar untuk mengobati pada masyarakat desa. Dalila juga terlibat dan masuk tim kecil yang tak lain adalah Elle dan Joe. Sementara Max dan Julion berada di hutan, untuk melakukan penyisiran kedua untuk melihat kemungkinan jika tidak ada yang terlewat. Max lebih baik melepaskan Dalila dengan Elle dan Joe, daripada membuat Dalila berada dengan Julion. Sayangnya, sepertinya keputusan Max tidak terlalu baik. Mengingat jika Elle sepertinya sudah menunggu kesempatan agar Dalila terpisah dengan Max dan Julion. Saat mereka bergerak dari satu rumah ke rumah lain untuk memberikan obat pada para warga yang terkena wabah. Karena Joe yang memimpin tim kecil tersebut, Dalila diperintahkan untuk tetap di luar rumah dengan Elle yang menemaninya. Joe hanya tidak ingin sampai Dalila terkena wabah mengingat jika Dalila belum sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya. Ketika Joe sibuk di dalam rumah, Elle pun berkata pada Dalila, “Kau hanya ikut serta tanpa melakukan kontribusi apa pun pada tim ini. Kau juga membuatku terkena dampak, hingga mendapatkan tugas remeh dengan menamanimu seperti ini.” Dalila yang mendengar hal itu jelas segera menatap Elle yang saat ini bersandar di batang pohon sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. Elle menatap Dalila dengan dingin. Terkesan seperti meremehkan Dalila. Tentu saja Dalila merasakan hal tersebut dengan sangat jelas. Sejak awal, Elle sudah menampilkan ekspresi tidak senang padanya. Elle jelas menganggap Dalila sebagai musuhnya. Dalila menghela napas dan berkata, “Apa sekarang kau tengah berusaha untuk melampiaskan atau membalaskan kemarahanmu atas kekalahanmu di pertarungan sebelumnya?” Elle yang mendengar Dalila mengungkit hal tersebut lagi, tentu saja merasa sangat jengkel. Kekalahannya hari itu terasa sangat memalukan. Apalagi dengan fakta bahwa dirinya berusaha melakukan sesuatu yang curang untuk menyerang dan mengalahkan Dalila. Meskipun hal tersebut hanya diketahui oleh para tetua dan pemimpin kaum, tetapi tetap saja hal itu terasa sangat memalukan bagi Elle. Padahal, Elle terkenal sebagai salah satu kaum vampire yang memiliki kekuatan yang besar. Ia diramalkan akan menjadi salah satu petinggi kaum di masa depan, atau menjadi istri dari pemimpin kaum nantinya. Namun, semua citra baik yang dimiliki oleh Elle rusak begitu saja karena Dalila. Ia benar-benar jengkel dengan fakta bahwa Dalila adalah seorang anak campuran yang harusnya dijauhi, kini mendapatkan perhatian yang begitu besar. Bahkan mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari semua orang. Seakan-akan dirinya memiliki kemampuan untuk menolong semua orang dengan kemampuan yang ia miliki. “Tutup mulutmu! Apa kau pikir kemenanganmu malam itu menunjukkan bahwa kau lebih baik daripada diriku? Kau—” “Aku yakin, semua orang yang hadir pada hari itu memiliki pemikiran yang sama. Mereka setuju jika aku memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirimu. Karena itulah, aku lolos dari evaluasi tersebut,” ucap Dalila memotong perkataan Elle membuat gadis itu terlihat semakin kesal. “Beraninya kau memotong perkataanku?!” Elle terlihat sangat marah. Ia bahkan kesulitan untuk mengendalikan ekspresi dan nada bicaranya. Namun, hal itu berbeda dengan Dalila. Ia masih terlihat sangat tenang. Seakan-akan dirinya yang kini tengah mempermainkan Elle. Padahal, awalnya Elle yang berusaha untuk mempermainkan Dalila, tetapi kini yang terjadi malah sebaliknya. Dalila yang malah mempermainkan Elle, dan jelas Elle terlihat sangat marah pada Dalila sekarang. “Memangnya kenapa aku harus tidak merasa berani?” tanya Dalila sembari tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Menggantikan sikap Elle yang sebelumnya bertingkah sangat arogan. Elle menggigit bibirnya dengan sangat marah. Rasanya Elle ingin menghajar Dalila saat ini juga. Namun, ia sadar jika dirinya tidak bisa melakukan hal tersebut. Apalagi dengan situasi yang seperti ini. Jelas, menyulut pertengkaran dengan Dalila bukanlah pilihan yang baik. Bisa-bisa, apa yang sudah direncanakan sebelumnya olehnya tidak bisa terlaksana dengan sempurna. Melihat jika Elle menahan diri dengan mati-matian, Dalila pun tersenyum tipis. Sedikit banyak, ia memuji jika kemampuan menahan diri Elle cukup baik. Namun, Dalila tentu saja tidak akan membiarkan Elle begitu saja. Ia pun berkata, “Jika kau tidak memiliki kemampuan, seharusnya kau tidak ikut serta dalam perjalanan ini. Kau bahkan tidak bisa memiliki kemampuan untuk mengalahkan diriku yang kau sebut sebagai seseorang yang tidak memberikan kontribusi apa pun pada mis ini. Bukankah itu artinya, kau lebih buruk daripada dariku, karena kau bahkan kalah dari orang yang tidak memiliki kontribusi apa pun pada perjalanan ini?” Elle sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun. Sebab Dalila menyerang Elle dengan senjata yang sangat tepat. Membuat Elle kalah telak dan tidak bisa melakukan serangan balik. Dalila pun mendekat pada Elle dan berbisik, “Seharusnya kau mengingat apa yang sudah kukatakan padamu saat evaluasi. Ingat posisimu, Elle. Jangan membuatku marah. Karena bisa saja aku akan membuatmu menyesali apa yang sudah kau perbuat tersebut.” Elle sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan apa pun. Karena Joe sudah menyelesaikan pengobatan penghuni rumah tersebut. Ia pun berkata, “Ayo, kita harus bergerak ke rumah yang lain.” Setelah itu Joe memimpin kedua wanita itu untuk bergerak ke rumah lain. Jika Dalila berada dalam suasana hati yang baik karena sudah memberikan pelajaran pada Elle, maka Elle berada dalam suasana hati yang sebaliknya. Ia menatap punggung Dalila yang berada di hadapannya dengan tatatapan penuh kebencian. Tentu saja, Elle akan membalaskan penghinaan yang sudah ia terima dari Dalila tersebut. Ia pasti akan melakukan hal tersebut. “Aku pasti akan membalas penghinaan ini. Tunggu saja apa yang akan kulakukan,” sumpah Elle di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD