Rumah Sakit

1250 Words
Tepat pukul 19:30, akhirnya Laskar sampai di rumah sakit kecil itu. Lokasinya benar-benar tepat di pinggir jalanan antar provinsi yang Laskar lalui tadi. Laskar semakin yakin bahwa jalanan yang ia lalu barusan adalah lokasi tertabraknya Ningsih, meski ia tidak tau pasti dimana. Karena lokasi rumah sakit ini berada persis di pinggir jalanan besar. Setelah memarkirkan motor di lokasi parkir yang cukup kecil, Laskar memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam ruangan UGD yang berada di muka rumah sakit itu. Momen ketika Ibunya meninggal beberapa tahun silam, terlintas di pikirannya, membuat Laskar sedikit ragu untuk meraih pintu slide door ruang UGD itu. Namun kemudian, ia kembali teringat Ningsih, dan suara tangisan Ibu Wati yang meminta tolong padanya. Ibu mana yang tidak sedih kehilangan anak kesayangannya, Laskar-pun juga merasakan itu saat kehilangan ibunya. Sekarang bukan waktunya untuk bersedih, ada pekerjaan yang harus diselesaikan… nanti akan ada waktunya bersedih, akan ada waktu untukku mengenang Ningsih, sama seperti aku mengenang Ibu dulu, gumam Laskar menguatkan hatinya. Dengan mantap, ia kemudian memasuki ruang UGD Rumah Sakit kecil itu. Di dalam UGD, Laskar langsung disambut oleh seorang perawat wanita yang menanyakan keperluannya dengan santun. Perawat cantik itu langsung mengeluarkan senyum manis setengah merayu, ketika melihat seorang pemuda tinggi tegap, dengan wajah tampan dan mengenakan jaket kulit hitam, yang nampak begitu keren dihadapannya. Namun, Senyum cantiknya itu langsung berubah terkejut ketika Laskar menyebutkan nama Ningsih. “A-Atas nama N-Ningsih, sudah ada di b-belakang, Kang …” jawabnya dengan begitu gugup. Aku tidak perlu memberitahu kalian apa yang dimaksud ‘Belakang’ itu kan? Sangat jelas, Ningsih sudah dimasukkan ke kamar mayat. Rasa takut, sedih, dan bingung hadir kembali dalam pikiran Laskar. Padahal, telah ratusan kali ia coba tenangkan pikirannya, namun selalu gagal. Postur tegapnya seketika sedikit melemas dan bergemetar, kala perawat cantik itu membawa Laskar menuju kamar mayat. Ia dibawah masuk lebih dalam kedalam bangunan rumah sakit. Setelah melalui Ruang UGD yang tidak ramai tersebut, Laskar dibawa masuk ke sebuah lorong besar seperti bangunan belanda. Meski wajah depan rumah sakit itu terlihat modern, ternyata bangunan didalamnya adalah bangunan rumah sakit lama yang mungkin jarang di renovasi. Di kanan dan kiri Laskar, membentang ruangan-ruangan bangsal pasien yang cukup sepi. Hanya beberapa kamar yang terisi, namun lorong tersebut lebih ramai dari pada UGD tadi, karena beberapa penunggu pasien yang duduk-duduk di lantai dan di sekitaran lorong. Semakin jauh melangkah, Laskar semakin gugup. Suasana ini sama persis saat ia diantarkan untuk melihat wajah mendiang ibunya yang terakhir kali. Orang-orang di rumah sakit semua menatapnya, seolah mengasihani wajah sedihnya. Entah mengapa, perasaan itu sungguh menyayat hati, lebih menyiksa daripada kenyataan itu sendiri. Dan akhirnya, ujung lorong panjang tersebut terlihat. Sebuah ruangan bertuliskan ‘Kamar Mayat’ menanti mereka di sudut kanan ujung lorong itu. Tak terasa, Keringat dingin menetes membasahi dahi Laskar. Ia berusaha mengusap dahinya dengan punggung tangan, sembari menatap perawat cantik itu dengan gugup. Sang perawat juga ikut kikuk, ia tidak berani mempersilahkan Laskar masuk. Sebenarnya Laskar tidak berani melihat kondisi Ningsih. Laskar masih ingat betapa ketakutannya ia saat melihat jenazah ibunya untuk terakhir kali. Laskar bahkan harus memeluk erat ayahnya, padahal saat itu ia sudah 17 tahun. Saat itu, ibunya meninggal karena penyakit kronis, bagaimana jadinya kondisi Ningsih yang kecelakaan ini? Perawat itu juga terlihat gugup saat membuka pintu kamar mayat. Jelas perawat ini sudah melihat bagaimana kondisi jenazah Ningsih, hal itu membuat Laskar ikut gugup. Namun, setelah menarik nafas dalam-dalam ia akhirnya memberanikan diri melangkah masuk kedalam ruangan Kamar mayat itu. Meski pintunya cukup kecil, ternyata ruangan itu cukup luas dan bersih sekali. Rasa tegang Laskar sedikit berkurang kala merasakan dinginya AC ruangan tersebut. Namun ketika menoleh dan melihat bentangan beberapa meja besi Jenazah, ia kembali begidik ngeri. Terlebih, Laskar melihat dua tubuh manusia yang terbujur kaku di masing-masing meja besinya. Kedua mayat itu tertutup kain putih panjang dari kepala hingga kaki, dan pada keduanya memebekas bercak darah dibagian muka kain itu. Mayat yang sebelah kiri, darahnya jauh lebih banyak dan terlihat menetes ke lantai, Laskar nampak terkejut. Untungnya, perawat cantik itu membawa Laskar menuju mayat yang berada di sebelah kanan, dengan darah di muka yang sangat sedikit. Sebenarnya Laskar sudah ingin menangis saat melihat postur tinggi badan yang benar-benar mirip dengan Ningsih, namun ia mengepalkan tanganya dengan sekuat tenaga. Lalu, Perawat cantik itu perlahan menyingkap kain putih yang menutupi bagian kepala jenazah itu. Dalam sekejap Laskar langsung memalingkan mukanya, hanya beberapa detik saja ia sudah tidak tahan. Meski begitu, Laskar sudah bisa memastikan bahwa itu Ningsih. Melihat Laskar memalingkan muka, perawat itu kemudian cepat-cepat menutup kembali jenazah Ningsih dengan kain putih. Ia kemudian segera mengajak Laskar keluar dari kamar mayat itu, sambil berusaha mengalihkan perhatiannya dengan membahas beberapa hal yang harus diurus terkait jenazah Ningsih. Sepertinya perawaat cantik itu juga tidak tahan. Mereka berdua kemudian kembali ke lorong rumah sakit, dengan langkah sedikit terburu-buru. Perawat itu mengarahkan Laskar kembali ke UGD, sambil menjelaskan surat kematian, berkas-berkas pemeriksaan jenazah yang harus diisi oleh Laskar, begitu juga beberapa biaya yang harus dibayar. Namun Laskar hanya menatap kosong kedepan, dan sesekali mengiyakan ucapan perawat itu dengan kikuk. Kali ini, rasa takut menelan bulat-bulat seluruh kesedihannya. Laskar tidak pernah melihat hal yang semengerikan itu. Bahkan kesedihan akibat kehilangan kekasih, trauma kematian ibunya, semua terlupakan oleh pemandangan mengerikan yang barusaja ia lihat tadi di kamar mayat. Laskar sepertinya lupa bahwa yang tergeletak disana adalah pacar tercintanya, Ningsih. Seolah ia tidak percaya bahwa Ningsih mengalami kematian dengan cara semengerikan itu. Bola mata sebelah kiri mengantung keluar penuh darah, sedangkan bola mata sebelah kanannya sudah tidak ada. Rahang bawahnya patah, dan melenceng kearah kiri. Lidahnya terjulur dan struktur mukanya remuk di bagian kanan. Laskar bisa melihat dengan jelas tulang-tulang pipi, dan gigi yang mencuat di sisi kanan wajah ningsih. Seolah benda keras menghantam wajah itu dari sisi kanan. Atau mungkin sebuah ban truck atau ban bis melindas wajah ningsih hingga membuatnya hancur semengerikan itu. Meski wajahnya hancur, tetapi dari baju robek, bentuk muka, warna kulit, serta rambut panjangnya, Laskar sudah bisa memastikan itu adalah Ningsih. Kembali membayangkan pemandangan mengerikan tersebut, Laskar semakin tidak fokus. Ia bahkan terlihat bingung, ketika perawat itu berusaha menanyakan terkait nasib jenazah Ningsih. Padahal karena itulah Laskar kemari, seharusnya ia dapat dengan mudah menjelaskan. Namun kemudian, Laskar, dengan ucapan ketus dan setengah mengusir, meminta agar perawat itu meninggalkannya sebentar untuk menenangkan diri. Perawat cantik itu pun menuruti, dan hendak pergi meninggalkan Laskar sendirian di lorong rumah sakit. Namun sebelum pergi, tak lupa ia menyampaikan kepada Laskar untuk menemuinya di UGD apabila telah tenang dan siap untuk melanjutkan proses pengurusuan jenazah. Laskar tidak menatap sama sekali perawat cantik itu, ketika dia pergi berlalu dari hadapannya. Ia bahkan tidak sadar bahwa suasana rumah sakit mulai sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 20:00, para penunggu pasien yang tadi berhamburan di lorong kini telah masuk kembali kedalam bangsal masing-masing. Hanya beberapa orang saja yang masih santai duduk didepan kamar pasien, namun mereka semua jarakanya cukup jauh dari Laskar. Tentu ia tidak memperhatikan semua itu, yang dapat Laskar lihat sekarang adalah deretan kursi panjang ruang tunggu yang ada tepat disisi kirinya. Dengan setengah terhuyung, Ia kemudian duduk disalah satu kursi panjang tersebut. Laskar kembali berusaha menenangkan pikiranya. Namun semakin ia berusaha menarik nafas, semakin tertahan sesak di dadanya. Tangisnya kemudian kembali pecah, air mata bercucuran deras dari mata Laskar. Ia menangis sejadi-jadinya, jauh lebih memelas daripada saat di kos. Walapun baru berpacaran beberapa bulan, tetapi mengetahui kekasihnya mengalami kematian semengerikan itu, hati siapa yang tidak hancur. Apa dosa Ningsih? Kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga maut menghancurkan raganya begitu sadis?! Semakin jauh Laskar memaki kenyataan, semakin lirih tangisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD